Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Cara Pertama : Negoisasi


__ADS_3

Cinta Tak Pernah Salah


Jantungku kemudian belajar untuk tak lagi berdegup kencang, Mataku belajar untuk tidak lagi memandang padamu,


Rinduku kini hanya sesekali,


Tapi hati ku masih menetap di satu hati, itu kamu.


Cinta memang tak pernah salah,


Yang salah adalah aku yang membiarkan rasa ini tetap ada,


Hingga hanya angan yang membuat kita bersatu, -Dian Rahmanaputri-


***


Satya, maafkan aku


Aku memang pernah mencintaimu, tapi ternyata, kamu adalah takdir untuk orang lain.


Ah, mungkin, ini saat yang tepat....


"Nay,..."


Suara Satya menyadarkan Nayla dari lamunanya. Seketika dia mengerjabkan matanya cepat.


Jangan sampai Satya melihat kelemahan Nayla yang masih memiliki rasa untuknya. Itu akan semakin mempersulit rencananya untuk menyatukannya dengan Nina bukan?


"Nay, aku mencintai mu.. Sangat mencintaimu.."


"Satya, maafkan aku....

__ADS_1


Tapi.. kita tidak mungkin selalu bersama seperti ini. Tolong, jangan membuatku sulit."


Ucap Nayla penuh permohonan.


"Aku minta maaf Nay, tapi.. aku tidak mau kehilangan mu.. aku benar benar mencintaimu..."


Nayla menarik nafasnya dalam. Setiap Satya mengungkapkan perasaan cintanya, itu membuat Nayla semakin tak tega.


Seandainya saja, keadaan tidak serumit ini, Nayla pasti sudah memeluk erat laki-laki tak berdaya didepannya itu. Memberi dukungan dengan penuh rasa sayang. Tapi semua sudah berbeda.


Nayla mengusap dahinya sebentar. Benar kata Sari.


Menyakinkan Satya tidak semudah bayangannnya. Satya masih kekeh pada keegoisaannya padahal Nayla sudah memaksanya beberapa kali.


Eh Tunggu? Memaksanya?


Ah Nayla tahu alasannya sekarang. Kenapa Nayla lupa bahwa Satya tidak bisa dipaksa?


Yaa yaa, sekarang Nayla baru ingat bahwa laki-laki didepannya ini, semakin dipaksa semakin menjadi.


Satya akan mudah diubah pendiriannya jika dia dirangkul.


Dampingi dia untuk berjalan sendiri dijalannya. Dampingi dia, meskipun dari jauh tapi tak apa.


Satya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


"Satya, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menikahi Nina?"


Langkah pertama. Mencoba mengajak Satya bernegoisasi. Nayla melakukannya dengan hati-hati.


"Memang harus ya Nay? Harus ya kamu mengatakan itu pada ku ?" Jawab Satya dengan gusar.

__ADS_1


"Katakan, kamu masih mencintaiku kan?"


"Sat, Ayolah katakan...


Kamu mencintaiku bukan? Aku ingin kamu menikahi Nina... Kenapa sulit sekali untuk menuruti keinginan orang yang kamu cintai?"


Nayla yakin. Satya akan mengalah kali ini. Sudah terlihat jelas di wajahnya. Satya mulai gusar. Itu artinya, pendiriannya sedikit goyah.


"Nayla, kamu yakin menginginkan pernikahanku dengan wanita lain?"


Tanya Satya dengan senyum masam. Dunia begitu tega padanya.


"Aku yakin..." Jawab Nayla sambil meraih tangan Satya. Menggenggamnya memberi dukungan.


"Nina bukan orang lain untukku Sat, Dia adalah sahabat ku. Dia sudah seperti saudaraku sendiri.


Aku memang marah padamu. Kau, tega sekali kamu menghamili sahabatku."


Buru-buru Nayla mengusap air matanya yang jatuh tak tertahan dengan jari telunjuknya.


Kemudian, Nayla menatap lekat mata Satya. Mencoba berbicara dari hati ke hati.


"Aku tidak ingin menjadikan mu pengecut yang lari dari tanggung jawab demi untuk tetap mempertahankan mu disisiku. Aku mohon Sat, tolong nikahi Nina.. Jika kamu tidak mencintainya, lakukan demi aku dan demi calon anakmu...."


Jam sudah menunjukkan waktu kelas Nayla dimulai. Dengan buru-buru Nayla segera berdiri.


"Aku harus ke kembali. Kelas ku sudah waktunya mulai. Satya, tolong pertimbangkan.


Aku duluan yaa...."


Nayla berlari kecil menuju kelasnya. Meninggalkan Satya yang diam mematung. Rekaman suara Nayla baru saja terekam jelas diingatannya. Seperti terputar otomati didalam otaknya.

__ADS_1


Satya tersadar saat tubuh Nayla benar-benar hilang di balik dinding.


Sial..!


__ADS_2