Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Saham Incaran


__ADS_3

"Jadi Dini tadi siapa..?"


Nayla masih berdecak kesal meninggalkan Reyhan dibelakangnya. Berjalan masuk sambil menghentak-hentakkan kakinya. Perasaan jengkel masih memenuhi dadanya. Dan hanya dibalas gelengan tidak percaya oleh Reyhan.


Padahal, sepulang dari Pantai tadi, mereka sudah berkeliling pusat kota tanpa sedetikpun Nayla berhenti membahas Dini. Sudah puluhan kali Nayla menyebut nama itu, dan sepertinya akan mencapai angka ratusan jika masih diteruskan dirumah.


Reyhan terkekeh menghadapi kecemburuan istrinya membuat Nayla balik badan dan memukul lengan suaminya. "Reyhan, siapa Dini?"


"Kan tadi sudah tak jelasin..." Jawab Reyhan mendaratkan bokongnya disofa ruang keluarga.


"Dini cuma patner kerja kok.."


"Tadi penjelasanmu belum detail.." Nayla ikut duduk disamping Reyhan. "Kamu kan kerja ditoko buku milik kamu sendiri? trus apa hubungannya sama Dini?" Memicingkan sebelah matanya mengintimidasi.


Tanpa mereka sadari, ada laki-laki paruh baya yang sedang menguping pembicaraan mereka tak jauh dari tempat Nayla dan Reyhan duduk.


"Aku beli saham direstoran Sadewa sekalian sama hotelnya...." Ucap Reyhan memberi penjelasan.


"Trus sebelumnya, Dini itu yang punya saham paling tinggi Nay... jadi mau tidak mau ya aku harus berurusan langsung dengan dia.."


"Jadi kamu berhasil Rey beli saham ditempat itu?" Tanya pak Zeko dengan tiba-tiba sudah berdiri disamping Nayla.


Reyhan tersenyum canggung. Sebenarnya dia enggan memberi tahu masalah seperti ini kepada mertuanya itu. Reyhan tidak ingin ada perubahan sikap Pak Zeko kepadanya, yang mungkin saja bisa terjadi jika laki-laki paruh baya itu tau siapa Reyhan sebenarnya.


Reyhan sudah nyaman diterima sebagai dirinya yang sekarang.


Sementara Nayla memutar bola matanya jengah. Niatnya menuntut penjelasan dari Reyhan harus diurungkan sementara waktu melihat sang Papa malah tertarik dengan obrolan mereka.


"Wahh, hebaatt kamu.." Puji papa mertua kepadanya sambil tangan menepuk-nepuk pundak Reyhan. "Berapa persen sahammu disana Rey?"


Reyhan kebingungan menjawabnya, haruskah dia jujur.?

__ADS_1


"E.. anu pa, empat puluh persen" jawabnya kikuk.


"Wahh, bener-bener mantu idaman..


Kamu tau Rey, Papa aja udah ngincer tempat itu sejak awal dibangun, dan baru dapat lima persen, lah kamu bisa-bisanya dapat empat puluh persen?" Puji pak Zeko bangga.


Siapa juga yang tidak bangga, Restoran Sadewa sekaligus Hotel Sadewa memang tempat yang paling bagus untuk berinvestasi jangka panjang, seperti membeli saham misalnya.


Tempatnya yang pas dipadukan dengan suasana romantis yang mendukung membuat Sadewa banyak diminati oleh semua penjuru negri. Terlebih untuk pasangan yang baru menikah, segala hal tentang pantai sadewa sangat cocok untuk bulan madu.


Mungkin bagi gadis seperti Nayla, itu tidak begitu penting. Tapi bagi laki-laki yang setiap hari harus bergelut didunia bisnis, tentu saja itu menjadi angin segar bagi Pak Zeko. Akhirnya, Sadewa yang menjadi incaran para lawan bisnisnya sudah jatuh ketangan anak mantunya sendiri dalam jumlah yang fantastis.


"Tapi saham aku bukan yang paling tinggi kok Pa, soalnya punya Dini juga empat puluh persen.."


"Tapi kok bisa sih, si Dini itu ngasih empat puluh persen ke kamu?" Ucap pak Zeko masih tidak percaya. "Padahal itu perempuan susah banget dikadalin..."


Pak Zeko terkekeh geli meninggalkan Reyhan menuju dapur.


Sementara Reyhan kembali menelan salivanya harus berurusan lagi dengan singa betinanya. Perempuan dan laki-laki itu memang berbeda.


"Ngapain sih beli saham disitu? Mau sering-sering ketemu Dini ya kamu?" Nayla melingkarkan kedua tangannya didepan dada.


"Iya kan, kamu mau ketemu Dini? Hemm.. dia cantik sih memang.. aku mah apa, cuma robekan kertas kalau dibanding sama dia.."


Ucap Nayla dengan kesal. Sementara Reyhan masih diam sambil terkekeh senang menikmati ceramah amatiran dari sang istri.


Sambil berdiri, Reyhan menggandeng tangan Nayla menuju kamarnya.


"Sudah cantik, kayaknya juga pekerja keras.. Ya, yaa... aku mah apaaa..."


Ocehan Nayla masih terdengar jelas memekik indra pendengaran Reyhan. Bahkan sampai masuk kedalam kamar pun, Nayla masih membahas masalah Dini.

__ADS_1


"Dini kayaknya memang jauh lebih baik. Dia sepertinya wanita yang berkelas.." Ucapnya lagi tanpa rasa lelah.


"Kamu kenapa gak nikahin aj......auuw..."


Belum sampai Nayla menyelesaikan pertanyaannya, dia memekik kaget saat tiba-tiba Reyhan membantingnya telentang diatas ranjang dengan kaki menggantung ke lantai.


Dalam hitungan detik, kini Reyhan sudah menindih Nayla. Mengungkung Nayla dibawahnya.


Reyhan mencium bibir Nayla sekilas.


"Kenapa istriku cerewet sekali sih.." Ucap Reyhan dengan gemasnya.


Nayla mendelik kehabisan kata-kata, serangan Reyhan terlalu tiba-tiba baginya.


"Mau ku makan habis saja nih bibir, biar cerewetnya pindah ke aku.."


"Eh... ap.."


Lagi-lagi Reyhan tidak memberi kesempatan pada Nayla untuk menyelesaikan ucapannya. Reyhan melahap dengan gemas bibir Nayla sampai dia hampir kehabisan nafas.


Hari menunjukkan pukul empat sore. Ciuman yang tadinya lembut itu kini semakin menuntut. Dan akhirnya, terjadilah apa yang seharusnya terjadi...


Pembahasan perihal Dini, berakhir dengan hubungan panas pasangan suami istri itu diatas ranjang. Desahan dari keduanya menjadi melodi tersendiri yang paling romantis bagi mereka. Ahh.. nikmatnyaaaa...


(Jangan dibayangkan, tolong...)


***


Bab ke dua hari ini ya ...


Jangan lupa nikmatnya yaa....

__ADS_1


Eh salah, jangan lupa like nya maksud ku... hahaha


Terimakasih...


__ADS_2