Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Aww..."


Pekik Sari saat Nayla mencubit lengannya. Gak sakit sih, pura pura aja.


Sari kan memang gitu?


"Rey, kenalin...


Ini Sari dan ini Nina.. mereka sahabat baikku"


Ucap Nayla memperkenalkan Sari dan Nina pada Reyhan.


Reyhan menjabat tangan mereka satu persatu sebagai tandal awal perkenalan mereka.


Senyum indah terpancar dari wajah Reyhan menyambut sahabat dari seorang perempuan yanv kini sudah menjadi istrinya.


Sial.. tampan banget. Sari


Nay.. nay.. beruntung banget ya kamu, ninggalin Satya malah dapat yang lebih tampan gini. Mana sopan banget pula. Nina


"Kedepannya, aku harap kalian bertiga bisa mengenal dengan baik."


Ucap Nayla dengan tangan kanan yang masih setia melingkar dilengan kiri Reyhan.


Sedangkan bibirnya tersenyum dipaksa semakin lebar kearah Sari dan Nina.


Sari memeluk Nayla sekilas.


Semoga bahagia Nay. Kau sudah melakukan hal terbaik untuk menjaga persahabatan diantara kita.


Begitu suara batin Sari.


Detik berikutnya. Gantian Nina yang memeluk Nayla.

__ADS_1


"Nay, terimakasih ya..


Semoga kebahagiaan menyertaimu."


Nayla mengusap pelan punggung Nina. Setengah berbisik Nayla berucap karena Nay tidak ingin membuat Reyhan merasa tidak nyaman.


"Jaga Satya. Aku sudah melepaskannya untukmu. Perjuangkan. Karena dia milikmu sekarang.


Aku lebih memilih persahabatan kita Nin."


Kembali Nayla melingkarkan tangannya dilengan Reyhan setelah dia melepaskan pelukannya dengan Nina.


Reyhan masih berdiri ditempatnya. Wajahnya penuh wibawa.


Dia terlihat sangat santai.


Dan senyum itu terukir jelas masih menghiasi wajah tampannya. Sungguh, benar-benar karya Tuhan yang sangat indah.


Suara musik masih terdengar riuh dari grub band ternama yang sudah disewa Zeko untuk memeriahkan pesta pernikahan putrinya.


Hingga acara itu selesai tepat pukul sembilan malam.


Menyisakan sepasang pengantin yang menahan lelah disekujur tubuhnya.


Reyhan menggandeng tangan Nayla menuju kamarnya. Kamar dengan fasilitas VVIP telah dihias sedemikian rupa cantiknya menyambut sepasang sejoli yang mereka pikir tengah dimabuk cinta.


Tanpa Reyhan sadari. Sebenarnya gelenyar aneh sedari tadi menjalar disekujur tubuhnya. Apalagi saat tangannya secara langsung menggenggam tangan perempuan yang sudah SAH menjadi istrinya itu.


Tapi malam ini. Reyhan tidak mau egois. Dia ingin memperlakukan Nayla sebaik mungkin tanpa harus memaksa atau menyakitinya.


Jantung Nayla berdegup semakin kencang ketika salah satu tangan Reyhan menempelkan sebuah kartu untuk membuka kamarnya.


Apa mungkin malam ini?

__ADS_1


Ting


Pintu terbuka. Pandangan Nayla menatap takjub bunga mawar yang bertebaran diatas tempat tidurnya.


Oh astaga. Ulah siapa sih ini. Memalukan sekali.


Seketika pipinya memerah bersemu.


Sayangnya, fokus Reyhan bukan pada apa yang terpampang nyata didepannya. Reyhan mencari kesana kemari. Kiranya sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengambil air.


Dan ya, Reyhan menemukannya. Sebuah mangkok plastik berukuran lumayan besar ada didalam kamar mandi nya.


Reyhan berjalan menuntun Nayla untuk duduk ditepi ranjangnya.


"Tunggulah disini..."


Nayla menatap punggung Reyhan yang berjalan pergi kekamar mandi.


Beberapa menit. Reyhan terdengar kembali dengan membawa mangkok berisi air.


Eh apa ini? Apa dia mau menyiramku?


Batin Nayla tatkala Reyhan berdiri didepannya dengan senyum yang mempesona.


"Rey, ngapain?"


Nayla terkejut karena kini Reyhan duduk jongkok didepannya. Seperti seorang berlutut didepan Nayla.


"Duduklah.. Jangan bergerak"


Titahnya seraya membuka sepatu hak tinggi yang terpasang sempurna dikaki Nayla.


Benar. Bagian belakang kakinya memerah. Pantas saja Nayla mengeluh sedari tadi.

__ADS_1


Reyhan dengan telaten membasuh kaki Nayla. Mengusapnya pelan. Membersihkannya dengan sangat lembut. Membuat Nayla terbuai karenanya.


"Rey,.."


__ADS_2