Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Dikuasai Amarah


__ADS_3

Tak bisakah kau biarkan kesalahpahaman ini semu?


Ah tidak, Hatimu sedang kelabu


Memaksa rasa tak terasa


Egomu, dan gengsimu yang masih meraja


Tak bisakah kau dengarkan aku sekali saja?


Sebelum terlambat meninggalkanku lebih lama


Kau sudah mengartikan pandanganmu berbeda


Kau juga enggan mendengar ceritaku berbicara


Aku hanya tidak ingin, kau menyesal pada akhirnya...


-R.A-


***


Beberapa menit kemudian, Nayla dan Sari sampailah dipucuk bukit itu. Dengan nafas mereka yang terengah-engah.


Tidak mudah bagi kedua gadis kota itu untuk sampai dititik dimana dia berdiri sekarang.


"Ahh Naylaaa.. Ya Tuhaann.. Ini indah bangett..."


Seru Sari sambil berlari dan sesekali memutar tubuhnya. Menikmati pemandangan alam yang Tuhan suguhkan dengan begitu sempurna dengan cara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan.


Sebuah kelegaan karena apa yang didapat sekarang adalah sebanding dengan apa yang dilaluinya tadi.


Pun dengan Nayla, dia menikmati karya Tuhan yang sangat indah ini dengan perasaan berdesir. Penuh kagum.


"Apa aku bilang.. Ya kali aku mau capek-capek kesini kalau pemandangannya gak sebanding sama susahnya kita naik tangga itu..."

__ADS_1


Nayla mengamati sekelilingnya. Memutar ulang kenangan beberapa hari yang lalu disini, ditempat yang sama, meskipun dengan orang yang berbeda.


Suasananya masih sama. Angin bersemilir kencang membuat rambut Nayla sedikit berantakan meskipun sudah diikat rapi.


"Loh, kok sudah banyak kursi ya disini? Perasaan kemaren belum ada?"


Gumam Nayla saat pelataran luas diatas bukit itu berubah seperti taman dan terdapat banyak kursi untuk beristirahat.


Nayla baru akan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi itu setelah Sari menyeretnya ketempat makan.


"Nay, makan dulu yukk? Hehe baunya harum bangett bikin laperr lagi.."


Sukses membuat Nayla melebarkan matanya dengan mulut menganga. "Serius nih? Bukannya tadi kamu bilang kita baru aja makan?"


"Ayolah Nay..." Ucap Sari memohon . "Bukankah kita tadi naik tangga kesini? Tenaga sudah habis tau nggakk.."


"Ya Ampun Sar.. Itu perut apa karet sihh.."


Ledek Nayla menirukan perkataan Sari beberapa waktu lalu dengan intonasi yang dibuat sama persis. Lalu Nayla terkekeh geli setelahnya.


Meskipun begitu, Nayla tetap menuruti saja permintaan sahabatnya itu. Sari tidak bohong, aroma makanan seafood yang khas disini membuat siapa saja bisa lapar mendadak.


Ucapnya lagi sambil menggandeng tangan Nayla memasuki tempat makan yang tak lain adalah Restoran Sadewa.


Untungnya, masih ada beberapa tempat duduk yang kosong sehingga mereka berdua bisa menikmati makanan khas laut itu dengan tenang.


"Kamu mau makan apa aja pokoknya bebas Sar.." Ucap Nayla sambil menyodorkan buku menu.


Tangan Nayla melambai memanggil pelayan resto. Setelah mereka memesan makanannya, beberapa menit kemudian makanan itu sudah tersaji dimeja. Mereka berdua menikmati makanan mereka, pun dengan Nayla yang sesekali sambil memainkan ponselnya.


"Wahh, aku makan yang mana lagi ya Nay,"


Seru Sari dengan tidak sabar saking banyaknya makanan yang sudah dia pesan.


"Nay, pokoknya harus habis ya..."

__ADS_1


Ucapnya lagi.


Nayla tetap menyantap lezat makananya sebelum matanya menangkap satu sosok familiar yang sedang berjalan penuh wibawa keluar dari balik ruangan, entah itu ruangan apa direstoran ini.


Dan sosok itu tak lain adalah Reyhan.


Reyhan ngapain disini?


Perasaan nyeri yang tadi pagi masih belum sembuh. Sekarang hatinya semakin merasa sakit saat ternyata dia melihat Reyhan tidak sendirian. Ada satu perempuan cantik yang mengikuti Reyhan dibelakangnya. Dan apa lagi itu?


Baju Reyhan sudah berubah dari yang terakhir dia lihat tadi pagi. Reyhan nampak lebih rapi dengan setelan jas yang melekat sempurna ditubuhnya membuat Nayla ingin memaki sekarang juga. Otak siapa yang masih bisa berfikir positif dengan keadaan seperti ini?


Nayla menajamkan pandangannya sekali lagi, dan hasil nya masih sama. Sosok itu benar-benar Reyhan.


Reyhannn sialaaannnn...!! Umpat Nayla dalam hati.


Tanpa sadar, air matanya jatuh menetes dengan wajah tanpa ekpresi.


Nayla tak habis pikir, bisa-bisa nya Reyhan mengganti pakaiannya terlebih dulu hanya untuk bertemu dengan selingkuhannya.


Biar apa berpakaian begitu? Biar dikira kaya?


Jadi benar kau punya wanita lain?


Jadi bukan aku doang yang kamu ajak kesini?


Jadi ini alasan kamu beberapa hari ini sibuk sampai pulang larut?


Dasar munafikkk...


Aku benci kamu Reyhannnnn.!


Amarah menguasai Nayla dengan segala perspekulasinya sendiri. Dadanya terasa sesak seperti ada pisau tajam yang menembus sampai ulu hati. Nafsu makannya hilang seketika.


Dan Nayla bertindak cepat. Segera menghapus air matanya sebelum Sari melihatnya menangis.

__ADS_1


"Cepet dihabisin Sar, yuukkk segera pulang"


Begitu putusnya.


__ADS_2