
"Rey, ayolah.. Berdamai saja dengan ku"
Nayla masih merayu sambil mengguncang pelan bahu Reyhan supaya dia tidak mengabaikannya.
"Aku akan mengatakan padamu... Ayoo duduklah."
Seru Nayla semakin memperkeras goncangan tangannya dibahu Reyhan.
"Kalau tidak mau mengatakan dan memilih mandi juga tidak masalah kok.. Aku tidak mau memaksamu"
Tersenyum mengejek.
Itu namanya kau menang banyak Reyhan suamikuuuuuu. Kau mau mencari kesempatan dalam kesempitan kan.? Mengintipku saat mandi?
Menyebalkan sekali.
Lagian siapa sih yang memilihkan kamar ini.? Gak lihat apa kamar mandinya tidak layak pakai seperti itu?
"Rey, oh ayolaahh...Ini hari pertama kita kan? Tolong berdamailah saja dengan ku ya?"
"Baiklah"
Nayla bernafas lega akhirnya rayuannya tidak sia-sia.
Memang siapa yang sanggup mengabaikan rayuanku? Haha
Terimakasih, akhirnya kau mau mengerti juga.
"Tapi ada syaratnya ya Nay"
"Apa?"
Nayla mendelik tak percaya. Kenapa laki-laki ini ada ada saja sih.
Kutarik ucapan terimakasih ku. Kenapa sulit sekali bernegoisasi dengan mu hah?
"Jangan mengumpat didalam hati..! Kau mau apa tidak menerima syaratnya?"
Reyhan terkekeh.
"Kalau kamu tidak mau, yaudah mandi sana"
"Yaudah apa syaratnya? Jangan aneh-aneh ya..?"
Kata Nayla menyerah.
__ADS_1
Kalaupun aku masih meladenimu, mau sampai siang juga kau akan berdebat denganku kan?
Kau pasti senang mengerjaiku begitu.!
Dengan semangat Reyhan beranjak dari tidurnya dan kini duduk berhadapan dengan Nayla diatas ranjang tidur mereka.
Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Nayla.
Sedangkan matanya, menatap manik mata bernetra hitam bulat itu.
Mirip mata nya Naura.
"Katakan dulu, apa yang membuat mu berteriak tadi? Kau mengagetkanku saja."
"Rey.. tadi aku lupaa..."
Nayla sengaja memberi jeda pada kata-katanya. Nayla sendiri merasa kikuk ditatap lekat oleh sorot mata tajam milik Reyhan.
"Tapi... kamu jangan tertawa ya?"
Suara yang dibuat semanja mungkin demi untuk selamat dari ejekan suaminya.
"Hmmm.. ayo katakan!"
"Aku terkejut ada laki-laki disamping tempatku tidur. Aku lupa kalau sudah punya suami Rey"
Reyhan tertawa keras menggema diseluruh kamar hotelnya.
Sudah lihat kan?
Dia beneran menertawaiku dengan puas! Kenapa manusia ini menyebalkan sekali . Dimana sikap sopan dan acuhnya selama ini?
Astagaa....
Untung saja kamar ini kedap suara.
"Sudah yaa.. kamu keluar kamar sebentar, biarkan aku mandi"
Nayla berjalan dan hendak menarik Reyhan agar bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamar nya sebentar.
"Hey, kamu mau pura-pura lupa.? Duduk sini!"
Astagaaa.. orang ini gak bisa apa dibodohi sedikit saja?
"Ayoo duduk sini.. Jangan mencoba membodohi ku ya? Sini, kutunjukkan syaratnya"
__ADS_1
Nayla mendelik tidak percaya.
Tidak mungkin kan dia bisa membaca pikiranku?
Jadi kenapa dia bisa tau begitu?
"Jangan melotot begitu mata nya. Cepat kesini."
Dengan langkah malas Nayla kembali duduk didepan Reyhan diatas ranjang tidur mereka.
Wajahnya ditekuk masam. Pagi yang menyebalkan.
"Cepat, kasih tau aku apa maumu Rey..."
"Cium aku"
"Apa?"
Hah? Menyuruhku menciumnya?
Sudah gila ya? Ya memang sih dia suamiku. Tapi kan
"Rey, ayolah... jangan bercanda.!
Bukannya kamu dulu sangat acuh kan sama cewek? Kenapa sekarang menyebalkan begini?"
Tanya Nayla tanpa sadar.
"Hey, aku ini suami mu... Bukannya aku sudah berbaik hati menunggumu sampai kau mencintaiku? Yaudah sana, silahkan mandi."
Reyhan berjalan dengan jengkel dan segera beranjak menuju keluar pintu.
"Rey tunggu...."
Berlari menghadang jalan Reyhan. Dan ....
Cup...
Satu kecupan mendarat mulus dipipi kiri Reyhan. Membuat laki-laki itu sedikit terkejut.
Sedangkan tersangkanya, menunduk malu menahan pipi yang bersemu.
"Terimakasihhh..."
Ucap Reyhan mendongakkan dagu Nayla. Kemudian dia mencium kening Nayla. Menahannya beberapa detik.
__ADS_1
"Sekarang mandilah..."
Ucapnya sambil tersenyum membuat Nayla bernafas lega.