Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Klasik Semi Modern


__ADS_3

Mobil Nayla berhenti tepat disebuah pelataran yang tidak terlalu luas.


Dari segi pandangan pertama Nayla, rumah Reyhan jauh tidak lebih bagus dari rumah Papa nya.


Rumah ini terlalu sederhana. Jauh dari kata mewah.


Lalu bagaimana bisa Reyhan hidup selama ini dengan anak-anaknya?


Lagian papa kenapa sih, kenapa harus laki-laki yang biasa saja seperti ini yang dia pilihkan untuk Nayla? Astagaaa. Nayla


Tanpa Nayla tahu, rumah satu lantai bergaya klasik semi modern yang masih tahap pembangunan untuk lantai dua itu murni hasil jerih payah Reyhan sendiri. Dari hasil penjualan Toko Buku nya yang sudah berhasil membuka cabang dibanyak tempat setahun lalu.


Bukan Reyhan yang tidak sanggup membuat rumah yang lebih bagus. Hanya saja, saat itu Reyhan lebih fokus ke fungsinya dari pada hanya memikirkan modelnya saja.


Rumah itu bukan hanya dirinya saja yang menempati. Ada banyak anak anak bernasip malang yang mendapatkan kehangatan keluarga dan tempat tinggal didalamnya.


Jeni, Angga, Roni, Rista, Afif, Janu, Candra dan Naura.


Senyum mereka yang menjadi penyemangat Reyhan dalam masa-masa sulitnya.


"Ayoo turun"


Seru Reyhan sambil berusaha membuka ikatan sabuk pengaman.


"Itu bener rumah kamu?"


Enggan beranjak dari tempat duduknya. Nayla masih merasa tak habis pikir dengan laki-laki disampingnya itu. Laki-laki pilihan papa nya.


Dia begitu sederhana. Sangat berbeda jauh dari Satya.


Satyaa... sedang apa dia sekarang?


"Kenapa? Ayooo cepat turun.!!"

__ADS_1


Membantu Nayla melepaskan tali pengamannya. Reyhan tau apa yang ada difikiran Nayla. Dia hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Nayla keluar dari mobil dan berjalan disamping Reyhan dengan malas. Entah perasaan asing apa yang ada dihatinya.


Dia terhentak ketika sebuah tangan kekar menggandengnya mengajak berjalan bersama menuju rumah itu.


"Jangan lihat luarnya. Kamu belum tahu saja kehangatan yang tercipta didalamnya."


Rumah itu, sebenarnya juga tidak terlalu buruk. Sederhana dan memang sengaja dibuat model modern semi klasik.


Hanya saja, Nayla sudah terbiasa tinggal dirumah mewah bak istana. Makanya, dia merasa asing dengan rumah suaminya.


"Rey, setelah menikah kita akan tinggal dirumah Papa kan?"


Reyhan enggan menjawab. Dia memutar gagang pintu dan membukanya.


Berjalan masuk beberapa langkah hingga dia berdiri didepan pintu kamarnya.


"Disini ini kamar kita"


Ini serius kamarnya didepan begini. Kalau kamarnya didepan trus dimana ruang tamunya dong?


Tuh, aneh kan?


"Serius kamarnya didepan begini Rey?"


Belum sempat Reyhan menjawab seorang perempuan yang lebih tua dari nya menghampiri dan menyapa mereka.


"Eh, mas Rey sudah pulang? Wah ini to istrinya Mas? Cantik banget..."


Ini siapa lagi?


Kenapa manggilnya Mas? Dia kan lebih tua dari Reyhan? Gak mungkin dia adiknya kan?

__ADS_1


Nayla tersenyum kikuk.


"Eh iya mbak.. ini kenalin istrinya Reyhan, Namanya Nayla."


Reyhan tersenyum manis kearah Nayla. Pesonanya lagi-lagi memaksa Nayla untuk mengaguminya meski hanya beberapa detik.


Nayla hanya tersenyum menanggapinya. Tangannya terulur kedepan memperkenalkan diri...


"Nayla ..."


"Panggil saja mbak Nana...."


Perempuan bernama mbak Nana itu membalas uluran tangan Nayla. Sebagai tanda perkenalan mereka.


"Jangan sungkan-sungkan minta tolong mbak Nana ya kalau Mbak Nayla butuh bantuan disini."


"Terimakasih...." Jawab Nayla mengangguk sopan.


"Oiyaaa mbak, anak - anak sudah pulang?" Tanya Reyhan.


"Rombongannya Angga belum mas.. Mungkin sebentar lagi....."


Jawab Mbak Nana melirik jam dinding.


"Yaudah, Nanti kalau mereka sudah pulang tolong suruh ngumpul ditempat makan ya mbak.. Nih Mama Baru mau tak suruh kenalan. sekalian kita makan siang bersama.


Sekarang mama baru nya mau istrahat dulu."


Seru Reyhan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Tersenyum menyeringai saat menatap wajah Nayla yang entah sulit dijabarkan.


Tawa Mbak Nana pecah. Menanggapi keisengan boss nya itu.

__ADS_1


"Mas Reyhan ini ada ada saja..."


__ADS_2