
Peak House Royal Elite, Meilam
Perumahan kecil milik Reyhan sangat asri. Banyak pohon-pohon tumbuh dan berkembang dengan apik, dan subur. Didepan gerbang masuk area perumahan tadi, ada banyak sekali macam-macam bunga dengan warna yang berbeda. Seperti menyambut dan memberi salam kedatangan.
Sedikit gambaran.
Bangunan yang Nayla tempati sekarang ini, berada jauh dari keramaian. Terdiri dari dua lantai, dimana lantai bawah hanya ada dapur, satu kamar mandi, ruang tamu dan satu kamar tidur. Sedangkan lantai atas berisi tiga ruang kamar. Salah satu diantaranya kamar Reyhan, satu kamar lagi adalah ruang kerjanya.
Sedangkan kamar yang lainnya,..
Entahlah, mungkin kosong.
Peak House Meilam berada jauh dari pusat kegiatan pemerintahan.
Dan termasuk salah satu perumahan elit khas negara Hongkong.
"Kau suka?" Reyhan membawa Nayla duduk di sofa. Sofa minimalis berwarna abu tua, yang berada di ruang tamu.
"Suka..." Nayla mengangguk. "Cukup nyaman Rey, hanya saja kecil ya?"
Reyhan tersenyum, membelai rambut Nayla dengan tangannya. "Ukuran segini di negara ini sudah termasuk besar Nay, jangan disamakan dong sama rumah papa di Indonesia."
"Iya-iya..." Meringis, kemudian Nayla meraba saku di bajunya, sambil mengambil benda pipih yang sempat Reyhan titipkan kepadanya tadi sebelum mereka meninggalkan hotel. "Ini flashdisk nya, katanya mau kamu periksa setelah sampai disini"
Lelaki itu menerimanya. Tersenyum menampilkan dua lesung pipinya yang menawan. "Aku ke ruang kerja ku dulu ya, kamu masuk ke kamar. Istirahat."
"Kamu selesaikan saja urusan mu, aku masih ingin melihat-lihat sekitaran sini"
"Baiklah," Dikecupnya kening Nayla dengan sayang. Sebelum Reyhan beranjak naik ke lantai dua. "Jangan jauh-jauh, sekitaran sini saja."
Nayla mengangguk. Kemudian ia membuka pintu utama. Pintu otomatis yang bisa dibuka dengan sidik jari.
Didepan rumahnya, ada taman kecil. Ditengah taman ada kursi dan meja nya. Semua nampak bersih dan terawat. Meskipun, Reyhan sangat jarang menempati rumah ini.
Perempuan bertubuh jenjang itu duduk disalah satu kursi yang berada di taman. Mengeluarkan ponselnya sambil berselfie ria. Nayla juga beberapa kali mengambil gambar pada bunga-bunga indah yang bermekaran. Mengabadikannya dalam gawai dan berfikir akan membagikannya di laman media sosial miliknya.
Nanti, kalau dia sudah bisa mengakses internet lagi.
Bunga-bunga yang indah itu membuat Nayla kagum.
Sepertinya, Linda sang asisten rumah tangga itu menjaganya dengan sungguh-sungguh. Walaupun selama ini, dia ditinggal sendirian menjaga rumah Reyhan.
Sementara diruang kerja,
Reyhan dengan wajah memerah menahan segala gejolak amarah yang ia tahan. Sendirian.
Saat matanya terpaku pada video yang terputar dilaptopnya, saat itu juga hujaman pisau menusuk hatinya.
Semakin lama durasi video itu terputar, semakin banyak pula pisau transparan yang memporak-porandakan perasaannya.
Nina benar,
__ADS_1
Video yang Nina tunjukkan sangat mempengaruhi perasaannya saat ini. Hatinya terasa begitu nyeri.
Flashdisk itu berisi video intim antara Nayla dan Satya, dulu dihotel Nuansa.
Sialan ! Umpatnya dalam hati.
Dadanya bergemuruh hebat. Rasanya, dunia Reyhan runtuh seketika.
Video hubungan badan antara Nayla dan Satya membuat hatinya seperti teriris-iris oleh belati yang tajam. Menghunus tepat dibagian jantungnya.
Bagiamana bisa Reyhan bersikap biasa saja? Nayla adalah istrinya, hanya dia yang berhak atas tubuh dan jiwa perempuan itu.
Sudut hatinya terasa sangat nyeri. Reyhan bahkan tidak bisa berfikir jernih saat ini.
Reyhan mencintai Nayla. Sangat.
Nayla bukan hanya sebagai seorang istri yang harus ia lindungi. Jauh lebih dari itu, Nayla adalah seorang wanita yang ia cintai.
Tidak seharusnya ia melihat ini. Dan, ya Tuhan... Nayla! Apa yang sudah gadis itu lakukan?
Kenapa didalam video ia mirip wanita malam seperti itu.?
Bahkan, dari video yang tanpa suara itu Reyhan tahu, Nayla yang memulai. Nayla yang menginginkan hubungan terlarang itu lebih dulu.
Astaga.!
Mendadak kepalanya terasa sangat berat. Urat-urat dan pembuluh darah tampak sangat menonjol didahinya, Pun dengan peluh, yang keluar dari keningnya.
Reyhan tidak terima. Tapi apa yang harus ia lakukan?
Sedangkan Reyhan sendiri tahu, kapan adegan itu terjadi.
"Nayla.." Gumamnya lirih. Seiring dengan kristal bening yang lolos keluar dari sudut matanya.
Disembunyikannya wajah yang setiap hari tampak tampan itu dibalik telapak tangannya sendiri.
Reyhan tampak seperti lelaki yang menyedihkan.
Apa yang terjadi? kenapa Reyhan menjadi lemah seperti itu?
Berkali-kali ia meraup banyak oksigen dengan mulutnya, berkali-kali juga Reyhan mengusap tetesan air mata yang jatuh dengan ujung ibu jari tangan kanannya.
Sambil menahan sekuat mungkin agar bulir air mata yang jatuh tidak semakin tumpah.
Setelah perasaannya sedikit tenang, Reyhan membuka ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo.." Suara dari seberang ponsel.
"Selamat pagi pak Bagas.."
"Selamat pagi kembali pak Reyhan. Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu.?"
__ADS_1
"Ini berkaitan dengan media sosial seseorang yang kemarin. Bisa kah saya meminta kendali penuh atas media sosial orang itu? Saya membutuhkannya. Dan ini sangat penting"
"Tentu saja. Saya akan menghubungi bagian personalita jaringan. Secepatnya saya akan kirimkan ke alamat email pak Reyhan."
"Terimakasih pak Bagas. Selamat beraktifitas"
Lelaki bertubuh atletis itu kembali memasukkan gawai ke dalam saku. Reyhan berjalan kearah dinding kaca. Dari ruang kerjanya, ia bisa melihat Nayla yang tengah berbincang dengan Linda di taman.
"Nayla, bagaimana aku harus menghadapi mu nanti?"
Kalau kenyataannya, setiap melihat Nayla rasa aneh dalam dirinya muncul. Ia ingin membersihkan Nayla dari bekas sentuhan lelaki itu.
Dari dinding kacanya, Reyhan melihat Nayla yang tergopoh-gopoh berjalan masuk ke rumah. Tapi, Reyhan bergeming. Lelaki itu tetap pada posisinya semula.
Samar-samar, ia mendengar langkah kaki yang mendekat. Dan berhenti didepan ruang kerjanya.
Tok tok tok. Suara ketukan pintu membuat dahi Reyhan berkerut.
"Masuk." Serunya.
Nayla hanya menyembulkan kepalanya sedikit. Gadis itu enggan masuk. Ia hanya berbicara seperlunya.
"Reyhan, ada yang ingin aku bicara kan. Aku tunggu dikamar"
Pintu tertutup lagi dengan keras. Tapi Reyhan tak peduli.
Yang ia pikirkan saat ini adalah, apa yang akan Nayla bicarakan? Bagaimana Reyhan harus menemui Nayla.?
Bagaimana kalau, Reyhan lepas kendali pada perempuan itu?
Sejujurnya, perasaan Reyhan belum sepenuhnya tenang.
Sembari mengusap wajahnya kasar, Reyhan berjalan ke arah kamar mandi ruangan itu. Membasuh mukanya di wastafel, sebelum akhirnya, ia keluar pintu dan menemui Nayla dikamarnya.
"Ada apa?" Tanyanya. Dia berdiri tepat dibelakang pintu yang tertutup. Diam mematung disana karena Reyhan merasa canggung. Seperti ada beton yang menghalangi kakinya untuk berjalan mendekati Nayla yang tengah berdiri membelakanginya disamping ranjang.
"Rey,.." Nayla membalikkan badan. Nayla dengan ponsel di genggamannya berjalan mendekat ke arah Reyhan. "Lihat ini..."
Oh, jantung Reyhan seakan berdegub dengan kencang saat Nayla ingin menunjukkan sesuatu di ponselnya. Berita skandal tentang gadis itu dan Satya yang sengaja Reyhan sembunyikan dari Nayla, apa perempuan itu sudah mengetahuinya?
Tolong, jangan sekarang. Reyhan masih punya rencana besar untuk melindungi pernikahannya.
"Apa?" Tanya Reyhan lagi dengan gugup. Membuat mata Nayla yang sudah berkaca-kaca mendadak memicing penuh curiga.
Reyhan mengambil ponsel Nayla, seketika perasaannya menjadi lega. Karena yang Nayla tunjukkan bukan berita itu. Hanya foto Reyhan yang duduk di kursi berdua dengan Nina.
Ha?
Eh, Apa?
Foto Reyhan dan Nina?
__ADS_1
Astaga, masalah baru apalagi ini?
"Nay, aku bisa jelasin."