
Bibir tipis berwarna merah jambu itu melengkung ke atas dengan sempurna, sesaat setelah membaca notifikasi pesan masuk dari sang sahabat.
Sari,
yang mengatakan akan datang ke rumah Nayla dengan alasan rindu. Iya, gadis periang itu mengatakan bahwa dia merindukan Nayla.
Alasan klasik yang mampu membuat ikatan persahabatan di antara mereka tetap hangat. Tetap terasa menyentuh sekalipun sudah lama tidak berjumpa.
"Bunda, bunda..."
Panggilan tiba-tiba dari Naura, membuat Nayla terlonjak kaget dengan suara mungil yang mencari perhatiannya. Membuyarkan lamunannya pada kilasan kolase yang dia sendiri rangkai dalam kepala tentang kisah persahabatan mereka bertiga. Dan setelah jari lentiknya mengetik pesan kepada Sari berisi alamat rumah sang suami, lantas perempuan itu segera menanggapi tingkah absurd bocah kecil disampingnya.
"Apa sayang?" Ditaruhnya ponsel diatas nakas, ponsel yang membuat perempuan bernetra hitam itu mengabaikan peri kecilnya.
"Ini udah, Bunda .." Seru Naura, menunjukkan gambar pohon yang sudah selesai si kecil itu warnai hijau pada daunnya.
Gadis kecil yang menjadi pelipur lara-nya. Pengusir sepi selama beberapa hari ini. "Bagus nggak, bun?"
Iya, Naura yang berhari-hari ini menemaninya istirahat total didalam kamar. Naura yang memecah sunyi menjadi melodi.
Sudah berhari-hari Nayla merasa dikurung oleh sang suami, hingga perempuan itu dengan terpaksa menunda kuliahnya selama satu semester ke depan.
Keputusan yang sulit memang, mengingat tidak lama lagi seharusnya Nayla sudah menyelesaikan pendidikan itu.
Tapi, keadaan memaksa perempuan itu menundanya.
Bukan hanya itu,
aktifitas lainnya yang sejak lama Nayla dan dua sahabatnya itu lakukan bersama-sama juga harus sepenuhnya dia serahkan untuk sementara ini kepada Sari, mengingat Nina yang juga sudah tidak bisa mengemban tanggung jawab itu.
Jujur, ini berat untuk Nayla. Gadis itu harus rela mengabaikan kegiatan paling menyenangkan yang biasa dia lakukan, hanya untuk menjaga kondisi tubuhnya. Menjaga buah hati yang mulai tumbuh didalam rahim nya.
Hanya saja, dengan pertimbangan yang cukup panjang bersama sang suami, akhirnya Nayla menurut.
Meski sebenarnya,
Nayla sudah sangat bosan berada dirumah tanpa pergi kemanapun, apalagi delapan puluh persen aktifitasnya hanya dilakukan didalam kamar.
Membosankan.
Tenang Nayla. Ini hanya sementara.
Begitulah Nayla menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Untung saja,
Beberapa hari lagi,
gadis kecil yang manis itu akan mengikuti lomba mewarnai disekolah nya. Jadi,
dengan antusias yang tinggi dalam berlatih, Naura selalu meminta Nayla mengajarinya. Sehingga Nayla tidak harus merasakan sangat kesepian.
"Coba sini lihat..." Tanggapan Nayla cepat, mencoba meminta hasil karya Naura.
Diserahkannya kertas berukuran A4 yang berisi gambar pemandangan hasil tangan Naura sendiri, dengan beberapa bagian yang sudah Naura warnai kepada Nayla dengan tangan mungilnya.
"Bagus nggak kak?"
Pertanyaan yang sontak membuat Nayla menoleh, kemudian tersenyum geli sambil melirik bocah itu gemas.
Ah Naura,
sebentar memanggil Bunda, sebentar sudah berubah lagi menjadi kakak. "Bagus kok sayang... Sekarang warnai bagian pohonnya ya? Coba, kalau pohon kasih warna apa?"
Si kecil itu tidak segera menjawab.
Sebagai gantinya, tangan mungilnya bergerak lincah memilih pensil warna yang tercecer. Dia memilih warna coklat tua ditangan kanannya dan warna hitam ditangan kirinya.
Kelihaiannya memadukan warna membuat degradasi pada setiap karya-nya, membuat Naura sering kali diikut sertakan dalam lomba mewarnai di sekolahnya.
Bocah kecil itu pulang membawa kemenangan dan piala ditangannya. Lihat,
bahkan diruang tamu, Reyhan sengaja membeli almari kaca khusus untuk memajang piala-piala yang diraih oleh anak asuhnya. Termasuk piala Naura.
Nayla akui, gadis TK itu memiliki bakat melukis yang sudah mulai terlihat sejak dini. Bukan hanya pintar dalam mewarnai, gadis kecil itu sangat terlatih dalam hal menggambar.
Bakat yang harus dikembangkan sejak dini.
Hingga, suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya pada masa depan Naura, sebagai pelukis hebat.
"Iya Mbak..." Jawab Nayla.
Mbak Nana membuka pintu, lantas perempuan itu berkata. "Ada tamu, katanya temennya Mbak Nayla."
"Oh iya, itu temen saya. Biar saya turun.." Ucap Nayla. Kemudian, perempuan bernetra mata hitam itu menoleh ke arah Naura. "Naura, menggambarnya pindah ke bawah ya sayang. Biar ditemani Mbak Nana."
"Iya bunda.."
__ADS_1
Dibantu Mbak Nana, Nayla menuruni tangga dengan hati-hati. Dan sampai lah dia di ruang tamu tempat Sari menunggu.
"Sar..."
"Nay... ya Tuhan.." Sari mendekat ke Nayla, lantas memeluknya erat. "Kangen. Sudah lama gak ketemu."
Melepas pelukan, lantas dua perempuan bersahabat itu duduk bersebelahan. "Ya gimana, aku gak boleh kemana-mana sama Reyhan. Untung aja kamu kesini..."
"Gimana kondisi kamu? Calon keponakanku sehat kan Nay..?"
"Sehat Tante..." Nayla tersenyum kearah Sari, yang lantas dibalas senyuman juga olehnya. Keduanya duduk bersebelahan di atas sofa yang paling panjang.
"Ini, rumah suami mu Nay?" Tanya Sari, dengan ekspresi wajah mengernyit aneh, yang dibalas anggukan kepala oleh Nayla.
Tentu, siapa yang tidak merasa Asing dengan rumah Reyhan? Baru masuk satu langkah saja, setiap orang yang tidak mengerti siapa Reyhan pasti langsung merasa asing dengan model rumahnya. Dan Nayla paham itu.
Kondisi adanya kamar di ruang tamu, tepat disebelah pintu masuk membuat rumah sebesar ini tampak tidak biasa dari rumah-rumah pada umumnya.
"Kenapa?"
Menyengir, lantas Sari menjawab kikuk. "Hehe, unik Nay."
"Iya, sama seperti Reyhan yang unik." Seru Nayla santai. "Ngomong-ngomong, ngapain Sar bawa laptop?"
Mengalihkan topik.
"Oh ini..." Dibukanya laptop itu, dan langsung ke pokok permasalahannya. "Aku bingung, bulan ini donasi untuk rumah singgah melonjak naik Nay. Sementara segala kebutuhan mereka sudah terpenuhi semua. Segala perizinan juga sudah beres. Dan semua hak tenaga medis juga sudah aman terkendali."
"Lalu, apa permasalahannya?"
"Sisanya ini.. mau dikemanain? masih banyak lo. Hampir dua kali lipat dari bulan kemaren. Pusing banget tau ngerjain ini sendirian." Keluhnya sambil merengek. "Biasanya kan, juga kamu yang mengatur ini, aku cuma ngasih masukan aja. Lah sekarang?"
"Jangan ngeluh dong...." Hibur Nayla. "Aku janji ini cuma sementara waktu. Sini, aku bantuin."
Cuma butuh waktu beberapa menit, semua data beres ditangan Nayla. "Nih, lima puluh persen dari uang sisa kita masukin ke dana kaget. Dua puluh lima persen, coba kita bicarakan sama susternya apa ada peralatan medis yang perlu ditambah? Dan dua puluh lima persennya lagi, kita lengkapi kebutuhan sehari-hari. Biar mereka lebih nyaman."
Sari melongo takjub. Kenapa dia tidak memiliki pemikiran yang seperti itu? "Tapi Nay, emang ini gak papa?"
"Ya enggak papa lah, yang penting uang donasi untuk mereka. Satu rupiah pun tidak kita pakai untuk kebutuhan pribadi kita. Dan jangan lupa, kita punya data beserta bukti-buktinya. Nanti buat pertanggung jawaban kita."
"Besok aku ke sana. Mau coba konsultasi sama Ibuk."
Mendadak Nayla ikutan teringat. "Aku jadi kangen sama ibuk. Udah lama banget aku gak kesana."
__ADS_1
Pada akhirnya, dua perempuan menghabiskan waktu dengan nonton film horror. Selain itu, mereka juga berbagi banyak cerita.
Satu persatu anak asuh Reyhan yang pulang dari sekolahnya membuat Sari bertanya-tanya. Dan karena itu juga,pada akhirnya Nayla memberi tahu pada Sari, siapa Reyhan sebenarnya, pun dengan alasan kenapa rumah Reyhan tidak seperti rumah pada umumnya.