
Manusia berlalu lalang didepannya, pun dengan para pelayan restoran yang sibuk dengan urusan pekerjaannya belum bisa mengalihkan fokus pikiran Nayla hari ini.
Langit sedang mendung. Hamparan awan biru yang biasanya menyempurnakan hamparan pantai didepannya ini terpaksa harus ditarik mundur terlebih dahulu dan digantikan warna abu-abu yang kelam.
Pun dengan suasana yang seharusnya cerah dengan terik matahari khasnya juga sedang bersembunyi.
Deburan ombak masih masih mempunyai nada dan irama seperti biasanya. Hanya saja, suara teriakan bocah-bocah kecil yang biasa bermain pasir-pasiran dipinggir pantai berkurang drastis.
Nayla duduk disalah satu kursi dengan tangan kanan memangku dagunya. Didepannya ada meja yang sudah lengkap dengan hidangan makanan diatasnya. Pikirannya berkelana mencoba menerima kepingan-kepingan kejadian yang diluar nalar.
Tadi, Reyhan memilih jalan tengan dengan mengajak Nayla dan sekarang berakhir dengan meninggalkan Nayla sendirian direstoran ini.
Tapi bukan itu yang membuatnya kehilangan akal, melainkan ribetnya Reyhan mempersiapkan diri sebelumnya.
Bagaimana tidak, setelah menerima telfon dari seseorang tadi Reyhan langsung putar arah balik kerumah. Hanya untuk menukar mobil.
Lagi-lagi Nayla terkejut saat ternyata mobil lamanya sudah disulap menjadi butik pribadi yang bisa berjalan milik Reyhan.
Bagian belakang kemudi telah penuh dengan setelah jas yang digantung rapi, lengkap dengan sepatu dan dasi kupu-kupunya.
Sungguh, kejutan yang tidak sanggup diterima akal sehat!
"Nayla..."
Terlihat Reyhan berjalan kearahnya dengan wajah terpancar kebahagiaan. Ditangannya membawa beberapa lembar kertas yang sepertinya merupakan berkas penting.
Sejenak Nayla terpaku ditempat duduknya, menatap penampilan baru Reyhan untuk kesekian kalinya, tapi masih saja membuat Nayla kagum. Reyhan dengan setelan tuxedo sama persis dengan tempo hari yang tidak sengaja Nayla lihat membuatnya terlihat berbeda.
Reyhan yang sekarang jauh lebih mengagumkan dan berwibawa.
__ADS_1
Benarkah itu Reyhan ku? Ah kenapa dirimu selalu penuh misteri Rey?
sepertinya Nayla jatuh cinta lagi.
"Sayaang..." ucap Reyhan lalu mencium kening Nayla tiba-tiba. "Terimakasihh ya.."
"Untuk apa?" Nayla mengkerutkan dahi sebelum melanjutkan ucapannya. "Karena aku sudah mau menunggumu sendirian disini?"
Reyhan baru akan menjawab saat seorang perempuan menepuk pundakknya.
"Reyhan..." Panggil perempuan itu kepada Reyhan. Sontak pandangan Nayla teralihkan.
Nayla menatap perempuan itu dari bawah sampai atas.
Siapa lagi dia?
Cantik. Dengan rambut tergerai lurus dan poni yang memenuhi keningnya. Tinggi badannya juga oke. Dan pakaiannya, baju warna putih dibalut blezert warna hitam dipadukan dengan rok yang menutup sampai atas lutut, terlihat jelas kalau dia adalah wanita karir.
"Reyhan sudah makan siang belum? Makan bareng yuk" ajak perempuan itu dengan centilnya sukses membuat hawa panas masuk melalui pori-pori kulit Nayla.
Reyhan menatap Nayla sebelum menjawab. Sialnya Nayla membalas tatapan Reyhan dengan sorot mata kesal membuat Reyhan kesusahan menelan salivanya. "Maaf Bu, hari ini saya ada acara.."
"Ya Tuhan, Panggil Dini saja Rey, gak usah ada embel-embel Bu, kan diluar kerjaan.. Aku juga masih muda kali,.." Jawab perempuan itu santai tanpa peduli tatapan tidak suka dari Nayla.
Nayla melingkarkan tangannya ke lengan Reyhan karena merasa posisinya terancam.
"Oiya Bu, kenalin ini istri saya..."
Ucap Reyhan sambil menatap Nayla dengan senyum terbaiknya. Untungnya Reyhan peka!
__ADS_1
Perempuan bernama Dini itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Lohh, Reyhan sudah punya istri? Tak kirain belum... Sayang sekali dong aku kalah cepet.."
Katanya sambil tersenyum sinis kearah Nayla.
Nayla berusaha sabar.
Heey, Harusnya Nayla kan yang mesti tersenyum sinis begitu? Kenapa malah dia?
Nayla menghirup nafas panjang, mencoba tetap ramah meskipun Nayla sangat tidak menyukainya.
Dasar wanita ular.
Nayla mengulurkan tangannya kedepan memperkenalkan diri. "Nayla...."
"Dini..." ucapnya sambil membalas jabat tangan Nayla. "Beruntung banget kamu dapetin Reyhan yang kaya dan sempurna, tapi kayaknya Reyhan deh yang nggak beruntung dapatin kamu..."
"Maksudnya apa?" Tanya Nayla dengan nada yang meninggi meski belum sampai dilevel teriak. Nayla melunak kembali saat tangan kanan Reyhan membelai punggung tangan Nayla yang tengah melingkar di lengan kiri suaminya.
"Nggak kok..." Sanggah Reyhan membalas ucapan sarkas perempuan tadi. "Aku yang beruntung bisa dapetin Nayla. Dia cantik dan baik..." Lagi-lagi Reyhan memberikan senyum hangatnya ke Nayla sebelum beralih menatap ke arah Dini.
"Oiya bu, terimakasih atas persetujuannya ya... semoga kedepan lebih menguntungkan.."
Dini berdecak kesal sebelum berlalu pergi. "Oiya, Nay siapa tadi, Nayla kan ya... Dijaga yang bener ya suaminya.. Hati-hati..."
Dan Dini benar-benar pergi dari hadapan mereka.
Langsung saja Nayla melepas tangannya dari lengan Reyhan dengan kesal. Wajahnya sudah tampak seperti singa betina yang kelaparan. Menatap Reyhan dengan sorot mata membunuh.
__ADS_1
Nayla kembali duduk dan meluapkan amarahnya pada makanan.