Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Bencana Berbelanja


__ADS_3

Sampailah mereka didepan kasir. Antrian yang panjang membuatnya harus lebih bersabar.


Nayla mengedarkan pandangannya kebeberapa arah.


Tanpa sengaja, matanya bersitatap dengan mata seorang laki-laki yang juga tengah berbelanja bersama seseorang perempuan yang sangat Nayla kenal.


Satyaaa....


Nafasnya tercekat ditenggorokan, pun dengan jantung Nayla serasa mau berhenti seketika.


Ini bukan waktu yang tepat.


Segera Nayla alihkan pandangannya. Mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Kemana saja asal tidak menatap mata laki-laki itu. Pun dengan wajahnya yang dia palingkan. Jangan sampai Satya menyadari keberadaannya disini. Karena menurutnya, belum saatnya Satya tau bahwa kini, Nayla sudah tidak sendiri lagi.


"Kamu kenapa?" Reyhan bertanya saat menyadari gelagat aneh sang istri. Mengedarkan pandangannya kesegala tempat mencari penyebab dari sikap Nayla yang mendadak aneh.


"Rey sstt... ada Satya sama Nina.."


Reyhan mendelik sebentar, sebelum ia mampu menguasai dirinya lagi.


"Kau jangan seperti ini Nay, jangan lari dari masalah, kamu harus menghadapinya.."


Nayla menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya Reyhan...plissh."


Otak cerdas Reyhan seketika berfungsi saat dia melirik dan melihat bahwa laki-laki yang tengah menjadi objek obrolannya dengan sang istri sedang berjalan mendekat.


"Apa yang harus aku lakukan? Atau, siapa aku?"


Nayla mengerjabkan matanya. Sambil berfikir maksud dari pertanyaan Reyhan, Nayla melihat ke arah Satya, yang berjalan semakin mendekat kearahnya..


"Orang kepercayaan Papa."


"Nay...."


Suara bariton dari laki-laki yang sangat familiar di indra pendengaran Nayla terdengar tepat sesaat setelah Nayla menjawab pertanyaan sang suami.


Nayla dan Reyhan menoleh secara bersamaan kesumber suara. Benar saja, Satya dengan senyum ramahnya masih seperti dulu, sudah berdiri tak jauh dari tempat Nayla.


Parahnya, laki-laki itu meninggalkan Nina sediri dibelakang dengan kereta dorong berisi barang belanjaannya.


"Satya, kamu disini juga? sama siapa?" Tanya Nayla tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Sama,.." Satya memutar kepalanya melihat kebelakang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ninaa.."


"Kok Nina ditinggal sih.." Nayla mencebik kesal dengan sikap Satya.


Sementara Nina, sekarang sudah berdiri disamping Satya setelah lelah berjalan dengan pelan, dan perut yang sedikit membuncit serta mendorong troli sendirian.


"Kamu sendiri sama siapa Nay.."


"Sama... Reyhan... yang jemput aku ke kampus kemaren.."


Reyhan tersenyum sebentar kearah Satya. Sebelum ia lebih tertarik kembali memainkan pipi Naura yang gembul, meskipun gadis kecil dalam gendongannya itu tengah menyimak dengan bingung obrolan Nayla dan kedua temannya. Sambil sesekali mengerjabkan matanya.


Mengabaikan tatapan Satya yang penuh selidik kearahnya.


"Aku kangen sama kamu Nay..."


Satu kalimat yang mampu membuat rahang Reyhan mengeras lalu mendelik tengan tatapan tajamnya kearah Satya. Jujur, Reyhan tidak terima ada laki-laki lain yang mengatakan itu untuk Nayla.


Nayla adalah miliknya, dia tidak mengizinkan orang lain untuk menyentuh Nayla lebih dalam lagi. "Maaf, kalau ngomong dijaga mas.."


Pun dengan Satya yang kini semakin menatap penuh curiga kearahnya. "Lo ngomong apa barusan?"


"Kalau ngomong dijaga..."


Reyhan menyeringai dengan nafas yang naik turun menahan emosinya.


"Satya, udah..." Melihat ketegangan diantara dua laki-laki itu membuat Nina merasa takut.


"Diem lo Nin, jangan ikut campur..."


Seketika Nina diam. Matanya terasa panas meskipun tidak ada air mata disana.


Percayalah, hatinya seperti ditusuk pisau tajam yang transparan. Sakit.


Selama menikah, baru kali ini Satya membentaknya seperti ini. Dan hati perempuan yang tengah hamil itu semakin sakit saat dia menyadari, Satya membentaknya lagi-lagi demi Nayla.


"Kok kamu bentak Nina sih?" Nayla tak kalah meninggikan suaranya. "Kasar banget jadi laki-laki.."


Satya baru akan menjawab, sebelum akhirnya dia mengurungkan niatnya karena ditegur ibu-ibu yang ikut mengantri dibelakang Nayla.


"Mas, jangan ngobrol disini... Antri dibelakang sana...

__ADS_1


Enak aja mau nyrobottt.."


"Brengsek.."


Ucapnya lirih kearah Reyhan sebelum akhirnya dia berjalan kebelakang ikut antrian.


"Nay, kamu gak papa.." Tanya Reyhan khawatir.


Nayla menggeleng. Lalu dia menatap Naura yang juga sedikit ketakutan. Tangannya mengusap pipi Naura yang gembul.


"Gak papa sayang.. Yukk, mana tadi coklatnya, kita suruh om Rey bayar dulu yaa.."


Gadis kecil itu mengangguk. Sebelum akhirnya Reyhan menyerahkan Naura pada Nayla.


Setelah membayar, Nayla menggendong Naura berjalan didepan. Sedangkan dibelakang ada Reyhan yang sibuk mententeng plastik berisi barang belanjaannya tadi.


Nayla berjalan cepat agar Satya tidak mengejarnya lagi.


"Barangnya taruh belakang aja ya Rey, Naura biar didepan sama aku... Kayaknya dia ngantuk.."


"Iya..."


"Yaudah ayoo, cepetan.."


***


Haloo readers...


Mohon maaf nih ya, kalau si Reyhan jarang menggoda Nayla.. karena jujur saja


sejak awal aku ingin menegaskan sosok Reyhan yang tidak terlalu banyak bicara.


Reyhan adalah sosok laki-laki yang lebih suka menunjukkan perasaannya dengan perbuatan, bukan dengan perkataan. Reyhan hanya akan bicara pada Nayla, jika dia merasa ucapannya dibutuhkan oleh gadis itu, Makanya jarang banget kan Reyhan dan Nayla saling mengejek?


Reyhan berusaha, apa saja yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang membuat Nayla bahagia.


Disisi lain, sosok Reyhan ini terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa ada orang lain yang ikut campur tangan. Jangan kan untuk ikut campur, Reyhan sebisa mungkin menyelesaikan masalahnya, sebelum sampai ketelinga orang-orang.


Karena itulah,


Reyhan itu misterius.

__ADS_1


Jangan bosen ya, salam sayang ❤️


__ADS_2