Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Khumaira Nur Jeni


__ADS_3

***


"Cuma segini? hah?"


Plaaaakkk Plaaakkkkk


Bandot tua itu menampar ku lagi. Bersamaan dengan air mataku yang kian deras.


Sudut bibir ku sudah mulai robek berdarah. Merah. Rasanya sangat sakit.


Tapi ada bagian yang lebih sakit dari pada pipi bekas tamparan. Yaitu hati.


Masih membekas, sampai saat ini.


Diruang gelap dan sangat pengap. Dimana bocah remaja yang baru berusia tiga belas tahun terbiasa disekap. Sudah dua tahun lamanya.


Bocah itu aku. Mereka biasa memanggilku Rara.


Aku ingin pergi dari sini. Tapi aku tidak punya tempat lain.


Keluarga? aku hidup sebatangkara. Lupa kapan tepatnya, tapi mereka sudah meninggalkan ku semua.


Selama itu aku masih berusaha bersyukur. Setidaknya bandot tua itu tidak melampiaskan nafsunya padaku.


Dia bilang asalkan setoranku sesuai target, maka aku aman.


Memang benar, setauku, uang hasil kami meminta-minta itulah yang setiap harinya dia gunakan untuk membayar wanita malam.


Kami? ya, karena aku tidak sendirian disitu.


Dan karena alasan itulah, aku jadi lebih bersemangat mencarikan bandot tua itu uang setiap harinya. Tentu dari hasil meminta-minta.


Aku melakukan itu setiap hari agar lolos dari hukuman. Apalagi kalau bukan kekerasan dan pelecehan.


Ditempat itu aku tidak sendirian. Ada sekitar sebelas anak. Laki-laki dan perempuan.


Mereka bernasib sama dengan ku.

__ADS_1


Sama-sama menyandang gelar pengemis. Ulah siapa lagi kalau bukan bandot tua bernama Dirman.


Lebih tepatnya Bang Dirman.


"Ampun Bang..."


Jawabku sambil merintih. Dengan tangan gemetar aku berusaha mengusap darah dipipiku.


Tapi si Dirman lebih dulu menyentuhnya.


Dia mengusap darah itu dengan lembut.


"Bersiaplah menggantikan wanita malamku manis. Ini hukuman!"


Jderrrrr


Jantungku serasa melemah. Tekanan darahku serasa sangat rendah.


Aku lemas. Lunglai seketika.


Apa ini akhir hidupku?


Aku tau apa maksud dari kata menggantikan wanita itu. Melayaninya.


Melayani nafsu bejatnya.


Umurku memang baru tiga belas tahun saat itu. Tapi aku dipaksa tahu bahasa-bahasa sarkas yang tak seharus nya diucapkan.


Bahasa-bahasa yang pada umumnya hanya boleh dimengerti oleh orang dewasa.


Aku adalah satu-satunya perempuan yang sama sekali belum disentuh Bang Dirman disitu.


"Ra.. maafin kakak ya, kakak gak bisa bantuin kamu.."


Salah satu kakak perempuan mendekatiku setelah Bang Dirman pergi.


"Kak, Rara gak mau melayani Bang Dirman"

__ADS_1


Aku menangis sesenggukan diatas tikar yang sudah lusuh. Sedangkan Kakak perempuan itu mengusap punggungku penuh iba.


Bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Bang Dirman itu kepadaku nanti.


"Sabar ya Ra, maafin kakak gak bisa bantu apa-apa..


Oh iya, kamu aku tinggal gak pp kan? Kakak mau beli makan dulu"


Dia mulai berdiri dan berjalan meninggalkanku.


Aku mengerjab. Memutar otak dengan cepat. Aku rasa ini kesempatannku kabur.


"Kak, boleh nggak kalau Rara saja yang beli makan,? Rara pingin nglupain masalah ini sejenak.."


Aku berucap dengan wajah sendu.


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk yakin. Dan syukurlah, dia sama sekali tidak mencurigaiku. Dia menyerahkan uang dari Bang Dirman untuk jatah makan malam kami kepadaku.


Dengan tubuh lemas. Aku berjalan keluar.


Entah, langkah ku yang pintar ini tiba-tiba membawa ku ke terminal.


Dengan cepat aku berusaha mencari tiket yang sekiranya cukup. Dan sialnya, uang itu sama sekali tidak cukup untuk kabur ku keluar kota.


Waktu ku tidak lama, sedangkan anak buah Bang Dirman sudah terlihat di ujung sedang mencariku.


Bergerak cepat atau tertangkap.!


Beruntung, aku bertemu seorang laki-laki yang mau membantuku.


Tanpa bertanya siapa, dan tanpa bertanya kenapa.


Laki-laki itu menyerahkan jaketnya padaku. Sebagai bentuk penyamaranku. Dia membayar dua kursi dan kami duduk bersebelahan dengan posisi aku didekat jendela. Dia menyuruhku berpura-pura tidur dengan wajah yang tersembunyi.


Aku berhasil, aku lolos.. Meninggalkan tempat terlaknat itu.!

__ADS_1


Sampai saat ini, aku berada disini sekarang..!


__ADS_2