
Hangat.
Silau.
Uraian sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah gorden sebuah hotel, membuat perempuan itu mengerjapkan matanya pelan.
Berbanding terbalik dengan cuaca yang cerah, Tangan perempuan itu meremas kuat dadanya sendiri.
Hati nya mendung.
Sakit sampai menembus jantung.
Perasaannya terluka. Jiwa lembutnya pecah, luluh lantah tak terbantah.
Seketika, air matanya menetes. Saat ia sadar, tubuhnya masih dalam keadaan telanjang. Tertutup selimut hanya sebatas leher.
Apalagi, saat ia melihat kesamping, dan mendapati lelaki kepar*t itu sudah pergi meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang ia mau semalam. Air matanya mengalir kian deras. Merasa dirinya hancur.
Hina.
Bekas-bekas kecupan dileher, dikedua payudara, dan di seluruh tubuhnya masih berwarna merah. Belum sama sekali memudar.
Apalagi, perbuatan brengs*k yang laki-laki itu ulangi, tadi saat hari menjelang pagi. Semua masih terasa jelas, sakitnya, rasa ngilu nya, dan kasarnya.
Cairan putih milik lelaki itu juga masih membekas di area pahanya.
Disekitar bibirnya.
Menjijikkan. Sangat menjijikkan.
Pun dengan wajahnya yang terasa kaku digerakkan. Jelas saja, ini semua karena cairan pekat itu, yang belum sempat ia basuh.
Arggh. Mengeram marah.
Nina mengusap perutnya dengan hati-hati. Perempuan itu masih bersyukur, bayi didalam kandungannya tidak tergores sedikitpun. Anaknya masih baik-baik saja didalam perut besarnya itu.
Meskipun, semalam lelaki itu melakukannya dengan sedikit kasar.
"Aku benci kamu, Satya.." Ucapnya dengan serius.
Bulir bening semakin mengalir deras. Membasahi bantal yang menjadi menyangga kepalanya.
Rentetan peristiwa yang terjadi kembali terputar secara rinci.
Jadi,
Kemarin saat ia mendengar ketukan, buru-buru Nina tutup sambungan telefon-nya dengan Nayla untuk dapat segera membuka pintu.
Kecerobohannya adalah, ia lupa melihat terlebih dahulu siapa yang datang melalui lubang kecil di pintu sebelum membukanya. Nina pikir, yang datang adalah Alma, sang adik.
Karena, ia memang menyuruh Alma menemuinya di hotel.
Pintu terbuka.
Sosok tinggi yang berdiri disana membuat tubuh Nina menegang hebat. Jantungnya berdebar tak karuan, memompa darah lebih cepat.
Apalagi, seringai yang muncul dibibir lelaki itu, membuat suasana semakin mencekamnya.
"Sat-satya?" Ucap Nina terbata. Sepersekian detik dia diam mematung. Lalu, buru-buru ia tutup kembali pintu itu.
Tapi, terlambat.
Tangan kekar Satya sudah lebih dulu menahan pintu agar tidak kembali ditutup. Satya memaksa masuk.
Bukan Nina membiarkan begitu saja, tapi perempuan itu jelas kalah tenaga.
"Apa kabar, istri ku" Begitu sapaannya. Yang semakin membuat Nina merasa ketakutan. "Apa kabar, istri ku yang durhaka.."
Telapak tangan Nina mulai bergetar. Melemas dengan sendirinya.
Biasanya, sedikit-sedikit Nina masih berani membantah lelaki itu. Biasanya, meskipun jarang Nina masih berani menjawab setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu.
Tapi tidak untuk kali ini.
Sikap dan perilaku Satya yang ramah tapi penuh penekanan seakan melepas keberanian di diri Nina untuk menjauh. Pergi meninggalkannya didalam ketegangan.
"Nyaman, tinggal disini?" Tanya lelaki itu lagi mengamati seluruh isi ruangan itu. Tanpa memperhatikan Nina yang tengah ketakutan, Satya tutup pintunya dengan keras. Memaksa Nina tinggal bersamanya berdua didalam kamar.
"Bahagia ya, menjadi simpanan lelaki lain?"
Hey, apa yang dia bilang barusan. Siapa yang menjadi simpanan.
Nina ingin menjawab. Tapi sekali lagi, niat itu ia urungkan.
"Sini.." Ajaknya. Satya menarik lengan Nina menuju ranjang.
__ADS_1
Eh tapi, cengkraman tangan Satya dilengan Nina tidak begitu kasar. Lembut, sehingga tidak menyakiti.
Apa yang sebenarnya lelaki ini mau?
"Le-lepasin" Bibir nya memberontak. Tapi, tubuhnya menurut. Hatinya menolak, tapi raga nya dikuasai rasa takut.
Tidak ada yang bisa Nina lakukan, selain mengikuti langkah kaki lelaki itu.
"Pergi dari sini, tolong" rintihannya lirih dan bergetar dengan air mata yang masih turun membasahi pipi.
Satya membisu. Ia duduk ditepi ranjang dan malah mendudukkan Nina di pangkuannya. "Aku kesepian Nin."
Ucapnya sembari membelai rambut Nina. "Aku butuh tubuh kamu"
Sialan !
Nina mengumpat didalam hati.
Nina bukan wanita malam, untuk apa lelaki ini datang kepadanya kalau hanya membutuhkan tubuh? Bukankah, ada perempuan jal*ng itu diapartemennya?
"Aku bukan pel*cur."
Jawaban Nina, sontak membuat Satya menyeringai. "Tapi, kamu masih istriku." Jari-jari tangan lelaki itu menelusuri centi demi centi lengan mulus Nina.
Sebelum akhirnya, Satya mendaratkan ciuman dipunggung tangan perempuan hamil itu. "Jadi, aku masih berhak atas tubuh kamu kan?"
"Pergi." Nina ingin turun dari pangkuan Satya, tapi lelaki itu menahannya dengan kuat. "Aku gak mau, tolong jangan paksa aku,. hiks"
"Katakan, dimana lelaki itu sudah menyentuh kamu?"
Brengs*k ! "Siapa?"
"Reyhan" Jawabnya mengerang.
Benar-benar lelaki brengs*k !
Bagaimana mungkin, dulu Nina bisa jatuh cinta pada lelaki se-mengerikan ini?
Penyesalan memang selalu datang diakhir. Dan kini, itu yang Nina rasakan.
Nina menyesal.
Sungguh ia sangat menyesal pernah bersimpati pada lelaki ini dulu. Nina menyesal pernah mencintainya.
Nina menyesal pernah menjadi pendengar yang baik untuk Satya.
Seandainya bisa, Nina ingin memutar waktu. Sekali saja.
Ia ingin kembali, pada masa dimana ia meminta pertanggungjawaban orang itu.
Nina ingin menghapus adegan itu, dan pasti lebih memilih membesarkan anaknya seorang diri.
Andai saja. suara batinnya.
Detik berikutnya,
Satya benar-benar memaksa Nina melayaninya. Meski sekuat apapun Nina menolak, tetapi lelaki itu tetap menyetubuhinya.
Awalnya, kasar.
Sangat kasar, karena Nina masih terus memberontak. Sampai Nina merasakan sakit di inti tubuhnya. Beberapa kali Satya sempat mengumpat dan memaki Reyhan ditengah-tengah penyatuan mereka.
Tapi persetubuhan yang kedua,
Nina menurut pasrah. Bukan Nina menerima sentuhan itu begitu saja. Dia hanya sudah kehabisan tenaga. Tidak ada lagi kekuatan yang tersisa.
Satya menyentuhnya dengan lembut. Entah sadar atau tidak, beberapa kali Satya mengatakan bahwa ia mencintai Nina, dan bayinya
Cinta sudah menjadi benci.
Sama sekali hati Nina tidak merasakan getaran saat Satya mengucapkan cinta. Satya amat sangat terlambat jika ingin memperbaikinya.
Meski sebagai wanita normal tubuh Nina tetap bereaksi dengan sentuhan itu, tapi tetap saja,
perbuatan Satya menoreh luka yang begitu besar didalam hatinya.
Nina merasa kotor pada tubuhnya sendiri.
Dia hanya menangis. Dan memalingkan muka setelah percintaan itu selesai.
Beberapa kali Satya mengucap maaf, dan mencium puncak kepala Nina.
Tapi Nina hanya diam. Tidak membalas ataupun menolak. Ia lelah. Pandangannya kabur.
Dan seketika dia tertidur.
__ADS_1
Setelah memastikan Nina tertidur, perlahan Satya beranjak duduk.
Tubuh nya juga polos, beberapa menit ia pandangi tubuh Nina. Seutas senyum menarik bibirnya melengkung ke atas.
Satya merasa senang. Sungguh, ia senang.
Meskipun menyangkalnya beberapa kali, tetap tidak memungkiri bahwa ia merasa nyaman berada di satu ranjang yang sama dengan Nina.
Kemudian, saat jiwa egoisnya kembali,
Satya segera meraih ponsel Nina yang terletak di atas meja nakas.
Ia ingat, tujuan sebenarnya datang menemui Nina.
Satu yang ia cari.
Nomor ponsel Nayla. Satya tahu Nina memilikinya.
Dan seketika, tawa kemenangan sedikit menggema saat apa yang ia cari, ia temukan.
Bukan hanya mengambil nomor ponsel Nayla, Satya juga memasukkan nomor ponsel Reyhan ke dalam daftar hitam.
Satya sedikit tidak rela, jika Nina masih berhubungan dengan lelaki itu.
Ingat, sedikit !
Setelahnya, Satya ikut tertidur dengan memeluk tubuh rapuh disampingnya. Sampai, saat menjelang pagi,
ia kembali menikmati tubuh Nina yang mulai membuatnya candu.
Mengabaikan tangisan.
Mengabaikan penolakan.
Mengabaikan rintihan kesakitan dari perempuan yang ia jamah tubuhnya.
Sampai, kenikmatan sempurna ia dapatkan.
Sebelum akhirnya, ia harus pergi. Melanjutkan ambisi nya untuk mendapatkan Nayla, dan mengalahkan Reyhan beserta Zeko.
Satya lupa, ia belum meminta maaf dengan benar kepada Nina.
Sesuatu yang akan ia sesali suatu saat nanti karena sudah mengabaikan rasa sakit dari perempuan yang tengah mengandung anaknya.
Satya pasti akan menyesal suatu saat nanti.
***
Nina kembali sadar dari lamunannya. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi.
Mau tidak mau, ia harus bersiap-siap diri.
Ia hapus air matanya dengan kasar.
Untuk apa menangis. Nasi sudah menjadi bubur.
Nina tidak akan berusaha lagi menjadi pelangi, untuk lelaki buta warna seperti Satya. Tidak akan !
Nina ingin segera pergi dari kota ini, secepatnya.
Iya, kalau bisa saat ini juga.!
Pesan terkirim, satu balasan dari Sari segera Nina buka.
Ditengah rasa sakitnya, Nina tersenyum. Sahabatnya itu, mau mengantarkannya sampai bandara.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Nina segera beranjak dari tempatnya. Ia sedikit mendesah.
Rasa sakit di inti tubuhnya masih terasa.
Nina memilih mengabaikan, dan melanjutkan aktifitasnya.
Untuk menghibur hati nya sendiri.
Anggap saja, pelayanan yang Satya dapatkan semalam adalah salam perpisahan dari Nina.
meskipun bersamaan dengan itu, ia tertawa sumbang mengasihi dirinya sendiri.
***
Hari ini dua bab loo 😂
gak nyangka otakku lancar bangett
Jangan lupa like nya guys... biar smakin semngatt
__ADS_1
peluk cium dari jauh 😘