Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Terungkap


__ADS_3

Kepercayaan itu ibarat sebuah kaca. Sekali kaca itu pecah, maka tidak bisa kembali utuh seperti semula.


Sekalipun bisa kembali, namun bekas pecahan itu akan selalu ada,


abadi dan selamanya.


"Saat di hotel nuansa itu, aku...." Menarik nafasnya dalam, Lantas Satya memejamkan mata.


"Aku sengaja memberi kamu obat perangsang."


Pengakuan Satya membuat Nayla membulatkan mata tercengang. Dia tidak salah dengar kan?


"Apa Satya? Kamu... apa tadi?"


Telinganya tidak bermasalah, Nayla sudah mendengarnya dengan jelas apa yang baru saja keluar dari mulut lelaki didepannya ini. Hanya saja, dia sama sekali tidak pernah menduga sebelumnya.


Sambil menatap mata Nayla yang mulai berkaca-kaca dan aura wajah yang tiba-tiba memucat, Satya melanjutkan ucapannya. "Maaf Nay, aku memang memberi kamu obat perangsang waktu itu...."


Dan...


Plak


Satu tamparan keras mendarat sempurna di wajah Satya.


Diam mematung,


menahan dada yang kian sesak menampung pasokan oksigen, Nayla menumpahkan kekecewaannya. Sampai ia sendiri tidak sadar sudah menampar Satya dengan sangat keras. Menggunakan seluruh tenaga yang bisa Nayla kerahkan.


Satya,


Tidak bohong bahwa dulu Nayla begitu mencintai lelaki itu. Nayla menjalani hubungan yang terjalin indah diantara keduanya dengan sangat serius.


Seluruh rasa yang dia punya, sudah Nayla curahkan untuk Satya. Kepercayaan dan kesetiaan yang perempuan itu titipkan, tidak setengah-setengah.


Nayla memberikan-nya dengan penuh dan utuh.


Tidak sekalipun, Nayla pernah bermain-main dengan hubungan yang dia jalin.


Tapi, apa balasan nya? Se-dangkal itukah perasaan Satya ?


Menatap perempuan didepannya dengan rasa menyesal,


sungguh,


Satya sangat paham bahwa tamparan Nayla ini tidak ada apa-apa nya dibanding dengan perbuatan Satya kepada perempuan itu.


Hanya nyeri sedikit di pipi nya. Yang lebih nyeri adalah sudut hati Satya. Penyesalan yang sepertinya akan terus terbayang-bayang seumur hidupnya.


Melihat Nayla se-marah ini, dia merasa bersalah, dan sangat menyesali perbuatannya. "Maaf, Nay..."


"Tega ya kamu?" Dengan suara bergetar dan tercekat, Nayla mulai bergerak mundur kebelakang. Berusaha menjangkau sofa untuk sedikit menjauh dari Satya.


Air mata yang jatuh tidak bisa Nayla hindari. Lelaki yang saat itu,


sangat Nayla percayai sebagai orang yang akan selalu melindunginya, sebagai lelaki hangat yang begitu mencintainya.


Lelaki yang sangat Nayla cintai saat itu,


dia sama saja melempar anak panah pada seekor peliharaannya yang begitu setia.


Iya,


Segitu percaya dan setia-nya Nayla pada Satya, saat itu. Hingga sedikit pun kecurigaan tidak pernah mampir dihatinya.


Yang justru,


kepercayaannya terhadap Satya saat itu, menghancurkan hatinya saat ini.


"Kenapa, Satya? Ak... aku punya salah apa sama kamu?"


"Aku minta maaf, Nay..." Menatap Nayla dengan perasaan iba dan penuh penyesalan, detik itu Satya menyadari bahwa dia sudah sangat keterlaluan. "Aku tahu, aku salah. Tapi, semua itu ada penyebabnya Nay..."


Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepala Nayla. Dengan wajah sembab penuh air mata, dia memejamkan mata sambil menekan dahi nya kuat.


Meringis kesakitan.


Andai saja,

__ADS_1


Satya bukan orang yang saat itu begitu Nayla percaya, mungkin rasa sakitnya tidak akan sedalam ini. Bahkan mungkin Nayla tidak merasakan apa-apa dengan penghianatan Satya terhadap kepercayaan yang Nayla berikan.


"Aku sakit hati Nay, sama omongan papa kamu sesaat sebelum kita merayakan ulang tahun mu saat itu." Satya berusaha menjelaskan meskipun Nayla terlihat tidak begitu peduli. Karena perempuan itu, fokus pada sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya.


"Papa mu menghinaku didepan umum. Dia bilang,


aku adalah pecundang yang tidak pantas bersanding dengan berlian seperti mu.


Hanya karena,


dia melihat aku meneguk satu gelas minuman beralkohol. Hanya satu gelas kecil, Nay"


Begitu lelaki itu menjelaskan.


Bukan malah meringankan rasa sakitnya, penjelasan Satya justru menimbulkan serangan panik tiba-tiba.


Jantung Nayla berdegup sangat cepat.


Memompa darah ke seluruh tubuhnya dengan kilat. Hingga tanpa dia sadari,


keringat dingin mulai membasahi keningnya. "Itu salahmu, kenapa aku yang kamu jadikan pelampiasan atas kesalahan mu sendiri? Kau lupa, berapa kali aku mengingatkan kamu?"


Dan perlahan,


kram di perut Nayla kembali datang, kembali menyerang. Tubuhnya melemas, dengan mata yang mulai berkunang-kunang.


"Maaf, Nay... aku salah."


Satya,


Terimakasih untuk rasa sakit yang tidak pernah aku kira. Terimakasih untuk kamu, orang yang sama sekali tidak pernah aku duga, ternyata tega memberi rasa sakit yang segini hebatnya.


"Satya, terimakasih. Dimasa lalu, aku mungkin memang bersalah sudah memberi harapan tentang hubungan kita. Aku menyembunyikan pernikahanku, sehingga membuat kamu merasa masih memiliki harapan untuk kita kembali bersama.


Tapi, dihari ini.


aku anggap semua impas. Apa yang sudah kamu lakukan, ternyata memang pantas mendapat balasan rasa penghianatan yang sama." Ucap Nayla dengan lirih dan penuh kekecewaan.


Dengan sisa tenaga yang Nayla punya, dia merapikan tas nya.


Mencoba berdiri. Dan ingin segera melangkah pergi. "Mari,


Dengan cara yang baik, saling memaafkan.


Aku sudah memaafkan mu. Maafkan aku juga, dan jangan pernah mengganggu hidup ku lagi.


Permisi."


Sisa tenaga yang Nayla punya memang tidak banyak. Dan benar,


Baru saja dia mengayunkan kaki untuk melangkah, pandangan Nayla buram,


pandangannya kabur.


Jari-jari tangannya bergetar hebat, nafas yang kian sesak. Bersamaan, dengan penglihatannya yang menghitam.


Gelap, tak ada cahaya.


Dan....


Bruk..


"Nayla... astaga"


Seketika Satya memekik kaget, melihat perempuan itu ambruk kehilangan kesadaran diri didepannya.


Melihat tubuh perempuan yang lunglai tergeletak, reflek Satya segera membantunya.


Menggendong Nayla dan membaringkannya di atas sofa.


Menyedihkan.


Sekilas,


Satya pandangi tubuh Nayla. Dan rasa bersalah yang semakin besar kembali menyerangnya. "Maaf Nay..."


Lagi-lagi, keadaan ini kembali membuatnya menyadari kesalahan besar yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


Merusak kehormatan Nayla, dan juga kembali menyia-nyiakan Nina. Dua perempuan yang saling kenal bahkan hampir seperti saudara itu,


keduanya sama-sama Satya sakiti.


Hanya karena rasa gengsi dan ego yang besar,


Hanya karena merasa tidak terima dengan ucapan pak Zeko akibat perbuatannya sendiri,


Satya sudah menghancurkan hidup dua perempuan sekaligus.


Hidup dua perempuan hebat yang ia kenal dengan baik. Yang seharusnya Satya jaga.


Dua perempuan itu,


harus melewati hari yang berat akibat ulahnya. "Maaf..."


Lantas tidak menunggu waktu lama lagi,


Satya berdiri dengan niat mencari minyak yang bisa dia gosokkan untuk membantu Nayla bangun dari pingsan-nya. Namun, belum juga ia melangkah,


pintu apartemen diketuk,


Membuat lelaki itu melupakan tujuan awal dan lebih memilih membuka pintunya terlebih dahulu.


"Elo..."


Iya, lelaki pertama yang Satya lihat adalah Reyhan. Dengan wajahnya yang tenang seperti biasa.


Tubuh seorang lelaki yang pertama kali Satya lihat, membuat keberaniannya sedikit terguncang. Apalagi, saat Satya melihat,


lelaki paruh baya yang datang bersama dengan orang itu.


"Paman.."


Suasana yang terjadi,


membuatnya tanpa sadar melihat kearah dua orang itu dan juga Nayla dengan bergantian.


Membuat Reyhan mau tidak mau mengikuti arah pandang Satya.


Dan, seketika dia melihat tubuh Nayla yang terbaring diatas sofa, membuat Reyhan memekik kaget.


"Nayla..."


Menyentak pintu dengan keras hingga terbuka lebar, Reyhan menerobos masuk dengan langkah cepat. Melewati tubuh Satya begitu saja.


Bahkan sengaja menyenggolnya, hingga Satya sedikit terhuyung ke belakang.


Tubuh istrinya yang tergeletak diatas sofa membuat emosi nya naik seketika. Reyhan yang terbiasa menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, mendadak berubah.


Dielusnya rambut Nayla yang sedikit basah oleh keringat, Maaf sayang, aku terlambat. gumamnya dalam hati.


"Kamu apa-in istri ku.." Mengerang marah, sambil memeriksa tubuh Nayla yang memucat.


"Brengsek..."


Reyhan berdiri, putar badan dan langsung menonjok pipi Satya. Bugh....


"Kurang ajar ya kamu. Berani-berani nya menyentuh Nayla...."


Bugh...


Satya hanya diam, menerima pukulan dari Reyhan begitu saja tanpa berniat membalasnya.


Bukan hanya karena dia merasa bersalah dan menyadari kesalahannya, tapi juga karena ada pamannya disini.


Jika tidak ada sang paman,


Satya mungkin akan membalas pukulan itu sambil menjelaskan.


Siapa juga yang mau dipukul dengan sukarela?


"Ada apa, ini?" Sang paman juga ikutan panik melihat Satya yang dipukul tanpa melawan. Yang, malah diabaikan oleh Reyhan.


Lelaki yang berwibawa, dan memiliki lesung pipi indah itu memilih mengabaikan semuanya. Lalu kembali fokus Nayla, berniat membawanya pergi secepat mungkin ke rumah sakit.


Reyhan gendong tubuh Nayla, sebelum dia melangkahkan kaki pergi, sekali lagi dia memberi peringatan kepada Satya.

__ADS_1


"Kau ingat, kita belum selesai. Aku pasti akan memberi perhitungan."


__ADS_2