Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Selesai Satu


__ADS_3

Ada apa dengan para perempuan hari ini?


Didalam ruang kerjanya, Reyhan mendadak frustasi. Semalam, tidur lelaki itu tidak bisa nyenyak.


Bahkan saking khawatirnya dengan kondisi Nayla, Reyhan memilih tidur menemani Naura dikamar sikecil itu.


Itung-itung mengalihkan perhatian.


Linda bilang,


Nayla menangis setelah berbicara dengan seseorang melalui telefon. Maka dari itu,


Reyhan juga mencoba menghubungi Nina untuk bertanya apa yang mereka bicarakan. Dan sialnya, nomor ponsel Nina tidak bisa ia hubungi.


Baru saja ia mengumpat pelan, pintu ruangan diketuk. Dan Reyhan sedikit berteriak untuk menjawab


"Masuk ! "


***


Tersenyum lebar.


Rapat ambil alih saham Deka Group berhasil Bima lewati dengan lancar. Bersama dengan asisten pribadinya, Bima berjalan keluar dan mulai meninggalkan area kantor Deka Group.


Berkas-berkas kepemilikan saham sudah ia susun rapi di dalam map biru yang kini berada ditangannya.


Ia sudah siap, menyerahkan berkas itu kepada Reyhan nanti.


Meskipun mengambil alih Deka Group disaat perusahaan itu sedang terseret kasus skandal seperti ini memiliki resiko yang besar, namun cara itu tetap dilakukan agar perusahaan Deka Group tetap dibawah kuasa papa Zeko.


Tok tok tok


Bima mengetuk ruangan kerja Reyhan, dan ia berjalan masuk setelah pemilik ruangan itu mempersilahkan.


"Bagaimana Bim?" Belum beranjak dari kursinya, Reyhan menerima berkas itu dari Bima.


Setelahnya, Reyhan tersenyum lebar sambil mendengarkan penjelasan Bima.


"Empat puluh persen saham berhasil kita ambil alih pak. Sisanya, mereka enggan melepaskan saham itu karena tahu Deka Group sudah diambil alih GMT."


"Siapa yang enggan melepaskan? apa dari mereka ada yang sahamnya lebih besar dari kita?"


"Tidak." Bima menggeleng. "Mereka yang enggan melepaskan adalah pak Jamal dari Intercom dengan saham dua puluh lima persen, pak Rudi dari Global Teknik lima belas persen, pak Yahya dari Mathemacs Lio lima belas persen, dan sisanya Mulia Antara sebesar sepuluh persen."


"Bagus." Reyhan menatap Bima dengan tatapan kagum. Lelaki didepannya ini selalu bisa ia andalkan. "Terimakasih Bim.. kembalilah keruangan mu, sebelum karyawan lain mencurigai ku."


Bima mengangguk. Detik berikutnya ia melangkahkan kaki nya dari hadapan Reyhan. "Saya permisi."


Sepeninggalan Bima dari ruangannya, Reyhan masih membolak-balik berkas tadi. Ia mengecek satu persatu lembaran agar tidak ada kesalahan.


Meskipun ia yakin, Bima tidak akan membiarkan kesalahan sedikitpun ada di lembaran itu.


Ponselnya berdering,


Menghentikan aktifitas Reyhan yang sebelumnya,


"Halo, ma.."


Mama Riana memanggil, dan Reyhan segera mengangkatnya.

__ADS_1


Bisa ke rumah sakit sekarang nggak Rey? Papa bilang pingin ketemu kamu.


"Bisa ma.." Reyhan tutup kembali berkas-berkas penting itu. "Dua puluh menit lagi Reyhan sampai disana ma"


Telefon ditutup.


Sebelum pergi, Reyhan merapikan meja kerja dan sekitarnya terlebih dahulu.


Ia selalu meninggalkan ruangannya dalam keadaan rapi.


Langkahnya pelan,


Berjalan normal seperti karyawan lain pada umunya. Sampai saat ia hampir tiba di pintu keluar, Reyhan tanpa sengaja menabrak seseorang.


Bruk..


"Maaf-maaf.." Ucap Reyhan spontan membantu orang itu merapikan berkas-berkasnya yang jatuh.


"Elo?.."


"Satya?"


"Ck." Satya berdecak. Sambil meraih kasar berkas-berkasnya yang ada ditangan Reyhan. "Ketemu lo lagi.."


"Ngapain kamu kesini?" Reyhan bertanya.


"Bukan urusan lo.. " Satya menjawab sinis. "Oiya, boleh minta tolong enggak? Tolong bilang ke Nayla untuk segera membuka ponselnya."


Setelahnya, Satya meninggalkan Reyhan begitu saja. Membuat suami Nayla itu mengumpat kesal.


Shit


Itu yang sejak awal Reyhan hindari.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Reyhan meraih ponselnya. Menelfon seseorang yang menjadi orang kepercayaannya.


"Dia masuk. Terima saja tawaran kerja samanya. Setujui, asalkan Antara Mulia benar-benar berada digenggaman kita"


Telefon ditutup. Sambil berjalan menuju parkiran mobilnya, Reyhan menghubungi Linda. Meminta bantuan kepada perempuan itu agar ia bisa mengalihkan Nayla dari ponselnya.


Apapun caranya, setidaknya setelah kerja sama antara GMT dan Antara Mulia terjalin sempurna.


Jalanan sedang lenggang.


Sepanjang perjalanan, Reyhan tidak terlalu banyak memikirkan sesuatu. Keculi, persiapan semua rencananya.


Dan kurang dari dua puluh menit perjalanannya selesai.


Reyhan tidak butuh waktu yang lama untuk sampai dirumah sakit.


"Ma.." Sapanya kepada wanita anggun yang sudah menunggunya didepan ruangan rawat sang suami. "Papa gimana?"


Riana berdiri. "Papa baik. Sudah stabil sekarang." Diusapnya bahu Reyhan pelan, penuh kasih sayang dari ibu mertuanya itu. "Masuklah, Papa sudah menunggumu."


"Baik ma"


Dan saat ini,


Reyhan sudah duduk dikursi dekat brankar tempat Zeko dirawat. Sungguh, senyum lelaki paruh baya yang sedang terkapar tak berdaya itu sangat tulus.

__ADS_1


"Terimakasih Rey" Begitu ucapnya.


"Untuk apa pa?"


Zeko menarik nafasnya dalam. Sepancar semangat terlukis kembali diwajahnya. "Sekretaris papa bilang, perebutan saham Deka di menangkan GMT kan?"


Anggukan kepala Reyhan lakukan sebagai jawaban dari pertanyaan Zeko yang dilontarkan kepadanya.


"Papa tahu, ada kamu dibalik ini semua."


"Maksudnya pa?"


"Apa yang kamu sembunyikan dari orang-orang, papa sudah tahu Rey.." Zeko tersenyum, digenggamnya tangan Reyhan dengan kuat. "Bukannya papa sombong,


Dulu, papa pikir kamu yang beruntung bisa masuk dikeluarga Deka, ternyata papa salah.


Justru Nayla yang beruntung bisa masuk kedalam keluarga Atmadja."


"Tapi pa.." Reyhan berusaha menyanggah.


"Diamlah." Seru Zeko disertai dengusan kecil. "Apalagi yang mau kamu sanggah. Semua sudah jelas dimata papa."


"Maaf pa."


"Untuk apa?" Mengernyitkan dahi, Zeko menatap Reyhan instens. "Apa kamu tahu, dulu waktu kecil, aku dan papa mu pernah bersahabat?"


Reyhan menatap sang mertua dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa?


Selama ini, Papa nya sendiri juga tidak pernah menceritakan apapun kepadanya.


"Iya," Menjawab seolah mengerti arti tatapan Reyhan. "Dulu, aku dan papa mu bersahapat. Lebih tepatnya sahabat kecil."


"Benarkah pa?"


"Aku dan papa mu, bahkan waktu itu menyukai wanita yang sama. Dan saat aku harus pindah ke kota ini, aku menyerahkan wanita itu kepada papa mu. Aku memilih mundur. Dan membiarkan papa mu mengejarnya.


Yang tidak aku sangka, ternyata cinta Adma untuk wanita itu begitu besar. Sampai, dia menikahi wanita itu dan memiliki kamu, sebagai salah satu anaknya."


Mencengangkan.


Reyhan benar-benar tercengang dibuatnya. "Itu berarti, mama?"


"Iya benar, tapi itu dulu... sebelum aku bertemu dengan Riana."


"Aku benar-benar baru tahu pa.."


"Balik lagi ke perusahaan." Zeko kembali memasang wajahnya serius. "Jadi? Kamu kan yang mengambil alih saham Deka Group?"


Kali ini,


Reyhan mengangguk untuk menyetujuinya. "Ya begitulah pa. Karena aku tahu, Deka Group sangat penting untuk papa kan?"


"Papa harus mengucapkan ini sekali lagi.." Tersenyum penuh haru. "Terimakasih ya Rey. Untuk semuanya."


Masalah Deka Group selesai.


Sekarang.


Ada masalah lain yang lebih besar sedang menanti Reyhan menghadapinya.

__ADS_1


__ADS_2