Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Orang Kepercayaan


__ADS_3

Hari sudah semakin sore. Jadwal kuliah Nayla hari ini sudah selesai.


Nayla juga sudah menghubungi suaminya. Biasalah, minta dijemput.


Kan Reyhan sendiri yang bilang mau jemput Nayla.? Ya kan...?


Dengan langkah semangat dan senyum penuh ceria, Nayla berjalan keluar kampus. Mencari keberadaan suaminya yang katanya sih, Sudah menunggu Nayla didepan kampus, sebrang jalan.


Entah kenapa, Nayla merasa senang sekali mendapati dirinya akan bertemu Reyhan. Nayla jadi berfikir,


Mungkinkah Nayla sudah jatuh cinta dengan suaminya? Secepat itu?


Ah, rasa nya tidak mungkin kok. Nayla bukan tipe perempuan yang mudah jatuh cinta.


Tapi Reyhan,


Dia memang laki-laki yang lembut. Memperlakukan Nayla dengan baik dan sopan sebagai istrinya. Walaupun Reyhan tahu, kalau Nayla sudah.....


Sudahlah, jangan dibahas. Toh Reyhan tidak pernah mengungkit-ungkit masalah itu kok.


Reyhan masih menghormati Nayla sebagai perempuan yang memang layak untuk dihormati.


Nayla jadi semakin senang kan kalau sudah mengingat-ingat bagaimana perangai suaminya itu.


Reyhan baik. Dan dia layak untuk dicintai.


"Nay,.."


Nayla tersentak kaget. Tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya saat ia tengah berjalan menghampiri suaminya.


"Satya,,"


Nayla segera berusaha melepas tangannya dari genggaman Satya. Jangan sampai Reyhan salah sangka pikir Nayla.


Lagian sejak kapan sih Satya ada disini?


Oh Astagaa.. Saking senengnya memikirkan sifat Reyhan, Nayla jadi tidak menyadari keberadaan Satya yang sepertinya memang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Pulang bareng aku yukk Nay, kita cari makan dulu..." Ajaknya.


"Maaf Satya, tapi aku gak bisa. Aku sudah dijemput..."


Nayla menolak. Ya memang dia sudah dijemput suaminya kok. Tuh, beberapa meter dari sini.


"Dijemput? Sama siapa?"


"Eee.. e. itu.. dijemput sama.. sama.."


Nayla bingung mau jawab apa.


"Siapa? Supir?"


Nayla mengkerutkan dahi. Enak aja supir.. suamiku tau.!


"Bukann...


Itu... eee.. Orang kepercayaan Papa..iyaa"


Benar kan? Reyhan memang orang kepercayaan Papa kok..


Kalau bukan orang kepercayaan Papa, mana mungkin Papa menyerahkan putri kesayangannya ini pada Reyhan?


"Aku kangen banget sama kamu Nay..."


Ucap Satya lemah.


"Lain kali aja gimana? Kalau hari ini aku gak bisaa..."


Tuh kan, kalau Nayla sudah jatuh cinta sama Reyhan, kenapa setiap Satya mengulang-ulang kata cintanya membuat hati Nayla berdesir ngilu?


"Baiklah.. hati-hati yaa.."


Satya menyerah, memang kenyataannya mobil Nayla ada disebrang jalan tempatnya berdiri.


"Aku duluan yaa....

__ADS_1


Oh iya, kata-kata ku dikantin tadi pagi, tolong dipertimbangkan ya Sat...


Byee.."


Nayla melambaikan tangannya pada Satya. Berjalan cepat menuju Reyhan disebrang jalan.


Dia tidak mau semakin lemah dan merasa tak tega jika Nayla terus-terusan melihat Satya yang hampir putus asa seperti itu.


"Dia tadi siapa Nay?"


Reyhan bertanya sambil matanya tetap fokus mengemudi mobil.


"Namanya Satya,"


Jawab Nayla cepat. Beruntungnya Nayla, Reyhan sudah tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.


Meski Nayla tahu, sebenarnya Reyhan ingin bertanya lebih jauh lagi.


Tapi entahlah, karena alasan apa Reyhan malah menjawab dengan deheman sambil manggut-manggut.


Dan itu menguntungkan Nayla.


"Kita cari makan dulu yuk Rey...Habis itu, ketoko buku yaa...?"


Ajak Nayla sembari mengalihkan topik pembicaraan.


Masalah Satya, nanti Nayla akan menceritakannya dirumah. Diwaktu yang benar-benar senggang, agar tak ada satupun cerita yang terlewatkan.


"Oke, kamu mau makan apa Nay?"


Nayla bernafas lega. Syukurlah, Reyhan ternyata orangnya gak kepo.


Gak memaksa Nayla harus memberi tahu sekarang juga. Reyhan cukup pintar membaca situasi bahwa Nayla enggan membahas perihal laki-laki tadi sekarang.


"Aku pingin makan seafood"


"Baiklah tuan putri, apa maumu...."

__ADS_1


__ADS_2