
"Eehhmmmm.." Leguhan keluar dari mulut Nayla begitu saja.
Harus diakui, Reyhan benar-benar handal membuat gairah Nayla menaik drastis. Padahal hanya kontak bibir saja.
Ditambah....
"Ahh..."
Tangan Reyhan meremas halus sisi kanan gunung kembarnya yang masih tertutup kain tipis baju tidur Nayla. Membuat kenikmatan semakin nyata didepan mata. Dan desahan itu, lolos begitu saja.
Nayla ingin menjerit merasakan sesuatu yang menggelitik sedang menjalar disetiap saraf-saraf tubuhnya. Sayangnya, bibir Nayla masih dikunci dengan ciuman panas itu.
Dengan berani, Nayla mulai menggerakkan kedua tangannya dipunggung Reyhan. Mengusapnya dengan kasar supaya Reyhan semakin terbawa suasana dengan cumbuan mereka. Kemudian dengan cepat tangannya beralih kedepan. Perlahan, dengan gerakan yang menggoda Nayla mulai melepas kancing baju tidur milik Reyhan satu persatu.
Matanya yang bening menatap dalam mata tajam Reyhan.
Merah, itu warna kedua mata Reyhan yang Nayla lihat. Sedangkan dada Reyhan naik turun mencoba mengontrol hawa nafsunya sendiri.
Kali ini Nayla tersenyum menyeringai. Nayla tahu, laki-laki ini sudah dikuasai gairahnya sendiri. Sedikit lagi, Reyhan pasti akan menyerah.
Dada bidang Reyhan sudah terbuka sempurna. Nayla mencium kasar disana. Meninggalkan bekas merah di dada putih suaminya.
Nayla tidak peduli jika besok pagi saat Reyhan sadar, dia akan dicap sebagai gadis nakal yang begitu agresif diatas ranjang. Biarkan saja.
Aku ini istrinya, agresif kepada suami sendiri, masak dibilang gadis nakal?
Nayla tidak munafik, ini memang bukan yang pertama baginya. Dan Reyhan sudah tahu itu. Salah agresif sama suaminya sendiri?
Reyhan mengerjabkan matanya sebentar mengumpulkan kesadarannya kembali. Kemudian tangannya menaikkan dagu Nayla agar menatap kedua matanya.
"Apa, kau sudah mencintaiku?"
Pertanyaan konyol itu masih saja ditanyakan? Dia benar-benar memegang perkataannya sendiri ya...
"Lakukan sekarang. Aku meminta nafkah darimu..."
"Baiklah, jangan salahkan aku kalau besok kau akan terlambat datang kekampus.."
Jawab Reyhan dengan senyum menyeringai. Nayla membelalakkan matanya sepersekian detik. Merutuki kebodohannya sendiri setelah melihat senyum menyeramkan diwajah suaminya.
Dia ingin menarik kata-katanya barusan. Tapi....
"Eummppt..."
Reyhan mencium bibir istrinya lagi. Memainkan daging tanpa tulang itu berselancar didalamnya. Menikmati kelembutan dari bibir istrinya.
Tangannya bergerak konstan. Memberi rangsangan pada dua bukit kembar yang mulai menegang dibalik baju tidur Nayla. Sedikit merem*snya dengan bergantian untuk meningkatkan libido Nayla saat bercinta.
Reyhan memberi jeda. Melepaskan bibir Nayla agar dia bisa mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah. Reyhan mencium dua daun telinga istringa. Turun kebawah, menyusuri setiap inci leher jenjang Nayla dengan bibirnya sendiri.
Tidak ada satu incipun yang terlewatkan.
"Auww....."
Nayla mengaduh saat ciuman kasar terasa menyekit didadanya. Meninggalkan bekas merah disana.
Sejak kapan baju-baju itu berserakan dilantai? Nayla sendiri tidak terlalu yakin Reyhan selihai itu mengelabuhi kesadarannya dengan semua gerakannya. Sampai membuat Nayla tidak sadar bahwa sekarang, dia benar-benar berada dibawah kendali suaminya.
Tapi kenyataannya, sekarang dia benar-benar tidur telentang dengan tubuh polos berada dibawah suaminya.
Dengan santai, Reyhan mengarahkan miliknya untuk memulai penyatuan mereka.
Pelan, dan lembut...
__ADS_1
Nayla menikmati sesuatu yang memaksa masuk dibawah sana. Semakin lama rasa ngilu itu semakin terasa. Membuatnya terpaksa menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Rey, sah ... kit.."
Ucap Nayla meringis. Ini bukan yang pertama, tapi kenapa masih saja sakit? Bahkan ini lebih terasa penuh dari pada...
Setetes bulir bening kembali jatuh. Ini memang sangat sakit dibawah sana. Tapi ada kelegaan tersendiri dihatinya saat dia menyadari, sekarang dia sudah menjadi istri sepenuhnya. Istri yang baik yang sudah benar-benar melayani suaminya.
"Apa sakit? Apa tidak perlu diteruskan?"
Tanya Reyhan cemas. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu.
Nayla enggan menjawabnya sekarang. Dia mencium sekilas bibir Reyhan. Tapi berkali-kali. Mampu menaikkan lagi gairah mereka yang sempat menurun.
"Lakukan.. aku.. men..cintaimu Reyhan, suami..ku...."
Selanjutnya, hanya terdengar leguhan dan desahan dari dua insan yang saling memberi kenikmatan.
Drama konyol tentang permulaan sudah selesai sedari awal. Kecanggungan diantara mereka sedari tadi sudah dikibas habis oleh gairah masing-masing suami istri itu.
Malam yang sangat panjang.
Hingga hari hampir pagi, sayup-sayup suara erangan itu masih terdengar memenuhi ruangan kamar kedap suara.
Nayla benar-benar ambruk, setelah Reyhan mencapai kenikmatan kelima kalinya.
Reyhan tersenyum puas. Menikmati malam pertamanya yang tertunda.Kemudian ikut ambruk disamping istrinya. Memeluknya dengan sayang. Sampai terlelap masuk kedalam alam mimpi bersama-sama...
***
Kata orang,
masa-masa SMA adalah masa-masa yang paling bahagia. Ada tangis dan senyum di setiap momen yang kita alami saat SMA. Memang ada benarnya sih kata-kata itu. Tapi kalau kamu mau cari masa-masa paling komplit dalam hidupmu, cobalah rasakan dan nikmati dengan seksama masa-masa kuliahmu.
Nayla berjalan gontai menuju ruangan dosen pembimbingnya. Tapi diurungkannya niat itu dan malah putar balik menuju kantin.
Nyalinya belum terkumpul seratus persen menghadapi omelan dosen galaknya.
Tadi pagi, dia benar-benar terlambat datang ke kampus. Tau gara-garanya siapa?
Reyhan memang gila..! Runtuknya dalam hati.
Rencana mengambil mata kuliahan yang diajarkan langsung oleh dosen pembimbingnya harus rela Nayla tinggalkan karena keterlambatannya. Padahal, Nayla sudah berusaha mati-matian untuk bersikap baik dan sopan demi menjalin hubungan baik dengan beliau, walaupun Dosen PA nya sangat menyebalkan tapi tak apa, Nayla tetap berusaha menjaga nama baiknya dengan mengikuti mata kuliah tepat waktu. Dan semua sia-sia, tercoreng sudah nama baiknya gara-gara ketidakhadirannya tadi pagi.
"Aelahh Nay, kamu gak ngikut matkul pak Hasan malah enak-enakan nongkrong dikantin?"
Cibir Sari berjalan mendekat kearah Nayla yang duduk disudut kantin, sendirian.
Nayla hanya menggeleng lemah. Tenaganya sudah habis tadi pagi ia gunakan untuk berlari dari gerbang sampai ke kelasnya. Tapi semua sia-sia. Nayla tetap terlambat sepuluh menit lamanya.
"Tuh muka kenapa juga kusut begitu Nay?"
Nayla memainkan sedotan digelas minumannya dengan malas. Badannya masih terasa remuk akibat aktifitasnya semalam. Duh jadi merah seperti tomat rebus kan pipi Nayla.
"Sial banget aku tuh hari ini tau nggak? Sudah kemaren malam tidur telat, tadi pagi juga telat...Arrgghhh"
"Memang semalem ngapain aja sampek tidur telat?"
Nayla hampir tersedak mendengar pertanyaan Sari.
Siaaal
Nayla salah bicara kan? Duh dijawab apa nih kalau sudah begini, gak mungkin kan Nayla jawab dengan sejujurnya semalam ngapain saja?
__ADS_1
"Oohh.. anu, itu semalam aku bantuin Reyhan ngerjain tugas..."
Jawab Nayla asal. Semoga saja Sari yang masih polos itu percaya.
"Tugas bikin anak ya? Haha...." Nina meledek dengan pernyataan yang sarkas. Sumpah demi apa, pipi Nayla rasanya panas banget guys...
"Apa an sih Nin..."
Astaga Nin.. gak usah diperjelas dong.. Lihat tuh si Sari, muka bingungnya campur sama meledek...
Bener-bener sial... ini semua gara-gara Reyhan itu...
Nayla mengumpat di dalam hati dengan muka masam.Tapi Nina tak peduli, karena gak akan mungkin Nayla memusuhinya cuma gara-gara ledekan yang mungkin memang ada benarnya.
"Trus aku harus gimana dong ngadepin tuh dosen?"
Nina meraih gelas minuman yang sudah dipesannya.
"Sudah lah, isi dulu tenaga kamu.. habis itu kumpulin nyali buat ke ruangannya...
Cari muka sana...."
Ucap Nina sambil menyeruput minumannya.
"Bener tuh, minta maaf sambil minta bimbingan soal langkah mu kedepan.."
Nayla pasrah. Tapi setelah di fikir-fikir, mungkin saran Nina sama Sari ada benarnya.
Lagian pak Hasan bukannya temenan sama Reyhan kan?. Mungkin dia tidak akan galak lagi sekarang setelah aku menjadi istrinya Reyhan.
Haha, ada untungnya juga
Mereka memesan makanan. Setelah beberapa menit berlalu tanpa obrolan, akhirnya makanan sudah disajikan dimeja tempatnya.
"Nay..."
Panggil Satya yang entah sudah sejak kapan berdiri disampingnya.
Pun dengan Nina dan Sari. Mereka juga tidak tahu kapan tepatnya laki-laki itu berdiri disitu.
"Eh, hay Satya... ada apa?" Tanya Nayla tanpa basa-basi.
Kalau Satya cuma berdiri dan tidak ikut duduk, itu berarti dia tidak akan lama menganggu gadis-gadis itu menikmati makan siangnya.
"Aku mau bicara soal kemaren Nay... jam tiga aku tunggu diparkiran ya.."
"Oke... kamu gak ikutan duduk?"
Tawar Nayla.
"Nggak usah Nay, aku masih ada tugas... duluan ya, byee..."
Pamit Satya dengan berlalu pergi. Meski terkesan cuek, tapi dari nada bicara dan tatapan matanya yang begitu mendamba, semua orang tahu Satya sedang terluka. Luka yang sebenarnya dia sendiri penciptanya.
Nayla kemudian menatap kedua sahabatnya itu bergantian setelah Satya menjauh. Memastikan bahwa mereka tahu Nayla memperlakukan Satya dengan batas wajar.
"Nin, aku cuma butuh kamu percaya sama aku...
Aku janji akan buat Satya tanggungjawab,
Sebelum kehamilan kamu tersebar sampai ketelinga Om Teguh dan Tante Dewi.
Tetap rahasiakan pernikahan ku ya..."
__ADS_1
Nina mengangguk. "Iya Nay, aku percaya...."