
Hari ini hari libur.
Nayla sedang meluruskan kakinya dengan kepala bersandar dipinggiran sofa diruang keluarga bersama beberapa anaknya saat tiba-tiba ponselnya berdering.
Sebelum menerima panggilan itu, Nayla sempat melirik Naura yang berbagi salad buah dengan damai bersama Afif. Dan juga Chanda yang serius membaca sebuah cerita anak dari buku yang baru dibeli Reyhan kemaren sore.
Sari memanggil....
Deringan ponsel kedua membuatnya terhenyak, lantas Nayla segera mengangkat ponselnya.
"Halo Sar..."
"Aku sedang perjalanan ke tempat Nina. Dia jatuh terpeleset. Dan sekarang berada dirumah sakit di daerahnya."
"A-pa?" Terkejut. Berita yang sama sekali tidak ingin Nayla dengar. Kekhawatirannya pada Nina yang memilih hidup sendiri di kota terpisah pada akhirnya terjadi juga. "Nina terpeleset?"
"Aku hanya berniat memberi mu kabar. Selanjutnya jangan terlalu kepikiran. Pikirkan juga kondisi mu."
Untuk sesaat Nayla hanya diam mengatur nafasnya.
Jangan terlalu kepikiran Sari bilang. Tapi mana bisa? Mereka bertiga sudah berjanji akan memberi kabar apapun tanpa terkecuali. Kabar baik atau buruk sekalipun. Tanpa rahasia.
Tapi, bukan kabar seperti ini yang ingin Nayla dengar ditengah masa-masa menunggu kelahiran anak didalam kandungan Nina.
"Tapi Nina dan bayi nya, baik-baik saja kan?"
"Nanti aku kabari lagi."
Sari menutup sambungan telepon-nya sepihak, meninggalkan Nayla dalam perasaan cemas yang menjalar di setiap saraf tubuhnya.
Nayla diam mematung dengan wajah pucat pasi karena menahan rasa gelisah. Bulir-bulir keringat juga memenuhi dahinya. Nayla sama sekali tidak bisa menahan rasa khawatir yang menyerang.
Nina disana sendirian. Tinggal jauh dari orang-orang yang dikenalnya
Perbandingan yang cukup signifikan.
Mendadak pikiran Nayla terbelah.
Antara membayangkan hal paling menyedihkan yang bisa saja terjadi dan mengganggu keselamatan Nina dan bayinya, atau berusaha mengusir segala pikiran buruk dan menggantinya dengan pikiran baik.
Meskipun opsi kedua memiliki level kesulitan yang cukup tinggi.
Oh, Nina yang malang.
Tanpa sadar saking cemasnya, Nayla menutup matanya rapat dan menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran buruk. Sambil berkata dalam hatinya. Jangan sampai hal buruk menimpa Nina dan bayi nya. Ya Tuhan, lindungi mereka.
Membuat mbak Nana, yang kebetulan lewat diruang itu ikut khawatir ketika tanpa sengaja melihat raut cemas wajah Nayla. "Mbak Nay, gak papa kan?" Perempuan itu mendekati Nayla. Mengusap bahunya.
"Bunda... kenapa?" Naura menaruh sendoknya, dia ikut bersuara setelah menoleh saat mendengar pertanyaan Mbak Nana untuk Nayla.
Seketika Nayla membuka matanya saat Naura juga mengerumuninya bersama Afif. Pelan-pelan dia mengatur nafas agar perasaannya kembali tenang. "Mbak Nana, boleh minta tolong ambilkan air putih?"
Perempuan itu mengangguk, tanpa menunggu waktu lagi segera mengambilkan air putih untuk Nayla.
__ADS_1
"Kakak," Afif memanggil. Nayla tahu, anak perempuan itu juga ikut mengkhawatirkan dirinya. "Kakak sehat kan?"
"Gak papa sayang. ayoo dihabiskan makanannya." Senyum tipis Nayla paksa terbit di bibirnya demi meredakan rasa tegang diantara anak-anaknya. Gerakan reflek membuat tangan Nayla mengusap kepala dua bocah cantik secara bergantian.
Ah, betapa bahagianya Nayla dikelilingi anak-anak yang begitu menyayanginya.
Sangat berbanding terbalik dengan Nina. Jujur, Nayla merasa sedih mengingat semua hal yang menimpa Nina.
Hingga mbak Nana datang membawa air minum untuk Nayla.
"Gak papa mbak. Nayla baik-baik saja." Menganggukkan kepalanya. Nayla menjawab sorot mata mbak Nana yang begitu kelihatan khawatir terhadap kondisinya. Bagaimana tidak, Nayla sendiri masih dalam masa pemulihan untuk memperkuat kandungannya.
Wanita hamil di trimester pertama itu tidak boleh terlalu lelah. Nayla harus istirahat total, baik tubuhnya maupun pikirannya.
Tapi Nina?
Nayla tidak bisa berhenti memikirkan Nina.
Persahabatan mereka bertiga sudah sangat kental. Nayla bahkan sudah menganggap Sari dan Nina seperti saudaranya sendiri.
Jadi hal buruk yang menimpa mereka tentu membuat Nayla ikut khawatir juga.
"Apa perlu minta Mas Reyhan pulang?" Tanya mbak Nana masih khawatir.
"Enggak usah mbak. Biar saya sendiri nanti yang nelfon Reyhan." Menggelengkan kepalanya, Nayla meraih kembali ponsel berniat untuk menghubungi sang suami.
Namun, belum sempat panggilannya tersambung, pintu utama rumah terbuka. Langkah kaki terdengar mendekat, sampai Nayla menoleh ke sumber suara
Menampilkan sosok Reyhan dengan senyum pesonanya, bersama wanita cantik paruh baya,
"Kebetulan mas Reyhan pulang." Mbak Nana berdiri, "Mbak Nayla tiba-tiba pucat mas... hampir saja mau nelfon mas Reyhan."
Sebelum mbak Nana sadar, ada orang lain yang datang bersama Reyhan.
"Loh ada tamu, mari tante... silahkan duduk. Ya Allah, maaf tadi nggak ngeh"
"Tante..." Membenarkan posisi duduknya. Nayla meraih tangan Ibu Satya untuk segera menciumnya, tanda bahwa dia masih sangat menghargai perempuan itu.
Sebenarnya Nayla bingung. Bagaimana bisa Ibu Satya datang kerumahnya, bersama Reyhan? Tapi, Nayla menahan diri untuk tidak membahasnya sekarang, sebagai gantinya
Nayla pasti akan bertanya langsung pada Reyhan. Iya, mungkin nanti.
"Tidak usah banyak bergerak sayang, Tante mengerti kondisimu..." Mengusap lengan Nayla. Lantas ibu Satya mengikuti Mbak Nana yang mempersilahkan beliau duduk dikursi.
"Kamu gak papa Nay?" Tanya Reyhan khawatir sambil membantu Nayla untuk ikut duduk di sofa. "Ada yang sakit."
Menggeleng. "Aku baik-baik saja. Oh iya Rey
barusan Sari menelfon ku. Katanya...." Nayla sedikit menjeda ucapannya, sebelum sekilas melirik ibunya Satya. "Nina kepleset, dan sekarang sedang berada dirumah sakit. Aku mengkhawatirkannya."
Ucapnya sangat lirih.
"Serius?"
__ADS_1
"Iya..." Sambil menganggukkan kepala. "Aku khawatir padanya Rey ."
"Nanti kita bicarakan lagi.."
Betepatan dengan Mbak Nana yang datang membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan secangkir kopi. Menyuguhkannya kepada tamu.
"Naura, Afif sini. Salim dulu sana nenek."
Tanpa menunggu perintah yang kedua, bocah kecil itu langsung menurut. Dan setelah itu, mereka berbisik kepada Nayla untuk pamit main dihalaman belakang gabung sama anak-anak yang lain. "Hati-hati ya."
"Iya bunda." sambil mengangguk, Naura dan Afif beranjak kehalaman belakang.
"Lucu sekali mereka.." Ibu Satya bergumam pelan. "Andai saja, Nina ada disini sekarang. Pasti sebentar lagi dia akan melahirkan cucu ku."
"Tante.." Menggenggam tangan Ibu Satya.
"Tidak apa-apa Nay. Itu memang salah Satya." Ibu Satya melempar senyum nya kepada Nayla, sebelum menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya pelan. Mengumpulkan ketenangan untuk memohon pengampunan atas nama Satya.
"Nay, tante tahu, Satya punya banyak salah sama Nayla. Untuk itu. Tante mohon, maafkan Satya. Maafkan anak tante"
"Satya sudah menceritakan semuanya kepada Tante, termasuk kejadian di hotel Nuansa. Tante meminta maaf atas nama Satya ya nak." Satu bulir bening lolos membasahi kulit keriputnya, membuat Nayla merasa tidak teha
"Nayla sudah memaafkan Satya tante," Ucap Nayla tulus.
"Tante tahu itu,
kamu memang perempuan yang baik, sayang. Hati mu luas penuh maaf. Tante begitu menyayangimu, meskipun kamu dan Satya sudah tidak mungkin bersama lagi."
Reyhan yang berada di samping Nayla ikut tersenyum. Hatinya membenarkan apa yang Ibu Satya ucapkan.
Nayla memang perempuan yang baik. Untuk itulah, Reyhan sangat bangga memiliki Nayla disisinya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Matahari sudah hampir tenggelam. Kembali ketempat peraduan.
Ibu Satya pun sudah pulang beberapa menit yang lalu.
"Kenapa Sari belum menghubungiku juga?" Gumam Nayla didalam kamarnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Reyhan keluar dengan lilitan handuk yang hanya menutupi sebagian kecil tubuhnya.
Aroma sabun menyeruak dari tubuh Reyhan, tercium oleh Nayla yang seketika mampu membuat perempuan itu merasa lebih tenang.
"Kamu masih khawatir sama Nina?"
Bukannya segera mengambil baju, Reyhan malah mendekati Nayla. Mendudukkan diri di samping Nayla.
"Aku ingin kesana..." Dengan sorot mata memohon, Nayla meneruskan kalimatnya. "Rey... bisakah kamu mengantarkan aku kesana?"
"Tidak." Jawab Reyhan tegas. "Kondisimu sendiri masih sangat lemah. Butuh istirahat yang banyak."
Nayla menggenggam tangan suaminya erat. Tatapannya memohon, "Bagaimana bisa aku istirahat dengan tenang disini, sedangkan pikiranku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Nina." Mendekatkan wajahnya pada Reyhan yang kini tengah duduk disampingnya. Lalu mencium sekilas bibir sang suami. Setelahnya Nayla mengulas senyum yang paling manis.
"Ya?"
__ADS_1
Dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.