Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Sebelum Menyesal


__ADS_3

"Gue gak cinta sama Nina.."


Andi menghembus nafas kesal. Satya begitu keras kepala. Masih saja memikirkan perkara cinta. Seharusnya Satya melihat keadaannya yang sudah berbeda.


Apa Satya tidak kasihan melihat Nina.? Gadis itu sekarang pasti sedang ketakutan memikirkan masa depannya.


Laki-laki macam apa sebenarnya si Satya ini. Meskipun kelakuan Andi tidak jauh berbeda dengannya, tapi Andi masih punya hati untuk tidak lari dari tanggung jawab jika saja dia ada diposisi Satya.


"Memangnya cinta masih penting ya Sat?"


Andi bertanya dengan nada datar. Tanpa mengalihkan perhatian dari menatap game diponselnya. Terlalu malas bersitatap dengan laki-laki egois yang statusnya masih sebagai sahabat karibnya itu.


"Maksud lo apa? Lo nyuruh gue lepasin Nayla?"


Satya mulai meninggikan suaranya.


"Ya lo pikirin aja deh.. gimana kalau misal apa yang terjadi sama Nina itu terjadi sama adek lo? Gimana kalau Merry dihamili orang sedang orang itu tidak mau bertanggung jawab?"


Bughtt....


"Brengseeek lo Ndi.... Berani-beraninya lo ngomongin hal buruk tentang Merry?"


Satya marah dan langsung memukul Andi sampai ujung bibirnya berdarah. Dia merasa tersinggung atas ucapan Andi barusan.


Merry adalah adik kesayangan Satya. Tidak seorangpun boleh melukai Merry selagi masih ada Satya didunia ini. Tapi mendengar dengan gamblangnya Andi mengatakan hal buruk tentang Merry didepan Satya membuat emosinya naik seketika.


"Heeh.. apa-apaan sih kalian?" Bentak Joan melihat keadaan semakin menegang.


Sedangkan Andi hanya diam. Mengusap darah dengan ibu jarinya dengan kasar. Dia tidak ingin membantah apapun selagi Satya masih melakukan pembelaan.


Bukannya Andi suka mengatur.


Tapi Andi tahu, Satya sudah kehilangan Nayla.


Coba deh kalian pikir,


Kalo pacar kamu ngehamilin sahabat baik mu, emang kamu masih mau nerima dia jadi pacarmu? Emang gak kasian sama sahabat mu?


Andi rasa Nayla bukan gadis yang setega itu untuk mempertahankan hubungannya padahal disisi lain ada Nina yang lebih membutuhkan pertanggung jawaban Satya.


Andi berpikir jauh. Setelah kehilangan Nayla, Andi tidak ingin Satya juga kehilangan calon bayinya. Sekalipun dia tidak mencintai Nina, paling tidak cintailah darah dagingnya sendiri.


Sebelum kehilangan mengajarkan arti kata menyesal.


Tapi bagaimana Andi harus menyampaikan pendapatnya itu pada Satya? Dia tidak ingin keadaan semakin runyam malah membuat Satya semakin terpuruk.


Untuk saat ini, rasanya tidak mungkin Andi berusaha menyadarkan Satya bahwa dia sudah kehilangan Nayla. Lihatlah, baru memberi perumpamaan saja sudah membuat Satya memukulnya.


Sebagai sahabat yang baik. Andi ingin memberi saran yang terbaik pula.


Siapa tahu jodoh Satya memang Nina dan bukan Nayla?


"Gue cuma mau ngasih saran yang baik Jo..."


Kini giliran Andi membela diri. Berucap dengan pelan karena dia sadar posisi.

__ADS_1


"Tapi gak gitu juga Ndi.. lo tau kan gimana sayangnya dia sama adeknya si Merry itu?"


"Trus lo pikir orang tua Nina gak sayang sama Nina? Perasaan orang tuanya ke Nina sama kayak perasaan Satya ke Merry. Bahkan mungkin lebih lagi."


Andi berucap pelan dan tetap tenang. Ingat, pukulan tidak harus dibalas dengan pukulan.


Kecuali genting ya? hhahaha


"Gua gak mau banyak bac*t kayak cewek disini.. Tapi gue peduli sama lo Sat... "


Satya nampak gusar. Seandainya dia berpikir jauh, mungkin dia bisa menerima dengan lapang pendapat Andi.


"Kalo lo peduli. Bantuin gue mikir. Gimana caranya gue bisa tanggung jawab ke Nina tanpa kehilangan Nayla."


Andi melotot. Satya bener-bener gila. !


"Tau ah.. Cabut aja gue...!"


Andi mulai berdiri dan beranjak. Sudah tidak bisa dia mengontrol emosinya sendiri.


Kalau dia masih disini, dia pasti akan baku hantam dengan sahabatnya itu, si Satya.


***


Semua mahasiswa kampus tidak ada yang benar-benar tahu tentang pernikahan Nayla. Kecuali dua orang, Nina dan Sari.


Nayla sengaja menyuruh kedua sahabatnya itu untuk tutup mulut. Salah satu alasannya adalah Satya.


Biar bagaimanapun, Satya pernah menjadi orang yang paling spesial beberapa tahun ini didalam kehidupannya. Dan tidak semudah itu Nayla bisa menyakiti perasaannya.


Nayla tidak ingin berita pernikahannya membuat Satya menggila. Dan ujung-ujungnya siapa lagi yang akan sedih selain seorang perempuan yang sedang hamil mengandung darah dagingnya?


Jadi jangan heran kalau Satya sendiri pun tidak sedikitpun mengganggu acara pernikahan Nayla. Orang dia tidak tahu?


Haha jahat banget ya? Satya dan Nayla sudah putus belum sih?


Author lupa.!


Dering ponsel menyadarkan Nayla dari lamunannya. Matanya membulat sempurna saat nama penelfon yang tertera belum dirubah sedikit pun.


*Satyaku*


Satyaku? Ya ampun.. aku bahkan belum mengganti namanya. Untung Reyhan gak tau...


Nayla tertawa dalam hati. Bibirnya tersenyum masam mengingat takdir yang sudah digariskan untuknya.


Sebercanda itu ya?


Rasanya baru kemaren semua kebahagiaannya adalah karena laki-laki itu. Rasanya baru kemaran, Nayla menerima cinta dari Satya.


Sekarang? Ah sudahlah, semua sudah berakhir.


Tapi Nayla enggan menjawab ponselnya. Dia lebih tertarik untuk segera mengganti nama laki-laki itu dengan tanpa dibumbui bumbu-bumbu spesial.


Bagaimanapun perasaan hatinya, Nayla bertekad akan menghapus tempat istimewa yang sudah dia bangun dihatinya sendiri untuk Satya.

__ADS_1


Lagi-lagi Nayla tersenyum masam.


Kenapa harus Satya lagi sih yang masih berlarian didalam pikirannya?


Lupakan Satya. Dan sekarang, ayo bersihkan kamarmu dari benda-benda yang terlarang untuk dilihat Reyhan.!


Nayla memanggil Bi Sri. Meminta bantuan asisten rumah tangga yang sudah Nayla anggap seperti ibu kedua nya dirumah itu untuk membersihkan kamarnya. Menata ulang agar tercipta suasana yang baru.


Dimulai dari tempat yang paling dekat dengan ranjang. Laci dimeja nakas tak luput dari jangkauan Nayla.


"Ya Tuhan, banyak sekali..."


Nayla bergumam kecil. Ada sangat banyak foto-foto dirinya dengan Satya. Dengan berbagai pose.


Rasanya, Nayla sangat berat hati membuang foto-foto kenangan itu.


Satu persatu dia amati. Tak terasa air matanya jatuh menetes. Nayla segera mengusapnya. Tidak ingin lagi menangisi masa lalu.


Dia tersenyum kecut. Maaf Satya!


Dengan cepat dia memasukkan benda-benda kenangannya itu didalam kardus bekas air mineral.


Lalu mengecek tempat lain lagi. Dan melakukan hal yang sama.


Setelahnya Nayla mengepak rapi. Tak terasa ada sekitar dua kardus besar.


Ini melelahkan. Tapi tak apalah. Demi kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya.


"Bi, simpan digudang aja yaa ini... Jangan dibuang dulu. Takutnya yang punya nanti nyariin"


"Siap Non ..."


Jawab Bi Sriya singkat.


"Oiyaa bi... Nanti ambil kan sprei yang baru ya, sama itu aku juga mau ganti gordennya juga. Mau warna yang agak gelap gelap gitu deh Bi.. Nay mau suasana baru..."


"Okee Non...."


Pada akhirnya Nayla disini sendirian. Merasa aman karena kamar nya sudah bersih dari sisa-sisa kenangan masa lalu.


Hal sangat disyukuri olehnya adalah dimana dia memiliki kesempatan untuk bersama dengan orang yang dia sayangi.


Seperti kata orang-orang


Jangan berusaha memiliki apa yang kamu cintai, tapi berusahalah mencintai apa yang kamu miliki.


Nayla punya Papa, punya Mama yang keduanya tidak pernah menghianati Nayla sedikitpun. Tidak salahkan jika dia lebih memilih Mama dan Papa nya dari pada Satya?


Nayla yakin akan mudah mencintai sosok suaminya yang baik itu.


Reyhan memang bukan orang hebat, bukan orang yang ahli bertarung.


Dia juga bukan penguasa bisnis di negeri ini.


Tapi, dia memiliki hati yang lembut dibalik tatapan matanya yang tajam.

__ADS_1


__ADS_2