Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Menangis Dalam Diam


__ADS_3

Nayla memberenggut kesal didalam mobil. Jauh jauh dia menghampiri Papanya ke kantor, tapi hasilnya masih saja nihil. Rasanya, ingin sekali Nayla menanyakannya langsung pada Reyhan alasan apa yang membuatnya mau menikahi Nayla, tapi laki-laki itu pasti tidak akan mau menjawab dengan detail.


Papa mu terlalu baik Nay, aku tidak bisa menolaknya...!


Seperti itulah kira-kira jawaban yang akan Nayla dapatkan seandainya dia punya nyali bertanya langsung kepada Reyhan.


Tapi kalau untuk bertanya sekarang juga? Tidak akan. Jangan berharap Nayla mau memulai pembicaraan dengan suaminya itu.


Ya, meskipun siapa perempuan yang bersama dengan Reyhan tadi belum Nayla ketahui statusnya dengan jelas, tapi melihat keyakinan Pak Zeko terhadap Reyhan membuat Nayla sedikit lega. Setidaknya ada kekuatan tersendiri untuknya mengontrol emosi. Sekalipun Nayla tidak mempercayai Reyhan, tapi Nayla sangat mempercayai Papanya.


Hari sudah semakin sore. Nayla bingung harus kemana lagi sekarang.


Mau kerumah Sari lagi? Itu tidak mungkin.


Atau kerumah Nina? Dia pasti sibuk mempersiapkan pernikahannya. Bagaimana bisa Nayla mengganggunya.?


Sambil melajukan mobilnya dengan santai, akhirnya Nayla memilih pulang. Agar segera dapat merebahkan dirinya diatas ranjang dan menenangkan hatinya, lagi-lagi sendirian.


Nayla jadi berfikir? Apa gunanya juga punya suami? Bahkan di saat seperti ini, Nayla masih saja merasa sendirian.


Kesadarannya kembali. Dari pada selalu berpikiran negatif, mending Nayla memutar audio untuk mendengarkan lagu kesukaannya. Sesekali Nayla melirik wajah naturalnya tanpa make up di spion.

__ADS_1


Apanya yang cantik dari wajahnya yang biasa saja seperti ini? Kenapa pula banyak teman-teman kampusnya yang bilang kalau Nayla cantik?


Nayla jadi bingung, tapi beruntungnya pikiran buruknya teralihkan . Sekarang dia sedang berdebat dengan dirinya sendiri.


Meskipun untuk urusan matanya, Nayla tidak bisa mengelak. Dia sendiri menyadari bahwa dirinya memiliki binar mata yang indah. Bening dan bernetra hitam besar. Sudah seperti memakai softlen saja sekalipun Nayla tidak tahu cara pakai benda itu.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Setelah selesai menikmati makan malamnya bersama Riana dan Zeko, Nayla memutuskan kembali ke kamar. Hari ini, hidupnya sangat melelahkan. Bukan, bukan hanya hidupnya, hati nya juga. Dunia Nayla sangat kacau hari ini.


Jangan ditanya Reyhan dimana ya, Reyhan belum pulang. Masih sama dengan satu minggu belakangan, hari ini dia pasti akan pulang larut juga.


Sejujurnya Nayla sangat merindukan Reyhan. Bukan hanya merindukan sentuhan intimnya, tapi semua yang ada di diri Reyhan dulu, Nayla sangat merindukannya.


Lagi-lagi air matanya menetes begitu saja. Rasanya sangat tidak rela, jika Reyhan benar-benar menghianatinya. Lalu bagaimana pernikahan mereka nanti? Apa Nayla akan memilih diam demi untuk tetap menjadi istrinya Reyhan? Atau justru lebih baik menyerah saja?


Tangisannya semakin terisak dibawah selimut membayangkan perpisahan yang mungkin saja terjadi. Tidak bisa dipungkiri, Nayla tengah merasakan suatu ketakutan yang hebat sekarang. Nayla tidak sanggup jika harus kehilangan Reyhan dengan tiba-tiba.


Nayla tidak mau kisah kelam bersama Satya itu terjadi lagi.


Ya Tuhan, tolong kuatkan hati suamiku... Jangan lagi membuatku kehilangan seperti itu lagi...

__ADS_1


Setengah jam berlarut dalam pikirannya yang terlalu jauh, Nayla mendengar suara langkah kaki dibalik pintu.


Apa itu Reyhan?


Nayla segera mengusap air matanya, lalu berbalik badan memunggungi arah pintu dan pura-pura tertidur bersamaan dengan seseorang masuk kekamarnya.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat membuat Nayla semakin memejamkan matanya dibawah selimut yang menutup tubuhnya sampai batas leher.


Nayla merasakan sentuhan tangan yang membelai lembut kepalanya. Sentuhan yang sangat Nayla rindukan.


"Apa kamu melewati hari yang menyenangkan hari ini ?"


Ucap Reyhan disamping telinga Nayla.


Cup...


Reyhan mencium kepala Nayla dari belakang, membuat Nayla dapat merasakan kasih sayang dari perlakuannya. Mekipun tanpa disadari, sebenarnya mereka sama-sama merindukan. Nayla yang merindukan Reyhan disisinya, pun dengan Reyhan yang merindukan Nayla tanpa diganggu kesibukannya.


"Maaf ya, aku terlalu sibuk jadi tidak bisa menemanimu...." Bisiknya lagi yang mampu membuat hati Nayla berdesir.


Beberapa menit Reyhan masih disitu. Membelai rambut Nayla yang dilakukannya dengan berulang-ulang. Pun dibawah selimut itu, Nayla menahan sesak dihatinya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Reyhan beranjak membersihkan diri kekamar mandi, dan disaat bersamaan, akhirnya pula Nayla menangis dalam diam. Menahan perasaan yang tidak sanggup dia utarakan.


Lalu siapa perempuan tadi itu?


__ADS_2