
Sebuah hubungan ikatan pernikahan itu dibangun oleh dua orang. Jika berhasil, maka keberhasilan itu adalah bentuk keberhasilan dua orang.
Pun jika hubungan itu gagal.
Maka, kegagalannya adalah kesalahan dua orang.
"Reyhan..."
Dalam cahaya yang remang, perempuan cantik bersurai hitam itu memandang punggung tegap suaminya yang baru saja masuk kedalam kamar. Air matanya menetes menahan perasaan bergejolak didalam dadanya.
Nayla bahkan tidak bisa berkata-kata lagi untuk sekedar mengungkapkan seberapa besar kerinduan yang bersarang didalam hati nya.
Semua untaian kata-kata yang pantas mewakili perasaannya, seakan tertahan di tenggorokan. Tercekat tanpa bisa Nayla utarakan.
Lantas karena tidak bisa berkata-kata, perempuan pemilik mata bernetra hitam pekat itu berlari. Memeluk erat suaminya dari belakang. "Rey..."
Tangisnya pecah. Ia hirup aroma wangi maskulin yang setiap malam menghantui tidurnya. Aroma tubuh lelah Reyhan dari campuran parfum dan keringat, yang begitu menenangkannya,
yang membuat Nayla candu ingin menciumnya lagi, dan lagi...
"Maaf, maafkan aku..." Isaknya.
"Nayla..."
Dengan tubuh yang menegang hebat, Reyhan mencoba memastikan indra pendengarannya sejak seseorang memanggil namanya.
Iya yakin, pemilik suara itu adalah Nayla, sang wanita pujaannya. Hanya saja, Reyhan ingin memastikan lagi, sampai untuk kedua kalinya namanya dipanggil.
"Maafkan aku.."
Sama seperti Nayla, Reyhan juga tidak bisa berkata-kata lagi. Seolah pita suara yang semula sehat, mendadak mogok bertugas.
Bibirnya terasa sulit mengeluarkan isi hatinya, sampai tanpa sadar Reyhan menangis penuh haru.
Campuran dari rasa terkejut, bingung dan bahagia nya.
Menangis adalah pantangan bagi lelaki itu.
Tapi, malam ini,
sudut matanya mengeluarkan setetes bola kristal yang jatuh tanpa disuruh.
Hanya setetes.
Yang mewakili semua perasaannya malam ini.
Perasaan rindu yang mengusiknya.
Bagaimana rasa rindu nya, bagaimana selama ini ia harus menahan diri dari wanitanya, bagaimana Reyhan harus mati-matian berhenti memikirkan Nayla disaat ia membutuhkan tangan lembut milik wanitanya untuk mengusap rambutnya seperti dulu. Rasanya, terbayar sudah malam ini.
Tubuh yang ia rindukan, mungkin sedang berdiri tepat dibelakangnya.
Pertemuan yang tidak pernah ia sangka terjadi malam ini, disaat tubuhnya benar-benar dalam keadaan rapuh dan membutuhkan sentuhan itu.
__ADS_1
"Nayla, kamu kah itu?"
Reyhan membalikkan badan memaksa Nayla melepas pelukannya. Diamatinya wajah wanita kekasih hati nya.
Wajah cantik putih dan bersih yang ditumbuhi rambut halus itu menangis. Hidungnya memerah, begitu juga dengan mata yang menatap matanya dengan rasa sakit dan bahagia yang terpancar secara bersamaan.
Oh, ya Tuhan.
Reyhan ingin menghapus semua rasa sakit didalam tatapan itu, lalu menggantinya dengan kebahagiaan.
Biar hanya binar bahagia yang terpancar dari mata bernetra hitam milik wanitanya.
"Ah, aku rindu." Reyhan balas peluk erat tubuh Nayla, dan dibalas pelukan yang tak kalah eratnya dari sang istri.
Sebuah rasa yang menjelma, menjadikan ribuan kata yang mereka rangkai tersampaikan melalui pelukan, meski tanpa ucapan.
Jantung Reyhan semakin bergejolak saat ia sempat menatap Nayla penuh air mata. Senyum wanitanya yang manis seakan terkikis melemahkan hati nya. Meski Reyhan mengakui, kepulangan Nayla cukup menguatkannya lagi.
Keduanya larut dalam pelukan melepas kerinduan.
Diciuminya puncak kepala sang istri, wangi rambutnya masih sama seperti dulu.
Begitupun Nayla, yang menciumi dada bidang suaminya yang masih terbungkus hem berwarna putih.
Rasanya seperti mimpi bisa memeluk istrinya lagi.
"Kenapa kamu pulang? Bukannya aku sud..."
Setelah itu,
Lantas, Nayla melepas pelukannya, merebut laptop dari tangan Reyhan dan segera meninggalkan Reyhan didekat pintu.
"Aku tidak ingin mendengar apapun dari kamu." Setelah menaruh laptop itu ditempat semestinya, Nayla mengusap pipi nya yang basah. Lalu, ia duduk ditepi ranjang. "Kamu mau berdiri disitu terus.?"
Tanpa Nayla tahu,
Reyhan sempat mengusap setetes air mata tadi dari pipinya. Reyhan tidak ingin Nayla tahu bahwa ia sempat menangis tadi.
Reyhan membalikkan badan, dan ikut berjalan kearah Nayla lalu duduk didepan istrinya.
"Ada yang ingin yang kamu jelaskan?"
"Tentu saja ada..." Kedua tangan perempuan itu meraih tangan Reyhan. Memegangnya erat, sebelum menciumnya secara bergantian. "Aku mau ikut berjuang."
Ucap Nayla, dengan mata yang menatap mata suaminya
Sebelah alis Reyhan naik, diikuti lipatan dahi yang semakin ketara. "Maksud kamu?"
"Rey... dengar." Tangan kanan Nayla melepas genggamannya pada tangan Reyhan, lantas Nayla usap bahu kiri suaminya yang duduk didepannya itu. "Kamu bisa mengusahakan kebahagiaanku, tapi kamu tidak perlu bertanggung jawab untuk itu Rey
Karena kebahagiaanku, adalah tanggung jawabku sendiri."
Reyhan membuang muka. Mengalihkan mata dari tatapan Nayla yang seolah sedang membaca perasaannya dari mata itu. Dan kemudian, Reyhan membuang nafasnya tidak suka.
__ADS_1
Dia tahu apa yang Nayla bicarakan,
hanya saja, Reyhan tidak suka. Apapun itu, yang membahayakan Nayla, Reyhan tidak suka.
"Rey, lihat aku..." Dengan kedua tangan yang menelangkup dagu suaminya, Nayla paksa wajah Reyhan untuk kembali menghadap ke wajahnya. "Aku tidak meragukan kemampuan mu mengatasi ini semua sendirian. Tapi untuk kali ini saja, tolong libatkan aku didalamnya."
"Kenapa?"
"Karena... aku adalah sumber masalahnya. Aku mengenal Satya sudah lama Reyhan, aku tahu bagaimana dia.
Dia tidak akan berhenti, sampai aku sendiri yang menyelesaikannya."
Raut cemas dapat Nayla tangkap dari wajah suaminya itu, membuat seutas senyum kecil Nayla persembahkan untuk suaminya. "Terimakasih sudah mencemaskan aku." Diusapnya pipi Reyhan dengan lembut. "Tapi percayalah, aku bisa."
Nayla tahu, Reyhan masih mencemaskan nya. Bagaimanapun Nayla meyakinkan, meski dengan cara selembut apapun, Reyhan tetap akan mencemaskan nya. "Ya?"
"Bagaimana dengan kamu? Bagaimana kalau dia..."
"Aku tidak melarang kamu ikut campur, aku hanya meminta kamu untuk melibatkan aku...."
"Kamu serius?"
"Ya, tentu saja.." Nayla kembali mengulas senyum terbaiknya, ia yakin bisa melewati masa ini bersama-sama dengan sang suami.
Senyuman yang seketika mampu menghipnotis Reyhan masuk kedalam pesonanya tanpa lelaki itu sadari.
Senyum yang manis, telukis di wajah yang manis, dan terukir dari bibir yang juga manis.
Mau bukti?
Ah, Reyhan sendiri yang akan membuktikannya.
Seketika, Reyhan dekatkan bibirnya pada bibir Nayla, dan seperti biasa, Nayla menyambutnya tak kalah terpesona.
Kecupan bibir Reyhan yang lama, membuat kedua bola mata dengan bulunya yang lentik itu terpejam. Menikmati aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Nayla
Pagutan kedua bibir yang mesra, melepas rasa ingin yang sudah mereka tahan sangat lama.
Jantung yang berdegup kian cepat menjadi irama melodi milik pribadi.
"Reyhan, maafkan aku yang datang kepada kamu dengan membawa banyak beban, maaf aku begitu merepotkan kamu.
Dan terimakasih, sudah menerima dengan segala kekuranganku. Sudah menerima dengan amat sangat baik segudang kekurangan yang menyertaiku. Terimakasih sudah menjadi suami yang sangat sempurna untuk ku."
"Nayla,
Terimakasih, sudah mengisi kekosongan dihati ku. Titip hati ku Nay, dia sekarang sudah menjadi milik mu tanpa sisa sedikitpun."
Dan malam itu, menjadi malam yang panjang untuk sepasang suami istri yang diliputi kerinduan satu sama lain.
Saling berjanji akan menghadapi apapun rintangan yang menghadang jalan mereka dengan bersama-sama. Berpegangan tangan melangkah maju meninggalkan masa lalu.
"Besok, aku akan menemui Satya di apartemen-nya..."
__ADS_1