Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Pendengar Yang Baik


__ADS_3

"Rey, mau nambah nasinya?"


"Aku sudah kenyang..." Jawab Reyhan singkat sembari menghabiskan sisa makanan dipiringnya.


"Ehm.. lihat Pa, pengantin baru memang beda ya, kayak ada manis-manisnya gitu..."


Goda Mama Riana.


"Jangan digoda in gitu dong Ma, tuh lihat Nayla. Kasian jadi malu gitu..."


Ya, saat ini Nayla dan Reyhan sedang makan malam bersama Papa Zeko dan Mama Riana. Pasangan dua sejoli itu nampak asik mengobrol saling menggoda sedari tadi.


Apalagi Mama dan Papanya, benar-benar pasangan serasi.


Lihat saja, Mama secara terang-terangan menggoda Nayla. Sedangkan Papa, berlagak pura-pura membela Nayla, padahal ekpresinya jauh lebih terlihat menyebalkan dibanding Mama.


Haaah, Nayla menghembuskan nafasnya kasar. Geleng-geleng kepala sambil menatap tidak percaya kearah Papa dan Mamanya. Iseng banget, suka kali ya mereka kalau melihat Nayla malu-malu kucing begitu?


"Nayla memang istri yang baik Pa, Ma..."


Jawab Reyhan sambil mengusap pucuk kepala Nayla. Mengacak-acak rambut Nayla.


Membuat Nayla semakin malu saja.


"Papa dan Mama sudah selesai belum makannya? Sini, Reyhan bantuin bawa piring kotor kebelakang.. kasian bi Sri.."


"Sudah kok, wahh, gak salah ya Rey, Papa pilih kamu?"


Puji Papa Zeko.


Reyhan bukannya cari muka. Tapi karena dia memang sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu.

__ADS_1


Dulu, begitulah cara dia mengajari anak-anak asuhnya. Bukan dengan menyuruh mereka, tapi dengan memberi contoh yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Kenyataannya, berhasilkan?


***


"Gosok gigi dulu yuk?"


Ajak Reyhan sambil menarik tangan Nayla kekamar mandi.


Itu kebiasaan mereka.


Menggosok gigi bersama sebelum beranjak merebahkan dirinya ketempat tidur.


"Ngomong-ngomong nih ya Nay, kamar tidur kamu jadi beda ya dari pertama kali aku kesini? Perasaan dulu kayak feminim banget gitu, sekarang sudah netral aja..."


"Iya dong, kan sekarang ada kamu juga Rey..."


Sedangkan Nayla sudah tidur dengan posisi miring disamping Reyhan.


Kedua tangannya bermain-main dikaki Reyhan yang terbungkus baju tidur dan selimut.


"Reyhan, aku mau cerita soal laki-laki tadi..."


Nayla merasa ini waktu yang tepat. Waktu santainya yang panjang dengan Reyhan didalam kamar pribadinya sendiri.


"Hmmmm" Jawab Reyhan dengan deheman. Itu artinya, Reyhan mempersilahkan Nayla untuk bercerita. Dan dia akan menjadi pendengar yang baik. Hanya akan berbicara setelah diminta.


"Jadi Satya itu,


dia pacar aku Rey sebelum kita nikah. Aku pacaran sama dia sudah dua tahun. kurang lebih.

__ADS_1


Seperti pasangan pada umunya. Kami saling mencintai. Itu menurutku..."


Cerita Nayla dengan sedikit ketakutan. Atau semacam rasa tidak nyaman. Reyhan bisa menilainya dari nada bicara gadis itu. Sedikit kikuk. Dan terdengar jelas sangat berhati-hati dalam memilih kata. Entahlah, Reyhan berpikir mungkin Nayla memang memghormatinya sebagai seorang suami.


Tidak lebih....


"Papa dan Mama juga tahu. Bahkan mereka deket sama Satya, dan merestui juga kok... Hubungan kami berjalan lancar.. Tapi, Entah kenapa tiba-tiba Papa menyuruhku menikah denganmu...


Kamu tahu nggak apa alasan Papa?"


Nayla mendongakkan wajahnya. Memastikan kalau suaminya masih baik-baik saja.


Dan tepat sesuai dugaan Nayla, Reyhan memasang wajah antusias, tapi tetap tenang.


Nayla kadang juga heran, kok bisa sih Reyhan setenang itu?


Sesabar apa laki-laki ini? Atau dia, memang tidak peduli?


Entahlah, yang jelas Nayla merasa lega karena itu artinya, Nayla berhasil memilih kata yang tepat agar tidak menyakiti perasaan suaminya.


"Aku tidak tahu Nay, tapi aku yakin, Papa mu pasti berusaha memberikan yang terbaik untukmu..."


Reyhan melepas tautan jemarinya. Tangannya berpindah ke puncak kepala Nayla. Memainkan rambutnya, kadang kala bermain dikening istrinya saat Nayla kembali memposisikan kepalanya ke posisi semula.


"Itu terlalu mengejutkan Rey, hubungan yang berjalan baik dan lancar, tiba-tiba saja harus rela kulepaskan dalam waktu yang singkat... "


"Apa artinya itu, kamu menyesal dengan pernikahan kita?" Tanya Reyhan mulai penasaran.


"Hey, aku belum selesai bercerita... biasanya kamu akan menjadi pendengar yang baik bukan?" Sungut Nayla protes.


"Haha, maaf... aku penasaran Nay...

__ADS_1


kalau begitu, ayoo silahkan lanjutkan Tuan Putri"


__ADS_2