
RSU Medika Permata, Jakarta
Matahari yang mulai meninggi membawa panas yang mulai berapi. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi saat Reyhan tiba di Rumah Sakit Medika Permata.
Rumah sakit umum yang berdiri dibawah naungan perusahaan GMT Group.
Lelaki itu berjalan tergesa. Menuju ruang rawat milik seseorang yang semalam terkena serangan jantung ringan.
"Pa..." Panggilnya dengan khawatir saat pertama kali ia memasuki ruangan itu. "Papa gak kenapa-kenapa kan?"
Reyhan cium tangan papa mertuanya dengan hormat. Pun dengan tangan Mama Riana, yang berdiri tak jauh dari ranjang tempat Zeko terbaring.
Lelaki yang tengah terbaring itu nampak memucat. Sangat terlihat jelas bahwa ia sedang menahan sakit. Atau, bisa saja ada hal lain yang membuatnya seperti itu.
"Papa gak kenapa-kenapa Rey, dokter bilang Papa hanya syok dan terlalu banyak memikirkan sesuatu." Jawab Riana, dengan sedih. "Mama sendiri nggak tahu, apa yang sebenarnya dipikirkan sama papa-nya Nayla itu."
Semalam setelah lelaki paruh baya itu pulang dari kantor, dari raut wajahnya, Riana bisa melihat bahwa suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.
Lebih lesu dari biasanya.
Sampai puncaknya, saat Zeko tengah makan malam bersama sang istri,
Lelaki itu mendapat telfon, dan tiba-tiba saja ia memegang dadanya kesakitan setelah berbicara kepada orang diseberang sambungan ponselnya. Lalu pingsan tak sadarkan diri.
"Syukurlah..." Dengan lega, Reyhan menghela nafas. "Ada apa pa,? Apa yang papa pikirkan?"
Lelaki paruh baya yang tengah terbaring itu menoleh perlahan, menatap sang menantu yang terlihat mencemaskan keadaannya. Ragu-ragu ia melirik sang istri. Zeko bingung, antara memberi tahu kabar buruk ini didepan Riana, atau ia akan membicarakannya hanya berdua saja dengan Reyhan.
"Pa, ada apa?" Tanya Riana yang juga khawatir dengan keadaan suaminya.
Akhirnya, sebagai jawaban Zeko hanya menggeleng lemah. Sambil memaksakan diri dengan senyuman kecil. Berharap dengan senyum itu, mampu meringankan rasa khawatir istri tersayangnya.
"Oh iya, Nayla ga ikut pulang?" Riana baru menyadari bahwa Reyhan datang seorang diri, tanpa Nayla.
"Enggak ma, Reyhan sengaja gak bilang ke Nayla kalau Papa masuk rumah sakit. Takut dia khawatir." Jawabnya tenang. "Lagian nanti kalau papa sudah boleh pulang, aku juga langsung kembali ke sana."
"Oh begitu, yasudah." Tanpa curiga sama sekali, Riana menjawabnya. Sambil tersenyum manis ke arah menantunya. Rasa haru menyeruak didalam hati perempuan itu saat tahu, Nayla dicintai begitu dalam oleh suaminya. Sama, seperti dirinya yang dicintai begitu dalam oleh Zeko.
__ADS_1
Riana maju selangkah kehadapan Reyhan. Lalu, ia mengusap tangan menantunya sambil berkata. "Terimakasih Rey, sudah mencintai anak saya. Dan maaf, kalau Nayla sedikit manja. Kalau dia manja-nya kebangetan, salahkan mama saja. Karena dulu, mama emang selalu manjain dia"
"Iya ma, lagian Nayla istri ku, jadi wajar dong kalau dia manja sama suaminya sendiri?"
Baik Riana maupun Reyhan, sama-sama tertawa geli demi mencairkan suasana yang tegang. Berbeda dengan Zeko, yang otaknya penuh dengan kekhawatiran.
"Padahal, papa ingin bertemu dengan Nayla." Seru Zeko menyela.
"Papa sehat dulu ya," Pinta Reyhan. "Papa sudah minum obat belum ma? kalau belum segera diminum. Biar papa bisa istirahat lebih cepat. Dan mama, sudah sarapan?"
"Papa sudah minum obat kok, tapi tau tuh gak tidur-tidur." Riana menjawab.
"Mama belum sarapan Rey." Zeko menimpali. "Disuruh beli makan katanya gak mau ninggalin papa sendirian."
"Ya Ampun." Reyhan menghela nafasnya. Merasa heran sekaligus senang melihat keharmonisan papa dan mama mertuanya. Terlihat dengan jelas, kedua orang itu yang sama sekali tidak egois. Lebih mementingkan pasangan dari pada diri sendiri.
"Ma, mending sekarang mama cari sarapan dulu ya.? Kan sudah ada aku disini yang nemenin papa. Lagian mama harus jaga kesehatan mama. Nanti kalau mama ikut sakit, siapa yang jagain papa?"
Dihadapkan dua orang yang sama-sama memaksanya sarapan, membuat Riana memilih menyerah dan terpaksa menuruti mereka.
"Ya udah iyaa," sambil menghela nafasnya jengah, Riana berjalan mengambil tasnya. "Mama cari makan dulu"
Kepergian Riana menyisakan dua orang laki-laki beda usia yang saling menatap. Mata tua dan kantungnya yang mulai keriput itu menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Dan Reyhan tahu penyebabnya.
"Sudah pa, gak papa" Mendadak, suhu ruangan itu menjadi pengap. "Jangan dipikirin terlalu dalam."
"Deka Group, bangkrut Rey.." Zeko mengalihkan pandangannya dari menatap mata Reyhan kearah menatap jam dinding yang tergantung dan tengah ber-detik. "Papa membangunnya dari nol. Dengan susah payah Rey."
Satu tetes kristal bening keluar dari sudut matanya.
Sekelebat, bayangan pertama kalinya sebuah gedung yang berhasil ia beli menjadi tempat dimana titik awal mewujudkan mimpinya dimulai. Gedung yang sekarang menjadi kantor Deka Group itu dibeli dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.
Zeko tersenyum puas saat itu.
Sambil membawa sertifikasi tanda bukti kepemilikan, ia mengendarai mobilnya menuju rumah Riana. Wanita yang sebentar lagi akan ia nikahi.
"Gedung itu, dan Deka Group adalah bukti perjuangan papa, untuk menikahi mama Rey.." Lagi-lagi, kristal bening itu menetes untuk kesekian kalinya, diiringi suara sengau saat menceritakannya.
__ADS_1
Dulu, dihadapan orang tua Riana, Zeko berjanji akan menikahi wanita yang ia cintai itu setelah berhasil membeli tempat tinggal yang layak.
Dan, gedung Deka Group adalah hasil dari janjinya.
Dulu, saat awal mula Deka Group dimulai. Gedung itu menjadi rumah sekaligus pusat kantor bekerja.
Hanya ruangan kecil di lantai dasar sebelah kiri yang bisa disebut rumah waktu itu, karena sisa bangunan yang berdiri sudah beralih fungsi menjadi kantor Deka Group.
Riana dan Zeko membina rumah tangganya dengan harmonis. Saling menerima dan saling berjuang. Hingga akhirnya mampu membeli rumah baru yang ia tempati sampai sekarang.
Setelah kesuksesannya mampu membangun perusahaan sendiri serta membeli rumah pribadi, Zeko dan Riana baru mau menjalani program kehamilan. Dan hadirlah Nayla ditengah-tengah mereka.
Sebegitu tertatanya rumah tangga Zeko dan Riana.
Tapi?
Saat ini, Deka Group benar-benar terancam kebangkrutan. Nama baik keluarga Deka sedang tercemar. Dan dibicarakan banyak orang dimana-dimana.
Terlebih lagi, berita yang digiring Satya di sosial media sudah sampai ditelinga para petinggi dan pemilik saham. Membuat mereka memutuskan untuk melepaskan saham mereka karena takut akan kerugian dikemudian hari.
"Mungkin Deka Group akan bangkrut. Tapi Reyhan bisa pastikan gedung itu akan tetap menjadi milik papa."
Reyhan usap lengan atas milik Zeko berulang-ulang demi menyalurkan kekuatan. "Maafin Nayla ya pa.."
Zeko menghembuskan nafasnya berat. Sejujurnya dia khawatir dengan berita skandal itu. Tapi, mau bagaimanapun nanti, Nayla adalah putrinya. Putri semata wayang yang dia cintai.
Lagi pula,
Bukankah, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nayla itu berarti juga termasuk kesalahan orang tua juga?
Zeko mencoba tenang.
Seorang lelaki dilarang cengeng dan lemah. Seorang lelaki adalah bahu untuk wanita nya bersandar. Dan alasan itu adalah alasan yang kuat kenapa sampai saat ini ia menyembunyikan berita Nayla beserta kebangkrutan Deka Group dari Riana.
"Terimakasih ya Rey, sudah menjaga Nayla sama seperti aku menjaga Riana. Aku tahu, kamu sengaja kan menyembunyikan Nayla di negara beton itu?"
Ucap Zeko tulus.
__ADS_1
"Iya pa, Reyhan juga berterima kasih sama Papa, sudah menghadirkan Nayla di dunia ini. Dan sudah memberi Reyhan kesempatan menjadi teman hidup Nayla.
Dibalik ini semua, Nayla adalah wanita yang hebat pa. Meskipun tidak semua orang tahu apa kehebatannya."