
Cuaca begitu cerah. Namun terik panas matahari tak mampu mengalahkan sejuknya aliran udara di pedesaan.
Kedatangan Nayla tak ubahnya pelangi.
Memberi warna bagi semua pasien rumah singgah. Laksana penerang yang begitu dirindukan. Tak ubahnya penawar penyembuh kesepian.
Siapa yang tidak mengenal Nayla disana, jika dulu Nayla juga sering turun tangan sendiri merawat dan melayani mereka yang sudah berusia senja, maka tentu saja sekarang nama Nayla telah terukir dihati banyak manusia berumur tua.
Kesehatan dan kebahagiaan yang Nayla rasakan hari ini adalah hasil nyata dari doa banyak manusia yang telah Nayla jamin masa tuanya.
Limpahan keberkahan dan lantuan harapan banyak Nayla dengar.
"Suami mu tampan sekali" Puji salah satu lansia disana, yang membuat lelaki tampan disamping Nayla itu mengangguk, cukup malu. "Cocok sama Nayla yang cantik."
"Semoga keluargamu bahagia, lengkap dengan buah hati yang sebentar lagi lahir."
"Cucu nenek sebentar lagi keluar.. Semoga sehat ibu dan bayinya." Sambil mengelus perut Nayla.
"Sehat ya Nduk, semoga lancar persalinannya." Sambil membelai rambut Nayla.
"Udah besar aja kandungan kamu nduk, nenek berdoa dari sini semoga lancar proses-prosesnya."
"Jangan lupa, jaga kesehatan dan didik cucu nenek dengan baik yaa."...
Dan banyak lagi ucapan doa dari mereka yang Nayla dengar. Seperti nada lagu bahagia.
Meski dengan kondisi berbadan dua Nayla menyempatkan diri menyapa banyak lansia yang merindukannya. Tentu didampingi oleh sang suami tercinta, Reyhan Atmaja.
Semua hal bahagia yang Reyhan lihat sendiri hari ini menambah kekagumannya kepada Nayla.
Istrinya yang cantik, yang menawan, Nayla yang selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, dan Nayla yang meski kadang menyebalkan, mudah terpengaruh.
Reyhan begitu mencintainya. Semua hal yang ada pada Nayla.
Lebihnya, kurangnyaa...
"Aku mencintai mu Nay..." bisiknya yang hanya mampu ditangkap oleh telinga Nayla sendiri.
"Nduk, ayoo makan dulu. Ajak suamimu. Ibuk udah masak banyak khusus untuk kedatanganmu." Bu Asih menghampiri Nayla. Lalu mengajaknya untuk makan bersama.
__ADS_1
"Iya bu.." Ajakan bu Asih menghentikan kegiatan Nayla membantu Suster Emma disalah satu ruang tidur lansia.
"Emma, aku tinggal dulu yaa"
"Iya kak... biar Emma yang lanjutin sama temen temen. Makasih ya kak, atas bantuannya."
"Santai aja Emma.."
Sambil berbincang, Nayla menikmati makanannya pelan pelan.
Berkumpul bersama Ibu Asih, Sari, Reyhan, Nayla dan beberapa orang lainnya.
Mereka menikmati makan dengan duduk diatas tikar yang di gelar. Menambah khas suasane pedesaan yang menyejukkan.
Saking banyaknya, hidangan yang tersaji hampir mirip dengan hidangan hajatan di pedesaan.
Berbagai menu dengan rempah rempah khas di desa sudah siap sedia. Ada juga rendang, hidangan favorit Nayla.
Katanya, sebagai tanda pengenalan untuk suami Nayla, dan juga sebagai sambutan untuk Nayla yang sudah begitu lama tidak berkunjung ketempat itu.
Andai bu Asih tau apa saja yang di alami Nayla selama ini pasti bu Asih akan memeluk Nayla erat sambil menangis nelangsa mengkhawatirkannya.
"Memang, untuk Nayla dan Reyhan. Kamu udah lama sekali ndak kesini... Jadi ibu masak banyak.
Sekalian biar semua bisa makan..."
"Untuk Sari gak ada ya buu?" Timpal Sari yang merasa terasingkan. Sambil pura pura merajuk. "Kok semua untuk Naylaa." Protesnya lagi
"Ya enggak dong, ini untuk Sari jugaa. Ayoo makan yang banyak nduk. Pulang dari sini jangan sampai kelaparan yaa"
"Aku paling suka rendang buatan ibu.. rasanya mantaap hihi" Puji Nayla pada Ibu Asih saat satu suapan rendang masuk ke dalam mulutnyaa.
"Aku sudah mendengar pujian mu itu nduk... Kalau begitu nanti pulang ibu bawain oleh oleh rendang aja bagaimana?"
"Boleh bu?"
"Tentu saja." Jawab Bu Asih membuat Nayla begitu senang. Haru menyeruak dalam hati perempuan bernetra mata hitam itu. "Ambil kan juga untuk suami mu Nay.."
Nayla menoleh ke arah sang suami yang duduk tepat disamping nya sambil meletakkan rendang diatas piring Reyhan. "Nihh, cobain Mas rendang bikinan Ibu, pasti kamu suka."
__ADS_1
Lalu dengan segera Reyhan mencicipinya. Dan benar saja, meski sama enaknya dengan rendang buatan mama Riana, tapi rendang bu Asih memiliki cita rasa yang begitu khas.
"Gimana mas? Enak kan?"
Reyhan mengangguk, "Banget"
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Nina? Terakhir ibu dengar Nina sudah melahirkan ya?" Tanya bu Asih.
"Iya bu, bener." Timpal Sari.
"Anaknya kembar lagi.. lucu lucu sekali." Saut Nayla. "Aku jadi pingin anakku segera lahir."
"Kamu itu Nay, sabar dulu atuh. Belum waktunya kok ya."
"Ibu pingin kesana nggak? Rumah Nina deket loh bu, ga jauh dari sini.." Tanya Sari lagi.
"Ya pingin, tapi kan kamu tau sendiri nduk.."
"Yasudah, nanti malam Sari nginep deh. Besok Sari antar bagaimana?" Sari menawarkan diri, sekalian perempuan muda itu juga merindukan Nina.
"Serius ? Kuliah mu gimana nduk?"
"Besok aman kok bu, gak ada jadwal. Kan sekalian mumpung aku disini juga." Sari menjeda. "Ya gak Nay? kamu nginep juga kan?"
"Duh, aku ga bisa nginep Sar. Aku sama mas Reyhan harus pulang. Ada sesuatu yang harus kita kerjakan."
"Yaudah deh gak papa. Biar aku sendiri aja yang nginep. Sekalian nganterin ibu besok sebelum pulang."
"Yaudah nduk kalau begitu. yang penting nggak jadi beban buat Sari aja." Jawab bu Asih melegakan.
Hal yang tak ternilai adalah waktu.
Dan kehangatan seperti ini menambah nilai waktu jadi semakin berkesan.
Kebahagiaan membuat waktu terasa semakin cepat.
Setiap detik, sepenggal jejak takdir mengalir. Pena merangkai bait demi bait ceritanya. Meski tak pernah kita sadari sekalipun.
Manusia tidak akan pernah sanggup mengulang detik yang berlalu. Tapi, memperbaiki detik ini dan detik berikutnya adalah langkah paling bijak agar penyesalan minim persennya.
__ADS_1