
Ting Tong...
Bunyi bel pintu menyadarkan Satya dari keterpurukannya. Dia membuka matanya perlahan. Mencoba memastikan apakah indra pendengarannya masih bekerja dengan normal.
Ting Tong...
Satyaaaaaaaaaa...
Suara bel pintu untuk kedua kalinya diiringi suara seorang memanggil namanya membuat Satya yakin. Memang ada orang diluar sana sedang menunggunya didepan pintu.
Eh kok suara perempuan?
Satya bangkit lalu melangkah dengan langkah gontai mendekati pintu meski dengan pikiran penuh tanda tanya.
Siapa? suara batinnya.
Rasanya Satya enggan membuka pintu kecuali jika yang datang adalah Andi atau Joan. Dan perempuan itu, Nayla.
Satya ingin menikmati waktunya sendiri dari pada diganggu oleh orang lain atau urusan lain.
Tangannya meraih handle pintu. Tapi masih ragu untuk membukanya atau tidak .
Bukan ragu, tapi malas.
Ting tong
Untuk ketiga kalinya suara bel pintu berbunyi. Mau tidak mau Satya harus membukanya walaupun dirinya enggan menerima tamu saat ini. Bukan hanya dirinya, tapi lihat keadaan apartemennya saat ini?
Ceklekk
"Nina.."
Satya terkejut mendapati sahabat pacarnya didepan pintu apartemennya. Merasa heran.
Satya memandangi Nina secara intens. Mencoba menelisik apa yang dilakukan perempuan itu sehingga berani datang keapartemennya. Perempuan itu tampak menyedihkan dalam pandangan Satya.
Penampilannya tidak seperti Nina yang biasanya.
Apa mungkin Nina kesini atas permintaan Nayla?
Berbagai pikiran konyol melintas difikirannya sesaat sebelum dia menyadari bahwa perempuan itu sudah berdiri mematung dengan tatapan putus asa.
Ah masa bodoh. Yang terpenting sekarang Satya akan menyambut Nina dengan baik selayaknya tamu.
Tapi bukan senyum ramah yang biasa Nina tunjukkan menghiasi wajahnya kali ini. Melainkan muka sembab dan air mata yang jatuh mengalir dengan derasnya.
Tatapan kebencian dapat Satya tangkap dari pandangannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Satya dengan raut yang tak kalah terkejutnya.
Terdengar helaan nafas dari Nina menandakan dia sedang mengatur emosinya. Tangan Nina mengusap pelan air matanya yang membasahi pipi. Isakan masih terdengar. Hingga dengan suara tercekat dia mengatakan.
"Boleh aku masuk Sat? Aku perlu bantuanmu.."
Sepersekian detik Satya mematung. Mencoba menerima kejadian yang tiba-tiba terjadi.
Percayalah. Yang Satya ingat, ini pertama kalinya Nina datang keapartemen Satya sendirian tanpa Nayla disampingnya.
"Tentu.. masuklah."
__ADS_1
Ucap Satya mempersilahkan Nina masuk.
"Sorry ya berantakan"
Kemudian Satya menggeser beberapa botol minuman yang sudah kosong dari meja tamunya. Lima hari ini Satya benar-benar kacau. Masalahnya dengan Nayla sudah membuat dia frustasi hingga enggan beranjak dari minuman haram penunda masalah itu.
Hah untungnya tadi dia tidak minum terlalu banyak sehinggal kesadarannya masih penuh.
"Terimakasih"
Balas Nina acuh sembari mengekori langkah Satya dari belakang.
Matanya membulat sempurna. Apartemen Satya sangat berantakan. Seperti yang kalian ketahui, ada banyak botol minuman berserakan dimana-mana. Nina merasa kedatangannya kali ini tidak tepat.
Tapi mau bagaimana lagi? ada hal penting yang harus disampaikannya pada Satya. Suatu hal tentang mereka berdua.
Nina memantapkan rencananya. Melangkah dengan langkah percaya diri bahwa rencananya kali ini benar-benar matang.
Dia tidak ingin nantinya Satya akan menganggapnya penipu atau perempuan penghancur. Nina butuh jalan keluar yang memuaskan.
Jalan keluar yang tidak merugikan dirinya.
Nina sudah bersiap menerima resikonya. Sekalipun dia dibenci oleh orang-orang yang selama ini dia sayangi. Toh ini bukan salah Nina sepenuhnya kok. Nina hanya memperjuangkan apa yang memang harus diperjuangkan olehnya.
"Mau minum apa?"
"Nggak perlu." jawab Nina singkat sembari menaruh bokongnya disofa ruang tamu Satya.
"Aku.. mau minta tolong."Ucap Nina dengan ragu-ragu.
"Bisa tolong kau putarkan rekaman cctv waktu aku mengantarkan mu pulang saat mabuk kemarin?"
"Aku kehilangan gelangku... aku rasa ketinggalan disini."
***
"Kau pikir kau siapa Nayla? Haha,
Kamu tahu kejadian di Hotel Nuansa itu? Aku... hahah aku yang sudah merekayasa semuanya..
Kamu terlihat seperti ****** kelaparan.. sangat menggoda..."
Kata laki-laki yang tengah mabuk itu seraya memulai menggerayahi tubuh seorang gadis dengan kasar.
"Naylaa.. Nayla... dasar bodoh!"
Tangannya sudah sangat lihai memainkan rangsangan-rangsangan pada lawannya.
Meskipun dengan hanya satu tangan karena tangan satunya dia gunakan untuk mengunci tangan lawan diatas kepala.
Gadis dibawahnya itu nampak tidak mampu berkata-kata lagi mendapati kenyataan menyakitkan yang baru saja dia dengar langsung dengan telinganya meskipun dengan sekuat tenaga dia berusaha pergi dari tindihan laki-laki yang tak lain adalah Satya.
Terlihat tubuh gadis itu mulai menerima sentuhan kasar Satya meskipun bibirnya terus saja menolak.
Satya semakin bergairah ketika gadis itu mulai memberontak. Ciuman-ciuman bibirnya menelusuri setiap inci bagian tubuh gadis itu.
Sampai...
"Auw.. ahh.. Sah..kit hikss"
__ADS_1
Bulir bening mengalir dari sudut mata gadis yang tengah meronta dibawah tindihan seorang laki-laki saat hentakan kasar melesat masuk kedalam kewanitaannya. Entah kapan Satya melepas kain penutup tubuhnya. Yang dia sadari, saat ini dia sudah bertelanjang bulat tanpa sehelai benang pun menempel dikulitnya.
Pipinya gadis itu nampak memerah bekas tamparan akibat sedari tadi dia menolak enggan dicium laki-laki brengsek yang tengah menidurinya.
Sedangkan terlihat laki-laki itu dengan kasar menikmati tubuh seorang gadis yang menangis meratapi nasipnya dengan desahan-desahan yang keluar dengan sendirinya.
"Sudahlah Nay.. haha jangan munafik.. ahhhh"
Racau Satya dengan semakin memaju mundurkan badannya.
"Bukankah kita sudah melakukan ini sebelumnya.. ha?"
"Ahh... ak.. u... bu...kan.."
Plaakk
"Auw.. hikss hikss" Tangisnya semakin menjadi tatkala tangan yang gagah untuk kesekian kalinya menghantam pipi mulusnya.
Bukan gadis itu tidak mau melawan. Tapi tenaganya jelas kalah telak dibanding tenaga laki-laki gila yang tidak sadar sedang mencumbuinya.
Sedari awal kedua tangannya sudah dikunci rapat diatas kepalanya sendiri.
Ya, sekali lagi laki-laki itu adalah Satya.
Satya bahkan tega menamparnya. Atau bahkan memukulnya karena dia enggan membalas perlakuan intim nya.
Ini sangat menyakitkan untuknya. Apalagi, keperawanan yang selama ini dia jaga mati-matian, harus direnggut Satya dengan kasar dengan cara yang menjijikkan.
"Hahh.. hahh.. kali ini akan ku .. ahh...keluarkan didalam.. hahaha"
Wajah Satya menyeringai ditenggah kegilaannya. Alunan gerakan tubuhnya yang maju mundur itu semakin dia percepat. Merasa sangat puas sudah berhasil menggerayangi gadis yang tengkurap dibawahnya itu.
"Aku tidak .. ah. sabar... Nay.. Anakkuuuu..ahhh"
Ucap Satya dengan terbata-bata ditengah desahan-desahannya.
"Anakku.. ada.. diperutmu... hahahah"
"Tolong.. jang..ngan.. ah.. Sat.. yahhh.."
Gadis itu mencoba menolak lagi dengan menggeleng-gelengka kepalanya. Tangisannya tampak semakin deras membasahi sofa. Namun sayang, Satya tidak mampu mempergunakan matanya dengan benar.
Tatapan Satya penuh nafsu memandang punggung mulus yang sedang dia nikmati setiap inci tubuhnya.
Dan terjadilah, Mereka berdua jatuh lemas setelah pelepasannya masing-masing.
***
Satya menoleh kesamping kiri dan didapatinya Nina menangis sesegukan disampingnya. Tangannya memeluk lutut yang sedari tadi sudah ditekuknya diatas sofa. Mereka berdua tengah bersama-sama menyaksikan rekaman cctv yang berperan sebagai bukti tak terbantahkan atas apa yang dilakukan Satya pada gadis itu.
"Nin..."
Ucap Satya perlahan seraya tangannya terulur mencoba meraih Nina disampingnya.
Mata Satya masih membulat sempurna seakan tidak percaya apa yang barusan dia lihat dilayar tv nya.
Hati nya menolak percaya kalau dia sudah melakukan hal sebejat itu. Tapi otaknya masih bekerja dengan baik saat ini.
"Maaf kan aku..."
__ADS_1