
"Gue gak cinta sama Nina.."
Andi menghembus nafas kesal. Satya begitu keras kepala. Masih saja memikirkan perkara cinta. Seharusnya Satya melihat keadaannya yang sudah berbeda.
Apa Satya tidak kasihan melihat Nina.? Gadis itu sekarang pasti sedang ketakutan memikirkan masa depannya.
Laki-laki macam apa sebenarnya si Satya ini. Meskipun kelakuan Andi tidak jauh berbeda dengannya, tapi Andi masih punya hati untuk tidak lari dari tanggung jawab jika saja dia ada diposisi Satya.
"Memangnya cinta masih penting ya Sat?"
Andi bertanya dengan nada datar. Tanpa mengalihkan perhatian dari menatap game diponselnya. Terlalu malas bersitatap dengan laki-laki egois yang statusnya masih sebagai sahabat karibnya itu.
"Maksud lo apa? Lo nyuruh gue lepasin Nayla?"
Satya mulai meninggikan suaranya.
"Ya lo pikirin aja deh.. gimana kalau misal apa yang terjadi sama Nina itu terjadi sama adek lo? Gimana kalau Merry dihamili orang sedang orang itu tidak mau bertanggung jawab?"
Bughtt....
"Brengseeek lo Ndi.... Berani-beraninya lo ngomongin hal buruk tentang Merry?"
Satya marah dan langsung memukul Andi sampai ujung bibirnya berdarah. Dia merasa tersinggung atas ucapan Andi barusan.
__ADS_1
Merry adalah adik kesayangan Satya. Tidak seorangpun boleh melukai Merry selagi masih ada Satya didunia ini. Tapi mendengar dengan gamblangnya Andi mengatakan hal buruk tentang Merry didepan Satya membuat emosinya naik seketika.
"Heeh.. apa-apaan sih kalian?" Bentak Joan melihat keadaan semakin menegang.
Sedangkan Andi hanya diam. Mengusap darah dengan ibu jarinya dengan kasar. Dia tidak ingin membantah apapun selagi Satya masih melakukan pembelaan.
Bukannya Andi suka mengatur.
Tapi Andi tahu, Satya sudah kehilangan Nayla.
Coba deh kalian pikir,
Kalo pacar kamu ngehamilin sahabat baik mu, emang kamu masih mau nerima dia jadi pacarmu? Emang gak kasian sama sahabat mu?
Andi rasa Nayla bukan gadis yang setega itu untuk mempertahankan hubungannya padahal disisi lain ada Nina yang lebih membutuhkan pertanggung jawaban Satya.
Sebelum kehilangan mengajarkan arti kata menyesal.
Tapi bagaimana Andi harus menyampaikan pendapatnya itu pada Satya? Dia tidak ingin keadaan semakin runyam malah membuat Satya semakin terpuruk.
Untuk saat ini, rasanya tidak mungkin Andi berusaha menyadarkan Satya bahwa dia sudah kehilangan Nayla. Lihatlah, baru memberi perumpamaan saja sudah membuat Satya memukulnya.
Sebagai sahabat yang baik. Andi ingin memberi saran yang terbaik pula.
__ADS_1
Siapa tahu jodoh Satya memang Nina dan bukan Nayla?
"Gue cuma mau ngasih saran yang baik Jo..."
Kini giliran Andi membela diri. Berucap dengan pelan karena dia sadar posisi.
"Tapi gak gitu juga Ndi.. lo tau kan gimana sayangnya dia sama adeknya si Merry itu?"
"Trus lo pikir orang tua Nina gak sayang sama Nina? Perasaan orang tuanya ke Nina sama kayak perasaan Satya ke Merry. Bahkan mungkin lebih lagi."
Andi berucap pelan dan tetap tenang. Ingat, pukulan tidak harus dibalas dengan pukulan.
Kecuali genting ya? hhahaha
"Gua gak mau banyak bac*t kayak cewek disini.. Tapi gue peduli sama lo Sat... "
Satya nampak gusar. Seandainya dia berpikir jauh, mungkin dia bisa menerima dengan lapang pendapat Andi.
"Kalo lo peduli. Bantuin gue mikir. Gimana caranya gue bisa tanggung jawab ke Nina tanpa kehilangan Nayla."
Andi melotot. Satya bener-bener gila. !
"Tau ah.. Cabut aja gue...!"
__ADS_1
Andi mulai berdiri dan beranjak. Sudah tidak bisa dia mengontrol emosinya sendiri.
Kalau dia masih disini, dia pasti akan baku hantam sama Satya.