
"Bagaimana kandungan kamu hari ini? Apa ada hal yang menakjubkan lagi?"
Satya menaruh ponselnya, saat didapati Nina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Perempuan itu berjalan menuju almari. Berusaha mencari pakaian tidur yang akan ia kenakan.
"Aku kepingin..."
Ia peluk tubuh istrinya dari belakang sambil berbisik dengan suara mendesah. Perempuan mana yang tidak akan tergoda diperlakukan semanis itu?
Nina pegang lilitan hantuk itu kuat-kuat. Sumpah demi apapun, dadanya berdebar. Seakan jantungnya memompa darah dengan lebih cepat lagi.
Ini memang sudah yang kesekian kalinya, tapi entah kenapa hatinya masih saja berbunga-bunga dengan perlakuan lembut Satya kepadanya.
"Sat-ya..." Ucapnya malu-malu. "Jangan seperti ini. Kan tadi sore sudah..."
Usapan halus Nina rasakan diperutnya saat tangan lelaki itu menyelinap masuk dibalik handuknya. Satya mengusap perut itu seolah-olah ia sangat menyayangi anaknya. "Boleh ya, aku jenguk anak papa lagi?"
Nina diam tidak menjawab. Bukan tidak mau menjawab. Tapi ia bingung jawaban apa yang akan ia berikan. Nafasnya terasa sesak, mendadak oksigen disekitarnya terasa menipis. Tubuhnya menegang hebat saat kedua tangan Satya sudah berada di bukit kembarnya.
Satya remas bukit itu dengan lembut. Memberikan sensasi-sensasi aneh yang menjalar sempurna disetiap saraf tubuh Nina.
"Ah, Sat-ya.." Gadis itu mendesah kenikmatan. Ia memang tidak pernah menolak sentuhan dari Satya. Meskipun lelaki itu hampir melakukannya setiap hari. Tentu saja setelah mereka berkonsultasi ke dokter untuk memastikan keamanannya.
Satya menyeringai lebar. Merasa mulai berhasil lagi menyulut api gairah ditubuh istrinya.
"Boleh ya? Lagi..."
Perempuan itu kalah, ia pasrah. Ia balikkan badannya. Ia lepas cengkraman tangannya dari lilitan handuk. Ia kalungkan tangannya ke leher sang suami. Ia yang mulai duluan mencium bibir lelaki didepannya.
Satya menyambut hangat pagutan bibir dari istrinya. Dia memberikan celah sedikit, sampai Nina berhasil menyelundupkan daging tak bertulang itu mengabsen semua isi rongga mulut Satya.
Tangan-tangan nakal Satya mulai bergerak lincah. Memainkan tugas pertamanya melepas lilitan handuk sang istri. Ia tarik pinggang Nina sampai tubuh polos perempuan itu menempel sempurna ditubuhnya.
Ia usap-usapkan tangannya ditubuh bagian belakang sang istri. Dari punggung, turun kepinggang. Sementara dibagian atas, Nina yang mengambil alih ciuman panas mereka sambil berdiri.
Sampai perempuan itu tak menyadari, jari jemari Satya yang lihai sudah menyelinap masuk didaerah miliknya.
"Auw.. plissh.." Desahnya saat jari itu mulai bergerak cepat di area miliknya. Nina kelabakan. Tubuhnya menggeliat seirama dengan gerakan cepat jari Satya. Ia remas rambut lelaki didepannya itu saat lagi-lagi sensasi aneh menguasainya.
"Sath..-ya... ahh.."
__ADS_1
Ia ambruk dipelukan suami ketika puncak kenikmatan itu ia dapatkan. Tubunya terasa sangat lemas.
Satya meraih tubuh polos sang istri. Ia menggendongnya ala pengantin baru menuju ranjang. Meletakkannya dengan hati hati. Kemudian ia melepas semua pakaiannya sendiri. Sekarang, percintaan panas mereka yang sesungguhnya baru benar-benar akan dimulai.
***
Perempuan dengan perut buncitnya itu ikut mengerjab. Perlahan ia buka matanya saat merasakan gerakan ranjang dari samping tubuhnya. Didapatinya Satya, lelaki yang sudah menjadi suaminya sejak kurang lebih lima bulan yang lalu tengah meraih ponsel diatas nakas. Sebelum mengangkat telefonnya, ia mengulas senyum teduh untuk Nina.
"Bentar, aku angkat dulu..."
Ia berjalan menjauh dengan tubuh polosnya, seolah tanpa dosa dan tanpa rasa malu sedikitpun. Wajah perempuan diatas ranjang itu meremang saat matanya tidak sengaja melihat sesuatu dari tubuh Satya, yang sempat membawa ia terbang ke nirwana tadi.
Ia sembunyikan wajahnya dibalik bantal. Entah kenapa, ia ingin tersenyum. Merasa sangat senang sekaligus malu sendiri.
Ia larut dalam rasa itu sampai tidak menyadari Satya sudah kembali dengan laptop ditangannya.
Ia mendongak.
"Kenapa bawa laptop?" Ini sudah jam sepuluh malam. Mau apa dia?
"Ada pekerjaan sedikit yang harus aku pantau. Kau tidurlah"
Ia sempatkan mengusap perutnya sendiri. Ia mengulas senyum, tidak menyangka, bahwa perutnya akan sebesar ini. Dokter bilang, diusia kehamilan yang menginjak tujuh bulan, ia memiliki ukuran perut yang lebih besar dibanding kehamilan orang lain pada umunya.
Dokter juga bilang, bahwa tidak ada yang berbahaya didalam sana. Hanya saja, saat dokter ingin menjelaskan alasan yang lebih detail lagi perihal penyebab ukuran perutnya, ia dan Satya dengan tegas menolak. Satya bilang, ia tidak ingin mengetahui perihal apapun terkait anak yang dikandungnya.
Bukan karena tidak peduli, tetapi lelaki itu ingin sesuatu yang mengejutkannya.
Mau laki-laki atau perempuan, katanya, Satya hanya ingin mengetahuinya tepat disaat kelahirannya nanti. Untuk saat ini, asalkan kondisi perut Nina dalam kondisi yang aman dan baik-baik saja, lelaki itu sudah cukup terima dan menyerahkan semuanya kepada dokter pilihan mereka.
Nina terhenyak. Saat dengan tiba-tiba Satya menggerang marah. Ia balikkan badannya untuk melihat apa yang terjadi.
Satya meremas ponselnya sendiri dengan mata yang fokus menatap layar laptop. Wajahnya sudah berubah dari yang terakhir perempuan itu lihat.
"Sat-ya.. ada apa?"
Lelaki itu menatap Nina dengan tajam. Sebelum akhirnya ia menyeringai.
"Nina... beraninya kamu membohongiku.!"
__ADS_1
Nina membelalakkan matanya.
Membohongimu?
"Maksud kamu?" Ia angkat badannya. Meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya sebelum ia berhasil duduk mensejajari sang suami.
"Jangan sok polos. Nih lihat!" Satya menyerahkan laptopnya ke Nina.
Merasa tidak ada nyali untuk membantah, perempuan itu meraih laptop. Membuka beberapa file photo. Matanya mendelik saat photo pertama yang ia lihat adalah gambar Nayla dan Reyhan didepan ruang dokter kandungan.
Apa Nayla hamil?
Lalu ia membuka lagi, foto Reyhan dan Nayla didalam mobil. Reyhan yang tengah memasangkan sabuk pengaman untuk Nayla. Dan photo ketiga, lagi-lagi photo Reyhan yang keluar dari rumah Nayla menggunakan mobil milik Nayla.
Nina berhenti untuk tidak melihat photo selanjutnya. Ia tatap lekat-lekat mata Satya sambil mengerutkan dahinya.
"Membohongi apanya?"
"Cih..." Lelaki itu mendengus marah. "Lihat sampai selesai."
Nina menggelengkan kepalanya. Selama ini ia sudah terlalu sabar menghadapi Satya yang selalu berubah-ubah sikap kepadanya. Tapi tidak untuk kali ini.
"Nggak mau."
Ia lelah. Badannya lelah. Hatinya juga. Satya selalu semaunya sendiri.
"Jangan membantah ya kamu!" Satya membentak. Satya memang masih lemah dalam mengatur emosinya. Apalagi menyangkut Nayla. Saat ini saja, ia sangat menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan pada Nina.
"Nggak mau, Satya.." Jawab Nina tak kalah membentak. Meskipun suaranya bergetar, tapi ia masih mampu mengeluarkan nada tinggi.
Ia menunduk. Dan air matanya mulai berlinang.
"Aku nggak mau. Aku capek. Aku bosen. Kamu selalu semaumu sendiri.
Kenapa lagi-lagi Nayla? Kenapa harus Nayla lagi? Kenapa harus Nayla yang menjadi alasan kamu selalu bersikap kasar kepada ku? Kenapa selalu dia? Dia lagi, dan dia terus...Aku, aku istrimu."
Selanjutnya, hati Nina serasa ditusuk pisau tak kasat mata. Saat ia mendengar tawa Satya yang begitu keras memenuhi ruangan kamarnya.
"Terus mau kamu apa? Kau sudah membohongiku, masih berani membentakku?"
__ADS_1
"Aku membohongimu apa?"