
"Sudah kenyang kan..?" Reyhan tetap lah Reyhan. Sekecil apapun, perhatiannya akan tetap ditunjukkan kepada orang yang dia sayang. Termasuk Nayla.
Bayangkan saja, bagaimana mungkin dia sempat bertanya seperti itu, sedangkan makanan di piring Nayla saja sudah habis tak bersisa. Ditambah rendang yang seharusnya bisa dimakan sampai tiga porsi pun sudah lahap dimakan oleh perempuan itu.
Nayla menanggapi pertanyaan itu dengan mata membulat sempurna. Sesaat kemudian dia meringis, menampilkan giginya yg tetap putih dan bersih. "Hehe, belumm..." Jawabnya manja. Niatnya memang mau mengerjai suami sih..
"Kalau begitu aku pesankan lagi" Reyhan tahu Nayla mengerjainya dengan mengatakan belum padahal dari ekspresinya saja sudah jelas perempuan itu bercanda. Dan lelaki itu ingin mengerjai balik istrinya. "Dua porsi lagi masih bisa kan.??"
"Eh eh..." Sekarang Nayla yang merasa kalang kabut sendiri melihat Reyhan yang mulai berdiri. Terlihat seserius itu ingin memesankan makanan lagi untuk Nayla. "Gak usah mas.. Aku bercanda. Lagian mana mungkin aku belum kenyang. Mas Reyhan gak lihat?"
Kan, kena..
Nayla menghela nafasnya pelan, sambil menunjukkan piring piring kosong itu ke suaminya. "Makanan sebanyak ini lo, udah habis gak ada sisanya. Masak mau dipesankan lagi."
"Ya wajar saja dong. Kan dua orang sekarang yang makan. Istriku dan calon anakku. Ya kann..."
Nayla memanyunkan bibirnya. "Mas Reyhan mau aku segede apa sih? Masak makan gak ada ukuran. Ini lo aku udah naik berat badannya"
"Gak papa. selagi suami mu ini mampu, kenapa tidak? Lagian aku mencintai kamu apa ada nya Nayla. Meski segede apapun aku tetap akan mencintai mu kok"
Akhirnya Nayla memilih diam. Padahal tadi, berharap Reyhan protes dengan jawaban Nayla yang mengatakan belum kenyang.
Harusnya Reyhan memprotes, dan tentu itu akan lebih mudah memuluskan rencana jahil Nayla. Tapi siapa sangka? Reyhan malah dengan santainya ingin memesankan lagi. Malahan dibumbui dengan gombalan-gombalan recehnya.
"Jadi gimana? pesen lagi gak nih.?" Reyhan menggoda Nayla dengan mencolek dagunya. Dan menampilkan wajahnya yang begitu puas melihat kekalahan Nayla.
"Enggk perlu mas, aku sudah kenyang." Dengan malas Nayla membuka mulutnya untuk sekedar menjawab pertanyaan dari sang suami. "Kita pulang saja yuk mas?"
"Yaudah yukk, tapi sebelum pulang aku mau ajak kamu kesuatu tempat.."
Keduanya beranjak menuju mobil mereka. "Ini sedikit jauh dan melelahkan, jadi kau boleh tidur Nayla.."
"Emm.." Nayla mengangguk setuju.
Dan benar saja, perjalanan yang dilalui memang begitu lama , hampir tiga jam. Entah kapan perempuan itu mulai tidur, kini tiba-tiba saja Nayla sudah terbangun.
Matanya mengerjap. Hanya waktu lima detik yang perempuan itu lalui dengan kebingungan. Setelahnya Nayla langsung sudah beradaptasi dengan baik.
Sebuah bangunan yang begitu Nayla kenali. Sebuah bangunan lumayan besar yang sudah menyatu dengan hidupnya, dengan jiwanya, dan dengan seluruh kerja kerasnya.
__ADS_1
Apalagi, saat matanya menatap pintu masuk, memastikan keberadaan di tempat itu. Disana tertera dengan jelas, nama tempat dimana dia berdiri.
Rumah Singgah Griya Lansia.
"Mas..." Matanya berkaca-kaca. Tidak menduga Reyhan bisa mengetahui tempat ini bahkan saat Nayla tidak ingin memberitahu nya sedikitpun. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Reyhan hanya tersenyum.
Sementara, beberapa orang menyambutnya di teras ruang utama.
Ada Ibu Asih, ada Sari, Suster Mita, Suster Emma, Perawat Dani, Perawat Rouf, Bi Nur, Pak Gondes, dan banyak lagi orang yang Nayla kenal sebagai pengurus rumah singgah tersebut.
Aku terharu...
"Hay Nayla... nyampek juga kau yaa." Sari menyapa memecag suasana. Nayla mengangguk penuh haru sampao setetes air jatuh dari matanya. "Gak boleh nangis, ini ide suamimu. Dia yang maksa aku untuk ngasih tau tempat ini. Jadi bukan salah ku ya kalau rahasia ini bocor."
"Hai nduk. Selamat datang kembali..." Ibuk memeluk, Pelukan sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya. Nayla merindukan sekali wanita ini. "Ibuk selalu berdoa kabar mu baik-baik saja."Nayla membalas pelukan hangat ibuk. Dengan rasa haru yang menyeruak, tak menyangka hal episode paling berharga dalam hidupnya akan begitu mengejutkan.
"Ini suami mu, ajak masuk." Ajak buk Asih. Beliau seorang wanita paruh baya yang sangat sederhana dan berwibawa. Tutur katanya yang sopan dan berkelas. Itulah Ibu Asih. Seorang perempuan yang biasa Nayla panggil dengan sebutan Ibuk.
Kami pun masuk, berkumpul diruang utama.
Rumah Singgah Griya Lansia.
Sebuah tempat singgah yang dia bangun untuk menjamin masa tua wanita dan laki-laki paruh baya yang sudah tidak memiliki keluarga dan membutuhkan uluran tangan dari kaum muda.
Maka, inilah bentuk pengabdian Nayla pada orang tua. Inilah bentuk rasa hormat Nayla untuk mereka yang usianya jauh lebih tua.
Dulu,
waktu awal-awal tempat ini dirintis, Nayla sempat hampir menyerah karena dia tidak memiliki tempat dan lahan yang tepat. Jauh dari keramaian.
Dia tinggal di kota, jarang pergi ke desa yang jauh dari hingar bingar kebisingan. Sementara, manusia lanjut usia butuh tempat yang sepi dan tenang.
Sampai,
Nayla mengenal Ibu Asih.
Ibu Asih,
__ADS_1
Beliau adalah seorang perempuan dari sebuah desa diujung kota. Desa terasingkan dengan begitu banyak budaya. Terlalu berambisi dengan karir dan pendidikan membuat ibu Asih memutuskan hidup sendiri tanpa pernikahan.
Tanpa suami, dan tanpa seorang anak.
Saat muda dulu, beliau merasa tidak memiliki waktu untuk memikirkan pasangan dan anak. Karena tujuan hidup bu Asih muda adalah pendidikan tinggi setinggi-tingginya, karir cemerlang dan pencapaian yang luar biasa.
Dengan latar belakang sebagai anak tunggal dari orang tua juragan tanah membuat Ibu Asih hidup tanpa kekurangan.
Hanya saja, saat memasuki fase tua beliau baru menyadari harta yang dia punya percuma.
Kesepian, kesunyian seperti menghukumnya. Menamparnya dengan keras dan membuat bu Asih mulai menyadari pentingnya memiliki seorang untuk berbagi.
Sayangnya waktu sudah terlambat. Kala itu usianya sudah senja. Menyesal? pasti.
Tidak ada lagi harapan dan tujuan hidup saat semua ambisinya telah tercapai.
Merenung tanpa arah, sendiri tanpa cerah. Sampai hari dimana Ibu Asih bertemu Nayla.
Perempuan cantik dan muda itu kembali membuat Bu Asih memiliki mimpi dan harapan. Saat dengan antusias tinggi Nayla mengajukan proposal dan menjelaskan rencana gila soal rumah singgah.
Tanah dimana bangunan ini berdiri adalah tanah milik Bu Asih. Sementara, Nayla lah
yang sudah membiayai pembangunan dan telah menanggung segala biaya administrasinya. Mulai bahan baku, biaya jasa, bahkan biaya operasionalnya sampai tempat itu benar-benar terdaftar resmi di dinas sosial sebagai Panti Jompo bebas biaya.
Nayla, menggunakan uang tabungan pribadinya bukan untuk bersenang-senang semata.
Seiring berjalannya waktu,
Kabar berdirinya rumah singgah ini mulai santer terdengar di berbagai penjuru negara. Banyak dari manusia kalangan menengah ke atas yang tersentuh sehingga tidak jarang diantara mereka mulai berdonasi hingga menjadi donatur tetap.
Salah satunya adalah, GMS Group. Donatur tetap dan donatur utama dengan nilai donasi yang fan tas tis.
Barangkali itulah yang membuat Nayla memiliki jodoh sebaik laki-laki bernama Reyhan.
Hingga saat ini,
Nayla pun sama. Dia adalah tokoh utama dibalik layar. Pemilik Griya Lansia yang tertera di semua dokumen penting adalah Ibu Asih. Bukan Nayla.
Tapi peran Nayla tidak kalah penting. Karena seluruh koordinasi dan administrasinya di atur oleh Nayla. Tentu dengan bantuan Nina dan Sari, sahabatnya.
__ADS_1
Hebat bukan?
Jodoh adalah cerminan diri. Kekurangan yang terlihat bisa jadi hanya sebuah sampul dari banyak kelebihan didalamnya.