
Pagi menjelang. Sinar matahari menerobos masuk kekamar melalui sela sela gorden yang menjuntai indah.
Detik jam terus berlalu ketika sepasang mata mengerjab pelan. Seorang perempuan menggeliat melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Lalu tersadar, ada tangan kekar yang sedang berada diatas perutnya. Merengkuh tubuhnya tanpa sengaja.
"Aaaaa"
Nayla menjerit ketika mendapati seorang laki-laki berada disatu ranjang dengannya.
Sontak membuat Reyhan terbangun karena suara memekik telinganya.
"Ada apa Nay?"
Tanya Reyhan dengan bingung.
Nayla terlihat mengehembuskan nafasnya pelan saat menyadari sesuatu.
"Hehe, tidak apa apa...maaf"
Astagaa, aku bahkan lupa kalau aku sudah menikah.
Malunyaaa....
"Lantas kenapa berteriak ?" Ucap Reyhan sambil memegangi kepalanya.
Kepalanya terasa pusing. Semalam Reyhan tidak bisa tidur merasakan hawa panas ditubuhnya setelah tanpa sengaja dia melihat setitik keindahan dari tubuh Nayla.
Sampai sekitar menjelang pagi, baru saja dia bisa memejamkan matanya.
Dan sialnya. Pagi pagi begini dia harus bangun karena suara melengking dari gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
"Kau pusing. Sebentar aku ambilkan minum."
Nayla segera bergegas mengambil minum yang berada diatas meja sofa agak jauh dari tempat tidurnya.
Dan kembali keranjang tidur menyerahkan segelas air putih untuk Reyhan.
"Minum lah.. Maaf aku mengagetkan mu ya?"
Menyodorkan segelas air putih untuk Reyhan dan langsung diteguknya habis tak bersisa untuk mengurangi rasa pusingnya.
Reyhan menarik nafasnya dalam lalu membuangnya pelan untuk mengusir perasaan yang entah seperti apa. Ketika masih tergambar jelas sesuatu semalam yang tak seharusnya dia lihat melintas begitu saja difikirannya.
"Ayo katakan, ada apa kau berteriak?"
Tanya Reyhan dengan pelan. Sembari menetralkan lagi sesuatu yang bergejolak didalam hatinya.
Reyhan memandang lekat wajah istrinya. Bahkan bangun tidur begini dia terlihat sangat cantik.
Seutas senyum tipis tersimpul diwajah Reyhan.
Dia Istriku?
"Kenapa kau memandangiku?"
Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia malu mengakui kalau dia hampir saja lupa kalau sudah menikah dan memiliki suami.
"Nay, jangan mengalihkan topik. Ayo katakan! Aku sedang memastikan dari mata kamu itu apa kamu berbohong atau berkata jujur"
"Jangan menatap ku begitu, aku malu Rey.."
Masih mencoba mengalihkan topik.
"Kalau begitu cepat katakan...!"
Apa yang harus aku katakan?
Apa aku harus bilang kalau aku lupa sudah menikah. Dia pasti ingin menertawakanku kan.!
Kenapa sulit sekali sih mengelabuhi manusia ini.
"Apa? Kenapa mata kamu melihat keatas? Kamu mau membohongiku ya?"
Reyhan masih menunggu Nayla menjawabnya dengan senyum menyeringai.
"Aku... ee. itu Rey, Aku itu lupa......"
Ucap Nayla dengan terbata.
"Sudah ah.. aku mau mandi"
Nayla turun dari ranjang berjalan beberapa langkah kekamar mandi sebelum suara Reyhan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Lupa kenapa? Kamu tidak mau mengatakan?
Yaudah sana mandilah.. Mandi yang lama yaa.... Jangan harap aku akan keluar dari kamar ini."
Ucapnya sambil menyeringai.
Deg
Ohh ya Tuhan.. kamar mandinya kan transparan begitu...
Astagaaa.. seperti memakan buah simalakama ini namanya kan? Gimana ya?
Aku ke kamar mandi tapi malu... Kalau kembali ke Reyhan nanti ujung-ujungnya juga malu kan?
Seharusnya aku abaikan saja dia. Dia kan, suamiku.. Tapi. aku benar-benar malu
"Rey.. jangan begitu dong... hehe"
Nayla akhirnya memilih kembali dan lebih baik mengatakan saja kalau dia lupa sudah menikah dan memiliki suami.
Nayla menaiki lagi tempat tidurnya demi membujuk Reyhan yang malah mengabaikannya.
"Rey.... Oh ayolahhh, kita berdamai saja ya?"
Reyhan terlihat meringkuk membelakanginya. Tepat menghadap kearah kamar mandi.
"Kenapa? Bukannya kau mau mandi?"
Tersenyum menyeringai.
"Rey, ayolah.. Berdamai saja dengan ku"
Nayla masih merayu sambil mengguncang pelan bahu Reyhan supaya dia tidak mengabaikannya.
"Aku akan mengatakan padamu... Ayoo duduklah."
Seru Nayla semakin memperkeras goncangan tangannya dibahu Reyhan.
"Kalau tidak mau mengatakan dan memilih mandi juga tidak masalah kok.. Aku tidak mau memaksamu"
Tersenyum mengejek.
Itu namanya kau menang banyak Reyhan suamikuuuuuu. Kau mau mencari kesempatan dalam kesempitan kan.? Mengintipku saat mandi?
Menyebalkan sekali.
"Rey, oh ayolaahh...Ini hari pertama kita kan? Tolong berdamailah saja dengan ku ya?"
"Baiklah"
Nayla bernafas lega akhirnya rayuannya tidak sia-sia.
Memang siapa yang sanggup mengabaikan rayuanku? Haha
Terimakasih, akhirnya kau mau mengerti juga.
"Tapi ada syaratnya ya Nay"
"Apa?"
Nayla mendelik tak percaya. Kenapa laki-laki ini ada ada saja sih.
Kutarik ucapan terimakasih ku. Kenapa sulit sekali bernegoisasi dengan mu hah?
"Jangan mengumpat didalam hati..! Kau mau apa tidak menerima syaratnya?"
Reyhan terkekeh.
"Kalau kamu tidak mau, yaudah mandi sana"
"Yaudah apa syaratnya? Jangan aneh-aneh ya..?"
Kata Nayla menyerah.
Kalaupun aku masih meladenimu, mau sampai siang juga kau akan berdebat denganku kan?
Kau pasti senang mengerjaiku begitu.!
Dengan semangat Reyhan beranjak dari tidurnya dan kini duduk berhadapan dengan Nayla diatas ranjang tidur mereka.
Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Nayla.
Sedangkan matanya, menatap manik mata bernetra hitam bulat itu.
__ADS_1
Mirip mata nya Naura.
"Katakan dulu, apa yang membuat mu berteriak tadi? Kau mengagetkanku saja."
"Rey.. tadi aku lupaa..."
Nayla sengaja memberi jeda pada kata-katanya. Nayla sendiri merasa kikuk ditatap lekat oleh sorot mata tajam milik Reyhan.
"Tapi... kamu jangan tertawa ya?"
Suara yang dibuat se-manja mungkin demi untuk selamat dari ejekan suaminya.
"Hmmm.. ayo katakan!"
"Aku terkejut ada laki-laki disamping tempatku tidur. Aku lupa kalau sudah punya suami Rey"
"Buahahahahahhahahh"
Reyhan tertawa keras menggema diseluruh kamar hotelnya.
Sudah lihat kan?
Dia beneran menertawai ku dengan puas! Kenapa manusia ini menyebalkan sekali . Dimana sikap sopan dan acuhnya selama ini?
Astagaa....
Untung saja kamar ini kedap suara.
"Sudah yaa.. kamu keluar kamar sebentar, biarkan aku mandi"
Nayla berjalan dan hendak menarik Reyhan agar bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamar nya sebentar.
"Hey, kamu mau pura-pura lupa.? Duduk sini!"
Astagaaa.. orang ini gak bisa apa dibodohi sedikit saja?
"Ayoo duduk sini.. Jangan mencoba membodohi ku ya? Sini, ku tunjukkan syaratnya"
Nayla mendelik tidak percaya.
Tidak mungkin kan dia bisa membaca pikiranku?
Jadi kenapa dia bisa tau begitu?
"Jangan melotot begitu mata nya. Cepat kesini."
Dengan langkah malas Nayla kembali duduk didepan Reyhan diatas ranjang tidur mereka.
Wajahnya ditekuk masam. Pagi yang menyebalkan.
"Cepat, kasih tau aku apa maumu Rey..."
"Cium aku"
"Apa?"
Hah? Menyuruhku menciumnya?
Sudah gila ya? Ya memang sih dia suamiku. Tapi kan
"Rey, ayolah... jangan bercanda.!
Bukannya kamu dulu sangat acuh kan sama cewek? Kenapa sekarang menyebalkan begini?"
Tanya Nayla tanpa sadar.
"Hey, aku ini suami mu... Bukannya aku sudah berbaik hati menunggumu sampai kau mencintaiku? Yaudah sana, silahkan mandi."
Reyhan berjalan dengan jengkel dan segera beranjak menuju keluar pintu.
"Rey tunggu...."
Berlari menghadang jalan Reyhan. Dan ....
Cup...
Satu kecupan mendarat mulus di pipi kiri Reyhan. Membuat laki-laki itu sedikit terkejut.
Sedangkan tersangkanya, menunduk malu menahan pipi yang bersemu.
"Terimakasihhh..."
Ucap Reyhan mendongakkan dagu Nayla. Kemudian dia mencium kening Nayla. Menahannya beberapa detik.
__ADS_1
"Sekarang mandilah..."
Ucapnya sambil tersenyum membuat Nayla bernafas lega.