Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Persimpangan Jalan


__ADS_3

"Nay...."


Suara laki-laki yang sangat familiar seketika membuat Nayla menoleh. Menatap nanar laki-laki yang melangkah kearahnya dengan senyum yang mengembang sempurna diwajahnya.


Dia terlihat sangat kacau meskipun bibirnya tersenyum.


Seketika pula suasana menjadi canggung untuk Sari dan Nina. Tapi tidak untuk Nayla.


Nayla sudah mempersiapkan situasi seperti ini.


Bagaimanapun, saat Nayla kembali masuk kampus, dia pasti akan bertemu dengan Satya.


Laki-laki yang belakangan ini terus menerus mengganggunya lewat ponsel.


Basa basi menanyakan kabar, bahkan terang-terangan mengungkapkan kerinduan. Membuat Nayla sesak saja..!


Tapi Nayla sudah tau apa yang akan dia lakukan pada Satya.


Maksudnya, bagaimana Nayla harus bersikap untuk menghadapi tindakan spontan dari laki-laki yang pernah menjadi pemilik hatinya itu.


"Hay, Satyaa....?"


Sapa balik Nayla dengan senyum yang sedikit dipaksakan terlihat tulus dari bibir ranumnya.


Begitu saja, Nayla masih tetap cantik.

__ADS_1


"Kemana saja? Aku... kangen Nay..."


Pengakuan Satya dengan sedikit terbata. Sebenarnya, jauh dilubuk hatinya, Satya merasa bersalah pada Nina. Nurani Satya tau bahwa Nina gadis baik-baik. Sayangnya, ego Satya terlalu tinggi sampai berambisi untuk memiliki Nayla dan melupakan kegelisahan gadis cantik sahabat Nayla.


"Ehmm.. Nay, aku ke kelas duluan yaaa..."


Pamit Nina. Dia sudah tidak bisa lagi menahan sakit dihatinya. Melihat ayah biologis dari janin yang dikandungnya masih saja mengejar wanita lain. Tapi Nina bisa apa? Dari awal terjadinya hubungan rumit ini juga karena kesalahannya sendiri kan?


Mau marah sama Nayla? Ah itu terlalu jahat namanya.


"Aku temenin Nin...." Ucap Sari sambil beranjak berdiri menemani Nina.


"Ehmm yaudah, kalian duluan aja ke kelas. Nanti aku nyusul..."


Jawab Nayla dengan senyum mengembang sempurna. Tangannya membelai punggung tangan Nina yang masih berada dalam jangkauannya. Seolah mengatakan, semua akan baik-baik saja, dan Nayla pasti menepati janjinya.


"Nay, kamu kemana aja sih.. ? kenapa gak pernah ngabarin aku?" Tanya Satya...


"Aku cuma menenangkan diri Satya,.. aku tidak ingin diganggu siapa pun"


Jawab Nayla dengan yakin.


"Termasuk aku? Benarkah aku sekarang menjadi pengganggumu Nay? Kau benar-benar masih marah padaku?"


Nayla tersenyum masam. Pertanyaan macam apa itu? Memang benar sih, perasaan Nayla kepada Satya sekarang adalah, benci.

__ADS_1


Bukan, bukan benci seperti yang ada di pikiran readers ya...


Lebih ke, perasaan yang berada ditengah-tengah antara kecewa dan cinta. Ingin memiliki, tapi itu tidak mungkin terjadi.


Intinya, semua sudah selesai. Kisah antara Nayla dan Satya, sudah selesai.


Nayla sudah memilih jalannya sendiri. Dan sekarang, Nayla sedang mencoba mengarahkan Satya pada jalannya sendiri pula. Tidak mengikuti jalan Nayla terus seperti ini.


Nayla sedang berusaha membuat Satya sadar, jalan mereka sudah berbeda. Ada persimpangan yang memaksa mereka harus berpisah. Harus.


Jika tidak, maka mereka harus siap kehilangan orang-orang yang paling mereka butuhkan diujung jalan sana.


"Aku mencintai mu Nay,.."


Ucap Satya lagi setelah melihat Nayla hanya tersenyum enggan menjawab pertanyaannya tadi.


Sementara Nayla, ah pernyataan Satya masih sanggup membuat pisau transparan itu sedikit menggores hatinya. Nayla jadi tidak tega menyakiti laki-laki yang pernah memiliki hatinya itu.


Nayla tahu, Satya benar-benar tulus mencintainya. Tapi, sekali lagi,


semua sudah selesai.


Tanpa sadar, perasaan sesak itu masuk kerelung hatinya. Membuat mata Nayla berkaca-kaca kan?


Satya, maafkan aku

__ADS_1


Ah mungkin ini memang saat yang tepat....


__ADS_2