
Udara pagi terhirup oleh hidung mungil yang tidak terlalu mancung. Masih terlalu segar, belum terkontaminasi oleh asap-asap kendaraan dan polusi bahan bakar.
Nayla berdiri dipinggir jalan bersama sang suami. Ia hendak menyebrang setelah memarkirkan mobilnya.
"Hati-hati Nay.."
Merasakan genggaman tangan kekar meraihnya, Nayla tersenyum sipu dibalik wajah yang ia palingkan.
Masih dengan baju baby doll bermotif polkadot, Nayla mengikuti sang suami yang mengajaknya menikmati nasi pecel pinggir jalan, yang tempatnya hanya berlindung dari balik tirai kain dan banner. Katanya, itu nasi pecel langganan Reyhan saat masa kuliah dulu.
"Iya..." Begitu Nayla menjawab.
Tak berselang lama, sampailah mereka ditempat. "Buk, dua porsi ya..."
Setelah memesan, Reyhan mengajak Nayla duduk, dua bangku yang masih kosong, ada disebelah kiri.
"Loh mas Reyhan, udah lama gak kesini loo.." Ucap ibu-ibu penjual. "Tumben, bawa cewek mas, pacarnya ya?"
Reyhan terkekeh menanggapi, sementara disampingnya, Nayla ikut tersenyum.
Merasa pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ibu-ibu penjual itu beralih ke Nayla. "Serius pacarnya ya neng?"
"Bukan kok buk." Memang bukan pacarnya kan?
"Syukurlah.." Ibu penjual menghela nafas lega.
"Kenapa buk?"
Sambil memberikan nasi pecel pesanan Reyhan, ibu penjual memberi pelototan mata tajam. "Jangan macam-macam, mas Reyhan lupa mau tak jadiin mantu?"
Lalu setelahnya, ibu penjual mengerlingkan sebelah matanya.
Uhukk.. Nayla tersedak.
Begini ya rasanya punya suami tampan. Makan hati terus.!
"Hati-hati Nay.." Menyodorkan segelas teh hangat. Lalu, Rayhan menepuk-nepuk punggung istrinya. "Kalau makan hati-hati."
"Ada yang salah ya neng?"
"Eng-gak kok buk.."
"Dia memang bukan pacar saya buk, tapi istri saya.." Reyhan mengakui sambil terkekeh.
Uhuk. Tuh, ganti ibu penjual yang tersedak. "Serius?"
Anggukan kecil dari Reyhan sebagai jawaban.
"Oh Tuhan, bagaimana dengan nasip Leli anak ku.." gumaman dari ibu penjual sayup-sayup Nayla dengar, setelahnya tidak ada lagi candaan diantara mereka.
Ibu penjual melayani pelanggan lainnya, pun dengan Nayla dan Reyhan, yang terlihat menghabiskan sarapannya dengan lahap.
Setelah Reyhan membayar, ia beranjak kembali ke mobil. Seperti tadi, tangannya menggenggam tangan sang istri. Lagi-lagi berhasil membuat wajah Nayla bersemu karenanya.
Entah, karena terlalu bahagia atau apa, Nayla tidak menyadari. Seseorang didepannya yang juga berada dipinggir jalan sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nayla. Orang itu juga akan menyebrang, berlawanan arah dengannya.
Satya?
Saat jalan sudah sepi, Reyhan menarik tangan Nayla untuk menyebrang. Mata gadis itu tak bisa berpaling dari sosok laki-laki yang masih diam mematung, mengamatinya.
"Nay.. "
Langkah Nayla terhenti disamping mobilnya, tepat saat ia hampir membuka pintu. Sementara Reyhan yang sudah duluan masuk mobil, sengaja membiarkan Nayla menyelesaikan urusannya dengan lelaki itu. Dengan tidak mengurangi pengawasannya terhadap sang istri, dari atas kursi kemudi.
__ADS_1
Reyhan sengaja membuka sedikit kaca mobilnya, agar ia bisa mendengar apa yang Nayla dan lelaki itu bicarakan.
"Hai.. Sat-ya...." Gugup.
"Sepagi ini, dan kamu sudah bersamanya?" Dengan penuh penekanan, Satya bertanya pada Nayla. "Dia siapa?"
"Di-diaaa...." Masih bingung menjawabnya.
Padahal, hari ini rencananya, Nayla akan menjelaskan dan berterus terang pada lelaki itu. Tapi, tidak harus dengan situasi dimana ia berada sekarang kan?
Tidak di suasana yang seperti ini, tidak juga dipinggir jalan seperti saat ini.
Ada banyak hal yang ingin Nayla utarakan pada lelaki itu. Iya, Nayla berencana mengatakannya dengan pelan-pelan. Berbicara dari hati ke hati agar saling memahami dan menerima keadaan ini.
Berniat mengatakannya dalam suasana yang damai, agar mendapatkan kedamaian pula di akhir cerita. Ah, seperti nya sangat sulit.
"Sat-ya..." Jujur hati Nayla takut. Ia sangat takut menghadapi reaksi Satya setelahnya. "Kamu jangan emosi dulu, aku janji nanti aku jelasin. Ta-tapi.."
"Tapi apa?" Lelaki itu semakin tak terkontrol emosinya, saat Nayla dengan sengaja men-jeda ucapannya. Terlihat jelas dari nada suaranya yang meninggi.
"Tapi... aku harus pulang sekarang."
Satya menggeram marah. "Kau pikir aku akan membiarkan mu pergi begitu saja.?"
"Satya.. tolonglah..." Pinta nya memelas saat Satya mencoba menggenggam pergelangan tangannya.
"Ikut aku..." Menarik Nayla ke arah mobilnya. Serta mengabaikan penolakan dari gadis itu.
"Nggak mau..." Satya masih menariknnya, bahkan lebih keras.
Nayla enggan melangkah, tapi tenaganya jelas kalah. Gadis itu meronta dibelakang Satya, meski tidak di gubris sekalipun.
"Satya, aku nggak mau..." Lelaki itu malah menariknya semakin keras lagi, sampai pergelangan tangan Nayla terasa sakit.
Sebelah tangan lelaki itu sudah membuka pintu mobilnya, dan ia sudah bersiap mendorong Nayla masuk.
Bruk.
Pintu mobil kembali ditutup. Dibanting dengan keras oleh laki-laki, yang sejak tadi menahan emosi melihat istri cantiknya diperlakukan seperti itu.
"Lepasin Nayla" Suaranya berat tapi tidak berteriak. Sama sekali bukan suara lembut yang biasanya Nayla dengar.
"Rey-han..." Dibelakang Satya, mata gadis itu berkaca-kaca. Menatap suaminya dengan tatapan meminta pertolongan.
Nayla ingin berlari. Berlindung dibalik tubuh suaminya. Tapi, Satya masih mencengkram lengannya dengan kuat.
Reyhan menarik nafasnya dalam. "Tolong, aku memintamu dengan baik-baik. Tolong lepaskan Nayla."
Satya menyeringai. "Memangnya lo siapa haah?"
Semua kesabaran Reyhan kumpulkan. Baginya, melawan emosi tidak harus dengan emosi. Demi menyelesaikan masalah tanpa pertumpahan darah.
"Tidak peduli siapa aku, lihat Nayla yang ketakutan dibelakangmu."
Satya menoleh. Wajah Nayla yang ketakutan seperti itu, sungguh membuat sudut hatinya teriris. Sakit.
Bukan seperti ini yang Satya mau.
Gadis yang dulu selalu merasa aman bersamanya, sekarang berubah. Sangat berbanding terbalik.
Oh, apa yang sudah ia lakukan.
"Nay..."
__ADS_1
"Kamu menakutkan.. hikss.." Ucapnya lirih dengan bulir bening yang lolos membasahi pipinya.
"Lepasin, ! Tanganku sak-kit..."
Reflek, Satya melepaskan cengkeramannya., dan gadis itu langsung berlari, dibalik tubuh Reyhan.
Satya meringis. Sakit tapi tak berdarah. Menangis, tapi tak mengeluarkan air mata. Mungkin itulah yang ia rasakan.
Saat melihat, ratu dihatinya terang-terangan membangun benteng yang semakin kokoh, untuk menolak menerimanya kembali.
Dulu, mungkin benteng yang Nayla bangun hanya sebatas benang merah yang melintas. Berbeda dengan sekarang, Satya melihat benang merah itu tumbuh, dan berkembang menjadi beton raksasa. Yang memisahkannya dengan Nayla.
"Maaf." Ucapnya menyesal. "Tolong, kasih aku kesempatan sekali lagi Nay."
Nayla menggeleng. Dan air matanya semakin deras mengalir.
Semua sudah berakhir. Sejak lama.
Sayangnya, Satya terlambat menyadarinya dan tidak pernah ada yang memberitahunya.
"Nay, kamu masuk mobil dulu ya." Kali ini Reyhan bersuara.
Ia yakin, Nayla sangat tertekan saat ini. Jangan kan untuk menjelaskan, untuk berbicara saja Reyhan jadi tidak tega.
Melihat Nayla yang menurut kepada lelaki lain dengan segera bergegas masuk mobil, membuat Satya semakin penasaran. Ada hubungan apa, Nayla dengan lelaki ini?
Tatapan tajam Reyhan dapatkan dari Satya. Sayangnya, itu sama sekali tidak mempengaruhi sisi keberanian seorang Reyhan.
"Untuk selanjutnya, tolong.. jangan ganggu Nayla lagi..." Selangkah mendekati Satya. "Kamu punya istri kan? ingat, istrimu yang sedang mengandung. Bahkan hampir melahirkan. Apa sedikit saja kau tidak kasihan kepadanya?"
Satya merasa tertantang. "Jangan ikut campur urusan gue.!"
"Tentu aku harus ikut campur. Apalagi menyangkut Nayla." Dan Reyhan melangkah lagi. Selangkah mendekati Satya.
"Memangnya lo siapa?"
"Tolong, jangan rusak persahabatan yang sudah terjalin lama, antara Nayla dan istrimu itu. Jangan membuat kobaran api di hati istrimu seperti tersulut minyak tanah, karena melihat kamu yang masih saja mengejar-ngejar Nayla. Jangan membuatnya membenci Nayla"
Satya menyeringai. "Jangan sok bijak. Bilang saja lo tertarik dengan istri gue, iya kan?"
Seringaian itu semakin lebar saat Reyhan hanya diam, belum menjawab. "Kenapa? Tebakan gue benar ya? Gue juga tau, lo sudah diam-diam bertemu dengan istri gue dicaffe. Munafik!"
Reyhan balas dengan tersenyum. "Harusnya, mengenai pertemuanku dicaffe itu.. kau tanyakan langsung kepada istrimu."
"Gini aja deh? Lo tertarik kan sama Nina? Lo ambil aja dia. Gue kasihh.
Sebagai gantinya, Jangan dekati Nayla lagi. Dia milik gue."
Eh, apa? Reyhan gak salah dengar kan?
Reyhan tertawa keras. Dan lagi, dia melangkah semakin mendekati Satya.
"Jaga apa yang kamu miliki, sebelum dia pergi dan membuat mu menyesal karena terlambat menyadari."
"Cih... Bangs*t!" Emosinya meluap. Payah. Satya memang selalu gagal mengendalikan emosinya. "Jangan ikut campur.!"
Reyhan terkekeh. Dia tetap tenang. Tak takut. Tak gentar, sedikitpun.
Lagi lagi, dia melangkah mendekati Satya. "Sudah ku bilang, apapun urusan Nayla, menjadi urusan ku juga."
Dan sekarang, tangan Reyhan menepuk-nepuk pundak Satya sebelah kanan. Sambil mengucapkan pernyataan sebelum berlalu pergi.
"Bro, Nayla... Dia, istriku."
__ADS_1