
Hari demi hari berlalu begitu saja. Sebagai mana mestinya. Pun dengan dunia yang fana dan selalu berhasil menggoda.
Jika tahta masih menunjukkan kekuasaannya, jika harta masih menunjukkan kekuatannya, dan jika paras masih menunjukkan kecantikannya. Lantas bagaimana bisa manusia akan dengan mudah berpaling dari dunia dan pesonanya?
Bahkan sampai sekarang dunia yang fana masih suka terbar pesona. Mengerlingkan mata untuk menipu jiwa, tersenyum indah untuk melebur sukma, dan masih juga menyentuh rasa untuk menyesakkan dada.
Benar, dunia masih menang dalam segala urusannya.
Disini Nayla sekarang. Rumah bergaya klasik semi modern yang kala itu masih tahap pembangunan untuk bagian lantai dua, sekarang sudah sembilan puluh persen hampir selesai. Sudah jauh berbeda dari pertama kali Nayla menginjakkan kakinya disini.
Lantai dua yang didominasi dengan warna putih itu terdiri dari banyak kamar. Sekitar kurang lebih sebelas kamar. Meskipun kamar-kamar itu tidak berukuran terlalu besar namun cukup luas untuk disebut sebagai ruang tidur.
Satu kamar paling besar dengan ukuran hampir tiga kali lipat dari kamar lainnya berada ditengah-tengahnya. Sedangkan lima kamar dilorong sisi kiri, dan lima lagi disisi kanan.
Rencananya, semua anak-anak itu akan Reyhan boyong ke atas. Menempati kamar-kamarnya sendiri. Sedangkan kamar yang paling tengah akan Reyhan gunakan untuk kamarnya dan Nayla.
Setelah lantai dua seratus persen siap dihuni, Katanya, Reyhan juga punya rencana untuk merenovasi lantai satu. Bukan merubah semuanya, hanya memperbarui saja beberapa bagian.
Kamar didepan pintu masuk paling depan yang dulu menjadi kamarnya, akan dialih fungsikan untuk kamar Mbak Nana, sedangkan laki-laki paruh baya yang kini Nayla panggil dengan sebutan Pak Man itu akan menempati ruang tidur lantai satu bagian belakang.
Segala yang Reyhan rencanakan sudah pasti dia pikirkan dengan matang sebelumnya. Dengan pertimbangan yang benar berdasarkan tujuan serta keamanannya.
Sebagai contoh, Mbak Nana yang mendapat kamar didekat pintu depan itu Reyhan maksudkan agar perempuan itu bisa mengawasi keluar masuknya anak-anak mereka. Jam berapa mereka pergi dan jam berapa mereka harus kembali, selain itu siapa saja yang anak-anak mereka bawa masuk bermain kerumah Reyhan.
Pun dengan Pak Man yang mendapat kamar bagian belakang, lelaki paruh baya itu yang nanti akan mengawasi keluar masuknya anak-anak dari pintu belakang. Tugasnya sama dengan Mbak Nana, hanya bagian tempatnya saja yang berbeda.
Sedangkan dibagian lantai dua, rencananya Reyhan akan menempatkan anak laki-laki disisi kiri dan anak perempuan disisi kanan. Lalu ditengahnya adalah kamar milik Reyhan, itu bertujuan agar Reyhan lebih mudah memantau kegiatan malam mereka. Agar tidak akan terjadi hal-hal yang tidak Reyhan inginkan. Ya bagaimanapun, mereka tinggal diatap yang sama sekalipun tidak memiliki hubungan sedarah. Reyhan juga harus berjaga-jaga kan untuk kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi?
Lambat laun, mereka akan menjadi dewasa. Bukan tidak mungkin jika mereka mengenal yang nama nya cinta. Bahkan bisa saja cinta itu tumbuh subur dirumah miliknya. Bisa jadi diantara mereka diam-diam sudah ada yang saling jatuh cinta. Ah membanyangkannya membuat Reyhan takut kalau dia kecolongan.
Karena itulah, Reyhan akan membimbing mereka. Jika benar cinta tumbuh diantara mereka, setidaknya masih dibatas jalur yang benar.
Bukan karena ia mengekang anak-anaknya, hanya saja sebagai orang yang sudah mengambil alih tanggung jawab orang tua dari delapan anak itu, Reyhan sedang berusaha memberikan yang terbaik. Kasih sayang yang cukup, tempat tinggal yang nyaman dan juga perhatian yang tak akan kurang.
Nayla tersenyum tipis ditempatnya sambil mengingat bagaimana semalam Reyhan menjelaskannya secara rinci tentang rumahnya ini. Suaminya itu begitu detail.
Dibalik sikapnya yang santai, ternyata dia cukup teliti.
Hidup semakin lama bersama Reyhan, bukan sikap buruknya yang semakin Nayla ketahui. Justru Nayla menemukan alasan lebih banyak lagi bagaimana sosok Reyhan sebagai suaminya itu pantas untuk dikagumi.
Sedangkan dirinya?
__ADS_1
Lantas apa yang membuat Reyhan begitu memperlakukan aku dengan baik.? Apa yang dia lihat dari sosok sepertiku? Apa karena dia sungguh-sungguh mencintaiku?
Aku belum terlalu percaya diri untuk itu...
bisa jadi Reyhan bersikap baik karena aku adalah istrinya.. ya itulah yang benar.!
Dan kata-kata cinta itu adalah formalitas sebagai bentuk kewajiban suami kepada istri.
***
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Nayla berjalan santai ke dapur. Kegiatan yang sudah beberapa hari ini dia lakukan selama tinggal dirumah suaminya dijam segini adalah membantu Mbak Nana memasak. Meskipun dia tidak mahir-mahir banget, masih amatiran, setidaknya Nayla sudah berusaha. Sekalian mengakrabkan diri.
"Mbak Nana mau masak apa?"
Tanyanya sambil melihat-lihat bahan yang sudah disiapkan. Ada terong yang sudah dipotong-potong, ada tomat yang sudah dirajang halus, beberapa butir cabai, Juga ada bawang merah bawang putih yang sudah dikupas.
"Biar ku tebak, masak oseng terong sambal tomat kan ?"
"Haha, tau aja mbak, iyaa kemaren Rista bilang lagi kepingin makan oseng terong buatan saya..
Katanya sih kangen, sudah lama juga gak bikin oseng terong. Baru sempetnya hari ini.."
"Ooh gitu, tapi aku bantuin ya Mbak... Selain oseng terong masak apa lagi mbak? biar aku yang mengolah menu lainnya"
Konyol memang. Dulu saat dirumahnya sendiri, Nayla bahkan sangat jarang masuk area dapur. Sekarang saat dirumah suaminya, justru tangannya gatal kalau mencium aroma-aroma makanan sedangkan tangannya tidak bergerak.
"Ada empat menu sih mbak buat nanti malam, ada tumis terong, oseng kangkung, ungkep ayam sama goreng telur. Gimana kalau tumis terong sama ungkep ayamnya biar urusan saya.." Jawab Mbak Nana berusaha mencari jalan tengah. "Kamu goreng telur aja ya mbak? Tuh disana telurnya sudah ada sekalian sama daun bawang nya.."
Nayla menoleh mengikuti arah tangan Mbak Nana. Benar, disana sudah ada telur dan daun bawang yang sudah di cincang halus. Mata Nayla berbinar melihatnya.
Ah kenapa dia bersemangat sekali ya kalau berada dirumah ini?
Goreng telur kan? Gampang, Nayla bisa kok kalau cuma goreng telur.
Lalu Mbak Nana meneruskan kalimatnya.
"Sama tumis kangkung bisa nggak?"
La ini yang susah...
Nayla menyengir kuda. "Haha, aku coba deh mbak, gak papa sekalian belajar... tapi buatkan bumbunya ya,"
__ADS_1
"Oke Nyonyaaa..." Canda Mbak Nana disertai tawanya yang pecah.
Memasak dimulai.
Tangan Nayla bergerak lihai memakai apron. Kemudian dia mengambil satu mangkok yang berukuran setengah besar, lalu memecahkan butir demi butir telur ke dalamnya. Sebelum mengaduknya, Nayla menambahkan penyedap rasa dengan ciri khas bungkus warna merah, sedikit garam dan sejimpit bubuk lada. Baru setelah itu Nayla mengaduknya dengan supit sampai merata.
Eits. Jangan lupa tambahkan daun bawang tadi ya sebelum digoreng.!
Ngomong-ngomong soal telur, Nayla jadi ingat dulu saat dia masih kecil. Masih Sekolah Dasar. Hampir setiap pagi sarapanya adalah telur goreng dengan daun bawang yang banyak, serta ditambah kecap manis diatasnya nasi. Dan anehnya, bibir Nayla sama sekali gak pernah bosen dengan makanan yang itu itu aja. Padahal hampir setiap hari loh..
Apalagi dimakan dengan nasi yang masih panas. Ya Tuhan, rasanya mengalahkan masakan restoran dihotel bintang lima. Rasanya mau lagi dan lagi.
Termasuk makanan yang umum sih sebenarnya, semua orang indonesia pasti juga suka. Kecuali yang anti telur yaa....
Bukan cuma itu, dulu banget
Saat Nayla masih kecil, Mama Riana sangat telaten menyuapinya setiap pagi sebelum Nayla berangkat sekolah. Sambil mengomel-ngomel tidak jelas ala emak-emak, karena Nayla kecil yang kebingungan mencari pasangan kaos kakinya.
Biasalah anak kecil lupa naruh...
Makanya, setiap pulang sekolah itu kaos kaki ditaruh ditempatnya... biar pagi harinya gak kelimpungan Nay...
Pokoknya, kalau sarapannya gak habis gak tak kasih uang saku lo
Nayla tersenyum masam mengingatnya.
Ahh, Nayla jadi kangen Mama deh..
Ditinggal melamun, wajan sama spatulanya tadi kerja sendiri gaes... tuh lihat, gak terasa telurnya sudah matang sempurna. Puas banget sama hasil gorengan sendiri.
"Loh, kangkungnya tadi mana mbak.?" Tanya Nayla sambil mencari-cari bahan selanjutnya yang akan dieksekusi.
"Tuh udah tak masak.. Mbak Nayla kelamaan ngelamun...
Hampir satu jam lo mbak kamu goreng telurnya.."
"Masak?" Jawab Nayla tidak percaya. Lalu dia melihat jam didinding. "Astaga.. kok bisa lama gitu sih aku masaknya...?"
Mbak Nana terkekeh mengejek. Reflek tangan Nayla mengusap tengkuknya. Malu.
***
__ADS_1
Nunggu like nya banyak dulu, nanti baru up lagi... 🙄