
Hari sudah berganti. Beberapa hari yang lalu, setelah malam itu dia menemui Satya, Reyhan kembali pulang kerumah panti.
Menyapa dan melihat keadaan anak-anaknya yang akhir-akhir ini sering ia tinggal.
Betapa anak-anak itu merindukan sosok Reyhan. Sosok penyelamatnya. Terutama si kecil Naura, Janu dan Afif.
Reyhan jadi ingat, saat ia tiba di panti saat itu. Tak henti-henti nya Naura minta lelaki itu gendong, bahkan sampai tertidur dalam dekapan Reyhan. Pun dengan Janu dan Afif yang selalu membuat ulah demi mencari perhatian dari sosok iron man-nya. Siapa lagi kalau bukan, Reyhan?
Berkali-kali Reyhan tersenyum dan mengucap syukur saat mengingat hal itu. Melihat anak-anaknya masih dan selalu aman adalah kedamaian tersendiri untuk Reyhan.
Ponsel di mejanya bergetar membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan pribadi masuk dan segera Reyhan buka.
Bima memberitahukan bahwa, rumah yang Reyhan beli di luar kota sudah siap untuk dihuni, beserta surat-suratnya.
Reyhan beranjak. Mengambil kunci mobilnya dan segera menuju sebuah tempat menemui seseorang setelah sebelumnya, ia kirimkan pesan kepada orang itu.
Selama perjalanan menuju sebuah tempat, Reyhan hanya fokus dengan laju kemudi mobil yang membelah padatnya jalanan kota. Didalam pikirannya, ia hanya ingin segera menyelesaikan semua masalah dan membawa Nayla kembali.
Hingga tanpa sadar, dari belakang ada mobil lain yang sedang mengikutinya.
***
Restoran Sadewa.
Melangkah pelan, ibu hamil dengan perut yang sudah membesar itu menghampiri Reyhan yang memang sudah menunggunya.
Tanpa basa-basi, Nina menarik kursi didepan Reyhan, lalu mendaratkan bokongnya disana. "Sudah nunggu lama, Rey?"
Sekilas, Reyhan melihat Nina, lalu ia mengangguk pelan. "Lumayan." Jawabnya santai. Ada rasa iba di hati Reyhan kepada perempuan itu. Nina sedang hamil besar, mengandung seorang anak didalam perutnya, tapi malah diperlakukan buruk oleh suaminya. "Kamu sehat? bayi kamu?"
Nina sedikit terharu dengan pertanyaan lelaki itu, sampai tanpa sadar ia tersenyum tipis. Dia bahkan juga kagum pada sosok Reyhan yang terlihat tegas serta kaku, padahal dalamnya sangat lembut. "Sehat kok. Beberapa hari ini, Sari juga sering mengunjungi ku."
Tangan perempuan itu melambai pada salah satu pramusaji restoran. Nina memesan sup buah tanpa nanas.
Oiya, ngomong-ngomong semenjak hamil, Nina jadi jarang memakan nasi goreng kesukaannya. Mendadak, ia jadi sering mual meskipun hanya mencium aromanya saja.
__ADS_1
"Btw, hotelnya nyaman, dan tenang banget. Terimakasih ya, untuk bantuannya. Ini hotel kamu?" Membuka percakapan sambil menunggu pesanannya datang.
Reyhan menggeleng sambil menjawab. "Bukan. Tapi aku tau hotel ini, karena ini hotel kesukaannya Nayla."
"Oh" Menjawab singkat dan mengangguk paham. Beruntung banget jadi Nayla.
Pelayan datang, mengantar pesanan Nina dengan senyum ramahnya sebelum kembali bertugas. Dan dengan cepat, Nina segera melahap sup buahnya dengan khidmat.
"Oiya Nin, ini berkas-berkas, surat-surat dan sertifikat tempat tinggal yang kamu mau." Menyerahkan buku hak milik. "Sesuai keinginan kamu, rumah di desa, didekat perkebunan teh kan? Anggap saja, ini dari Nayla,
Aku melakukan ini karena aku tahu kamu adalah sahabat istriku. Dan juga ini sebagai bentuk ucapan terimakasih karena kamu sudah membantu aku dan Nayla dalam masalah ini. Terutama, soal video itu. "
Oh, video itu? Nina baru ingat. Kira-kira bagaimana hubungan Reyhan dan Nayla setelah Nina menyerahkan video itu ya?
"Rey, kamu sama Nayla, baik-baik aja kan?" Tanyanya pelan, sambil memasukkan potongan buah melon lengkap dengan kuahnya ke dalam mulut.
Reyhan mengangkat sebelah alisnya sebelum menjawab. "Baik. Seperti yang kamu lihat."
"Kamu gak gimana-gimana gitu setelah melihat isi video itu?" Bertanya lagi, seolah belum puas mendengar jawaban Reyhan yang terlalu umum.
Mendengar pertanyaan itu, Reyhan tertawa sumbang. Membuat Nina kembali meletakkan sendok nya, menunda makannya. Ada yang salah?
Andai saja, dulu Nayla tidak mengakuinya terlebih dahulu, mungkin Reyhan tidak bisa sesantai ini sekarang.
Kenyataannya,
sepahit apapun sebuah rahasia buruk, jika mengetahui langsung dari tersangkanya akan lebih manis dari pada harus tahu dari orang lain.
"Bagus deh." Kembali meraih sendok dan melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.
Ada sedikit perasaan kecewa dihati Nina mendengar jawaban Reyhan. Tapi dengan sisa nurani, Nina berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu.
"Jadi, kapan kamu menempati rumah itu Nin?"
"Emm" Nina sedikit berfikir. "Nanti sore bisa berangkat. Atau besok juga gak papa. kenapa?"
__ADS_1
"Gak papa. Aku gak bisa lama-lama disini. Masih ada urusan." Reyhan berdiri, merapikan pakaiannya, dan ingin segera beranjak ke rumah sakit.
"Gak papa kok. Thanks ya Rey." Ucap Nina tulus. "Eh Rey, boleh nggak, aku minta nomor ponsel Nayla.?"
"Buat?"
"Ya buat saling bertukar kabar saja. Lagian sudah lama banget kami gak komunikasi."
Reyhan tampak berfikir serius. Amankah? Mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi.
Tapi, mungkin tidak masalah, secara Nina kan sudah tidak bersama dengan Satya. Jadi, delapan puluh persen aman. "Oke. Tapi, tolong jangan kasih tahu apapun ke Nayla soal berita yang tersebar diluar sana. Apalagi yang menyangkut Nayla dan keluarganya."
Ha? Nina terkejut. "Memang Nayla nggak tahu sama sekali ya? Berita itu kan sempat trending topik Rey?"
"Enggak. Aku sengaja menutup akses ponsel Nayla untuk menuju ke sana. Aku gak mau dia khawatir Nin. Jadi, kamu bisa nggak?"
Sekali lagi Nina diam. Merasa iri pada Nayla yang selalu mendapat kebahagiaan dengan dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Sedangkan Nina?
"Oke, gampang itu mah."
"Yasudah, nanti nomor Nayla aku kirimkan ke kamu." Reyhan segera melangkah dari sana. Tapi baru dua langkah, dia berbalik. "Kamu hati-hati. Semoga betah disana, dan juga semoga bayi kamu sehat."
Berdesir lah hati Nina. Dan sejurus kemudian senyum manis terukir di bibirnya. Cukup lama Nina larut dalam lamunannya sampai tidak sadar Reyhan sudah pergi dari sana.
Dia juga tidak menyangka kalau dia bisa sebahagia ini hanya karena mendapat sedikit perhatian. Lalu, sebahagia apa Nayla yang sudah menjadi istri Reyhan?
"Astaga" Nina pukul-pukul kepalanya sendiri. Merasa berdosa dan sangat bersalah kepada Nayla karena dengan tanpa sengaja ia malah menikmati perhatian kecil dari suami Nayla.
Padahal, Reyhan sama sekali tidak menganggap pertanyaan itu sebagai bentuk perhatian. Lelaki itu hanya, merasa iba pada Nina yang merupakan salah satu sahabat istri tercintanya.
Sorry Nay. Sorry... batin Nina.
Tanpa ia sadari, dari jarak beberapa meter tempat Nina duduk, ada seorang lelaki dengan senyum liciknya memegang ponsel.
Kata-kata sumpah serapah muncul dari mulut lelaki itu dengan lirih. Hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.
__ADS_1
Bersamaan dengan semua rancangan rencananya untuk merebut Nayla yang otomatis terputar didalam otaknya sendiri.
"Selamat datang kembali Nay..." Gumam lelaki itu lirih dam penuh percaya diri, sambil mengamati Nina melahap habis makanan nya.