Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Sang Pelindung


__ADS_3

Dari dulu.


Sejak ia memutuskan meninggalkan rumah papanya yang penuh dengan segala fasilitas mewah, lalu memilih membangun panti dan rumah singgah untuk anak-anak itu, Reyhan selalu memastikan sendiri bahwa mereka aman.


Mereka anak-anaknya aman dalam hal keselamatan raganya, dan juga jiwanya.


Reyhan tidak akan membiarkan mereka menghadapi masalahnya sendirian. Bukan karena Reyhan ingin mereka bergantung kepadanya, tetapi


karena janji dan prinsip Reyhan pada dirinya sendiri.


Yaitu, menjadi pelindung.


Pelindung orang-orang disekitarnya. Pelindung anak-anak tanpa dosa yang kehilangan orang tuanya.


Reyhan sudah menjadi pelindung yang tidak ingin dilindungi, sejak dulu.


Mungkin, seperti itulah alasannya.


Selain karena Nayla adalah isrtrinya, perempuan itu sudah berhasil mengunci hati Reyhan. Sejak, saat itu.


Saat dimana, dengan keberanian dan kejujurannya, Nayla mengakui kondisinya yang tidak suci lagi, ditaman waktu itu.


Reyhan jadi begitu terobsesi melindungi Nayla. Bahkan sebesar apapun badai itu. Apalagi, Nayla sekarang adalah istrinya. Dia terobsesi memberi rasa aman pada perempuan itu, Sama ketika ia memberi rasa aman kepada anak-anaknya.


"Halo pa" Suaranya menjawab panggilan telefon dari papa mertua. Sambil berjalan dibelakang Bima, menuju parkiran.


"Rey.. bagaimana? kamu sudah tahu bukan berita yang tersebar diluar sana?" Ada nada khawatir yang Reyhan dengar. Membuat hatinya, sedikit kesal karena gagal melindungi orang-orangnya.


"Reyhan sudah tahu pa, Papa gak perlu khawatir. Biar Reyhan yang mengatasinya." Berusaha menenangkan, meskipun pikirannya sendiri tidak tenang.


Sambil masuk kedalam mobil, Reyhan memijit ujung pelipis matanya sebelah kiri. Ia juga terlihat serius menyimak suara lelaki dari seberang sana.


"Papa minta maaf ya Rey.." Suaranya bergetar. Mungkin, papa Zeko menahan tangisnya. "Kamu jadi terbawa-bawa dalam masalah ini"


"Tidak masalah pa," Sebelah tangannya mengusap rambutnya sendiri dengan kasar. "Nayla memang istri Reyhan. Jadi, sudah menjadi kewajiban saya melindungi Nayla."


"Lalu, dimana Nayla? kenapa handphone nya tidak aktif..?"


"Dia aman." Reyhan sedikit menjeda kalimatnya, sebelum memberi tahu papa Zeko mengenai sedikit rencananya. "Aku memang sengaja tidak memberi Nayla akses jaringan sosial pa. Aku takut dia jadi kefikiran."


Lagian, Nayla sedang dalam keadaan memulihkan kondisi rahimnya. Dia tidak boleh stress, dan memikirkan beban berat.


"Tapi Rey, papa harus bertanya langsung kepada dia, perihal foto itu?"


"Pa.." Suaranya tertahan beberapa detik. "Papa percaya kan sama Nayla? Lagian, foto itu belum tentu benar pa."


Padahal, foto itu asli. Dan Reyhan, tahu itu.

__ADS_1


Reyhan sudah memastikan keaslian dari foto yang tersebar luas di media.


"Tapi, bagaimana kalau foto itu nyata? Papa harus memastikan, dan mendengar langsung dari mulut Nayla sendiri."


"Pa, Reyhan mohon sama papa. Jangan buat Nayla tertekan ya pa.. Reyhan yang akan menyelesaikan masalah ini. Sekalipun nanti foto itu terbukti benar adanya, tolong, maafkan Nayla pa"


"Mana bisa?" Nada nya sedikit meninggi. "Jelas saja papa akan marah, kalau sampai foto itu benar-benar fotonya."


"Pa..."


"Lagian, ngapai dia berada di depan hotel begitu?" Masih dengan nada yang semakin meninggi.


"Pa... Reyhan mohon sama papa. Nayla pasti punya alasan pa. Lagian kan, belum tentu benar?"


Dari seberang ponsel, Reyhan mendengar papa Zeko menghela nafas. Mendengus kesal, sekaligus menenangkan emosi yang bergemuruh. "Bagaimana dengan kamu,?"


"Reyhan tidak masalah pa, Reyhan tidak peduli dengan masa lalu Nayla."


Hening.


Selama hampir satu menit tidak ada jawaban dari seberang sana. Mungkin, papa Zeko sedang memikirkan perkataan Reyhan.


Iya benar.


Karena kenyataannya, ditempat yang berbeda. Lelaki paruh baya itu sedang menahan sesak didadanya. Sambil duduk di kursi kebesarannya, mata Papa Zeko terlihat berkaca-kaca.


sempat bertemu Reyhan, dan membuatnya menikah dengan satu-satunya putri kesayangannya. Meskipun, dulu ia harus memaksa pernikahan Reyhan, dengan alasan kata balas budi. Tapi, pilihannya tidak salah.


Lagian, Zeko memang benar-benar menyukai sosok Reyhan.


Reyhan memang lelaki yang tepat untuk Nayla.


"Pa..."


"Iya Rey.." Sambil mengambil selembar tissu, lalu mengusapkan pada kedua matanya.


"Sudah dulu ya pa, Reyhan sibuk. Masih ada pekerjaan dari atasan. Reyhan sedang dalam perjalanan, mau meeting pa."


"Ya sudah, semoga lancar. Salam buat Nayla ya. Tolong lindungi dia.."


Reyhan mengangguk lega, seolah papa mertuanya sedang melihatnya. Sambil menutup ponselnya, Reyhan memandang kearah luar jendela.


Dia harus kembali tenang dan fokus. Demi keberlangsungan meeting yang lancar, dan suksesnya kesepakatan yang saling menguntungkan.


Demi GMT Group, dan demi istrinya, Nayla. Demi bisa mencari titik terang yang tepat untuk menyelesaikan masalah mereka.


Reyhan tidak ingin salah langkah, barang sejangkah pun. Berharap, masalah kali ini tidak melukai terlalu dalam.

__ADS_1


Mobil menepi, memasuki halaman dari sebuah gedung kaca yang menjulang sangat tinggi. Lebih tinggi dari gedung tertinggi yang ada dikotanya.


Dengan akses kartu yang sempat diberikan Tuan Wong Fai kepadanya, mobil yang dikendarai mereka berhasil masuk melewati gerbang pintu pertama.


Bima mencari tempat kosong, untuk memarkirkan mobilnya. Ini adalah kali pertama Reyhan menjejakkan kaki disana, tapi tidak untuk Bima.


"Welcome, Mr. Reyhan". Sambutan hangat dari pimpinan, langsung Reyhan dapatkan. Lelaki berkulit putih dengan matanya yang sipit, sedikit membungkukkan badan memberi salam. "I am Wong Fai.


President Director, Ikea China Group"


"Thank you very much, a very memorable welcome. I am Reyhan. And..." Reyhan hendak mengenalkan Bima. Tapi Tuan Wong Fai sudah mengenalnya lebih dulu.


"Mr Bima." Ketiga orang itu tertawa bersamaan. Sambil menaiki lift menuju ruang meeting. "'Welcome back, Mr Bima."


"Thanks you, Mr. Wong Fai."


Suasana sangat bersahabat, kecanggungan menguap begitu saja. Sikap ramah tamah Tuan Wong Fai dalam menyambutnya sangat terasa.


Apalagi, saat ketiga pria dewasa itu sudah memasuki sebuah ruangan meeting bergaya santai. Sofa hitam dan panjang menghadap langsung kearah luar jendela. Menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi lainnya diluar sana. Jalan yang dibangun diatas jalan, rel kereta yang menembus lorong pusat pembelanjaan dapat dilihat jelas dari tempat duduk Reyhan saat ini.


Sesekali minuman datang, disuguhkan oleh dua perempuan muda yang Reyhan tebak sebagai sekretaris Tuan Wong Fai. Mereka berlima asik membahas masalah pekerjaan yang seakan tiada habisnya, hingga mencapai kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.


Jabatan terjalin sebagai tanda disetujui nya kesepakatan, setelah Reyhan membubuhkan tanda tangan diatas kertas kontrak kerja sama antara GMT Group dan Ikea China Group.


"Congratulations on the opening of the Ikea branch in Indonesia, Mr. Wong Fai..."


(Selamat atas pembukaan cabang Ikea di Indonesia, Tuan Wong Fai)


"Thank you, Mr Reyhan, and congratulations on the successful cooperation between us. Congratulations Mr. Bima, I hope this cooperation will get better in the future."


(Terimakasih Tuan Reyhan, dan selamat juga atas berhasilnya kerja sama antara kita. Selamat Tuan Bima, semoga kerja sama ini akan semakin baik kedepannya.)


Reyhan tersenyum puas. Dia dan Bima berhasil membawa GMT Group melangkahi satu tangga. Itu berarti, satu lagi tangga menuju kebesaran, sudah berhasil GMT lewati dengan mulus. Posisi kedudukan yang semakin kuat terjadi, saat Reyhan mencoret kertas putih tadi dengan tinta hitam.


Selama ini, GMT menjadi satu-satunya perusahaan raksasa yang berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan besar dengan perusahaan China.


Masih GMT, dan hanya GMT Group yang berhasil sampai sejauh ini.


Keduanya keluar dari gedung raksasa itu dengan langkah penuh percaya diri. Menuju kearah mobilnya.


"Kita kembali ke hotel Bim.."


"Baik"


"Oiya Bim, Apartemen milik saya selama ini ada yang mengurus kan?"


"Ada tuan, Seorang perempuan yang berasal dari Indonesia, bernama Linda."

__ADS_1


"Hubungi dia. Besok pagi saya dan Nayla akan menempati apartemen itu selama beberapa minggu kedepan."


__ADS_2