Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Raja Dari Segala Raja


__ADS_3

Ceklek


Gagang pintu ruang bersalin Nayla terbuka, membuat Reyhan yang awalnya hanya duduk menunduk segera bangkit. Diikuti oleh mama Riana dan juga mbk Nana.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


"Bagaimana keadaan anak saya dok?"


"Alhamdulillah, Ibu Nayla sudah sadar. Dan kondisinya sudah mulai membaik."


Reyhan menarik nafasnya panjang, dan mengeluarkan pelan. Dia seperti terbebas dari semua rasa khawatir yang membelenggunya. "Alhamdulillah."


Dia sudah bisa tersenyum lega sekarang. "Boleh saya masuk?"


"Tentu. Silahkan.


Semua sudah boleh masuk. Tapi tetap tenang ya. Dan berikan suasana yang nyaman dan menyenangkan untuk ibu dan bayinya."


Didalam sana, Nayla masih terbaring lemas lengkap dengan selang infus yang menempel ditangannya.


Reyhan datang dengan senyum bahagia melihat keadaan Nayla yang kembali baik-baik saja.


"Maas"


Dikecupnya kening Nayla dengan perasaan penuh kasih sayang. Kemudian Reyhan menatap mata Nayla dalam.


"Terimakasih sayang, sudah menjadi wanita hebat. Terimakasih sudah kuat demi melahirkan bayi kita. Terimakasih Nayla."


"Ih, apa sih." Pipi Nayla bersemu merona. Perempuan itu tentu saja sangat bahagia dengan apa yang dia miliki saat ini. "Dia kan juga anak ku mas. Jadi pasti aku akan sebisa mungkin melahirkannya dengan selamat."


"Selamat ya sayang. Anak mama ternyata sudah menjadi ibu." Ucap Mama Riana yang berdiri disisi samping Reyhan. "Ternyata mama sudah semakin tua ya, udah punya cucu sekarang."


"Terimakasih mama."


"Selamat Mbak Nay. Gak sabar pingin liat dedeknya. Gak sabar bawa pulang biar nambah anggota baru."


"Terimakasih Mbak Nana."


Tak berselang lama,


Seorang suster membawa bayi mungil yang sudah bersih ke pangkuan sang ibu.


"Ini bayinya Tuan."


Untuk pertama kalinya Reyhan menggendong buah hatinya sendiri.


Bayi kecil dan mungil itu menggeliat dalam bedongan, seolah dia tau sedang berada di gendongan sang papa.


"Halo sayang. Halo jagoan papa yang ganteng."


Bayi Nayla memiliki paras yang sangat tampan. Hidungnya mancung dengan bibir yang mungil. Ditambah lagi dengan bulu matanya yang lentik. "Halo anaknya ayah."


Disisi lain, Mama Riana juga antusias melihat cucu pertamanya yang ada digendongan sang menantu. "Ganteng banget Nay, mirip banget sama ibu nya."


Sementara itu,

__ADS_1


suster yang tadi kini membantu Nayla duduk karena Nayla harus segera memberikan Asi pada bayinya.


Setelah dirasa siap, Reyhan menyerahkan bayinya pada Nayla dibantu Mama Riana yang memberi tahu Nayla bagaimana menggendong bayi dengan baik dan benar. "Halo sayang... selamat datang kedunia. Ini bunda, kamu tahu kan kalau lagi digendong sama bunda?"


Perasaan Nayla berkecamuk campur aduk.


Ada perasaan haru, ada banyak perasaan bahagia, tapi Nayla juga sangat takut.


Nayla sampai meneteskan air mata saking harunya. Dia sendiri tidak percaya berhasil mengeluarkan malaikat kecil dari perutnya ini dengan selamat.


Seolah mengerti dengan usapan sang ibu, bayi mungil itu tersenyum dan membuat Nayla semakin terharu lagi.


Menjadi seorang ibu baru tentu membuat Nayla juga merasa takut.


Takut bagaimana kalau nanti dia tidak bisa menjadi ibu yang baik. Takut kalau dia akan gagal dalam mendidik. Takut kalau nanti sebagai sang ibu Nayla tidak bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah.


Namun disisi lain,


Kehadiran seorang bayi dari rahimnya sendiri adalah momen paling berharga bagi Nayla.


Dalam tangisnya,


Nayla berjanji akan berusaha menjadi seorang ibu yang terbaik untuk anaknya, meski dia tahu tidak akan sempurna.


"Kamu mau kasih nama siapa Nay?" Tanya Mama Riana.


Kemudian Nayla menoleh kearah Reyhan yang langsung membuat Reyhan mengerti arti tatapannya. "Karena kamu yang melahirkan. Kamu berhak memberinya nama. Aku sih ngikut aja.


Karena aku yakin kamu pasti sudah menyiapkan nama yang baik untuk anak kita kan?"


Sambil menyu sui, Nayla mengusap pipi anaknya dengan lembut.


"Namanya King Kaisar Atmadja. Didalam hati bunda, kamu adalah raja dari segala raja, sesuai dengan namamu. Apa kamu suka sayang?"


"King Kaisar. Nama yang bagus." Ucap Reyhan memujia karena memang nama yang diberikan Nayla sangat bagus untuk Reyhan. Apalagi Nayla tidak lupa menyematkan nama Atmadja dibelakangnya.


"Dari mana kamu memperoleh nama sebagus itu sayang? Aku bahkan belum kepikiran mau memberi nama apa ketika bayi kita lahir nanti."


"Mama sih ga heran ya." Kali ini Mama Riana yang menyahut. "Laki-laki mah emang begitu. Yang dipikirin hanya kerja kerja dan kerja. Mana sempet kepikiran nama anak yang masih dalam kandungan.?"


Bukan hanya Nayla, Mbak Nana pun ikut tertawa karena ucapan Mama Riana yang meledek Reyhan.


Dan lagi-lagi, seolah mengerti dengan ikatan batin sang ibu, bayi mungil itu kembali tersenyum dengan sangat lebarnya. "Lihat deh ma, dia tersenyum lagi."


"Yaudah deh, dari pada aku dibulli disini. Mending aku keluar bentar ya. Beli makanan buat makan makan siang. Mama sama Mbak Nana mau makan apa?"


"Aku ngikut aja mas. Yang penting enak dan bikin kenyang." Jawab Mbak Nana seenaknya.


"Kamu beli rica-rica aja Rey. Kayaknya ada warung rica-rica tadi diseberang sini. Tapi jangan yang terlalu pedes ya. Mama lagi pingin makan rica-rica."


Reyhan menganguk setuju. Lantas dia bertanya sama Nayla sambil mengusap kepala Nayla lembut. "Kalau kamu pingin apa?"


"Aku ga usah deh mas. Kan nanti aku dapat makanan dari sini. Aku titip beliin buah aja ya mas. Lagi pingin makan buah."


"Oke sayang. Kalau begitu aku keluar dulu ya."

__ADS_1


Semua yang ada disana merasakan kebahagiaan sama seperti yang Nayla rasakan. Kehadiran bayi pertama Nayla bagaikan berkah.


Seperti hadiah yang Tuhan berikan setelah semua masalah dalam rumah tangganya hadapi.


Beruntungnya lagi,


Nayla memiliki asi yang begitu lancar, sehingga bayi dalam pangkuannya sudah tertidur karena kenyang.


"Kok papa belum datang ma?"


Tanya Nayla kepada mama Riana karena sedari tadi belum melihat sang papa. "Papa sehat kan ma?"


Mbak Nana mengambil bayi Nayla untuk kemudian ditaruh di tempat bayi yang terletak di samping ranjang Nayla. Sementara dari sisi ranjang yang berbeda, Mama Riana membantu Nayla untuk kembali berbaring agar Nayla bisa beristirahat.


"Papa sehat kok. Papa mu lagi meeting tadi. Ada proyek besar yang sedang dikerjakan. Jadi sedikit sibuk. Mungkin nanti setelah meetingnya selesai Papa akan kesini."


"Syukurlah kalau Papa sehat." Ucap Nayla lega.


Tak berselang lama, ponsel Nayla berdering. Dan panggilan video dari Sari adalah tersangkanya.


"Selamattt Nay... akhirnya jadi ibu juga.." Sari yang heboh, langsung berteriak kegirangan ketika Nayla baru saja mengangkat panggilannya.


"Iyaaiyaa. Terimakasih auntii..." Jawab Nayla menirukan suara bayi. "Kamu tahu dari mana kalau aku melahirkan?"


"Rahaaasiaa. Bentar-bentar aku sambungin ke Nina."


"Hay Nay. Waaahh selamat yaa jadi ibu baru." Ucapan Nina ketika pertama kali mengangkat sambungan video callnya. "Gimana udah siap belom? Udah siap belom menikmati sibuknya mengurus buah hati. hihi"


"Niinnn.." Sari menegur. "Jangan nakut-nakutin Nayla gituu ah.."


"Tau tuh Nina... nyebelin banget."


"Ngomong-ngomong mana nih keponakan aku, diumpetin mulu Nay..."


Nayla mengarahkan kamera ponselnya kearah bayi yang sedang tidur, karena Sari ingin melihat anaknya. "Tuhh, keliatan kan? Dia lagi tidur, baru nyusu tadi..."


"Wuihhh, cakeeep banget Nay."


"Hidungnya mancung banget astagaaa. kayak hidungmu."


"Iyaa dong, orang tuanya aja bibit unggul. Hihi"


"Iyaa deh iyaaa.. jadi pingin aku uyel uyeel.."


"Boleh kok, kalian kesini yaaa.."


"Bentar nanti, aku ada tugas kuliah penelitian di luar kota. Nanti kalau pulang, aku langsung kerumah mu yaa."


"Kalau kamu Nin, bisa kesini kan?"


"Bisaa, secepatnya nanti aku ajak suami ku sama shireen dan sheerin."


"Oke, aku tunggu kedatangan kalian."


"Eh eh eh.. btw namanya siapa Nay..."

__ADS_1


"Namanya....."


__ADS_2