Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Kesalahpahaman


__ADS_3

Salah paham.


Itulah yang saat ini terjadi diantara Nayla dan Reyhan. Mungkin, penyebab utamanya adalah kurangnya komunikasi diantara mereka.


Bisa juga karena sifat keduanya yang bertolak belakang.


Nayla adalah gadis periang. Dulu, sebelum masalah rumit menimpanya. Dia gadis yang mudah menyampaikan isi hatinya hanya dengan sedikit pertanyaan pancingan.


Berbanding terbalik dengan Reyhan, suaminya. Lelaki itu lebih banyak diam. Reyhan cenderung mengungkapkan perasaannya melalui perbuatan. Melalui tindakan nyata, bukan bualan semata.


Seperti, apa yang akan ia lakukan saat ini. Itulah bukti dari rasa cinta yang besar untuk sang istri.


"Ada sesuatu yang harus aku urus dengan Nina."


Binar mata yang biasanya bersinar, kini tengah menganak sumur. Hanya butuh satu kedipan saja, pipi gadis itu pasti sudah berubah menjadi sungai dengan air yang mengalis deras. Nayla dan perasaan kalutnya larut dalam fikiran negatif dari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Masalahnya, ini adalah kedua kalinya ia melihat Reyhan yang diam-diam bertemu Nina.


"Urusan apa ?" Suaranya tercekat ditenggorokan. Ia dudukkan bokongnya di kasur empuk karena kakinya melemas. Menilik pengalaman buruknya dengan Nina, perempuan mana yang masih bisa berfikir positif dikeadaan seperti ini?


Reyhan maju beberapa langkah, kemudian lelaki itu duduk jongkok didepan istrinya. Masih belum menjawab, Reyhan genggam tangan Nayla lalu mengecupnya dibagian punggung tangan itu.


"Rey, tolong jujur.. Ada hubungan apa kamu dengan Nina? Kemarin saat kita mau berangkat, yang kamu temui Nina kan? Kamu bertemu dengannnya dulu kan, sampai menyuruhku berangkat ke bandara sendirian?"


"Nay, tolong percaya."


"Bagaimana aku bisa percaya? Kamu tidak mengatakan apapun." Nayla tarik tangannya dari genggaman sang suami. Kemudian ia mengusap satu tetes air mata yang lolos dipipinya dengan kasar. "Apa yang tidak aku ketahui?"


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Nina. Percaya dong Nay.." Bantah Reyhan dengan tegas. Karena memang seperti itu kenyataannya.


Reyhan sama sekali tidak memiliki hubungan spesial apapun dengan Nina.


Tidak ada hubungan apapun. dan tidak akan pernah ada.


Reyhan sama sekali tidak memiliki niat kesana. Dia bertekat akan menjaga cinta suci hanya untuk istrinya seorang. Reyhan akan menjaga keutuhan rumah tangganya, meskipun saat ini sangat sulit.


"Kalau begitu, jawab dong Rey. Ada urusan apa kamu dengan Nina?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang." Arrgghh.. Aku tidak mau kamu terluka dan ikut khawatir Nayla. Karena kamu harus fokus dengan pemulihan rahim kamu.


Nayla menangis sesenggukan. Gadis itu tidak bisa lagi menahan laju air mata yang jatuh dengan bebas tanpa hambatan. Nayla takut. Ia sangat takut.


"Kenapa tidak bisa mengatakannya?"


Kenapa harus Nina?


"Kasih aku waktu untuk memikirkan semuanya sebelum aku mengatakan alasan pertemuan ku dengan Nina." Reyhan berdiri. Sebelum berlalu pergi, ia kecup kening Nayla, sambil berbisik. "Tolong, percayalah kepadaku"


Lelaki itu pergi begitu saja, sebelum emosinya meluap. Mengingat apa yang baru saja ia lihat diruang kerjanya, sepertinya akan sulit bagi Reyhan menurunkan sedikit saja amarah yang keluar jika sudah kelepasan.


Karena itu, dia memilih meninggalkan Nayla sendiri dengan tangis yang pilu.


Apa salah aku takut?


Rey, dulu aku merelakan Satya untuk Nina, berharap mendapat pengganti yang lebih baik.


Semuanya itu tidak mudah, harus hidup berdampingan dengan mereka berdua.


Perempuan mana yang dengan mudah melupakan kejadian itu? Kejadian dimana lelaki yang kamu cintai menghamili sahabatmu sendiri. Sakit. Perasaanku sangat sakit.


Tanpa mereka tahu,


rasa sakit yang mereka anggap sudah selesai itu sekarang menjelma menjadi rasa trauma. Aku takut merasakan kehilangan yang sama,


Terlebih lagi, penyebabnya adalah karena manusia yang sama juga. Manusia yang sudah Nayla anggap seperti kakakku sendiri.


Aku takut kamu jatuh ke pelukan Nina. Sama seperti Satya.


Bahkan, sampai tubuh Reyhan sudah keluar sepenuhnya dari kamar, Nayla masih menangis pilu.


Dia butuh pelukan. Butuh kejelasan. Nayla butuh bahu untuk bersandar.


Sayangnya, kali ini Reyhan tidak bisa menyediakan itu.


Sementara, Reyhan kembali keruang kerjanya sambil membawa ponsel milik Nayla. Dia penasaran, tadi sempat melihat bahwa yang mengirim foto itu adalah nomor asing. Jadi dia ingin memastikan siapa orang dibalik foto-foto itu.

__ADS_1


Beruntungnya, Nayla belum sempat melihat pesan masuk selain dari nomor asing tersebut. Padahal, ada sesuatu yang lebih berbahaya dari pada sebuah foto.


Pesan ancaman dari Satya.


Reyhan ambil jaketnya. Lantas lelaki itu keluar dari ruang kerja. Menuruni anak tangga hingga bertemu Linda di lantai bawah yang sedang mencuci sayuran.


"Lin, aku mau keluar sebentar. Ibu ada dikamar, nanti kalau dia tanya bilangin ya, ada urusan."


"Iya pak, baik."


"Makasih Lin.."


Lalu Reyhan pergi ke satu-satu nya tempat yang pertama kali akan ia tuju. Sementara didalam kamar nya, Nayla yang tadi menangis dengan terisak perlahan tertidur.


Tak butuh waktu yang lama, perempuan bernetra hitam itu sudah terlelap di alam mimpi. Meneruskan sedihnya disana.


Didalam mimpinya, entah kenapa Nayla merasakan kerinduan yang begitu hebat. Kerinduan kepada seseorang yang dia sendiri tidak tahu itu siapa.


Hatinya sangat sakit, saat kerinduan itu dia sadari tak bertuan.


Sampai akhirnya, didalam mimpi Nayla menyadari sesuatu tentang doa.


Doa diciptakan, karena tidak semua rindu tertuai oleh pertemuan.


Nayla terbangun. Dengan nafas memburu, matanya menilik jam dindin yang tergantung. Dan mendapati dirinya yang tertidur sudah lebih dari satu jam.


Ia beranjak. Langkahnya tertatih menuju kamar mandi.


Gadis itu mengambil air, berkumur, membasuh hidung, muka, rambut, kedua tangan dan terakhir membasuh kakinya.


Selesai melakukan itu, dia membuka almari dan mencari sesuatu dengan teliti. Menemukan sebuah mukena berwarna putih dengan renda abu-abu menghiasi pinggirannya.


Perempuan itu memakainya. Kemudian ia gelar sajadah, dan memutuskan bersimpuh kepada Tuhan.


Nayla sadar, mungkin dia terlalu jauh dari Tuhan sampai ditegur dengan cara seperti ini.


"Ya Tuhan..."

__ADS_1


Dia berdoa, sambil menangis memohon keutuhan rumah tangganya. Memohon dijauhkan dari segala mara bahaya. Memohon agar diringankan masalahnya dengan menambah kekuatan di dirinya.


Saat ini, dia menyerahkan seluruh hidup nya kepada Tuhan. Berserah diri dari setiap masalah yang tengah dan akan menimpanya di kemudian hari. Mengharap perlindungan dan, memohon di maafkan segala dosa-dosanya.


__ADS_2