Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Pancingan


__ADS_3

Sunyi dan sepi.


Malam telah tiba bersamaan dengan sisi gelapnya. Tapi, keheningan tidak berlaku di sebuah tempat dimana lelaki itu berpijak.


Red Devil's Club


Reyhan berdiri menatap sebuah tempat hiburan malam didepannya dengan pandangan asing.


Hanya dengan melihat bagian luarnya saja membuat lelaki itu enggan masuk kedalam.


Reyhan mengamati sekitar, di bagian sisi kiri gedung yang tak jauh dari tempat ia berdiri ada bangku dan meja kosong.


Dia keluarkan ponselnya dari dalam saku, sebelum mengirim pesan ke seseorang.


Sebelah kiri sisi gedung. Aku tunggu di sana. Begitu bunyi pesan yang ia kirimkan.


Cukup bersih. Reyhan berdiri disana dengan menyenderkan bokongnya disisi meja. Menunggu kedatangan Satya yang katanya ingin mengajak berdamai.


Ah, bisakah lelaki seperti Satya berdamai?


Reyhan rasa tidak. Apalagi setelah tadi siang Nina menghubunginya meminta bantuan.


"Nyali lo gede juga.."


Suara dari arah belakang membuat Reyhan berbalik. Dan lelaki itu mendapati Satya dengan seorang temannya.


"Gak akan gue biarin lo pergi dari sini dengan selamat, sebelum lo serahin Nayla ke gue." Satya berucap dengan senyum sinis yang tersungging.


Sementara, Reyhan tetap tenang. Mengamati penampilan Satya dari atas sampai bawah. Sangat mirip seperti berandal.


Belum lagi, lelaki lain disebelahnya yang berpakaian hampir sama.


Reyhan memilih diam dan membiarkan Satya menyelesaikan segala ocehannya terlebih dahulu.


"Jadi, elo suaminya Nayla?" Lelaki disebelah Satya bertanya. "Pinter juga ya Nayla pilih suami... auw"


Perkataan Joan yang asal nyeletuk sontak membuat Satya menarik rambut lelaki itu dengan keras. "Maksudnya apa ? Lo mau Jo, jadi musuh gue juga?" Ucapnya dengan menahan amarah ke Joan.


Takut-takut sambil menahan rasa sakit dikepalanya, Joan mengangkat kedua tangannya keatas. "Jangan sensi dong lo."


Satya kembali melirik Reyhan, dengan tatapan yang masih sama sinis-nya. Berbicara tak jelas arahnya. Ah, laki-laki didepannya yang berstatus sebagai suami Nayla ini benar-benar mengaduk rasa benci nya, rasa marah dan rasa tidak diterima dihatinya. Padahal, suami Nayla hanya diam. Tapi Entah kenapa, Satya benar-benar tidak terima Nayla dimiliki orang lain. Apalagi, dimiliki seorang Reyhan. Lelaki yang selalu bersikap santai, seakan meremehkan amarahnya itu.


Apa sih hebatnya lelaki ini?


Dan, kenapa juga Satya harus mengalah dari dia? Kenapa tidak dia saja yang mengalah?


Sedangkan yang ditatap tampak tak takut sedikitpun. Membuat Satya semakin ingin mengalahkan Reyhan malam ini.


"Langsung ke intinya saja ya, jadi, perdamaian seperti apa yang kamu tawarkan?" Reyhan membuka suara, setelah ia rasa Satya selesai dengan ucapannya.


Satya maju beberapa langkah, sampai ia berada tepat didepan lawannya. "Reyhan, pemilik toko buku Gramedia. Benarkan?" Menaikkan alisnya, penuh keyakinan.


"Terus,?"

__ADS_1


Satya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sadar diri sedikit bisa nggak sih lo," katanya penuh penekanan. "Cuma pemilik toko buku, berani bersaing sama gue? Bahkan hanya dengan sekali tindakan, gue bisa lenyap kan toko buku lo itu."


Sombong.


Satya merasa pantas menyombongkan dirinya didepan Reyhan yang hanya seorang pemilik toko buku. "Cerai kan Nayla,"


Reyhan menyunggingkan bibirnya saat tangan Satya menyentuh pundaknya. Tapi tenang, Lelaki itu masih bisa menahan gejolak amarahnya yang sempat naik saat Satya memintanya menceraikan Nayla. "Tidak akan."


Hem, Satya sempat naik pitam mendengar jawaban Reyhan yang singkat, tapi sangat jelas bahwa lelaki didepannya tidak akan melepaskan Nayla untuk-nya.


"Jangan keras kepala, gue udah kasih penawaran paling mudah. Dari pada, toko buku lo hancur."


Senyum Reyhan kian melebar, membuat amarah Satya semakin melonjak. Jangan heran, kalau hanya urusan menahan emosi, Reyhan adalah jago-nya. "Lakukan saja, kalau bisa. Yang pasti, aku tidak akan menyerahkan Nayla."


"Cari mati lo ya" Berteriak keras, setelahnya, Satya menarik nafasnya sendiri dalam-dalam. "Nayla itu milik gue, gue yang pertama kali menyentuhnya."


Melihat Satya yang semakin tak terkontrol emosinya, membuat Joan maju selangkah mendekati Reyhan. "Sudah deh bro, lo ngalah aja ya, lo belum kenal siapa Satya. Udah deh, cari aman."


"Sama seperti aku yang belum mengenalnya." Jawab Reyhan pada Joan. "Dia juga tidak mengenalku."


Lalu, Reyhan kembali menatap Satya. "Jadi, mari berdamai dengan baik. Lupakan Nayla karena dia sudah resmi menjadi milikku. Cukuplah, dan jangan rendahkan diri mu lagi hanya untuk mengejar-ngejar istri orang, Satya."


"Brengsek." Bugh. Dengan sekuat tenaga dan tanpa aba-aba, Satya melayangkan tinjunya ke rahang Reyhan.


Sedikit, sudut bibir Reyhan mengeluarkan darah. Meski ditempat gelap yang remang-remang sekalipun darah itu masih bisa samar-samar dilihat. Pukulan Satya mampu membuat lelaki itu terhuyung kesamping.


"Nayla punya gue. Gue yang pertama kali menyentuhnya. Jadi, kembalikan dia pada gue.!"


Bener-bener cari mati nih orang. ! batin Satya.


Emosinya melonjak karena merasa tertantang. Satya hampir maju lagi, tapi gerakannya diurungkan saat Joan menarik lengannya. "Apa sih Jo, gue mau hajar tuh orang.."


Joan menggeleng memperingatkan. Jujur, perkataan Reyhan yang menyebutkan bahwa Satya tidak mengenalnya cukup membuat otak Joan berfikir sebelum bertindak. "Jangan pakei emosi, Anj*ng"


Dari cara Reyhan mengendalikan diri saja, Joan bisa melihat bahwa lelaki yang menjadi musuh mereka itu tidak hanya pemilik satu toko buku.


Joan bisa melihat, Reyhan adalah lelaki hebat. Dia lelaki yang cukup pintar dan selalu tenang. Dan, mustahil lelaki tipe seperti Reyhan ini tidak memiliki kekuasaan apapun.


"Cih..." meludah. "Gue gak takut." Lalu Satya kembali maju beberapa langkah. Ia mengeluarkan gawai dari sakunya. Membuka aplikasi penyimpanan vidio, sebelum menyerahkan ponsel itu pada Reyhan. "Nih, lihat baik-baik. Setelah itu, tinggalkan Nayla."


Reyhan menurut. Diterimanya ponsel Satya dan dilihatnya video yang berputar didalam ponsel itu dengan seksama. Video yang sama.


Yang Nina berikan padanya, yang sempat dia lihat diruang kerjanya.


Jadi, apa Reyhan harus terkejut.? TIDAK


Ekspresi datar dan biasa-biasa saja yang Reyhan tunjukkan membuat dahi Satya berkerut keheranan. "Bagaimana?"


"Apanya?" mengembalikan ponsel ke Satya. "Apanya yang bagaimana?"


Adrenalin Satya kian memuncak. Bagaimana lelaki didepannya ini masih bisa sesantai itu? "Aku yang menyentuhnya paling dulu. Jadi, kembalikan dia."


"Benar juga" Rayhan engangguk-anggukkan kepalanya, seolah terbujuk. "Lagian, untuk apa aku memperebutkan wanita macam itu?"

__ADS_1


Satya mengeram marah. Pancingan yang cukup membuat Satya tidak terima mendengar Nayla direndahkan. "Macam itu apa maksud lo,"


Reyhan menaikkan sebelah alisnya, dan maju selangkah lagi mendekati Satya.


"Apa Nayla se-rendahan itu?" Tanyanya memberi jeda.


Sampai saat Satya baru saja akan menyanggah, Reyhan meneruskan kalimatnya tanpa memberi kesempatan kepada Satya untuk menjawab pertanyaannya.


"Sudah lah, tak usah kamu jawab. Ambil saja dia. Lagian, lelaki seperti kamu memang pantas untuk wanita seperti Nayla kan?" Kata Reyhan lagi, saat mengetahui emosi Satya semakin tinggi. "Untuk apa juga, aku memiliki istri yang dengan suka rela mau tidur dengan kamu?"


Secara spontan, adrenalin Satya kian memuncak lagi, sampai batas ubun-ubun. Reyhan dengan sikap santainya sangat membuat Satya dikuasai amarah, "Diam. Berhenti berfikir bahwa Nayla wanita rendahan. Lo tuh gak tau apa-apa." Sanggah Satya. "Lagian, Nayla tidak menyerahkannya begitu saja kepadaku. Tapi aku yang sengaja memberikan padanya sesuatu, agar ia melakukannya. Agar kamu tahu, Nayla milikku."


Bagus. Ini yang aku mau. Batin Reyhan.


"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Wanita baik tidak akan menukar harga dirinya, untuk apapun itu.


Lagian memang apa yang kamu beri? Mobil? Uang? rum.."


"Obat perangsang." Satya memotong ucapan Reyhan.


Dari ketiga pria itu, hanya Joan yang menganga tak percaya. "Hah. Parah lo Men"


Ucapnya sambil mendorong bahu Satya. "Kalau Nayla tahu, dia bisa beneran benci sama lo."


Reyhan tenang, karena ia sudah menduganya sejak awal, bahkan Reyhan sudah tahu terlebih dulu. Dia hanya butuh bukti pengakuan dari Satya. Dan, malam ini dia mendapatkannya.


Tepat, setelah itu, sebuah mobil polisi datang. Dan beberapa polisi yang jumlahnya lumayan banyak turun dari mobil itu. Membuat Satya dan Joan buru-buru kembali kedalam gedung itu, mengingat barang-barang yang ia tinggalkan disana.


"Urusan kita, belum selesai."


Reyhan hanya mengangguk, anggap saja ia menyetujui apa yang baru saja Satya ucapkan.


Bersamaan dengan Satya dan Joan yang kembali masuk, Reyhan pun kembali ke mobilnya dengan perasaan menang.


Sebelum menjalankan mobilnya, dia menelfon seseorang untuk mengucapkan terima kasih.


Berkat orang yang dia telfon, polisi patroli malam itu datang diwaktu yang tepat.


***


Halo gengs...


Maaf baru bisa up.. btw ini sudah menuju ending yaa.. 😘


Terimakasih yang selalu setia.


Setelah Reyhan suami ku selesai, nanti aku mau lanjut selesaikan novel ku yang satunya.


TERPAKSA MENIKAH


Sudah pada baca belum? Seru juga lo...


Oiya, jangan pelit like yaa.. Salam sayang ❤️

__ADS_1


__ADS_2