
Sesaat, nafas yang Nayla hirup terasa sangat sesak. Seperti ikut mencekik dalam setiap tarikan yang dia lakukan.
Perasaan kalut menghampiri relung jiwanya. Padahal Nayla sendiri tidak tahu menahu apa yang mendasari kegelisahannya.
Sambil mondar-mandir dibelakang pintu kamar, sesekali matanya melirik pada jam diujung dinding. Rasa cemas mampu mengusik ketenangan hatinya tatkala hari sudah malam dan suaminya entah kemana tanpa kabar.
Kok Reyhan belum pulang sih..!
Nayla mengambil gawai dari saku celananya. Sekali lagi, berharap suaminya mau mengangkat panggilan yang entah sudah keberapa kalinya. Tapi nihil, Reyhan tetap tidak menjawabnya.
Seketika air matanya meleleh tanpa bisa dicegah. Perasaan bersalah menghampirinya bersamaan dengan ketakutan yang mengancam hubungannya dengan Reyhan.
Reyhan kemana? Apa dia marah karena aku jalan berdua sama Satya? Tapi kan....Reyhan gak tau
Ahh, kenapa juga aku nangisin Reyhan?
Cekleeekk....
Pintu kamar terbuka dan sosok Reyhan sudah berdiri disana dengan senyum mengembang sempurna.
Nayla yang sedari tadi memang menunggu, langsung memeluk erat suaminya. Menangis tersedu-sedu didalam dekapan sambil menumpahkan ketakutannya.
"Nay, kenapa?"
Reyhan membalas pelukan istrinya dengan satu tangan. Sedangkan tangan lainnya, ia gunakan untuk menutup pintu secara perlahan.
Takut kalau ada yang liat kemesraan mereka, hihi
"Maafin aku ya Rey.. Aku, ngaku salah, karena udah lancang jalan berdua sama,.... sama Satya, tapi kan..."
"Oh, jadi kamu tadi selingkuh?" Tanya Reyhan santai. Tapi justru membuat Nayla semakin mempererat pelukannya.
"Enggak Rey, sumpah....hikss.. jangan salah paham dulu dong..."
Nayla semakin terisak dalam pelukan suaminya. Sementara Reyhan, terkekeh geli. Ide nakalnya mulai muncul untuk mengerjai Nayla. Tapi perasaan cintanya, seakan tidak tega melihat tuan putri menangis sesegukan.
__ADS_1
Dan dengan kejadian ini pula, Reyhan semakin yakin. Sedikit demi sedikit namanya akan terukir sempurna dihati Nayla.
Tapi tetap saja, meskipun Reyhan senang, dia juga harus mengontrol harapannya agar tidak terlalu tinggi.
Karena, bukankah, kekecewaan tersakit adalah disebabkan karena harapannya sendiri yang terlalu tinggi kan?
"Nay, sayang.... Udah jangan nangis...
Aku maafin kamu"
"Beneran?"
Ucap gadis itu dengan mata berbinar. Mengingatkan Reyhan pada sosok Naura ketika mendapatkan lolipop hasil merampok ditoko sebelah.
"Tapi kamu harus dihukum..."
Reyhan melepas pelukan Nayla kemudian berjalan kearah ranjang. Seringai tipis muncul dibibirnya tanpa bisa dia cegah.
"Sini kamu..."
Nayla menurut. Dia yang memang sudah sedari tadi merasa bersalah, mau tidak mau pasrah saja menerima hukuman dari Reyhan. Yang dia sendiri belum tahu, hukuman seperti apa yang akan dia terima.
Cup
"Sebelum menerima hukumanmu, aku ingin membuatmu senang terlebih dahulu. Karena mungkin, hukuman ini menyakitkan..."
"Rey, katanya sudah memaafkan.."
Wajah Nayla pucat pasi. Dia yang notabene nya belum mengenal seluk beluk Reyhan sepenuhnya malah memikirkan hal-hal diluar nalar. Seperti KDRT misalnya. Ih, amit-amit
"Aku punya sesuatu untukmu... Taraaa..."
Sebuah kunci mobil yang Nayla tahu milik brand mer**des benz tergantung tepat didepan wajah Nayla. Nayla mengkerutkan dahi bingung. Matanya menyipit seolah mencari keyakiyan tersendiri.
Apa ini? Apa Reyhan membelikan aku mobil? Tapi memang dia punya uang?
__ADS_1
"Hey, kenapa bengong.. kamu gak suka ya?"
"Maksudnya apa sih Rey? kamu beli in aku mobil?" Tanya Nayla bingung.
"Boleh aku mengumpat? Dasar bodoh! "
Reyhan menyentil kening Nayla keras. Sukses membuat gadia cantik itu menjerit kesakitan sambil mengusap-usapkan tangannya dikening bekas sentilan Reyhan.
"Sakit tau...!"
"Ya iyalah aku beliin kamu mobil, masak beliin gantungan kunci? Kenapa kau bodoh sekali malam ini? Belum juga menerima hukuman, sudah membuatku jengkel saja...."
Reyhan mengeluarkan semua surat-surat dari dalam tasnya. Surat bukti pembelian, bukti kepemilikan dan lain-lain. Menyerahkan pada Nayla. Nayla semakin tidak percaya, nama dirinya lah yang ada didalam buku kepemilikan itu. Bukan nama Reyhan.
Senyumnya mengembang sempurna meskipun matanya masih memerah.
"Yukkk.. lihat mobilnyaa dulu..."
Reyhan menarik tangan Nayla tanpa aba-aba. Membawa Nayla kehalaman rumahnya.
"Wahhhh..." Ucap Nayla penuh kekaguman.
Sebuah mobil keluaran terbaru Mer**des Benz, CLS-Class berwarna merah terparkir disamping mobil lamanya. Membuat Nayla senang bukan kepalang. Terlebih mobil impian Nayla sejak dulu adalah dari brand itu.
"Kamu suka?" Tanya Reyhan singkat.
"Sukaa.. Reyhan, terimakasih..."
"Harganya mahal, jadi kamu harus menebusnya mahal pula...."
Ya yaa, Nayla tidak bodoh. Mobil keluaran terbaru yang sedang terparkir dihalaman rumahnya itu harganya hampir dua milyar. Bayangkan... Nayla memang anak orang kaya, tapi bahkan harga mobil milik papa nya tidak sampai semahal itu, apalagi mobil lama miliknya.
Tapi Reyhan dapat uang dari mana?
"Terimakasih...."
__ADS_1
Cup.. cup.. cup...
Nayla mencium beberapa kali diarea wajah Reyhan. Untung saja, Papa dan Mama sudah tidur.