
Di -hening malam yang damai, Nayla hirup udaranya dalam. Penuh ketenangan.
Meskipun, sesekali jantungnya berdebar.
Dari mana menjelaskannya pada Reyhan?
"Nay, apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Mata perempuan itu terbuka, menyadarkannya pada sosok suami tampan yang duduk disampingnya. Suami yang sedang mengkhawatirkannya.
"Reyhan.." Ada urusan apa kau dan Nina?
"Ya?"
"Satya.. dia mulai mencurigai hubungan kita." Bukan mencurigai lagi, tapi dia yakin kecurigaannya benar.
Dahi Reyhan berkerut. Lelaki disampingnya pasti tak habis pikir.
"Satya?"
"He'eh." Nayla mengangguk. "Dia selama ini ternyata membuntuti kita. Bahkan dia menunjukkan beberapa foto kebersamaan kita dan menuntut penjelasan dariku."
Terlihat Reyhan menarik nafas dalam. "Lalu?"
"Aku harus bagaimana? Apa aku mengakuinya saja?"
Reyhan tarik tangan Nayla dengan lembut. Menggenggamnya memberi ketenangan. "Kalau menurutmu itu yang terbaik, maka lakukanlah."
"Ta-tapi... bagaimana nanti dengan Nina?"
"Nina kenapa?"
"Bagaimana kalau Satya nekat?" Matanya mulai berkaca-kaca. "Sejujurnya, sebelum menikahi Nina, Satya memintaku menunggunya."
"Dan kamu?"
Dengan takut-takut Nayla menjawab. "Aku terpaksa menyetujuinya. Aku tidak ada pilihan lain Reyhan. Perut Nina semakin membesar, dan Satya belum juga mau bertanggungjawab sebelum aku menyetujui permintaannya."
Ah Nayla,
Reyhan mendekat. Ia rengkuh tubuh Nayla kedalam pelukannya. "Aku tau maksudmu baik, tapi... itu salah Nayla."
Tangis Nayla pecah. Benar, kenapa dia bisa se-tergesa itu menyetujui permintaan Satya.?
"Harusnya, kamu bicarakan dulu dengan ku.."
"Ma-maaf" Ucapnya disela tangisannya.
"Tidak apa-apa." Reyhan usap bahu Nayla dengan sayang. "Semuanya sudah terjadi. Tapi,.."
Reyhan sengaja menjeda ucapannya. Untuk melihat reaksi dari istri cantiknya.
"Tapi apa?"
"Dengarkan aku, akan lebih baik besok kamu temui dia. Dan katakan yang sejujurnya. Masalah Nina, serahkan pada ku.."
Eh, apa? Menyerahkan padamu?
"Aku akan memastikan, Nina dan bayinya selamat.."
***
__ADS_1
Malam semakin larut. Nayla pandang wajah tampan yang berhasil mencuri hatinya tengah terlelap disamping dengan tangan melingkar sempurna diatas perut Nayla. Memeluknya erat.
Akan perempuan itu pastikan, pemandangan indah seperti ini tidak akan pudar. Ataupun hilang begitu saja.
Nayla akan mempertahankan hak miliknya. Apapun yang terjadi.
Terlebih, sekarang Reyhan sudah SAH menjadi suaminya.
Kalau dulu, ia dengan mudah merelakan Satya untuk Nina, maka sekarang tidak lagi. Perempuan itu akan menggenggam kuat-kuat tali rantai yang menyatukannya dengan Reyhan.
Tadi setelah memikirkannya matang-matang, Nayla pastikan akan bermain cantik menghadapi Nina.
Ah, jika saja pikiran buruknya pada Nina menjadi kenyataan.
"Biar aku yang memastikan, Nina dan bayinya selamat.."
Kalimat itu kembali berputar-putar dikepalanya. Atas dasar apa ? Ish, kenapa juga Reyhan harus berkata seperti itu?
Pelan-pelan. Dia pindahkan tangan suaminya dari atas perut. Lalu, dia turun dan beranjak kekamar mandi.
Membasuh muka, setelahnya menatap ke cermin.
Wajahnya yang dulu berseri-seri dan selalu tersenyum ceria, perlahan terkikis. Berbagai masalah hampir berhasil mencuri binar matanya yang indah.
Menjadi dewasa memang rumit. Boleh nggak sih kembali menjadi anak-anak lagi?
Yang pemikirannya hanya sebatas bermain sampai lupa tidur.
Selesai mencuci wajahnya, Nayla berjalan turun ke dapur. Berniat mengambil es krim untuk menenangkan hatinya.
"Mama," Didapatinya sosok perempuan yang ia rindukan. Sama sama sedang mencari makanan didapur. "Kapan pulang?"
"Loh, sayang..." Wanita itu mendekati Nayla. Lalu memeluk putri semata wayangnya. "Kok belum tidur?"
Riana terkekeh pelan. "Mama baru saja nyampek rumah."
"Trus papa?"
"Ituh.." Menunjuk letak kamarnya dengan dagu. "Sedang istirahat dikamar. Sudah tidur kayaknya..."
Nayla mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia menarik sebuah kursi, dan mendaratkan bokongnya disana.
Oh, es krim yang lezat.
"Kamu kok belum tidur Nay? Reyhan mana?"
"Dia sudah tidur ma..." Menjawab sambil menikmati es krim ditangannya. "Rumah ini sepi tau ma, gak ada mama sama papa."
"Ya gimana dong sayang." Riana mendekat. Ikut menarik kursi disamping putrinya.
"Papa ada urusan kantor diluar kota. Mama kan harus nemenin. Apa lagi berhari-hari. Sekalian Mama jalan-jalan."
Perempuan yang berumur sekitar empat puluh tiga tahun itu tertawa. Agak ditahan sedikit suaranya, agar tidak mengganggu tidur dua laki-laki yang terlelap dikamar masing-masing.
"Oiya ma, lusa giliran aku ya..?"
Ya. "Giliran apanya?"
Nayla terkikik geli melihat raut wajah mama yang semula tertawa lebar, lalu tiba-tiba berubah kebingungan. "Gantian Nayla yang nemenin Reyhan."
Disesapnya teh hangat, serta roti tawar dengan selai strawberry. "Kalau itu mah gak usah bilang, kan biasanya kamu juga nemenin Reyhan tinggal dirumahnya."
__ADS_1
"Ih, bukan itu ma..."
"Lalu?"
"Reyhan ada tugas kantor ke negara Hongkong." Sambil berbicara, lagi-lagi Nayla amati wajah mamanya yang semakin bingung.
"Mama belum tau ya, Reyhan sekarang sudah kerja loh ma, di GMT Group." Jelasnya pelan-pelan. "Nayla gak tau sih tepatnya dibagian apa, tapi dia sering banget dapat tugas buat menangani suatu proyek. Apalagi kalau ada rebutan..."
"Serius?"
Belum sampai Nayla menyelesaikan kalimatnya, ucapannya harus terpotong saat mama Riana memekik kaget. "Serius di GMT Group?"
"Iya Ma" jawabnya mengangguk. "Kaget kan? Nayla juga kaget pas pertama kali tau.."
"Ck ck ck.... suami mu memang hebat Nay. Papa gak salah pilih. Gak penting Reyhan ada di bagian apa, sudah bisa masuk di GMT saja sudah beruntung" Menggeleng-gelengkan kepalanya masih setengah tidak percaya. "Gimana? Satya gak ada apa-apanya kan?"
Ha? Apa? Bagaimana?
"Satya? Kenapa harus dibandingin sama Satya sih ma?"
"Memangnya kenapa?"
Hilang sudah selera Nayla menghabiskan es krim ditangannya. Ah, mama Riana membuatnya kembali mengingat masalah yang sedang ia hadapi.
"Nay, ada masalah ya?" Putrinya terlihat sayu. Seperti banyak beban yang difikirkan.
Dan mama Riana selalu berhasil membaca wajah Nayla.
"Hmb, sedikit ma..." Jawabnya sekenaknya. "Nayla bingung, ma.."
"Kenapa?"
"Sampai sekarang, Satya bahkan belum tau kalau Nayla sudah menikah."
Oh, Riana benar-benar tidak salah dengarkan? "Apa?"
"Nayla sengaja merahasiakannya, ma"
"Kenapa begitu?"
"Dulu, keadaannya belum tepat.." Menjawab dengan nada lemah, dan pelan.
"Tapi kan sekarang Satya sudah menikah dengan Nina, bahkan Nina sudah hamil. Jadi gak masalah dong Nay kalau kamu jujur?" Riana mencoba memberi saran.
"Iya sih ma," Ia tarik nafasnya dalam, sebelum melanjutkan ceritanya. "Nayla cuma takut, sesuatu terjadi sama Nina dan anaknya kalau Satya mengetahui ini ma,." Pasalnya, Satya adalah orang yang nekat, dan Riana tau itu.
"Kamu udah bicara sama Reyhan?"
"Sudah"
"Terus? apa katanya?"
"Reyhan bilang, sebaiknya besok Nayla mengatakan yang sebenarnya pada Satya.."
Riana mendekat. Ia raih satu tangan putrinya untuk ia genggam, mencoba memberi kekuatan. "Reyhan benar, apalagi dia suamimu. Percaya aja sama Reyhan Nay. Mama yakin, Reyhan tidak akan tinggal diam kalau sesuatu terjadi sama kamu."
Nayla menghela nafasnya lagi. "Lalu Nina?"
"Itu urusannya dia Nay.. Kalau dengan menyembunyikan pernikahan membuatmu terusik, ya memang lebih baik jujur.
Akui saja semuanya. Toh pernikahan adalah ikatan yang suci dan sakral. Jika Satya adalah lelaki yang baik, mama yakin dia akan menyerah mengejar kamu, dan dia akan memilih mempertahankan rumah tangganya."
__ADS_1
"Ta-tapi kalau sebaliknya ma?"
Senyum teduh terlukis indah di wajah mama Riana. "Ya itu berarti Satya bukan lelaki yang baik untuk menjadi sosok suami, sekaligus seorang ayah."