Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Hukuman Dan Hadiah


__ADS_3

Satya melangkah masuk ke dalam apartemennya dengan langkah tergopoh-gopoh memendam amarah yang dari tadi belum selesai. Lelaki yang menjaga Nayla tadi cukup membuatnya terbakar api cemburu. Satya takut, Nayla semakin dekat dengan lelaki tadi lalu akhirnya benar-benar pergi meninggalkan dirinya.


Sedangkan Nina,


ia berjalan tertatih dibelakang Satya dengan barang belanjaan ditangan kanan kirinya, tanpa bantuan lelaki itu sedikitpun. Jujur saja, Nina sedikit kaget dengan sikap Satya yang kehilangan kendali seperti ini. Karena sebelumnya, Satya memperlakukan dirinya dengan baik dan lembut. Dia memperlakukan Nina selayaknya istri sebagaimana umunya.


Bahkan, karena sikap Satya yang selalu baik dan lembut itu, Nina sempat berfikir bahwa Satya sudah perlahan melupakan Nayla.


"Satya.. kamu kenapa?" Takut-takut Nina mencoba bertanya.


"Jangan banyak tanya deh Nin. Coba sini kamu"


Nina berjalan mendekat ke sofa. Duduk agak jauh disamping suaminya. Nina enggan menjawab karena takut, alih-alih menenangkan Satya justru membuat emosi lelaki itu naik berkali-kali lipat. Dari suaranya saja Nina tahu, Satya ingin marah. Entah apa kesalahannya.


"Jelaskan, siapa lelaki tadi !"


Itu bukan pertanyaan, tapi itu perintah.


"A-aku gak tau.." Nina masih ingat janji nya pada Nayla, untuk menyembunyikan status Reyhan.


"Jangan bohong Nin, kamu kan sahabatnya Nayla.. kamu pasti tahu kan?" Bentak Satya.


"Tapi aku beneran gak tahu Satya.."


"Heh, bisa gak sih gak usah sok gak tahu gitu Nin.."


Air mata ibu hamil itu mulai bercucuran. Sungguh, Satya sangat menyakiti perasaanya yang sensitif. Padahal selama ini, Satya tidak pernah seperti ini.


"Siapapun itu, bukannya sudah gak penting ya buat kamu? Satya, kita sudah menikah, untuk apa sih kamu masih mengurusi urusan perempuan lain?"


Jawabnya dengan terisak.


Satya mengusap wajahnya frustasi. Mati-matian dia menekan rasa iba melihat air mata Nina yang bebas meluncur dari matanya. Tapi hatinya sungguh gelisah, memikirkan Nayla.


"Udah dikasih hati minta jantung ya kamu Nin.. Selama ini aku baik sama kamu, karena aku menghormati kamu sebagai istriku, tapi tolong Nin,


jangan paksa aku untuk cinta sama kamu... Hatiku milik Nayla..."


Satya melirik sebentar kearah Nina yang masih menangis sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


"Cinta gak bisa dipaksa Nin, hati ku sakit liat Nayla sama cowok lain kayak tadi.."

__ADS_1


"Ta-tapi Sat, siapapun laki-laki tadi, tetap saja kamu tidak bisa mendapatkan Nayla kan?. Om Zeko tidak merestui mu.." Katanya sambil terisak.


Satya menyeringai sinis. Jawaban Nina bukan membuatnya tenang justru membuat emosi Satya naik ke ubun-ubun.


"Itu urusan aku Nin.. Sekalipun itu Zeko si tua bangka itu, aku gak takut sedikitpun. Akan ku hancurkan dia sehancur-hancurnya, meskipun harus dengan cara yang kotor."


Nafas Nina tercekat ditenggorokan. Seolah enggan percaya bahwa lelaki yang dia nikahi ternyata begitu kejam. Dadanya serasa sangat sakit menghadapi kenyataan ini.


Matanya yang menunduk terpejam terpaksa Nina buka perlahan, saat ia merasakan sentuhan tangan menangkup kedua pipinya, lalu mendongakkan.


"Sekarang kasih tau aku Nin, siapa lelaki tadi? Atau... kamu mau aku hukum?"


Nina menggeleng. Nina enggan memberi tahu kebenarannya pada Satya, Tapi apa tadi? dihukum?


Nina juga gak mau dihukum, bahkan hukumannya akan seperti apa saja dia tidak tahu.


"Jawab Nin.."


"A-aku gak tau Sat..."


"Brengsek..."


Dalam sekejab mata, Satya membanting tubuh Nina ke sofa. Menanggalkan pakaiannya dan pakaian Nina secara paksa. Satya bahkan merobek celana dalam istrinya.


Nina hancur. Perlakuan Satya padanya mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat Satya tengah mabuk dan mengira dirinya adalah Nayla.


Meskipun inti tubuhnya teramat sakit, tapi hati Nina lebih terasa sakit. Satya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Selama menikah, Satya selalu memberi nafkah batin itu dengan kelembutan. Tapi hari ini, hancur sudah... rasa percaya dirinya hancur saat ini. Untuk kali kedua, ditempat yang sama Satya melakukannya dengan kasar, lagi-lagi karena Nayla.


***


Makan malam sudah usai. Jeni dan Rista juga baru saja selesai membantu Mbak Nana mencuci piring.


Sekarang keluarga Reyhan sedang duduk santai dimeja makan.


"Jen, akhir pekan kita semua kerumah kakek.." Kata Reyhan memberi tahu. "Tolong bantuin siapkan keperluan adek-adek kamu, bisa?"


Jeni mengangguk. "Berapa hari kak?"


"Sabtu sore berangkat, minggu sore pulang..." Lalu Reyhan mengalihkan pandangannya. "Rista bisa kan bantuin kak Jeni nyiapin keperluan Afif dan Naura?"


Rista mengangguk senang. Gadis itu selalu memiliki rasa kepuasan tersendiri saat dia merasa dibutuhkan. Dia tak jauh beda dengan Jeni.

__ADS_1


"Bisa kak.."


Lalu Reyhan menatap Angga. "Angga juga, dibantu Roni nanti nyiapin punya Janu dan Candra."


"Mbak Nana sama Pak Man juga ikut ya...?


Nah Jeni sama Angga kalau bingung bisa tanya sama Mbak Nana."


Para remaja putra dan putri serius mendengarkan Reyhan, sedangkan mereka yang kecil enggan peduli. Meskipun sesekali menyimak, tetap saja pikiran si kecil belum bisa menangkap sepenuhnya obrolan para orang dewasa itu.


Dan wajahnya yang terlihat kebingungan itu membuat Nayla terkekeh geli.


Ya Tuhan, lucu banget...


Pantas saja Reyhan begitu menyayangi mereka.


"Ya sudah, sekarang belajar ya, ambil buku mata pelajaran besok. Kak Rey tunggu di tempat biasanya."


Baru saja mereka beranjak dari meja makan, sikecil Naura terlihat berlari mengejar Nayla. Lalu dia meraih tangan Nayla.


"Bunda ikut kan?"


Nayla tersenyum senang. "Tentu sayang, sekarang ambil buku ya, kita belajar.."


Gadis kecil itu mengangguk lalu berlari menyusul kakak-kakaknya ke kamar. Sementara Nayla dan Reyhan sudah duduk diruang tengah, tempat mereka semua berkumpul setiap malam sampai jam sembilan nanti. Untuk belajar bersama-sama.


"Terimakasih ya..." ucap Reyhan pada Nayla. Sambil mengelus puncak kepala istrinya.


"Untuk?"


"Sudah menyayangi anak-anak ku dengan baik." Lelaki itu kemudian tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya. "Tamunya sudah pergi kan? Aku pengen ngasih hadiah ntar malam."


Spontan Nayla pukul lengan suaminya dengan keras sambil memasang wajah jengah.


"Modus."


"Tapi kamu suka kan, tuh pipi nya merah.."


Nayla membuang muka. Pipi nya memang terasa panas, tapi apa semerah itu sampai Reyhan menyadarinya.?


"Jangan gitu, aku malu...."

__ADS_1


Reyhan tertawa keras. Lalu, obrolan romantis keduanya terhenti saat Mbak Nana dan anak-anak satu persatu menghampiri mereka dengan buku ditangannya.


__ADS_2