Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Flashdisk


__ADS_3

"Kita berangkat ke Hongkong sekarang!"


Putusan telak yang keluar dari mulut suaminya itu, seakan tidak bisa Nayla bantah.


Sejak kejadian tadi padi didepan warung nasi pecel, Reyhan memutuskan untuk pulang. Langsung menuju kamarnya dan menyiapkan beberapa keperluan yang penting lalu memasukkannya ke koper. Sampai sore hari ini, tanpa bicara apapun pada Nayla, selain kata-kata yang menenangkan.


"Tapi Rey, kan harusnya besok?"


"Sudahlah, nurut saja ya?" Keputusan yang sudah lelaki itu fikirkan matang-matang didalam mobil. Atau, ia akan melihat Nayla yang semakin tertekan dengan ulah Satya selanjutnya, yang sudah bisa Reyhan tebak.


Dering ponsel Reyhan untuk kesekian kalinya berbunyi, menghentikan niatan Nayla yang masih ingin membantah.


Lelaki itu melirik Nayla sebentar setelah melihat layar ponselnya.


"Sebentar, aku angkat telfon dulu."


Nayla memicingkan mata penuh curiga seiringan dengan langkah suaminya. Siapa yang menelfon lelaki itu, sampai-sampai Reyhan harus berjalan sedikit menjauh hanya untuk mengangkatnya.


Dan tak berselang lama, hanya beberapa menit saja, Reyhan sudah kembali. "Kamu ke bandara duluan ya, diantar supirnya papa, tungguin aku disana."


Perempuan itu melongo. "Lah, kamu mau kemana?"


"Aku ada urusan sebentar, nanti aku kesana naik taksi."


"Aku ikut kamu aja bagaimana?"


Reyhan tersenyum.. Ia mendekati Nayla yang sudah siap dengan kopernya. "Gak usah, cuma sebentar kok."


Diusapnya kepala gadis itu dengan sayang. Lalu, Reyhan kecup kening Nayla.


"Yaudah deh," Pasrah. Nayla peluk tubuh suaminya. Tubuh yang selalu memberi tempat ternyaman untuk keluh kesah dan semua masalah. Tubuh yang menjadi tameng, dari segala mara bahaya yang siap menyerang batinnya. "Terimakasih ya,"


Reyhan tersenyum, dan membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya. Lagi-lagi, Reyhan mendaratkan kecupannya berkali-kali di puncak kepala Nayla, sampai gadis itu merasa geli saat tangan Reyhan ikut bergerak di pinggangnya.


"Rey.." Peringatan.


"Hehe, yasudah," Melepas pelukannya. "Sudah ditunggu pak Damar."


Lelaki itu membawa dua koper keluar kamar. Memasukkan ke mobil yang sudah disiapkan. Sebelumnya, dia juga sudah berpamitan dengan papa dan mamanya.


Selain mobil berwarna merah yang akan membawa Nayla, ada juga mobil taksi yang sudah siap membawa Reyhan pergi.


"Pak Dam, nanti kalau saya belum nyampek bandara, tungguin Nayla dulu ya pak disana."


"Iya mas, siap" Pintu kaca tertutup. mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah Nayla.


Begitu juga dengan Reyhan, yang segera masuk kedalam taksi, dan menuju ke suatu tempat.


"Mau kemana mas?" Tanya pak supir taksi.


"Caffe Bintanni"


***


Caffe Bintanni


Nina menunggu dengan perasaan was-was sejak tadi. Pasalnya, ia sama sekali tidak meminta ijin pada suaminya saat memutuskan untuk keluar apartemen. Apalagi, dengan sebuah flashdisk yang ia bawa.


Sebenarnya, masalah itu bukan tentang flashdisk-nya, tapi isinya.


Sebelum berada di tempat ini, tadi ia membersihkan satu-satunya kamar yang ada didalam apartemen milik Satya. Kamar yang setiap malam ia tempati dengan lelaki itu.


Sampai,

__ADS_1


tak sengaja ia menemukan sebuah kotak hitam.


Berdebu, dan usang. Tersembunyi di bawah ranjang.


Dengan rasa penasaran, ia beranikan diri untuk membukanya tanpa perlahan.


Awalnya, perempuan itu merasa senang melihat isinya. Semua foto Satya dan Nayla. Tersimpan dengan sangat berantakan didalamnya.


Nina pikir, meskipun Satya masih bersikap semaunya sendiri, setidaknya lelaki itu menghargai Nina sebagai istrinya, dengan menyimpan foto-foto kebersamaannya dan Nayla ditempat tersembunyi. Bukan malah terang-terangan memajangnya diatas meja.


Lalu, perasaan senang itu berubah saat ia menemukan sebuah flashdisk.


Tau, apa isinya?


Oh, mengejutkan.


"Kenapa lama sekali sih?" Gerutunya saat seorang lelaki menghampirinya.


Reyhan menghela nafas. Ia menarik satu kursi yang berhadapan dengan Nina, untuk mendaratkan tubuhnya disana. "Aku tidak memiliki banyak waktu, langsung intinya saja."


"Kau tidak memesan minuman terlebih dahulu?"


"Tidak" Jawab Reyhan disertai gelengan kepala.


Nina mengambil benda kecil dari dalam tas nya. Dengan satu jari, ia menggeser benda itu kedepan Reyhan. "Nih.."


Flashdisk?


Sontak saja, lelaki itu memicingkan sebelah matanya.


"Kau akan terkejut dengan isinya." Seolah paham dengan reaksi Reyhan, Nina lebih dulu berujar. "Tapi..."


Reyhan mengambil flashdisk itu. "Tapi apa?"


Rahang Reyhan mengeras mendengar ucapan itu. Ucapan yang menurutnya tidak layak keluar dari mulut Nina. Memang nya apa yang bisa membuat Reyhan meragukan Nayla?


"Maksudmu?"


Nina mengibaskan tangannya. "Sudahlah, bagaimana kegunaan isi dari flashdisk itu, tergantung bagaimana cara pandang kamu. Yang jelas, itu akan membantumu dalam mempersiapkan rencana menghadapi kekacauan yang akan Satya buat. Aku jamin."


Baiklah,


Reyhan mengerti, dan menerima flashdisk itu.


"Kalau begitu, aku pulang." Pamit Nina sambil beranjak. "Tolong, jauhkan istrimu dari suamiku."


"Tunggu..."


"Apa lagi? kamu bilang tidak punya banyak waktu kan? Sana, kamu juga pergilah, Rey..."


Sambil melihat jam tangannya, Reyhan berucap. "Satya..., dia sudah tahu kalau aku suaminya Nayla.."


"Apa?"


Kaget. Gadis itu duduk kembali. "Ya Tuhan, bagaimana bisa?"


"Aku yang memberitahunya"


"Sialan loh ya" Detik itu juga, Nina mengumpat keras.


Oh, bagaimana nasip ku setelah ini?


Nasip hidupnya,

__ADS_1


Nasip pernikahannya,


Dan, nasip anak didalam kandungannya.


"Aku minta maaf. Aku terpaksa karena suami mu sudah mengganggu Nayla. Tapi, kamu jangan khawatir." Lelaki itu menyerahkan satu kartu nama, dan menyerahkannya kepada Nina. "Hubungi orang itu, kalau kamu butuh bantuan."


"Kamu pikir, dengan begitu semua selesai?"


Lagi lagi, Reyhan melihat jam tangan di pergelangan kirinya. "Setidaknya, keadaan bisa lebih baik saat kamu menghubunginya. Apalagi, keselamatan mu."


Reyhan berdiri, dan ia harus pergi sekarang juga atau ketinggalan penerbangan. "Maaf, aku harus pergi.."


"Rey.."


Tanpa menoleh lagi, Reyhan keluar dari caffe itu dengan langkah cepat. Pasalnya, hanya tersisa waktu dua puluh menit untuk sampai bandara.


"Reyhaaan.... Ih sialaann!"


Nina berdiri, menghentakkan kakinya kesal,


Suami istri sama saja,


yang istri kegatelan, eh suaminya tak tau diri. Sudah dibantu juga.


Perempuan itu mengambil kartu nama yang Reyhan berikan. Matanya membelalak lebar saat Nina membaca, nama dan jabatan yang tertera disana.


Bima Sedayu Mahen


Direktur Utama General Media Tech. Group


GMT Group?


Kemudian, mata nya kembali menatap pintu tempat Reyhan keluar tadi, sambil bergumam pelan. "Who is he?"


Tanpa ia sadari, sedari tadi ada seseorang yang membuntutinya, dan memperhatikannya di meja yang berbeda, dengan ponsel ditangan kanannya.


***


"Enggak ketinggalan penerbangan kan?" Meringis tanpa dosa. "Terimakasih pak Dam, sudah nungguin Nayla.."


"Ah iya mas, kalau gitu saya permisi dulu.. Mau nganterin Tuan."


"Iya pak, silahkan.." Jawab Nayla mewakili.


"Mas Reyhan sama Non Nayla, hati-hati ya disana.."


Pasangan suami istri mengangguk bersamaan. Dan setelah kepergian pak Damar selaku supir pribadi papa Zeko, Reyhan kembali mendapatkan pelototan tajam dari istrinya.


"Lama banget, dari mana sih?" Mengerucutkan bibirnya. Imut dimata Reyhan.


"Nih" Menunjukkan sebuah flashdisk. "Ada sesuatu yang penting tadi.."


Oh, lucu sekali Nayla dengan bibir kerucutnya.


Dia sedang marah. Mungkin ia merasa garang seperti marahnya singa. Sayangnya, dimata Reyhan, marahnya Nayla seperti garangnya kucing persia.


Mana ada serem-serem nya.? Justru Reyhan ingin mencubit gemas pipi kucing itu. Dan tanpa sadar, Reyhan sudah melakukannya.


"Reyhaan, sakit.." Nayla tidak terima, tangannya mengusap-usap bagian pipi bekas cubitan Reyhan tadi.


"Maaf, habisnya kalau marah kamu lucu. Gemes" Masih tersenyum tanpa dosa. Tangannya meraih dua koper sekaligus, koper besar milik Nayla, dan koper kecil berisi barangnya. "Yaudah yuk, nanti keburu ketinggalan pesawat."


***

__ADS_1


Hay, selamat malam 🙄 ada yang nyariin nggak sih?


__ADS_2