
Ada banyak kisah yang ingin ku lukis hari ini
Ada banyak cerita yang ingin ku bukukan hari ini
Hari dimana aku begitu rindu
Oleh suasana yang terasa faktamorgana
Suasana bahagia tapi menipu
Silahkan tahan air mata ku
Silahkan ukir senyum wajah ku
Tetapi kisah pilu ini, tetaplah pilu !
-yunitariva-
***
Ada banyak kisah pilu yang sebenarnya ia sembunyikan. Hanya saja, beberapa diantaranya murni sudah selesai sampai ke akar-akarnya.
Berbeda dengan kisah pilu yang satu ini.
Yang selalu menghantui pernikahannya. Yang setia mengancam kehidupannya bersama Reyhan.
Ketenangannya seakan direnggut.
Kenyamanannya seperti direbut.
Satya seakan menarik semua kebahagiaannya. Lelaki itu sama saja dengan menaburkan garam diatas sayatan luka yang masih menganga.
Menyakitkan.
Saat semua kebahagiaan, tidak seperti apa yang terlihat di mata.
Tangan kirinya menarik koper. Berdiri dipinggir jalan, Nayla melambaikan tangan kanannya menghentikan taxi.
Sebuah kesopanan di negara ini,
sang supir keluar, membantu Nayla menaruh bawaannya dalam bagasi.
Nayla segera duduk di kursi penumpang. Saat yang supir masuk kembali, Nayla memberikan selembar kertas yang berisi tempat yang akan ia tuju.
Tentu saja, kertas itu bertuliskan Hong Kong International Airport (HKIA), Chek Lap Kok.
Bukan Nayla tidak bisa mengucapkannya,
beberapa minggu disini membuat Nayla mengerti, kondisi telinga mereka berbeda dengan telinga kita.
Kadang apa yang kita ucapkan, belum tentu dimengerti oleh mereka. Meskipun, ucapan kita sudah benar sesuai ejaan yang ada.
Nayla tidak ingin mempersulit dirinya sendiri. Dia harus sampai di Indonesia dan menemui Satya, apapun yang terjadi.
Sebelum video itu, sampai ditangan Reyhan.
Nayla akan berusaha memusnahkannya.
Tak terasa, air mata perempuan itu kembali mengalir begitu saja. Pipi nya yang mulus, mendadak menjadi sungai yang memiliki arus deras.
Reyhan tidak boleh melihat video itu, meskipun ia tahu keberadaannya.
Semua sudah Nayla persiapkan semalam.
Bahkan, perempuan itu sempat menghafalkan beberapa kosakata bahasa kantonis untuk mempermudah perjalanannya hari ini.
Meskipun, semua itu ia lakukan sambil menangis.
"Faity, tak em tak a, asuk? (Cepat sedikit, bisa tidak paman?)" Begitu ia bertanya sopan dengan suara paraunya.
"Ho a, leng loi.. (Baik nona)"
Dan, kuda besi yang Nayla tumpangi, seketika melaju cepat. Melesat membelah jalanan mulus negara beton.
Tatapannya menatap kosong pada semua bangunan yang seakan berlari melawan arahnya.
Hongkong memang negara yang indah. Pembangunannya yang maju dapat dibuktikan dengan banyaknya bangunan menjulang tinggi yang berada di setiap sudutnya.
__ADS_1
Sayangnya,
pemandangan yang indah itu Nayla abaikan. Saat ini, mata nya sendu. Kehilangan kemampuan dalam menatap keindahan.
Yang ada hanya kerinduan yang harus ditahan.
Kesedihan, dan air mata yang siap berbaur dengan duka dan lara.
Mobil taxi berhenti ditempat seharusnya,
setelah membayar menggunakan kartu, Nayla turun. Kembali menarik kopernya masuk.
Melakukan tes tiket digitalnya agar petugas disana memberikan tiket fisik ke Nayla.
Setelah mendapat apa yang dia mau, Nayla diarahkan masuk keruang tunggu.
Tiket pesawat, paspor dan visa turis berada didalam tas kecil miliknya.
Nayla menengadah.
Bangunan atapnya masih sama seperti saat pertama kali ia menginjakkan kakinya disini bersama Reyhan.
Dan tanpa dikomando, matanya kembali memanas. Memuntahkan bulir bening yang sejak tadi sudah ia tahan.
"Reyhan, aku kangen." ucapnya lirih dengan suara serak. Lagi-lagi hatinya sakit. Pikirannya kacau, sampai rasa bersalah kembali bersarang.
Nayla tahu, tidak ada cara lain selain ia sendiri yang menemui Satya. Dua tahun menjalin hubungan bersama lelaki itu, membuat Nayla mengenal Satya lebih dalam.
Lelaki itu penuh ambisi. Apa yang ia inginkan harus ia dapatkan. Apapun caranya.
Nayla juga sadar.
Sejak dulu, yang Satya inginkan adalah Nayla. Maka selain Nayla sendiri yang menangani, masalah ini tidak akan berhenti.
Satya tidak akan berhenti sebelum Nayla sendiri yang datang kepadanya menemui.
"Maafkan aku, Reyhan."
***
Sejak ia menutup panggilan teleponnya dengan Nayla, kesibukan telah menyita waktu dan perhatian Reyhan. Bersamaan dengan itu, mendadak langit mendung.
Sama seperti perasaannya saat ini.
Kalut menyelimuti, ketidaknyamanan juga tiba-tiba ikut mengiringi.
Reyhan sendiri tidak tahu apa yang ia cemaskan.
Maka sekarang, sebisa mungkin dia memilih tenang. Menekan rasa tidak nyaman agar tidak mengusik kesibukannya.
Ponselnya tidak berhenti menerima pesan dan panggilan masuk yang datang bergantian dari pekerjaan kantor. Ditambah, beberapa laporan dari Andree yang cukup sering sampai menguras daya-nya.
Seperti saat ini, baru saja ia menutup panggilan telefon dari Bima, lagi-lagi ponselnya berdering.
Reyhan sampai jengah mendengarnya. Meskipun begitu, ia tetap melihatnya, sampai nama Mama Riana yang tertera di layar membuat Reyhan segera menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.
"Iya Ma..."
"Reyhan, apa kamu sedang sibuk. Mama boleh minta tolong?"
"Sedikit sih ma." Reyhan lihat tumpukan berkas yang baru saja ia periksa. Dan laptop yang masih menyala, memperlihatkan bahwa ia sedang sangat sibuk. Bukan sedikit sibuk.
"Minta tolong apa, ma? Reyhan usahakan."
"Papa sudah boleh pulang. Tapi, pak Damar sedang ada urusan lain. Bisakah nanti sore menjemput kita dirumah sakit?"
"Baik ma. Nanti sore Reyhan jemput mama." Tanpa pikir panjang dan basa-basi, lelaki itu menyanggupinya.
Keluarga tetap yang utama.
"Terimakasih Nak."
Sambungan diputus. Reyhan menghela nafas membuang lelah.
Sebenarnya, bisa saja Reyhan meminta orang lain yang menjemput Riana mengingat kesibukannya hari ini. Atau bisa juga Reyhan memesankan taxi online. Tapi,
Lelaki itu tidak tega.
__ADS_1
Tidak mungkin ia membiarkan mama mertua nya pulang sendiri dengan papa yang baru saja pulih.
Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu?
Maka, sekarang ini yang ia lakukan adalah,
kembali fokus kepada tumpukan berkas di atas meja kerja. Mengoreksi satu persatu dengan teliti. Agar kesalahan sekecil apapun tidak terjadi.
Agar waktu yang ia miliki untuk menjemput sang mertua lebih cepat dari prediksinya.
Apalagi,
semua yang Reyhan kerjakan ini menyangkut keluarganya. Dan perusahaan Deka Group yang baru saja diambil alih olehnya.
Reyhan tidak ingin salah langkah sedikitpun.
Pekerjaannya kali ini, sama saja dengan membangun perusahaan yang baru dirintis.
"Kerjakan, sambil mengingat lagi masa dulu saat pertama kali merintis perusahaan."
Tok tok tok.
Suara ketukan membuat Reyhan menoleh.
Sesuai dugaannya, Bima menerobos masuk dan kembali menutup rapat pintunya.
Lelaki itu menyerahkan semua berkas ditangannya kepada Reyhan. "Semua sudah siap pak."
"Bagus Bim," Reyhan tersenyum lega. "Kalau begitu, undang semua dewan komisi yang memiliki saham besar di Antara Mulia."
"Baik. Pak Reyhan mau diatur pertemuannya jam berapa?"
"Tujuh pagi. Apapun yang terjadi, mereka harus sudah sampai disini."
Ucap Reyhan mantap.
"Baik pak. Permisi."
Bersamaan dengan langkah Bima, Reyhan tersenyum manis.
Lelaki itu sudah membayangkan akan segera menjemput istrinya. Reyhan sudah yakin, apa yang akan ia lakukan kali ini akan menghentikan permainan Satya.
Satya memainkan keluarganya, dan itu juga yang akan Reyhan lakukan.
Meski dengan cara yang berbeda.
"Tunggu aku, Nayla."
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
Ada yang kangen?
Klik tombol like ya 🥰
Oh iya gengs, mau kasih info nih. Novel Terpaksa menikah sudah aku revisi loh.
Kalian sudah membaca belum bab barunya?
Belum kan?
__ADS_1
Ayokk cuss kesana. Lihat di bab 11, 12 dan 13.
Itu bab baru. suwer 😂