
Kepercayaan.
Kepercayaan itu seperti penghapus. Dia akan mengecil seiring dengan seringnya kesalahan yang tanpa sengaja dibuat.
Sedangkan dalam sebuah hubungan, kepercayaan adalah pondasi yang kuat agar hubungan itu mampu berdiri dengan kuat dan kokoh.
Hanya saja, saat ini kepercayaan diantara Nayla dan Reyhan sedang diuji.
Mobil Reyhan berhenti didepan sebuah cafe dekat kampusnya dahulu.
Rasanya asing.
Sudah lama sekali, ia tidak menginjakkan kaki di area sini.
Dia melangkah masuk, berjalan ke meja dimana disitu sudah ada sosok dua orang yang sudah menunggunya.
"Mana istri lo.?" Tanya Rangga, sesaat melihat Reyhan yang menghampirinya sendirian.
Reyhan hanya mendengus, dia enggan menjawab. Kemudian ia menarik satu kursi disebelah Rangga untuk ia duduki.
Secara spontan, pelayan cafe datang. Menyerahkan buku menu dan Reyhan segera memesannya. "Cappucino latte, satu saja."
Dibalas angguk an kepala oleh pelayan, sebelum pelayan itu pergi dari sana.
"Sorry, merepotkan kalian.." Membuka obrolan, agar langsung ke intinya. "Jadi, sudah ketemu orangnya?"
Tony menyesap kopinya terlebih dahulu. "Gue udah janjian sama dia, lima belas menit lagi."
Jadi, saat Andree meretas data pribadi milik salah satu perusahaan di kantor GMT beberapa hari yang lalu, Reyhan sekalian meminta tolong kepada lelaki itu untuk melacak keberadaan sebuah nomor asing. Nomor yang dengan sengaja sudah mengirim pesan ke Nayla berupa foto-foto Reyhan dan Nina.
Nomor asing itu, Reyhan ingin mengetahui siapa orangnya. Karena menurut hasil kerja Andree, pemiliknya sering berada di kampus tempat Reyhan kuliah dulu.
"Lagian, ada masalah apa sih lo sama tuh orang?" Rangga menimpali. Dulu, jarang sekali baginya, melihat Reyhan yang mau merespon hal-hal diluar pekerjaan dan kuliahnya. "Tumben banget sampai se-penasaran itu sama nomor asing."
"He'eh." Tony membenarkan. "Lo katanya sudah punya istri, masih mau cari selingan? Dia cewek loh bro, ngakunya sih namanya Sasa."
"Cari selingan pala mu." Mendesah sebal, Reyhan ikut menyeruput cappucino latte yang baru saja ia terima. "Berarti lo udah tau orangnya?"
"Belum lah." Menjawab dengan cepat, Tony memasukkan satu potong siomay ke mulutnya. "Kalau sudah tau, gak mau gue repot-repot kesini cuma buat pura-pura ngajak nge-date tuh cewek.."
Ucapan Tony, sontak membuat Rangga mencebik. "Aelah, elo Ton,
bilang aja, maksudnya, kalau lo sudah tau orangnya, dan ternyata cantik. Maka lo ngajak nge-date nya beneran. bukan pura-pura. Begitu kan? Sok sok an lo.."
Reyhan sedikit terkekeh. Baik Tony maupun Rangga, keduanya sudah saling mengenal satu sama lain. Dan karena apa yang dikatakan Rangga adalah kebenaran, jadi Tony lebih memilih diam seolah tidak peduli.
Obrolan terhenti, sesaat ponsel Tony berdering. Sebelum mengangkatnya, Tony melihat Reyhan dan Rangga secara bergantian. "Dia nelfon. Lo berdua, diam"
Sesuai perintah, baik Reyhan maupun Rangga sama sekali tidak ada yang bersuara. Sampai telfon itu, Tony tutup kembali. "Dia sudah didepan, gue suruh masuk duduk dimeja bagian sana... kita lihat aja, siapa cewek itu sebenarnya."
Detik demi detik berlalu, pun menit sejak Tony menutup sambungan telefon-nya tadi sudah berganti.
Yang ditunggu datang juga.
Seorang perempuan.
Perempuan yang tidak asing bagi mereka bertiga, tengah berjalan menuju meja yang Tony sebut. Perempuan itu, duduk sembari mengeluarkan ponselnya. Beberapa detik berikutnya, ponsel Tony kembali berdering.
Tunggu bentar. Gue masih di toilet. begitu Tony menjawabnya.
"Ya Robbi.. Ada masalah apa lo sama tuh cewek?" Saking kagetnya, Rangga sampai lupa caranya mengumpat.
__ADS_1
Reyhan masih mengamati perempuan itu. Sangat tidak terlintas dipikirannya bahwa gadis itu akan bertindak sejauh ini. Untuk apa?
Untuk apa ia mengirimkan foto-foto itu kepada Nayla? Dengan nomor ponsel asing?
"Jadi, lo mau gimana Rey? Gue yang temuin, atau lo sendiri yang temuin dia?" Berpendapat, Tony memberi pilihan. "Atau, lo cuma pingin tahu aja. Kalau lo cuma pingin tahu, yaudah yok kita cabut dari sini"
"Enggak" Jawab Reyhan menyeruput habis kopinya. "Gue yang akan ke sana, menemui dia."
Detik berikutnya, Reyhan mengeluarkan dompetnya. Mengambil beberapa lembar uang dan ia letakkan di atas meja. "Tuh, nanti bayarin kopi gue, sekalian punya lo berdua. Sekali lagi, thanks ya"
Tony maupun Rangga mengangguk. Membiarkan Reyhan pergi dan tidak mau tau lagi apapun urusan yang ingin Reyhan selesaikan.
Kedua lelaki itu, asik dengan ponsel masing-masing.
Ditempat yang tak jauh, Reyhan berjalan dengan langkah yakin. Menemui perempuan itu.
"Al..." Menarik satu kursi didepan Alma, Reyhan duduk dengan santai. "Apa kabar?"
Terkejut.
Alma hanya diam membisu, dengan wajah tegang yang mematung tanpa ekspresi. Mulutnya menganga, sampai beberapa detik, sebelum secara reflek tangan kirinya bergerak menutup mulutnya sendiri.
Alma tidak menyangka yang berkenalan dengannya beberapa hari yang lalu adalah Reyhan.
Sama sekali tidak terlintas dibenak wanita itu.
"Mas Rey,? kok, kok disini?" Gugup. Hatinya cemas. Perasaan gelisah yang ia tutupi tidak mampu Alma sembunyikan dengan rapi.
Gadis itu, tau letak kesalahannya dimana.
Alma paham, dengan maksud dan tujuan apa, Reyhan ada didepannya saat ini.
Belum sempat Reyhan menjawab, Alma berdiri. Mengambil tas nya dan berlalu begitu saja meninggalkan Reyhan.
"Al, tunggu...." Memilih mengejar agar masalah segera selesai, Reyhan pun ikut berdiri dan menyusul langkah kaki Alma. "Al, ada yang mau aku bicarakan sama kamu.."
Perempuan itu tidak merespon. Alma justru semakin melangkahkan kaki nya dengan cepat menuju mobil nya yang ia tinggal diparkiran kampus.
Alma hanya ingin pergi. Menghindar dari Reyhan.
"Al.."
Bodoh. bodoh. bodoh.
Kenapa bisa ceroboh sih. Kenapa aku lupa, kalau nomor itu hanya untuk mengirim pesan ke Kak Nayla.! batin Alma.
"Al.. Alma."
Langkah kaki Alma terhenti, saat lengannya ditahan oleh Reyhan. Sialan.!
"Al, tunggu... aku mau ngomong."
Alma diam mematung. Hatinya penuh rasa gelisah. Tapi, sebelum ia berbalik dan menghadapi Reyhan, Alma harus menyembunyikan kegelisahan yang terlihat dari raut wajahnya.
"Mau ngomong apa mas?" Ucapnya galak saat akhirnya, Alma menyerah. "Mau marah-marah sama aku? Silahkan.."
Reyhan.
Lelaki yang Alma kejar. Lelaki yang Alma rindukan.
Sekaligus, lelaki yang ia benci.
__ADS_1
Nafas perempuan itu memburu. Alma ingin menangis kencang karena takut Reyhan marah. Tapi sekuat tenaga, ia menahannya.
"Kita ngobrol di taman belakang kampus aja ya Al, biar nyaman." Reyhan menarik tangan Alma, dan untung saja gadis itu mau menurut.
Baik Alma atau pun Reyhan, tidak ada yang bersuara selama berjalan. Reyhan yang berusaha mengatur emosinya, dan Alma yang berusaha menguasai rasa takutnya.
Hingga sampailah keduanya di taman belakang kampus.
Keduanya, duduk disalah satu bangku ditaman itu.
"Al..." Panggil Reyhan memulai ucapannya.
Alma menoleh, matanya sudah menggenang. Satu kedipan saja, ia pasti sudah menangis. "Kamu jahat tau enggak mas.. hiks.."
Loh, kenapa jadi aku yang jahat?
"Kenapa kamu diam-diam malah nikah sama kak Nay? Aku lo yang udah ngejar kamu dari dulu mas.."
"Al.. jangan diulangi ya." diusapnya lengan kanan atas gadis yang tengah menunduk didepannya sambil menangis itu. "Jangan diulangi"
"Kenapa mas Rey tidak melihatku sedikit saja? apa yang kurang dari aku mas? aku cinta sama kamu"
Awalnya, Alma menangis karena takut Reyhan marah. Tapi, kali ini ia menangis karena benar-benar merasa bersalah. Alma pikir, Reyhan akan marah-marah. ternyata, tidak.
"Karena aku, sudah menganggap kamu seperti adik ku Al, gak lebih." Pelan-pelan Reyhan menjelaskan. "Aku hanya mencintai istriku, Nayla. Kamu tahu kan, perasaan tidak bisa dipaksa?"
"Setidaknya, kamu mencoba dulu mas.."
"Maaf," Ucap Reyhan tulus. "Aku beneran nggak bisa Al. Apalagi, sekarang aku sudah menikah,"
Isakan Alma terdengar semakin pilu. Reyhan mengerti bagaimana rasa sedih yang dirasakan wanita itu. "Bisa kan Al? Tolong jangan diulangi ya?
Selain membuat aku dan Nayla salah paham, itu juga mempengaruhi hubungan persahabatan kakak mu loh?"
"Kenapa harus kak Nayla? apa karena pacarnya kak Nayla menikah dengan kakak ku, lantas kak Nay balas dendam dengan mendekati mu?"
Reyhan hanya menggeleng, sebagai jawaban dari pertanyaan Alma. Lelaki itu enggan menjelaskan lebih lanjut.
"Tapi, apa mas Reyhan bahagia?" Tanya gadis itu lagi.
"Iya" Reyhan mengangguk. Senyum tipis terukir diwajahnya. "Aku bahagia, karena aku mencintainya Al.."
Meskipun dengan air mata yang masih menetes, Alma berusaha menghapus linangan itu dengan tangannya sendiri. Senyum getir ia tampilkan diwajahnya sambil menatap Reyhan. "Berarti, perasaanku harus berhenti sampai disini."
Gadis itu mengambil tisu dari tasnya. Sisa-sisa air mata di pipinya, ia hapus sampai kering. Dan kemudian senyum getirnya berubah, menjadi senyum manis yang terlihat sangat tulus.
"Maaf ya mas, maaf sudah mengganggu rumah tangga mu. Sekarang Alma tahu, cinta memang tidak bisa dipaksa. Alma ikhlas kehilangan mas Reyhan, meskipun Alma belum sempat memiliki mu mas.
Alma harap, mas Reyhan bahagia,
Alma harap, Kak Nay bisa membuat mas Reyhan bahagia."
"Terimakasih Al, sudah mau mengerti."
Keduanya, beranjak dari taman. Alma pergi dengan mobilnya, pun dengan Reyhan yang berjalan keluar dari area kampus menuju cafe tempatnya semula.
Ya, begitulah Reyhan.
Dia selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tanpa amarah, tanpa bentakan, dan tanpa kekerasan.
Kalau dibilang sabar, Reyhan memang kelewat sabar.
__ADS_1