Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Saran Paman


__ADS_3

"Ya Tuhan, ada masalah apa kamu?"


Sepeninggalan Reyhan yang membawa Nayla pergi dari apartemennya, mendadak wajah Satya merasakan nyeri akibat pukulan tadi.


Hah, suami istri sama saja. batin Satya.


Tadi, Nayla yang menamparnya dengan keras.


Belum juga diobati


di tambah, Reyhan yang menonjok nya dua kali dengan lebih keras lagi.


Sampai, sudut bibirnya berdarah.


Dan, di sebelahnya luka memar dengan warna biru keungu-unguan mulai terlihat. Membuat sang paman mulai panik melihat kondisi wajah keponakannya.


Tapi Satya tahu,


pukulan itu memang pantas dia dapatkan.


Sepertinya, Satya benar-benar sadar akan kesalahannya.


"Kalau ibu mu tahu, dia pasti syok."


Bukan hanya itu,


kondisi apartemen akibat sisa pesta semalam juga sangat berantakan. Botol bekas berserakan dilantai. Membuat rasa pening kian menjadi-jadi bersarang dikepalanya.


"Ini juga, habis berantem kamu disini?" Mengintip dari sisi kosong sebelah Satya, sang paman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi apartemen Satya yang acak-acakan.


"Enggak paman. Enggak berantem." Sanggahnya cepat, sebelum omelan yang lain keluar dari mulut lelaki paruh baya pengganti papanya tersebut. "Paman mari masuk. Duduk dulu." Ucap Satya mempersilahkan pamannya masuk, dan menyuruhnya duduk di sofa yang sedikit lebih rapi dari pada tempat lainnya. "Maaf paman, berantakan."


Bukan.


Ini bukan lagi berantakan namanya. Benar-benar mirip kapal pecah. "Satya, basuh muka dulu ya..."


Menyengir kaku, lalu menggaruk tengkuknya sendiri.


Setelah pamannya duduk dengan tenang di sofa ruang tamu, Satya segera beranjak ke kamar mandi dekat dapur. Cepat-cepat dia membasuh mukanya.


Membersihkan sisa darah yang sempat mengucur dari sudut bibirnya.


Untung saja,


Maureen dan Bella sudah keluar dari apartemen itu. Kalau belum,


habis lah dia dihadapan paman !


Tak lupa,


Satya juga menghubungi seseorang. Seorang ibu-ibu yang biasa dia panggil untuk membersihkan apartemennya setiap satu minggu dua kali.


"Paman mau minum apa? Kopi?" Tanyanya dari dapur.


"Terserah."


Dengan membawa nampan berisi kopi susu yang panas, Satya berjalan keruang tamu. Menghampiri sang paman yang duduk manis disana, sambil sesekali memainkan ponselnya.


Dan kemudian, Satya ikutan duduk disampingnya.


"Kok bisa, paman kesini bareng sama.... tadi?" Tanya nya asal.


Melirik Satya tajam, paman mulai mengintrogasi keponakannya yang ceroboh itu. "Harusnya paman yang bertanya, ada masalah apa kamu sama pak Reyhan?"


Menyeruput kopi, disela-sela suaranya.


"Ohh, biasalah paman. Masalah anak muda." Menjawab santai tanpa rasa bersalah dan khawatir. Satya masih belum tahu, bahaya besar yang siap menerkamnya didepan sana.

__ADS_1


Menghela nafasnya dalam, lelaki paruh baya yang mulai menguasai kondisi itu mencoba bersabar sambil menggali informasi lebih dalam lagi. Berusaha mengerti situasi yang terjadi, agar tidak salah langkah dalam mengambil tindakan. "Lalu, ngapain tadi istrinya disini?"


"Itu... Satya yang sengaja menyuruhnya.


Jadi, gini...


Sebenarnya, masalah Satya itu sama istrinya, berhubung lelaki itu tidak terima,


yaudah, Satya lawan aja sekalian."


"Astaga..." Hampir saja menyemburkan cairan kopi dari mulutnya,


Seketika, sang paman menoleh kearah Satya. Memelototinya tajam. Menaikkan nada bicaranya, paman memaki Satya dengan keras. "Dasar bodoh ! Sudah berapa kali paman bilang,


jangan sembarangan cari masalah sama orang."


Satya memiringkan kepalanya menatap sang paman, dengan mata yang membulat sempurna.


Reaksi yang ditunjukkan sang paman membuat Satya tercengang. Kenapa berlebihan sekali?


"Ya Tuhan, Satya..." Menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Kamu ini, kamu sengaja mau menghancurkan hidup kamu? Kamu tahu siapa pak Reyhan?


Harusnya, kalau mau cari masalah sama orang, cari tahu dulu siapa musuh-musuh mu. Cari tahu latar belakangnya."


Menyeringai penuh percaya diri, Satya membela diri. "Aku sudah tahu siapa Reyhan. Aku sudah mencari tahu sebelumnya paman."


Sengaja menghentikan ucapannya, Satya menenggak minumannya.


"Dia gak lebih dari seorang pemilik toko buku."


Jawaban Satya spontan membuat sang paman semakin memelototinya tajam. Lelaki paruh baya itu menyadari bahaya besar yang bisa menghancurkan perusahaan. "Pemilik toko buku kamu bilang? Pala mu itu pemilik toko buku. Sini, mau paman gantung kamu?"


"Kenapa sih paman?" Berjengkit mundur, saat sang paman mulai maju dan ingin memukulnya.


Jangan sampai deh.


Luka bekas pukulan suami istri tadi masih terasa, jangan sampai lelaki dihadapannya memukulnya juga.


Apa?


Membulatkan mata dan kembali tercengang, ucapan paman barusan mampu membuat tubuh Satya kaku menegang beberapa detik saat menyadari batu besar siap menghantamnya beberapa hari kedepan.


Mati aku ! "Yang benar paman?"


"Kamu pikir, ngapain paman kesini dengan pak Reyhan?"


"Tapi, Reyhan memang bekerja sebagai karyawan biasa di GMT.."


"Benar-benar bodoh." Detik berikutnya, tamparan ringan mendarat sempurna di pipi Satya. Membuat lelaki itu kembali meringis kesakitan.


Duh, sakit paman !


Andai saja, Satya bisa berontak dihadapan lelaki itu. Andai saja yang dihadapannya bukan paman, Satya pasti sudah mengajaknya bertarung.


"Dia pemilik GMT Satya. Dan dia kesini ingin bertemu kamu, sebagai calon pemimpin di perusahaan kita. Dia ingin mengenal kamu, sebagai partner nya bekerja sama."


Diam seribu bahasa.


Seolah, semua kesalahannya selama ini terputar otomatis di otaknya.


Sama sekali tidak Satya kira, Reyhan,


suami Nayla itu ternyata memiliki kekuasaan yang begitu kuat.


"Ya Tuhan... aku harus bagaimana paman?"


Berapa kali saja Joan sudah mengingatkan kepada Satya untuk berhati-hati kepada Reyhan?

__ADS_1


Dan,


berapa kali juga Satya sudah mengabaikan ancaman itu?


Sialan !


Benar-benar bodoh.!


"Kau ingat, kita belum selesai. Aku pasti akan memberi perhitungan."


Ancaman suami Nayla itu,


ikut menghantui pikirannya. Wajah bahagia Merry yang bercita-cita ingin menjadi pramugari tiba-tiba menggelap, hitam dan tidak tampak bercahaya di pikiran Satya.


Pun dengan wajah sang mama,


yang ikutan muncul dengan bersimbah air mata.


Satya takut,


Kebutuhan ekonomi mereka akan terancam karena ada masalah dengan perusahannya.


Perusahaan yang didirikan sang papa, sedang dalam masalah besar. Dan semua itu akibat ulahnya sendiri.


Padahal,


perusahaan itu lah yang menghidupi seluruh keluarganya. Dari perusahaan papa itulah, Merry dan Mama bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Paman, Satya harus bagaimana?"


"Ya kamu pikir aja sendiri. Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalah yang kamu buat sendiri, bagaimana bisa kamu memimpin diperusahaan keluarga mu?"


Bagaimana bisa Satya berfikir disaat keadaannya sedang tidak baik-baik saja seperti ini? Lelaki itu mendesah nafas pelan.


Mendadak buntu, otaknya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Untuk saat ini,


dia sama sekali tidak tahu harus melawan perusahaan besar itu dengan cara seperti apa.


"Meminta maaf lah dengan benar." Celetuk sang paman tiba-tiba membuat Satya diam mematung tanpa kata.


Meminta maaf? Kepada Reyhan?


"Tidak. Satya tidak mau paman."


Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.


Meminta maaf kepada suami Nayla itu sama saja dengan mengakui kesalahan dan kekalahan. Selain itu, bisa merendahkan harga dirinya juga, dan yang paling menyebalkan,


Bisa membuat Reyhan menjadi besar kepala.


Satya tidak mau itu terjadi.


"Jauh-jauh paman ke daerah ini cuma buat kamu loh, buat perusahaan kamu.


Yang kamu serang itu adalah keluarga bapak Reyhan, jadi kalau dia menyerang balik keluargamu, siapa yang akan kamu salahkan selain dirimu sendiri? Ingat Satya,


perusahaan mu tidak akan sanggup melawan perusahaan besar itu"


Masih diam,


sambil memikirkan cara lain yang bisa ia lakukan selain meminta maaf.


"Meminta maaflah, dia pasti memaafkan kamu."


"Tidak, paman." Sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jengkel,

__ADS_1


Sang paman berdiri, merapikan pakaiannya dan berjalan menuju pintu.


"Kalau begitu, terserah kamu. Nikmati saja buah dari apa yang sudah kamu lakukan."


__ADS_2