
Tidak peduli siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri.
Leher jenjang milik Nayla masih saja membuat Reyhan terus merasa tergoda.
Kedipan mata perempuan itu yang begitu genit, membuat Reyhan ikut terlena. Hanyut terbawa arus penuh pesona.
Awalnya,
hanya ciuman bibir yang Nayla berikan secara singkat namun penuh perasaan. Saling menghisap dengan kuat dan sedikit nakal, membuat Reyhan gelap mata pada istrinya sendiri.
Kemudian,
Balasan dari Reyhan berupa gigitan kecil di leher Nayla tak dapat dihindari lagi. Menyisakan bekas merah dibeberapa tempat. Mungkin, butuh waktu beberapa hari agar warna merahnya memudar.
Benar-benar seperti hiasan yang membuat Reyhan begitu menyukainya.
Reyhan suka sekali. Sangat suka.
Pelan, tapi pasti.
Satu persatu lelaki itu menjamah seluruh bagian tubuh Nayla. Menikmati wangi alami yang membuat Reyhan seperti mabuk kepayang, lupa daratan.
"Sayang, aku suka aroma tubuh mu." Nafasnya tersengal diatas tubuh Nayla yang tengkurap.
Reyhan memuji Nayla dengan suara parau, setelah dia berhasil membalik tubuh Nayla. Mengunci tangan perempuan itu keatas kepala, dan mencium punggung mulus yang amat bersih, tentu milik Nayla.
Dan tidak lupa, meninggalkan banyak jejak kepemilikan disana.
"Sabun mandi apa yang kamu pakai?" Bisiknya lirih. Puas bermain diarea punggung sang istri, Reyhan kembali melentang kan tubuh setengah telanj*ng milik Nayla dengan tak kalah sensasi.
(Saat ini memang tubuh setengah telanj*ng, gak tau nanti, hehe)
Membuat perempuan itu mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan aneh sang suami, "Sabun mandi ku sama dengan yang kamu pakai. Ada ada saja.." Nayla terkekeh menanggapi, sesaat perempuan hamil itu kembali mengerlingkan mata, membuat Reyhan seketika kalap dibuatnya.
Bagi Reyhan, Nayla adalah keindahan, lengkap dengan segala kenikmatannya.
"Benarkah?"
Nayla hanya mengangguk seolah Reyhan melihatnya, padahal sambil melemparkan pertanyaan bernada tidak percaya barusan, lelaki itu kembali melancarkan aksinya.
Menyerang buah dada seputih susu, dengan ukuran yang pas menurut Reyhan.
Tunggu.
Ukuran yang pas? Eh tidak. "Ini, sedikit lebih besar dari sebelumnya."
"Masak iya?" Nayla memastikan.
Bukan menjawab, Reyhan malah menggigitnya gemas, bagian pucuk yang berwarna coklat semu merah muda. Benar-benar nikmat yang tiada tara.
"Ah, Rey.. " Sontak saja, gigitan Reyhan membuat Nayla ikut mendesah nikmat, meluapkan rasa yang berhasil Reyhan ciptakan pada tubuhnya saat lelaki itu kembali menghisapnya sangat kuat. Sedikit nyeri, tapi mampu membuat Nayla tanpa sadar meleguh kenikmatan lagi.
__ADS_1
"Eughh..."
Dan itu membuat Reyhan semakin menyukainya.
Lelaki itu, seperti orang yang sedang kelaparan. Dia memperlakukan Nayla seperti makanannya.
Tapi memang benar,
Reyhan sebenarnya sangat lapar.
Bukan perutnya yang lapar, tapi batinnya. Sudah beberapa hari dia menahan diri untuk tidak menyentuh Nayla, sesuai anjuran dokter. Meskipun dia sangat menginginkan itu.
Pun dengan Nayla yang sebenarnya, sama dalam hal kelaparan batinnya.
Reyhan menggelengkan kepala gelisah, sebelum kalimat ambigu itu lolos begitu saja keluar dari bibir sensualnya dengan suara parau. "Aku mulai ya."
"Tunggu." Nayla tersenyum nakal, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini begitu saja. Dia akan berusaha mendapatkan apa yang dia mau.
"Kalau begitu..." Nayla menjeda kalimatnya, sengaja menguji kesabaran sang suami. "Kamu pasti mau kan, mengantarkan aku ketempat Nina?"
Jari-jari yang lentik milik Nayla, menyusuri dada bidang suaminya. Bisa dibilang sebuah rayuan.
Tidak merubah posisi, Reyhan menghela nafasnya kasar.
Membuat kepercayaan diri Nayla sedikit goyah. "Aku mohon.."
Ditatapnya mata Reyhan begitu dalam dengan tatapan memohon. "Aku mengkhawatirkannya."
Meski lelaki itu merasa sedikit sebal, karena merasa Nayla memanfaatkan kelaparan nya.
Tapi tidak masalah. Nayla memang istrinya.
Akan lebih baik perempuan itu meminta izin dengan memohon kepadanya, dari pada dia harus nekad pergi sendirian tanpa mengantongi izin dari Reyhan. Meskipun itu terdengar tidak mungkin. Tapi, bisa saja terjadi kan?
"Baiklah," Menjawab dengan malas. "aku mulai sekarang..."
"Tunggu, Reyhan..."
"Apa lagi?" Ah, Nayla benar-benar menyebalkan.
Nayla terkekeh, sambil memainkan jarinya mengusap tulang rahang sang suami. "Pelan-pelan. Jangan menyakitinya." Melirik kebawah, bagian perutnya yang seketika membuat Reyhan mengerti.
Tanpa menjawab, Reyhan segera memainkan inti hubungannya. Dia bergerak begitu pelan, merasakan sensasi tubuh Nayla yang menegang berulang-ulang.
Menikmati setiap detiknya dengan penuh perasaan.
Tubuh Nayla seperti pemandangan indah yang sangat cantik, dan mampu memanjakan mata Reyhan. Satu detik pun lelaki itu tidak mengalihkan pandangannya dari sana.
Biarkan saja, sudah halal kan?
Ah, begitu indahnya saat kita memiliki seseorang yang bisa dijadikan "rumah".
__ADS_1
Seseorang yang bisa dijadikan tempat, dimana kita bisa merasakan nyaman dan terikat secara emosional. Dimana kita bisa menemukan kehangatan dari cinta dan kasih.
Iya, Nayla adalah rumah bagi Reyhan. Tempat lelaki itu kembali meski sejauh apapun langkah kaki membawanya pergi.
Nayla dan Reyhan, memang hanya manusia.
Seperti halnya Reyhan yang memiliki kekurangan, tentu Nayla mungkin memiliki kekurangan juga. Tidak ada pasangan yang sempurna.
Tapi, kesempurnaan sebuah hubungan memang harus diciptakan oleh keduanya, bukan?
"Aku mencintai mu, Nayla.."
Ungkapan cinta lolos begitu saja bersamaan dengan keduanya yang mencapai puncak langit arwana secara bersama-sama. Reyhan ambruk, merebahkan diri di samping Nayla.
Diraihnya tubuh polos Nayla kedalam pelukan, lalu didekapnya erat saat tubuh mereka, sama-sama dalam kondisi tidak berdaya.
Peluh membasahi seluruh tubuh Nayla, begitu juga tubuh Reyhan. Nafas keduanya yang ter-senggal sudah mulai teratur meski belum sepenuhnya normal.
"Kamu, baik-baik saja kan?" Tanya Reyhan, lirih.
yang seketika dijawab Nayla dengan anggukan kepala.
"Perut kamu, ada yang sakit? Bayi kita, apa dia juga baik-baik saja?" Reyhan kembali bertanya dengan nada khawatir. Membuat Nayla mengulas senyumnya,
Lalu perempuan didalam dekapannya itu mendongak. Dia menggerakkan jari - jemarinya memainkan wajah Reyhan.
Dari dahi, menyusuri bagian pelipis. Membelai lembut pipi Reyhan, lalu jari telunjuk-nya berhenti tepat dibibir lelaki itu. "Hust, Jangan khawatir sayang. Dia baik-baik saja. Bahkan, sangat nyaman sekali."
Mata yang saling memuja itu kini saling menatap dengan begitu dalamnya, "Biarkan aku, menikmati dekapanmu sebentar saja."
Suasana sore menjelang malam yang menyenangkan. Saat matahari mulai kembali ketempat peraduan, dua insan yang sudah terikat dalam ikatan pernikahan itu rupanya juga tengah menikmati kebutuhan.
Mungkin, bukan hanya Nayla dan Reyhan saja. Ada banyak orang diluar sana, yang bisa juga sedang melakukan hal serupa.
"Aku harus mandi lagi deh.." Keluh Reyhan, yang dijawab kekehan kecil dari sang istri. "Bagaimana kalau, mandi bareng."
"Jangan ngada-ngada ya, aku enggak mau." Jawabnya spontan.
"Kenapa?"
"Aku masih capek." Menghela nafasnya panjang, Nayla memasang wajah imutnya. "Kamu aja mandi duluan, setelah itu kita harus turun kan, buat makan malam sama anak-anak?."
"Hem" Reyhan berdehem. Sebelum dia beranjak ke kamar mandi, lelaki itu sempat menciumi wajah Nayla di semua tempat. Dimulai dari kecupan di dahi, turun ke kedua matanya secara bergantian, berlanjut ke hidung.
Lalu, dipipi kanan, kemudian di pipi kiri. Dan, akhirnya berhenti lama di bagian bibir Nayla.
Puas mencium, Reyhan segera bangkit, lalu membisikkan kata yang membuat Nayla tertawa geli.
"Aku sudah memakan hidangan pembuka ku barusan."
"Hahaha, yassalam, Reyhaan..."
__ADS_1