Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Semesta Tidak Merestui


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu sejak pernikahan Nayla dilaksanakan. Jatah cuti untuk absen dari mata kuliah sudah habis. Kini sudah saatnya dia kembali menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa yang aktif.


Dua tahun lagi, Nayla akan mendapatkan gelar yang selama ini dia impikan.


Suasana masih sangat petang. Sang fajar masih mengintip malu-malu diufuk timur setelah semalam penuh menyembunyikan sinarnya.


Hawa dingin pun masih menyatu dengan hembusan angin yang perlahan membelai lapisan terluar kulit manusia yang sedang beraktifitas diluar sana. Tapi tidak bagi Nayla.


Nay membuka matanya pelan.


Rasa nyaman menjalar kesetiap bagian tubuhnya saat dia menyadari ada sebuah tangan kekar yang memeluknya. Mendekapnya dalam kehangatan.


Nayla enggan bergerak. Dia masih ingin menikmatinya.


Pelan tapi pasti. Kepalanya mendongak menatap penuh kagum pada laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Bagaimana bisa sudah dua minggu tidur berdua disatu ranjang yang sama tapi Reyhan belum juga menyentuhnya?


Padahal ada banyak kesempatan seandainya laki-laki itu mau memaksakan kehendakknya.


Benarkah Reyhan sekuat itu menahan hawa nafsunya? Atau jangan-jangan dia bukan laki-laki normal?


Segera Nayla tepis pikiran buruknya pada sang suami.


Nayla enggan menerka-nerka yang ujung-ujungnya membuat dirinya gelisah sendiri.


Reyhan bilang, dia menunggu Nayla sampai jatuh cinta dulu kan?


Mengingat itu, terkadang Nayla ingin menantangnya saja. Menggoda Reyhan dengan pakaian seksi.


Nayla ingin tahu, sejauh mana laki-laki itu kuat menahan hasratnya?


Nayla terkekeh geli membanyangkan pikiran nakalnya.


"Sudah puas menatap ku? Sampai senyum-senyum gitu.. Bahagia banget ya punya suami tampan?"


Ledek Reyhan sambil membuka mata. Seketika membuat Nayla mendelikkan mata. Malu.


"Sejak kapan bangun?"


Nayla bertanya sambil menyipitkan kedua bola matanya.


"Sejak kapan ya? aku lupaaa..."


Jawab Reyhan sambil terkekeh geli. Tangannya bergerak semakin mempererat pelukannya pada tubuh Nayla.


"Jangan beranjak dulu. Diluar masih sangat dingin. Kau lupa kemaren sore hujan sangat lebat?"


Tanya Reyhan lagi sambil kembali memejamkan mata.


Jujur saja, posisi seperti ini membuat Reyhan ingin segera menikmati tubuh istrinya itu.


Reyhan memeluk Nayla dengan tangan kanan. Sementara lengan tangan kirinya berada dibawah leher Nayla. Tubuh mereka sudah benar-benar berdempetan.


Tapi, eittsss tunggu dulu...


Reyhan masih kuat kok. Dia mengatur deru nafasnya sendiri.


"Siapa juga yang mau keluar?" Jawab Nayla spontan.


"Jadi, kau sangat suka ya aku peluk begini? Nayla sudah jatuh cinta sama suami belum sih? Stok sabarku sudah mau habis nih..."


"Rey, kumat dehh...." Jawab Nayla bingung.

__ADS_1


Tadi aja dia berpikir ingin menggoda Reyhan. Sekarang?


Sudah ada kesempatan malah bingung sendiri kan?


Lenggang seketika. Keduanya sama-sama mengatur debaran jantung yang bergerak semakin cepat.


Reyhan tidak ingin memaksakan Nayla. Karena dia tahu Nayla belum mencintainya.


Sementara Nayla, dia terlalu malu mengatakan bahwa dia mulai nyaman dengan Reyhan. Meskipun kadang kala, dia masih mengingat laki-laki itu.


Ya, siapa lagi kalau bukan, Satya?


"Hari ini sudah masuk kuliah kan? Perlu dianterin gak?"


Tanya Reyhan memecah keheningan.


"Memangnya kamu gak sibuk ya hari ini?"


"Gak terlalu sih. Skripsi ku sudah deal kok. Mungkin dua bulan lagi aku wisuda.


Kalau nanti, paling paling mau ke toko buku. Sudah lama gak kesana.


Jadi mau dianterin gak.?"


"Mau, tapi pakek mobilku ya..?"


Jawab Nayla dengan manja.


"Bilang aja, pulangnya juga mau dijemput. Seneng banget ya berduaan sama aku?"


Nayla hanya mencubit pinggang Reyhan sambil berdecak kesal. Sementara Reyhan malah terkekeh geli.


Burung mulai bernyanyi pertanda hari beranjak siang. Suasana seperti ini paling baik untuk penyegaran tubuh. Untuk itu, bangun tidur dalam perasaan positif dapat membantu kita menjalani hari lebih bahagia dan lebih siap.


Jadi, tebarkan bahagia setiap pagi ya,?


Pagi ini, hawa dingin menyeruak menyentuh kulit dan membuatnya meremang setelah hujan deras semalam.


Waktu menunjukkan pukul sembilan. Tapi kabut tipis masih menyelimuti hamparan awan. Menghambat sinar matahari menembus dasar bumi. Membuat tanah yang basah itu semakin lama mengering.


Seperti luka lama yang kembali dibuka.


Ah Sial. kenapa jadi puitis begini sih?


Nayla berjalan santai dikoridor kampus ditemani dua sahabatnya. Sari dan Nina.


Suasana masih lumayan sepi. Mungkin banyak mahasiswa yang enggan masuk karena cuaca yang mendukung mengajak bergumul dengan selimut dikamar.


Tapi tidak bagi tiga gadis itu.


Ketiga gadis itu sudah rindu untuk bertemu. Saling menumpahkan rasa kehilangan saat salah satu dari mereka tidak bisa berkumpul bersama selama dua minggu.


"Gimana hubungan kamu sama Satya? Dia mau tanggung jawab kan Nin...?"


Nayla bertanya setengah berbisik. Memastikan tidak ada yang tahu kecuali mereka.


Nina menghela nafasnya ringan. Nayla memang tidak tahu usaha apa saja yang sudah Nina lakukan untuk meminta pertanggungjawaban dari laki-laki itu selama Nayla cuti pernikahan.


Haaah, kalau saja tidak ada nyawa didalam perutnya yang sedang Nina perjuangkan, Nina juga ogah kali memohon-mohon untuk dinikahi laki-laki macam Satya.


Menghancurkan harga dirinya saja.


"Tau lah, aku dah capek Nay.. Satya masih cinta banget sama kamu..."

__ADS_1


Jawab Nina pasrah.


"Gak bisa gitu dong... Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya Nin. Jadi laki-laki kok pengecut.!"


Nayla menjawab dengan setengah emosi. Sebenarnya, hatinya juga sakit menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa ada perempuan lain yang mengandung darah daging Satya. Apalagi perempuan itu adalah, sahabatnya sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi.? Dunia yang dulu merestui hubungan Nayla dan Satya, seolah berbalik menjadi musuh. Hanya butuh waktu kurang lebih satu bulan.


Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Semesta sepertinya sangat menentang mereka untuk bersama.


"Aku akan bantu kamu... tenang aja Nin..."


Ucap Nayla memberi dukungan sambil mengusap punggung sahabatnya.


Dan Nina membalasnya dengan senyuman yang manis.


"Kita sarapan dulu yukkk..."


Ajak Sari saat melewati kantin yang menu makannya menggugah selera.


Mereka duduk disatu meja yang sama. Memesan menu makanan yang selalu menaikkan nafsu makan. Apalagi aromanya itu..


Pokoknya beda deh sama restoran mewah ala ala orang kaya. Dan itu yang membuat mereka gak bosen sama menu makanan yang itu itu aja dikantin kampus ini.


Beberapa menit berlalu. Menu makanan pesanan mereka sudah tersedia di meja. Lengkap dengan minumannya.


Mereka menyantap makanannya masing-masing. Mengecap rasa yang membuat lidah mereka berpesta. Mantap deh pokoknya.


"Aku janji, kamu pasti akan nikah sama Satya. Percaya sama aku Nin..."


Ucap Nayla saat melihat ada semburat kesedihan dan kekhawatiran terpancar dari raut wajah Nina.


Sahabatnya yang paling dewasa itu, kenapa harus mengalami nasib yang menyebalkan begini?


"Kamu yakin?"


Nina menjawab setengah ragu. Bagaimana mungkin Nayla bisa membuat Satya menikahinya? Padahal jelas, Satya hanya mengharapkan Nayla disisi setiap hidupnya.


"Yakin, kamu harus sabar yaa...


dan tolong tetap rahasiakan pernikahan aku sama Reyhan. Aku akan bantu kamu...


Kamu cukup percaya aja sama aku..."


Jawab Nayla yakin. Dia sudah memikirkan keputusannya ini sambil mengunyah tadi. Meskipun dirinya sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


Masalah Reyhan,? Semoga saja dia mengerti.


"Gimana caranya Nay? Kamu kenal Satya kan?


Aku juga udah ngomong baik-baik sama dia, buat tanggung jawab.


Setidaknya demi anaknya sendiri. Tapi masih aja gak berhasil."


Ucap Sari membela Nina seraya menghela nafas pelan. Rasanya memang mustahil membuat Satya menyerah.


"Nina cukup percaya aja sama aku. Aku janji !"


Tanpa mereka sadari,


ada sepasang mata milik laki-laki yang menatap salah satu dari ketiga gadis itu dengan sendu.


Hatinya berdebar. Matanya berbinar.

__ADS_1


Kemudian dia berjalan menghampiri mereka dengan langkah lebar.


"Nay..."


__ADS_2