
Reyhan duduk dikursi meja kerjanya. Raganya ada disini, di dalam kamarnya. Tapi fikirannya terpecah terbagi dua.
Jelas, Ada gadis kecil yang sedang bertaruh nyawa disana. Disebuah ruangan yang bahkan tak seorangpun ingin berada didalamnya.
Rasa kalut masih memuhi ruang hatinya. Reyhan ingat, kemarin..
#Flashback On..
Sang Dokter keluar mengabarkan bahwa gadis kecilnya kehilangan banyak darah. Sementara stok darah yang sesuai sedang kosong dirumah sakit itu.
Tentu saja Reyhan semakin panik.
Wajah nya meremang tatkala menyadari bahwa Naura memiliki golongan darah yang berbeda dengannya. Sementara hasan?
Seutas harapan terlintas difikaran Reyhan ketika dia hampir lupa bahwa Hasan memiliki golongan darah yang sama dengannya. Itu artinya, Hasan juga tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Naura.
Sedangkan didalam sana, Naura sedang berjuang antara hidup dan matinya.
Reyhan mengeluarkan ponselnya. Mencari bantuan pada Jeni atau siapapun yang bisa menolongnya. Namun lagi lagi Reyhan tak kunjung menemukan titik terangnya.
Ditengah rasa panik itu.. Seorang dokter datang dan mengatakan ada seorang yang akan mendonorkan darahnya. Dan sudah diketahui orang tersebut memiliki golongan darah yang cocok dengan darah Naura.
"Alhamdulillah..." Ucapnya diikuti hembusan nafas yang lega serta seutas senyum simpul yang mampu menarik ujung bibirnya melengkung keatas.
Ucapan syukur tak henti hentinya keluar dari mulut Reyhan. Matanya berkaca-kaca. Tapi tidak. Reyhan tidak akan menangis lagi kali ini.
Lihatlah, betapa besar nya keagungan Tuhan? Disaat dirinya mendapati jalan buntu tanpa titik terang, Tuhan datang menolongnya dengan cara yang tak terduga.
Sekarang, malaikat mana lagi yang Tuhan kirimkan untuk menyelamatkan bocahnya saat ini?
Ahh itu membuat Reyhan penasaran.
"Bisakah aku bertemu dengannya?" Tanyanya kepada sang Dokter diiringi senyum merekah dibibirnya. Reyhan berniat mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk beberapa kantong darah yang dia berikan untuk Naura gadisnya.
Dan anggukan dari Sang dokter membuat Reyhan semakin bersyukur lagi.
Beberapa jam berlalu
Saat ini Reyhan berjalan mengikuti langkah sang Dokter untuk bertemu manusia berhati mulia tersebut. Sementara, Hasan menunggu Naura yang sudah dipindahkan keruang pasien. Kondisi Naura semakin membaik setelah proses transfusi darahnya berhasil. Sehingga Reyhan sedikit tenang meninggalkan Naura untuk bertemu dengan pendonornya.
Cekleeek...
Pintu dibuka.. Terlihat seorang laki laki berumur sedang terbaring disana memulihkan tenaganya setelah menyumbangkan beberapa darahnya tadi.
Dia beralih menatap Reyhan. Tersenyum lembut.
Reyhan terkejut. Matanya terbelalak melihat laki laki itu.
Dia adalah Om Zeko. Orang yang juga menolongnya membawa Naura ke rumah sakit ini. Sungguh, ternyata masih ada laki-laki kaya raya yang tidak menyombongkan diri seperti beliau.
__ADS_1
"Bisa tinggalkan kita berdua dok..." Kata pak Zeko dengan tatapan mata kearah Reyhan.
"Ada yang aku ingin bicarakan dengan laki-laki ini.."
Reyhan diam mematung. Dia semakin bingung . Bukankah dia yang seharusnya ingin berbicara kepada malaikat penyelamat itu? Lantas kenapa justru sekarang keadaan seperti berbalik?
Reyhan kehilangan fokusnya untuk sementara. Tubuhnya seakan belum mampu menerima apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Tentu Saja Tuan... Saya permisi" Jawab Sang dokter diikuti badan yang membungkuk segan kearah om Zeko. Ini jelas membuat Reyhan mengerti.
Laki laki dihadapannya ini bukan orang biasa. Malaikat penyelamatnya adalah orang berpengaruh dirumah sakit ini.
Tapi tunggu, ternyata om Zeko tidak sendirian. Ada satu lagi laki laki yang dilihat dari penampilannya, dia seumuran dengan Om Zeko. Dia terlihat berdiri disamping ranjang Om Zeko dengan kedua tangannya didepan dan saling berpegangan.
Dia tersenyum namun wajah nya menampilkan rahang yang keras dan menggambarkan sikap tegas.
Baju yang dikenakannya pun cukup rapi. Dari bentuknya saja jelas itu baju yang mahal. Belum lagi sepatu warna hitam yang mengkilat itu mampu menunjukkan kelassnya bagi dia yang memakainya.
"Duduklah Reyhan...."
"Terimakasih atas bantuan mu Om.."
Reyhan menarik kursi setelah Zeko mempersilahkan dirinya duduk. Senyum menghiasi bibirnya tatkala Zeko menyambutnya dengan baik. Bahkan sangat baik.
Tapi...
Semula dia menatap Reyhan dengan senyum, tapi ucapan terimakasih Reyhan justru membuatnya mengalihkan pandangannya menghadap langit-langit ruangan. Bukan hanya itu senyuman lembutnya juga menghilang dan sekarang diganti dengan wajah datar tanpa ekpresi.
Lagi lagi Reyhan dibuat bingung oleh laki-laki yang dipanggilnya Om Zeko ini.
Memang Reyhan salah mengucapkan terimakasih?
Lalu apa maksudnya?
Apa itu artinya Om Zeko tidak ikhlas mendonorkan darahnya untuk Naura?
Rehan menarik nafasnya dalam, menghembuskannya pelan.
Agar dengan segera Reyhan bisa menguasai lagi keterkejutannya.
"Aku mau kau membayarnya.." Sama sekali raut wajah Om Zeko tidak menggambarkan bahwa dia sedang bercanda. Om zeko menatap tajam kedua mata Reyhan.
"Apa yang kulakukan untuk mu hari ini, aku mau kamu membayarnya"
Reyhan tersenyum dan berusaha untuk tetap sopan kepada Om Zeko.
"Apapun itu, aku tetap berterimakasih Om" Jawab Reyhan dengan tenang. "Aku juga akan membayarnya. Sesuai yang Om mau... Katakan berapa aku harus membayarnya? setelah ini, aku akan berusaha untuk mencarikan uangnya."
Reyhan berkata dengan sopan dan santun, lalu melanjutkan kata katanya lagi.
__ADS_1
"Berapapun jumlah uang akan saya bayar nanti, itu tidak sebanding dengan pertolongan om hari ini. Nyawa anak ku terselamatkan.. Terimakasih."
Kata Reyhan dengan nada penuh ketulusan. Tidak peduli bagaimana sebenarnya sifat om Zeko, entah orang baik atau sebaliknya, Reyhan tetap.bersyukur dipertemukan dengannya hari ini.
"Reyhan.. Apa aku terlihat seperti kekurangan uang?" Tanya Zeko dengan sorot mata tajam menatapnya berhasil membuat Reyhan terkejut untuk yang kesekian kalinya.
Kali ini Reyhan tak sanggup untuk bersikap biasa saja.
"Maksud Om? Maaf aku tidak mengerti."
Otak Reyhan masih berkelana. Mencoba menguasai situasi yang tengah terjadi.
Tubuhnya diam terpaku ditempat duduknya . Reyhan belum paham bagaimana dia harus memposisikan dirinya berhadapan dengan laki-laki itu.
Dia bukan orang sembarangan.
"Aku tidak butuh uangmu Reyhan... Aku mau kau membayarnya dengan melakukan sesuatu untuk ku.." Jawab Zeko pelan. Kini raut wajahnya sudah sedikit terlihat santai. Walaupun ucapannya tidak bisa dianggap sedang bercanda.
"Jangan takut, ini bukan sesuatu yang kriminal ataupun membahayakan kamu dan orang-orangmu."
Haah.. kelegaan menyirami hati Reyhan. Bukan masalah. Sudah dikatakan diawal bahwa Reyhan memang akan melakukan apapun itu untuk membalas kebaikan malaikat penyelamatnya.
Naura dan anak-anak yang lain adalah segalanya untuk Reyhan.
" Saya berjanji akan membalas kebaikan Om Zeko" Ucap Reyhan diiringi senyum yang tulus.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan untukmu Om?"
Zeko tersenyum puas atas jawaban pemuda dihadapannya ini. Dia semakin yakin pada Reyhan.
Terlebih laporan sekretarisnya kemarin lusa tentang Reyhan semakin membuat Zeko yakin memilih Reyhan.
Reyhan, laki-laki yang sebenarnya bukan dari kalangan bawah ini rela mempertaruhkan masa depannya hanya untuk sebuah keinginan hidup mandiri dari keluarganya.
Reyhan dengan senang hati merelakan perusahan keluarganya diurus oleh sang kakak.
Tak satu informasi tentang Reyhan terlewatkan oleh selidik sekretarisnya itu.
Bahkan termasuk anak-anak asuh Reyhan yang murni dibiayai oleh hasil penjualan toko bukunya sendiri. Bukan sumbangan orang lain
"Kalau begitu.. menikahlah dengan putriku..."
Deg...
#Flashback OFF..
Reyhan masih larut dalam lamunannya. Tangannya masih bergerak lihai memasukkan laptop kedalam tas meski tanpa kesadaran yang sepenuhnya.
Memang kenapa dengan putri Om Zeko?
__ADS_1