Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Klasik Semi Modern


__ADS_3

"Nanti kita mampir kerumah ku dulu ya...Aku mau kenalin sama anak-anak kalau kamu mama barunya.."


Ucap Reyhan terkekeh.


Menggoda Nayla adalah hobi baru nya saat ini. Entah sejak kapan dia mulai menyukai wajah istrinya yang cemberut masam.


Toh tidak masalah juga kan? Nayla sudah menjadi istri SAH nya.


Dari sini dia ingin membangun perasaan yang kuat dan rumah tangga yang harmonis untuk kedepannya.


Hari sudah hampir siang. Nayla sudah berkemas ingin segera pulang dan meninggalkan hotel dengan kamar mandi terkutuk itu. Diiringi alunan suara yang keluar dari mulut Reyhan dan terdengar sangat menyebalkan. Seperti itu.


Tangannya sibuk menyisir rambutnya yang sudah mulai kering didepan sebuah cermin.


Setelahnya dia memoles tipis wajahnya dengan bedak baby tabur dan lipstik berwarna nude untuk menambah kesan natural.


Wajahnya menahan kesal. Reyhan terus saja menggodanya sejak tadi pagi.


Tapi entah kenapa, Nayla tidak bisa menyimpan perasaan kesal terlalu lama dengan suaminya itu.


Sedangkan Reyhan, dia masih duduk selonjoran memainkan ponselnya diatas ranjang. Meskipun dia sudah siap chek out dari hotel itu. Reyhan menunggu Nayla sambil bertukar kabar dengan Jeni dan Mbak Nana tentang kondisi anak-anaknya dirumah lewat pesan singkat.


Taukan cewek kalo lagi dandan siap-siap? Ditinggal kuliah juga kelar sampek dapat gelar sarjana. Hehe


Senyum tipis terpancar saat dia mengetahui anak-anaknya dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Katanya, anak-anak sudah gak sabar ketemu mama barunya"


Seru Reyhan dengan melirik Nayla. Reyhan sangat menikmati wajah kesal istrinya itu.


Terlihat sangat menggemaskan.


Meskipun Nayla tidak mau menjawabnya, tapi Reyhan tau Nayla diam-diam menggerutu didalam hati.


"Nay, Kalau suami ngajak ngomong itu mbok ya dijawab" Reyhan terkekeh.


"Kau ini... kenapa suka sekali menggodaku"


Seru Nayla mencebikkan bibirnya. Membuat Reyhan tertawa keras.


"Aku tidak menggodamu... tapi anak-anak pengin ketemu mama barunya"


Seru Reyhan dengan santainya.


Duduk selonjoran diatas ranjang dengan selimut yang masih menutupi kakinya membuat Reyhan merasa nyaman.


Coba, kapan lagi dia menikmati waktu santainya seperti ini?


Nayla menghela nafas panjang enggan menjawab lagi perdebatan suaminya itu. Memilih meneruskan aktifitasnya dalam merapikan rambut.


Seperti biasanya, dia mengikat rambut model ekor kuda kesukaannya.


Melihat itu, Reyhan segera beranjak dari tempatnya menghampiri Nayla.


Dia memainkan rambut Nayla didepan cermin. Dengan dahi berkerut menampilkan ekpresi yang sulit ditebak.


"Apa kau suka sekali model rambut diikat seperti ini?"


Reyhan memandang wajah cantik Nayla dari pantulan cermin. Manik mereka bertemu saat Nayla juga melihat Reyhan dicermin yang sama.


Sejenak berpikir. Bagaimana mengatakan pada Nayla kalau dia sangat tidak suka melihat Nayla dengan leher terbuka seperti itu?

__ADS_1


Baru kemaren mereka menikah, dan Reyhan tidak mau terlihat suka mengatur.


"Apa menurut mu, ikat rambut seperti ini membuatmu lebih cantik?"


Sungut Reyhan. sambil memilin-milin ujung rambut Nayla.


"Kau ini kenapa? Biasanya juga begini. Kenapa cerewet sekali?"


Suntuk Nayla dengan kesal.


Reyhan mengusap pelan puncak kepala Nayla dan mendekatkan bibirnya disamping telinga Nayla.


Kemudian dia membisikkan sesuatu.


"Aku sudah menahan diri untuk tidak kurang ajar kepada istriku sendiri. Bukan aku yang menggodamu. Tapi leher mu yang terbuka dan terlihat jelas seperti ini yang justru menggodaku.


Kau harus ingat, aku ini laki-laki normal"


Mencium aroma tubuh Nayla dilehernya sekilas sebelum beranjak mengambil minum sambil terkekeh.


"Berhati-hatilah kepadaku. Harimau yang tidur akan tetap bangun kalau ada daging didepannya."


***


Mobil Nayla berhenti tepat disebuah pelataran yang tidak terlalu luas.


Dari segi pandangan pertama Nayla, rumah Reyhan jauh tidak lebih bagus dari rumah Papa nya.


Rumah ini terlalu sederhana. Jauh dari kata mewah.


Lalu bagaimana bisa Reyhan hidup selama ini dengan anak-anaknya?


Lagian papa kenapa sih, kenapa harus laki-laki yang biasa saja seperti ini yang dia pilihkan untuk Nayla? Astagaaa. Nayla


Bukan Reyhan yang tidak sanggup membuat rumah yang lebih bagus. Hanya saja, saat itu Reyhan lebih fokus ke fungsinya dari pada hanya memikirkan modelnya saja.


Rumah itu bukan hanya dirinya saja yang menempati. Ada banyak anak anak bernasip malang yang mendapatkan kehangatan keluarga dan tempat tinggal didalamnya.


Jeni, Angga, Roni, Rista, Afif, Janu, Candra dan Naura.


Senyum mereka yang menjadi penyemangat Reyhan dalam masa-masa sulitnya.


"Ayoo turun"


Seru Reyhan sambil berusaha membuka ikatan sabuk pengaman.


"Itu bener rumah kamu?"


Enggan beranjak dari tempat duduknya. Nayla masih merasa tak habis pikir dengan laki-laki disampingnya itu. Laki-laki pilihan papa nya.


Dia begitu sederhana. Sangat berbeda jauh dari Satya.


Satyaa... sedang apa dia sekarang?


"Kenapa? Ayooo cepat turun.!!"


Membantu Nayla melepaskan tali pengamannya. Reyhan tau apa yang ada di dalam pikiran Nayla. Dia hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Nayla keluar dari mobil dan berjalan disamping Reyhan dengan malas. Entah perasaan asing apa yang ada dihatinya.


Dia terhentak ketika sebuah tangan kekar menggandengnya mengajak berjalan bersama menuju rumah itu.

__ADS_1


"Jangan lihat luarnya. Kamu belum tahu saja kehangatan yang tercipta didalamnya."


Rumah itu, sebenarnya juga tidak terlalu buruk. Sederhana dan memang sengaja dibuat model modern semi klasik.


Hanya saja, Nayla sudah terbiasa tinggal dirumah mewah bak istana. Makanya, dia merasa asing dengan rumah suaminya.


"Rey, setelah menikah kita akan tinggal dirumah Papa kan?"


Reyhan enggan menjawab. Dia memutar gagang pintu dan membukanya.


Berjalan masuk beberapa langkah hingga dia berdiri didepan pintu kamarnya.


"Disini ini kamar kita"


Haa?


Ini serius kamarnya didepan begini. Kalau kamarnya didepan trus dimana ruang tamunya dong?


Tuh, aneh kan?


"Serius kamarnya didepan begini Rey?"


Belum sempat Reyhan menjawab seorang perempuan yang lebih tua dari nya menghampiri dan menyapa mereka.


"Eh, mas Rey sudah pulang? Wah ini to istrinya Mas? Cantik banget..."


Ini siapa lagi?


Kenapa manggilnya Mas? Dia kan lebih tua dari Reyhan? Gak mungkin dia adiknya kan?


Nayla tersenyum kikuk.


"Eh iya mbak.. ini kenalin istrinya Reyhan, Namanya Nayla."


Reyhan tersenyum manis kearah Nayla. Pesonanya lagi-lagi memaksa Nayla untuk mengaguminya meski hanya beberapa detik.


Nayla hanya tersenyum menanggapinya. Tangannya terulur kedepan memperkenalkan diri...


"Nayla ..."


"Panggil saja mbak Nana...."


Perempuan bernama mbak Nana itu membalas uluran tangan Nayla. Sebagai tanda perkenalan mereka.


"Jangan sungkan-sungkan minta tolong mbak Nana ya kalau Mbak Nayla butuh bantuan disini."


"Terimakasih...." Jawab Nayla mengangguk sopan.


"Oiyaaa mbak, anak - anak sudah pulang?" Tanya Reyhan.


"Rombongannya Angga belum mas.. Mungkin sebentar lagi....."


Jawab Mbak Nana melirik jam dinding.


"Yaudah, Nanti kalau mereka sudah pulang tolong suruh ngumpul ditempat makan ya mbak.. Nih Mama Baru mau tak suruh kenalan. sekalian kita makan siang bersama.


Sekarang mama baru nya mau istirahat dulu."


Seru Reyhan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Tersenyum menyeringai saat menatap wajah Nayla yang entah sulit dijabarkan.

__ADS_1


Tawa Mbak Nana pecah. Menanggapi keisengan boss nya itu.


"Mas Reyhan ini ada ada saja..."


__ADS_2