
Pikiran Nayla berkecamuk dengan apa yang baru saja dilihatnya. Membuatnya hilang kendali.
Sedangkan mobil melaju semakin kencang. Setelah mengantarkan sahabat baiknya kembali kerumah, sekarang Nayla tidak tahu harus kemana lagi. Yang jelas, dia masih enggan pulang.
Sambil menangis, Nayla terus melajukan mobilnya menembus ramainya jalanan kota. Fokusnya terbagi diantara mengemudi dan Reyhan.
Siapa sebenarnya Reyhan? Apa benar dia laki-laki yang baik?
Atau Nayla yang sudah salah menilai.?
Rasa kecewa memenuhi hatinya. Nayla sudah terlanjur menilai Reyhan sebagai laki-laki yang baik. Yang layak dicintai.
Laki-laki yang bisa menerima nya dengan segala kekurangan Nayla. Lalu kejutan apa lagi ini?
Apa diam-diam Reyhan kecewa karena dia bukan yang pertama untuk Nayla?
Nayla seperti sudah dibawa terbang dilangit dengan sikap baik Reyhan selama ini. Kelembutannya, kebaikannya, kedewasaannya, sikap pembawanya yang tenang, dan keromantisan laki-laki itu sudah membuat hidup Nayla seperti tuan putri yang sesungguhnya. Sekarang, Reyhan seperti membanting tubuh Nayla kedalam jurang secara diam-diam dengan sebuah penghianatan.
Sambil masih menangis, Nayla meraba dadanya sendiri yang terasa semakin sakit. Tangan kirinya memukul-mukul dadanya berkali-kali.
__ADS_1
Sebuah penghianatan tidak bisa Nayla toleransi. Tanpa sadar, bersamaan dengan air matanya yang mengalir semakin deras, Nayla menginjak pedal gas semakin dalam pula. Sampai dia lengah, seorang bocah kecil melintas didepannya dan...
Ciiiiiiiiitttttttt...
Dunia Nayla serasa gelap saat kepalanya membentur setir mobil dengan keras. Dan sekarang dia benar-benar menangis didalam mobil dengan keras pula. Menumpahkan segala kesedihannya yang dia pendam sendiri.
Bahkan, pusing dikepalanya yang berdarah akibat benturan tadi sudah tidak Nayla rasakan. Nayla juga mengabaikan banyaknya orang berkerumunan diluar yang menyaksikan. Hatinya lebih sakit dari pada apa yang dia alami hari ini.
Kenapa dunia jahat sekali..? Hikksss
Puas menangis didalam mobil, Nayla tersadar saat ada seorang laki-laki mengetuk kaca mobilnya berkali-kali. Membuat Nayla mau tidak mau harus keluar dari mobil dan bertanggung jawab atas kecelakaan ini.
"Aku tidak apa apa pak.. bagaimana anak itu pak..?" Tanya Nayla sopan dengan celingukan mencari korban."Ayoo pak cepat, dibawa kerumah sakit sajaa..."
"Dia baik-baik juga mbak.. itu disana..." Ucap laki-laki paruh baya itu sambil menunjuk kearah bocah si korban. "Mungkin cuma syok aja.."
"Ah syukurlahh... apa ada yang terluka?" Tanya Nayla dan laki-laki itu menggeleng. "Apa ada orang tuanya..?"
Seorang ibu-ibu memakai jilbab dengan lengan baju yang hanya menutup sepertiga tangannya itu terlihat sedang mengkhawatirkan putranya. "Permisi... Maaf kan saya Bu, saya tidak...."
__ADS_1
"Tidak apa apa mbak, ini mah salah anak saya, dia memang kalau menyebrang suka sembarangan..."
"Mungkin salah saya juga bu, yang mengemudi terlalu kencang. Apa ada yang bisa saya bantu? Saya akan bertanggung jawab atas semua kerugiannya..." Ucap Nayla.
"Ah sepertinya tidak perlu. Anak saya tidak ada yang terluka kok mbak..." Jawab ibu itu merasa sungkan.
"Baiklah kalau begitu..." Nayla merogoh tasnya, mengambil beberapa lembar uang. "Ini untuk anak ibu ya, buat jajan.... Dan ini, disitu ada kartu nama suami saya, kalau ada apa-apa bisa dihubungi saja bu... saya tidak akan lari dari tanggung jawab..."
"Terimakasih mbakk.. terimakasihh..."
"Kalau begitu saya permisi dulu...."
Nayla kembali ke mobil dan melajukan mobilnya lagi dengan perasaan yang sedikit lega sekarang. Mungkin beberapa emosinya sudah meluruh bersama dengan air matanya yang jatuh. Meski masih ada sisa setengah emosinya yang masih merajai. Setidaknya ini lebih baik dari tadi.
Sekarang Nayla tahu, harus pergi kemana dia.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Cahaya matahari sudah meredup.
Bersamaan dengan meredupnya gadis cantik yang sedari dulu terkenal dengan keceriannya.
__ADS_1
Rambutnya sudah sangat berantakan. Tidak terkucir rapi seperti tadi. Matanya sudah sembab, mengurangi binar bening manik bernetra hitam miliknya. Apalagi wajahnya yang sudah basah karena air mata membuat Nayla mau tidak mau harus menghapus make upnya dengan tisu di mobil. Nayla sudah tidak begitu peduli dengan penampilannya.