Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Hobi Lama


__ADS_3

"Brengs*k...!"


Mengumpat keras, sambil meninju samsak gantung yang terdapat ditaman belakang rumah Joan, Satya melampiaskan emosinya.


"Berani-beraninya kamu Nay, menikah diam-diam..!"


Bugh.. bugh.. bugh..


Keringat mengucur deras, membasahi ujung pelipis matanya. "Jangan harap semudah itu bisa lari"


Bugh


Emosi masih merajai jiwanya. Rasa marah, rasa kecewa, rasa dikhianati, dan rasa tidak terima bercampur jadi satu. Menjadi bahan bakar yang bagus, untuk membakar akal sehatnya sampai hangus tak bersisa.


"Yaudah lah, semua sudah terjadi.. Lo yang sabar aja Sat, terima aja..." Ujar Joan, berniat menenangkan.


"Diam lo..." Satya membentak.


Membuat sahabatnya itu bergumam kesal. Yaelah, ini kan rumah gue.


Joan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki itu menerka-nerka apa yang selanjutnya akan terjadi. Sesuatu yang sudah lama mati, sepertinya akan hidup lagi.


Jiwa yang telah lama berubah, terkekang ramah dalam sangkar emas bernama cinta, sepertinya akan pulih sewujud aslinya, kembali bebas kebentuk semula.


Satya. Jati dirinya yang lama pasti akan kembali sebentar lagi.


"Trus, mau sampai kapan lo kayak gini?" Tanya Joan, sedikit khawatir.


Bugh.. bugh..


"Aku pastikan, lelaki itu akan menyesal sudah merebut milikku."


Bugh...


Pukulan terakhir yang Satya layangkan dengan sepenuh tenaganya. Melepas semua emosi yang sejak tadi terkumpul di ubun-ubun kepalanya.


Dengan langkah gontai tanpa semangat, Satya berjalan. Mendekat ke arah Joan, dan duduk disebelahnya.


"Nih, minum dulu." Ucap Joan sambil menyodorkan segelas air dingin bersoda. "Lo jangan kayak gini, bener kata Andi. Lo sekarang udah punya Nina Men... Inget!"


Satya menerima gelas itu. Dan meneguk isinya sampai habis. "Bodo amat, gue gak cinta sama Nina."


"Oke, tapi se-enggaknya, pikirin calon anak lo, Apes banget dia punya bokap kayak lo"


Deru nafasnya terengah-engah. Kilatan amarah masih terpancar jelas dari sorot matanya. Sulutan emosi belum sedikit pun reda. Joan bisa merasakan itu.


Saat hawa panas masih menyelingkupi mereka.


"Telfon Andi. Kita ke Red Devil's sekarang.!"


"What?" Joan menganga. Baru saja ia menerka-nerka, sekarang dugaannya semakin jelas terpampang nyata. Satya yang lama sudah kembali. Kembali karena luka dari cinta, yang membuat jiwa lamanya selama ini bersembunyi. Meski hanya sementara.


"Ngapain?"


"Kartu ke anggotaan gue masih hidup. Kita bersenang-senang malam ini. Gue butuh Maureen."


Joan tahu betul maksud dari kata-kata bersenang-senang yang keluar bebas dari mulut Satya. "Gila ya lo, lo udah punya Nina. Inget brooo.."


"Bodo amat"


"Lagian, itu kartu seharusnya sudah diblacklist kan? Sudah dua tahun lebih elo nggak kesana. Kok bisa masih aktif?"

__ADS_1


Satya menyeringai. "Sudahlah, telfon saja Andi"


"Jangan-jangan, selama ini lo masih..." Joan tidak meneruskan ucapannya. "Iya kan? Wah gila nih anak. Gue pikir lo beneran berubah selama pacaran sama Nayla, nggak tau nya... Tertipu gue, anj*ng...


Gila gilaa"


"Telfon Andi sekarang. Atau lo nggak usah ikut.?" Tanya Satya disertai geraman amarah. Joan benar-benar menarik ulur emosinya.


"Ya kali gak ikut. Siapa yang nggak mau diajak enak-enak." Joan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Gue telfon sekarang."


"Gue cuci muka dulu."


Satya beranjak. Masuk kekamar mandi rumah Joan, yang sudah seperti rumahnya sendiri. Sebelumnya, Satya masuk ke kamar Joan terlebih dahulu, mengambil kaos berwarna hitam, serta celana jeans pendek selutut berwarna ice blue.


Berdiri didepan cermin, setelah mengganti bajunya yang kotor oleh keringat dengan baju milik Joan yang baru ia ambil, sekarang Satya tengah merapikan tatanan rambutnya.


"Kamu benar-benar membuat kendali diriku runtuh Nayla. Lihat saja, aku mungkin akan membiarkanmu tenang untuk beberapa hari. Setelahnya, aku pastikan sesuatu yang akan aku perbuat membuatmu mau tidak mau, pasti kembali memilihku. Dan meninggalkan suami kepar*tmu itu."


Lelaki itu berbicara sendiri didepan cermin. Dan sesekali tertawa keras sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kamu adalah milikku Nay. Tidak boleh seorangpun menyentuhmu. Selain aku.


Akan ku hancurkan siapa saja yang berani memisahkan kita. Termasuk, papa mu sekalipun.


Haha Nayla.. aku memberimu cinta yang tiada tara, tapi kamu sendiri yang menghancurkannya. Bukan kamu. Tapi, mereka mengendalikan mu sampai tega menghancurkanku. Brengs*k"


Satya membasuh mukanya. Ia mengakhiri umpatannya dengan keluar dari kamar mandi. Dan menuju ruang tamu, menghampiri Joan yang sudah menunggunya.


"Eh, baju siapa yang lo pakai? Sembarangan..."


Satya melirik sinis. Enggan menjawab perkataan Joan. Ia melemparkan kunci mobil ditangannya ke arah sahabatnya dengan keras.


"Lo yang nyetir..!"


Joan berdiri. Berjalan cepat mendahului Satya.


***


"Satya..." Seorang perempuan seksi berlari menghampirinya. Tepat saat kaki Satya melangkah masuk melewati pintu. "Akhirnya datang juga.."


Perempuan itu bergelanyut manja dilengan Satya. Membuat Satya tersenyum senang. "Kau seksi sekali Mau..."


Mata Satya tak lepas dari buah dada yang belahannya terlihat jelas. Tangannya sudah berada didepan buah dada Maureen, tidak sanggup jika harus menunggu dan menahannya sampai nanti.


"Auww." Maureen meringis saat Satya meremasnya. "Jangan disini dong.. ini masih didepan pintu loh..."


Satya terkekeh. "Milikmu besar, menantang. Kau seksi sekali.."


"Milikmu juga." Maureen mengerlingkan sebelah matanya. Sambil berjalan mundur didepan Satya, Maureen menghadiahi Satya kecupan singkat dibibir lelaki itu. "Aku gak pakek BRA loh.. mau langsung aja?"


"Kau memang yang paling bisa memuaskan ku. Dimana boss mu? biar aku ber-negoisasi dulu.."


"Mari ku antar... Ah, terimakasih Satya.."


Wanita itu masih bergelanyut manja dilengan Satya. Ia berteriak senang. Hari masih sore, dan dia sudah mendapatkan tamunya. Itu berarti dia akan istirahat cepat malam ini.


Mengabaikan hingar bingar manusia yang sedang berjoget ria, diiringi alunan musik yang keras menggema. Masih belum terlalu banyak pengunjung.


"Kau sendirian.?"


"Bertiga dong.. Andi belum datang, Joan sudah duluan masuk.."

__ADS_1


Hingga sampailah Maureen dan Satya didepan pintu masuk sebuah ruangan. "Silahkan masuk, aku tunggu di kamarku ya? Masih hafal kan? Jangan salah masuk..."


Satya terkekeh lagi. "Jangan kekamar dulu Mau, temani aku minum. Gak mabuk gak asik.."


Maureen memutar bola matanya malas. Sudah puluhan kali ia melayani nafsu lelaki ini, sampai hafal. Satya selalu kasar, terlebih saat dalam pengaruh alkohol. Dan itu membuatnya tak suka, bahkan sampai kesakitan berjalan esok hari.


Tapi ia bisa apa? Ini kan memang pekerjaannya.?


"Baiklah, aku tunggu dimeja 36"


Maureen melangkah pergi, saat tubuh Satya sepenuhnya masuk keruangan atasannya. Wanita itu melangkah menuju meja nomor 36. Meja disudut ruangan yang biasa Satya tempati bersama dua temannya.


"Hay Joan.." Sapa Maureen. Wanita itu mendekat dan mencium bibir Joan.


"Sudah ketemu Satya?" Tanya Joan.


"Sudah, dia lagi diruangan boss..."


Joan membulatkan matanya. "Wow, gercep banget."


"Iya dong.. kalau ada aku, dia mana mau sama yang lain?" Jawab Maureen bangga. Lalu dia beralih menatap salah satu temannya yang sedari tadi sedang bergelanyut manja dilengan Joan.


"Bell, rayu nih kutu. Puaskan dia malam ini.. Aku jamin kamu bakalan ketagihan."


Namanya Bella. Wanita baru di club Red Devil's yang baru bekerja beberapa bulan. Berbeda dengan Maureen yang sudah mengenal Red Devil's lima tahun lalu. Sejak ia kelas satu SMA.


Bella meringis. Memainkan jari jemari lentiknya dibibir Joan. "Siap kak.."


"Andi belum nyampek?" Tanya Satya yang baru saja bergabung. Ia duduk disofa, lalu menepuk pahanya dan menyuruh Maureen duduk diatas pangkuannya.


"Belum" Jawab Joan se-enaknya. "Lo udah urusin sekalian gue kan?"


"Iya.."


"Yaudah, gue duluan aja sama Bella... ga tahan kalau kelamaan, lagian sayang wanita cantik dianggurin lama-lama"


"Terserah." Jawab Satya singkat. Selanjutnya, lelaki itu langsung ******* bibir Maureen yang sejak tadi sudah menggoda diatas pangkuannya.


Meminum minuman keras sampai mabuk, sambil bermesraan dengan wanita malam bernama Maureen, adalah hobi Satya sejak lama, yang sempat ia tahan, demi Nayla. Tapi sekarang...


"Arghh... Naylaa..." racau Satya yang mulai hilang akal.


"Kau sudah mabuk Satya..." Maureen memeriksa. "Mau sekarang aja?"


Setengah sadar, Satya mengangguk. "Kekamar yukk.. bawain tiga botol lagi."


Maureen mengangguk pasrah. Malam ini ia harus bersiap dengan tenaganya.


Seperti malam-malam yang sudah ia lalu bersama Satya, ia jamin, lelaki itu akan memperlakukannya dengan kasar. Lagi.


Tapi, itu tidak penting. Karena selain mendapatkan uang, sebenarnya Maureen memang rela melayani Satya karena ia menyimpan perasaan cinta.


Satya adalah lelaki pertama yang menyentuhnya ditempat ini. Sekalipun ia datang dalam keadaan sudah tidak perawan lagi.


"Baiklah, kamu duluan ke kamar. Aku ambil satu botol lagi di barr.. kamu masih hafal kan sama kamarku?"


Satya mengangguk. "Masih, jangan lama-lama."


***


Aku lagi pening gaes..

__ADS_1


Sistem sekolah dari rumah membuatku pusing.. Tugasnya banyaaakkkk bangeett ya Tuhan..


Maap ya updatenya lama,. 😭


__ADS_2