
Reyhan menghampiri Jeni dimeja kasirnya. Sementara itu, Nayla berjalan lebih masuk lagi memastikan bahwa dia mengenal sosok perempuan dibalik rak berisi deretan novel. Tempat yang cukup jauh dari jangkauan mata suaminya.
Nayla berdiri dari jarak beberapa meter dibelakang sosok itu.
"Alma..." Panggil Nayla memastikan.
Perempuan itu berbalik. Dengan style khasnya, Alma menatap Nayla bingung hingga sepersekian detik. Setelahnya dia terkejut, dan tersenyum lebar.
"Kak Nay..." Sambutnya pada Nayla seraya merentangkan tangannya. Dan Nayla pun membalas pelukan singkat itu.
"Ya Tuhan, gak nyangka kita ketemu disini kak.. Dan apa ini? Cantik banget sih kak, dari mana?" Tanyanya saat melihat penampilan Nayla dari kaki sampai ujung kepala.
Dress merah maroon yang masih melekat ditubuh Nayla.
Nayla mengangguk membenarkan, membalasnya dengan senyum simpul. Dan kemudian mengalihkan topik. "Kamu ngapain disini Al?"
"Mau beli buku lah kak.. kan ditoko buku. hehe" Menunjukkan pada Nayla sebuah novel bergenre romantis ditangannya. "Sambil nunggu seseorang sih,"
Gadis itu tersenyum malu. "Oh iya, kak Nay apa kabar? Aku berharap sih kakak selalu baik-baik saja..."
Berucap lalu setelahnya, wajah gadis itu menunjukkan sisi keprihatinan.
"Berarti sesuai harapanmu.. aku baik-baik saja Al..." Jawab Nayla sembari menyenderkan sebagian tubuhnya dirak buku.
"Kak Nay pasti sedih banget kan ya dengan pernikahan mereka, aku gak bisa bayangin ada diposisi kamu kak."
Alma ikut menyenderkan tubuhnya disamping Nayla. "Aku gak nyangka banget, atas nama kakak ku, aku minta maaf ya kak Nay..."
Mendengar kalimat itu, entah kenapa membuat Nayla terkekeh lumayan keras. Sampai salah satu tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya sendiri.
Apa aku terlihat begitu menyedihkan?
Kekasihku menikahi sahabatku. Ah iya, itu kedengarannya memang sangat menyedihkan..
"Kok ketawa sih kak? Emang kak Nayla gak sedih gitu?" Tanyanya dengan heran. "Atau, Kak Nayla marah banget ya, sampai gak bisa sedih lagi? Sampai-sampai kamu gak dateng di pernikahan Kak Nina."
Nayla semakin terkekeh. Kenapa sepertinya aku terlihat begitu menyedihkan sih?
"Aku gak papa kok Al..." Masih dengan tawa nya yang belum bisa berhenti. "Serius aku gak papa, apa-apa an sih kamu ini..."
Nayla memukul lengan lawan bicaranya dengan pelan.
"Aku gak dateng itu karena aku repot, lagian aku sama Nina masih baik-baik saja kok.." Kata Nayla dengan yakin.
"Gak ada yang berubah Al, Nina masih sahabat baik ku, selamanya juga akan begitu.."
Dahi Alma berkerut dengan lipatan yang terlihat jelas. Mungkin dia sedang berpikir,
perempuan seperti apa Nayla? Bahkan dari wajah dan matanya, Alma benar-benar tidak melihat ada sorot mata kesedihan.
Seharusnya pernikahan Nina yang tak lain adalah kakaknya sendiri itu, menorehkan luka yang dalam bukan untuk Nayla, bukan? Seharusnya jika Nayla wanita biasa sama halnya dirinya, dia sudah terpuruk sekarang. Membenci Nina dan semua yang terlibat dengan sumpah serapahnya.
Pun dengan Alma yang harus memaklumi kutukan demi kutukan yang keluar dari mulut Nayla. Jika saja hal itu sampai terjadi.
Ah, kemarahan Nayla adalah hal yang sangat wajar. Yang sudah Alma prediksi sejak pernikahan itu.
Tapi apa ini? Kenyataannya, sikap Nayla yang sama sekali tidak membenci, justru terlihat begitu menyeramkan.
"Sudahlah, lupakan saja Al..." Ucap Nayla yang memutus tatapan heran diwajah Alma. "Yang lalu biarlah berlalu Al... kita jalani saja sekarang yang ada.."
__ADS_1
Alma menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kak Nayla hebat..." Dia masih belum percaya jika Nayla baik-baik saja. Ya, Alma masih perlu bukti, jika perempuan didepannya ini, sama sekali tidak terluka.
"Kak Nay tau nggak? Kakak ku sudah hamil loh..."
Reaksi Nayla yang menganggukkan kepalanya lagi-lagi sukses membuat Alma memandang Nayla dengan cara lain. Dia yakin, Nayla memang bukan wanita biasa. Jadi penasaran, kesabaran siapa yang Nayla tirukan?
"Jadi kamu sudah tau kak?"
"Tau dong..." Kata Nayla dengan senyumnya. "Ya kali sahabat sendiri hamil aku gak tau..."
Aku tau, bahkan sebelum kamu dan keluargamu tau Alma..
Alma baru akan berkata lagi saat seseorang yang dia kenal menghampiri mereka. Sosok yang sangat Alma rindukan karena sudah beberapa bulan ini sangat sulit Alma temui. Sosok yang sampai sekarang, masih dia kejar-kejar cintanya.
Alma menatap Reyhan dengan mata berbinar sampai dia menyadari, bukan dirinya yang sedang lelaki itu cari...
"Nay, pulang yuk..."
Sesaat pandangan Alma dan Reyhan bertemu. Alma yang terkejut dengan ajakan yang keluar dari mulut lelaki itu untuk Nayla,
Pulang?
Dan Reyhan juga terkejut, dengan interaksi yang terjadi antara istrinya, dan.... Alma.
"Rey... Sudah selesai ya..." Jawab Nayla sambil menggandeng tangan suaminya agar mendekat.
"Sini, tak kenalin sama adik ku... lebih tepatnya sih adiknya Nina"
Lalu Nayla menoleh pada Alma, belum sadar bahwa sekarang, Alma sedang menatap Reyhan dengan sorot mata meminta penjelasan.
"Almaa..." Panggilnya seketika memutus pandangan Alma dari Reyhan.
***
Lama mamatut dirinya di depan cermin. Nayla mengoles beberapa krim perawatan wajahnya, sebelum tidur. Hal yang sudah biasa ia lakukan.
Meskipun sering kali, perawatannya terbuang sia-sia karena terkadang, Reyhan menyapu habis apapun yang ada diwajahnya dengan bibirnya yang yang memabukkan itu.
Rentetan peristiwa hari ini terputar otomatis dikepalanya. Seperti putaran film yang menunggu giliran sesuai adegan per adegan.
"Jangan lama-lama deh, sini..."
Gadis itu memicingkan bola matanya. Dia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, jika ia segera beranjak memenuhi panggilan suaminya dari atas ranjang.
Semuanya pasti tidak akan berakhir mulus. Apalagi untuk krim malam yang baru saja mulai bekerja diwajahnya.
Memilih mengabaikannya, Nayla masih asik memijit pelan wajahnya agar krim tadi meresap sempurna dan merata. Memulasnya dengan lembut dan telaten, berharap mendapat hasil yang maksimal, sesuai yang dia inginkan.
Ah, begitulah wanita. Terkadang cantik itu memang harus diusahakan agar ia jelas terlihat keberadaannya. Meskipun sebenarnya, semua wanita diseluruh penjuru dunia ini sudah cantik. Ada yang cantik dengan kulit putih dan mata sipitnya, ada juga yang cantik dengan kulit sawo matang dan mata belonya. Cantik itu relatif, tergantung siapa yang menilainya.
Ingat, semua perempuan itu cantik sekalipun warna kulit, bentuk hidung, rahang wajah dan garis pipi nya berbeda. Semua cantik dan perbedaan itu lah yang membuatnya semakin unik. Mereka cantik alami meskipun ada beberapa orang yang tidak bisa melihatnya.
Dan itulah tugas perawatan yang sebenarnya, agar kecantikan itu sendiri lebih terpancar, jelas.
"Mengabaikan suami itu dosa loh Nay..."
Seakan belum menyerah, lelaki diatas ranjang itu masih berusaha membujuk. Membuat Nayla menatapnya tajam sambil menghela nafas sebal.
Sedangkan, sekarang lelaki itu sedang duduk. Dengan posisi punggungnya yang menyandar pada kepala ranjang. Kemudian tangannya memainkan ponsel.
__ADS_1
Tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya yang mendengus kesal.
"Dunia itu sempit ya Rey..."
Lelaki itu tak merubah posisinya. "Tergantung kamu melihatnya dari mana?"
Lenggang sementara, sampai gadis itu menyelesaikan kegiatannya. Kemudian dia beranjak mendekati sang suami.
Merangkah diatas kasur, lalu merebahkan dirinya setelah dirasa suasana cukup aman.
"Bantal yang nyaman..." Gumamnya saat kepala gadis itu dia letakkan diatas paha suaminya.
Membuatnya mendapat cubitan keras dihidung.
"Nakal banget sih... sakit tau Rey..."
Gadis itu memberenggut. Bukan membuat Reyhan takut malah membuatnya semakin gemas. "Kamu bilang tadi dunia sempit kan? kamu melihatnya dari sebelah mana?"
Nayla menatap suaminya dari bawah.
"Alma... aku nggak nyangka banget kamu kenal sama Alma.."
Reyhan berhenti memainkan ponselnya, lalu menaruh benda pipih kesayangan umat itu diatas nakas. Tanpa sedikitpun tubuhnya bergeser. Sekarang jari jemarinya tengah asik menyusuri helai demi helai rambut istrinya. Ternyata Nayla masih penasaran.
"Kamu masih kepikiran ya?"
"Hu um..." Jawab Nayla jujur.
Nayla masih memandang aneh pertemuan suaminya dengan Alma tadi. Jika sebelumnya Alma tampak sangat bersemangat bercerita dengannya, berbeda saat setelah Reyhan datang.
Alma sedikit murung, apalagi saat Nayla mengenalkan Reyhan sebagai suaminya. Gadis itu malah enggan berbasa-basi dengan Nayla dan lebih memilih pergi dengan alasan yang sulit diterima.
Aku pergi dulu kak Nay, disini panas banget! Berjalan keluar sambil menatap sinis ke arah Reyhan.
Alasan macam apa itu?
"Dia pelanggan ditoko buku... kita satu kampus yang sama.. meskipun beda semester." Aku Reyhan berniat menenangkan istrinya. "Jadi wajar kan kalau kita kenal.."
Bukannya Reyhan sengaja ingin berbohong tentang Alma yang menaruh hati padanya. Hanya saja, menurut lelaki itu, apa pentingnya sih memberitahu hal seperti itu pada Nayla?
Reyhan tidak ingin membuat Nayla cemas. Reyhan takut istrinya meragukan kesetiaannya. Sedangkan Reyhan, berani sumpah demi apapun
Reyhan hanya menaruh hati pada istrinya, yaitu Nayla.
"Tapi sepertinya, Alma menyukai mu Rey..."
"Tau dari mana?" Tanyanya.
"Ya kamu lihat sendiri kan tadi?"
"Aku gak tau tuh..." Reyhan membungkuk kan punggungnya. Hingga sekarang, wajahnya berhasil memangkas jarak dengan wajah sang istri yang masih berada diatas pahanya.
"Sekalipun benar jika dia menyukaiku, aku tidak peduli. Aku hanya menyukai Nayla. Apalagi..."
Cup
Reyhan menghentikan kalimatnya dan mencium sekilas bibir Nayla yang tetap saja berwarna merah ranum. Serangan yang tiba-tiba jauh dari perkiraan Nayla.
"Aku hanya menyukai Nayla..."
__ADS_1